Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Dentuman keras yang menggema dari atas atap gerbong Vanguard menandakan pendaratan pasukan elit White-Death yang melompat dari rel layang atas. Getaran logam yang berderit nyaring serta suara cakar magnetik yang menggores lambung kereta memicu alarm darurat berkedip semakin liar di seluruh sudut kabin. Suasana yang tadinya diwarnai ketegangan ekstrem itu mendadak mendidih, menuntut setiap anggota kru untuk kembali bersiap menghadapi pertahanan fisik paling brutal sepanjang perjalanan mereka.

Namun, di tengah kekacauan hantaman dari atas tersebut, aroma rempah pekat yang menggugah selera mendadak menyeruak memenuhi udara kabin, memotong ketegangan dengan cara yang paling tidak terduga.

Yuna melangkah anggun dari dapur portabelnya, membawa sebuah nampan besar berisi mangkuk-mangkuk panas berisi sup energi khusus yang baru saja ia racik dengan presisi tingkat tinggi. Tanpa memedulikan guncangan kereta yang membuat lantai bergetar hebat, sang koki meletakkan nampan itu tepat di atas meja utama pusat kontrol.

"Sebelum kalian sibuk mati di atas atap, isi dulu lambung kalian," ucap Yuna dingin namun penuh otoritas mutlak, menatap Leo dan Gavin yang masih megap-megap karena kelelahan fisik dan mental. "Otot mekanikmu tegang, Leo, dan kapasitas otak peretasmu sudah mencapai batas jenuh, Gavin. Kaldu pemulihan ini akan mengembalikan tenaga seluler kalian dalam hitungan detik."

Belum sempat Yuna merapikan mangkuk-mangkuk tersebut, Leo dan Gavin yang sejak tadi mencium aroma lezatnya langsung melonjak bersamaan dari kursi mereka.

"Bagi punyaku yang bagian banyak dagingnya, Koki!" seru Leo kalap, langsung menyambar mangkuk terdekat dengan tangan yang masih belepotan oli.

"Eh, enak saja! Aku yang paling butuh glukosa untuk memulihkan kapasitas otak setelah meretas firewall militer tadi!" balas Gavin tidak mau kalah, tangannya mencengkeram sisi mangkuk yang sama dengan erat, saling tarik-menarik dengan sang mekanik di tengah guncangan kereta yang semakin liar.

"Lepaskan, Hacker sialan! Tenagaku lebih besar darimu!" gerutu Leo, memelototi Gavin dengan mata melotot.

"Tidak mau! Tanganku sedang butuh nutrisi darurat, Leo! Jangan serakah!" teriak Gavin panik sambil mempertahankan mangkuk sup keemasan itu.

Suasana tegang di dalam kabin mendadak terpecah oleh aksi rebutan kekanak-kanakan antara sang mekanik dan sang peretas. Mereka saling dorong dan berebut mangkuk panas seolah-olah dunia luar tidak sedang di ambang kehancuran.

Melihat pemandangan itu, dahi Yuna berbinar geram. Tanpa ragu sedikit pun, sang koki melayangkan tendangan cepat menggunakan sisi sepatu botnya—menghantam pinggiran meja baja dengan presisi sempurna hingga membuat mangkuk tersebut bergeser, lalu tangan kirinya dengan sigap menjambret kedua kerah baju mereka berdua secara bersamaan.

"Cukup!" bentak Yuna dengan suara dingin yang langsung membuat Leo dan Gavin terdiam kaku seketika. "Kalian berdua adalah prioritas yang paling butuh energi saat ini, jadi berhenti bertingkah seperti anak kecil yang kelaparan sebelum kubuat kalian tidak bisa makan apa pun selama seminggu penuh!"

Dengan gerakan cepat, Yuna memisahkan mereka berdua, menyodorkan mangkuk terpisah ke masing-masing tangan mereka. "Makan sekarang, habiskan dalam waktu kurang dari satu menit, dan kembali bekerja pada posisi kalian masing-masing!"

Tanpa berani membantah sedikit pun ancaman sang koki baru, Leo dan Gavin menelan ludah mereka, lalu melahap sup panas tersebut dengan kecepatan kilat. Sensasi kehangatan instan langsung menghantam aliran darah mereka, memulihkan otot yang kaku dan menyegarkan kembali pikiran yang penat. Setelah mangkuk itu bersih dalam sekejap, keduanya langsung melompat kembali ke panel kendali dan terminal masing-masing, memulihkan sistem operasional kereta dengan tenaga baru yang luar biasa.

Namun, kelegaan singkat itu tidak bertahan lama.

Di luar jendela palka depan, sorot lampu pencari berdaya tinggi mendadak menembus badai salju, memperlihatkan pemandangan yang membuat darah seketika membeku.

Leo yang mengemudikan lokomotif mendadak menginjak rem darurat hingga roda baja mengeluarkan decitan memekakkan telinga. Vanguard merosot tajam, berhenti tepat di bibir sebuah jurang es vertikal yang sangat dalam dan menganga luas.

Jalur rel di hadapan mereka telah terputus total—hancur lebur berkeping-keping akibat ledakan bahan peledak strategis yang sengaja dipasang oleh pasukan militer. Tidak ada jalan keluar ke depan. Di belakang mereka, gerbong penumpas The Juggernaut telah menutup jalur mundur. Mereka benar-benar terperangkap di ujung jurang buntu.

"Sial...!" desis Leo tertahan, matanya membelalak lebar menatap kehampaan jurang di depan. "Jalur relnya... sengaja diledakkan! Kita terjebak!"

Di tengah kepungan maut yang tidak menyisakan celah sekecil apa pun, Ren perlahan berdiri dari kursinya. Pemuda berambut perak itu merapikan mantelnya, lalu melangkah tenang menuju pintu palka depan. Pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya berdenyut lembut, memancarkan kehangatan yang kontras dengan udara dingin luar yang merangsek masuk.

Soju dan Gavin menoleh serempak, sementara Yuna menatap punggung sang kapten dengan dahi berkerut cemas.

Namun, di dalam lubuk hatinya, Ren tidak sedikit pun mencemaskan keselamatan dirinya sendiri. Seluruh gejolak batin dan kekhawatiran yang berkecamuk di dalam kepala pemuda itu justru sepenuhnya tertuju pada keselamatan orang-orang di sekitarnya—pada Leo yang telah bekerja keras memperbaiki bodi kereta, pada Gavin yang baru saja menemukan kebebasan hidupnya, pada Soju yang setia mengawal navigasi, dan pada Yuna yang baru saja bergabung membawa kehangatan di tengah badai.

Aku tidak boleh membiarkan mereka mati di sini... batin Ren bergemuruh dingin namun penuh ketegangan emosional. Apapun yang terjadi, aku harus membuka jalan bagi kereta ini, bahkan jika aku harus menyerahkan nyawaku sendiri.

Sebelum ada yang sempat mencegah langkahnya, pintu palka depan bergeser terbuka secara manual. Hantaman angin badai salju langsung menyapu kabin dengan kejam.

Ren melangkah keluar, berdiri di atas pijakan sempit lokomotif yang langsung menghadap ke arah jurang es yang dalam. Di atas atap gerbong, suara hantaman sepatu bot militer berhenti.

Dari balik kepulan asap badai salju, sesosok figur tinggi berzirah komandan jenderal melangkah turun perlahan dari atas atap kereta, mendarat dengan ringan tepat di hadapan Ren di atas anjungan sempit lokomotif.

Sosok itu mengenakan jubah militer kebanggaan Korporasi Frost-Guard yang berkibar diterpa angin. Di tangan kanannya, sebuah pedang plasma berteknologi tinggi berdengung dalam frekuensi tinggi, memancarkan pendaran cahaya merah menyala yang menerangi wajah keras sang jenderal—dengan bekas luka bakar vertikal di pelipisnya yang membangkitkan aura kematian.

Jenderal Vane menatap Ren dengan sepasang mata penuh dendam kesumat yang membara, sementara ujung pedang plasmasanya menunjuk lurus tepat ke arah dada pemuda itu.

"Akhirnya kita bertemu muka, Ren," suara Jenderal Vane bergemerincing rendah, penuh racun kebencian yang mendalam. "Pemilik inti mesin terlarang yang merenggut segalanya dariku... hari ini, perjalanan kereta terkutukmu akan berakhir tepat di tepi jurang pemakaman ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!