“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam:cari perhatian
Kenapa Alya tiba-tiba bersikap dingin padaku ya? pikir Kevin. Bahkan pesanku pun belum dibaca.
Pesan dari Kevin:
"Alya, kamu sedang apa? Masih di rumah sakit ya? Hati-hati kalau pulang nanti. Aku ada urusan sebentar, jadi pulang agak terlambat. Jangan lupa baca pesanku ya."
Kevin pun tiba di kediaman utama keluarga Mahendra. Rumah ini terasa hangat, penuh kenangan masa kecilnya—terutama bersama Nenek, dialah yang membesarkannya saat Ibuku sibuk mengurus kakakku, Raka.
Kevin melihat Mama dan Papa sudah menunggu di ruang keluarga.
"Cucuku yang paling tampan! Nenek sangat merindukanmu, Kevin."
"Iya, Nenek. Baru sampai kok tidak memberi kabar ya?"
"Tak perlu, Nenek mau memberi kejutan."
"Baiklah... Nenek ada apa tiba-tiba berkunjung ke sini?"
"Dasar cucu durhaka, rupanya sudah tidak sayang lagi sama Nenek."
"Bukan begitu, Nenek. Jangan marah dong."
"Nenek bosan di rumah, tempatnya sepi sekali, makanya Nenek mau main ke sini."
"Syukurlah kalau begitu, tinggallah di sini saja, Nek."
Nenek tersenyum lembut. "Nenek sudah ingin sekali punya cucu darimu, Kevin. Ingin rasanya menggendong bayi. Keluarga Mahendra belum punya penerus lagi."
Kevin paham betul maksud ucapan Nenek.
Ibu mertua tenang saja, aku sudah menjodohkan Kevin dengan keluarga Baskara. Namanya Jessica, putri Himawan Baskara—anak yang baik, lulusan luar negeri. Pasti sangat cocok bagi keluarga kita.
Nenek menatap serius. "Apakah Kevin setuju dengan perjodohan ini?"
Ayah Kevin menyahut, "Pasti dia setuju, Mah. Sejak dulu keluarga Mahendra sudah menjalin kerja sama dengan keluarga Baskara. Kita tahu betul seperti apa mereka."
"Bukan sekadar soal status, tapi harus melihat juga sikap dan etika," ujar Nenek tegas.
Ibu Kevin menyela, "Dia anak yang baik dan sopan, pasti Ibu mertua akan menyukainya."
Kevin yang merasa malas dengan pembicaraan itu hanya diam mendengarkan.
"Kevin, apakah kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Nenek lagi.
"Aku belum setuju, Nek. Aku sudah punya wanita pilihanku."
"Wah, cucu Nenek sudah punya kekasih? Kenapa tidak dikenalkan?"
Nenek menoleh ke orang tuanya dengan kecewa. "Kalian ini orang tua macam apa? Anaknya sendiri tidak mau dijodohkan, malah dipaksa terus."
"Ibu, dengarkan aku dulu. Wanita yang dipilih Kevin itu tidak baik-baik saja. Bisa merusak nama baik keluarga Mahendra," sanggah Ayah.
"Apakah benar apa yang dikatakan Ayahmu itu, Kevin?" tanya Nenek.
"Tidak, Nek. Semuanya hanya salah paham. Alya wanita yang sangat baik, hanya saja kalian belum mengenalnya lebih dekat."
"Kalau begitu bawalah dia menghadap Nenek nanti. Aku sendiri yang akan menilai gadis itu."
"Baik, nanti Kevin akan membawanya menemui Nenek."
"Bagus sekali. Nenek sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu," ucap Nenek sambil tertawa ramah menatap Kevin.
Kevin tersenyum lega. Nenek selalu memihak dan membelaku di situasi sulit seperti ini. Dia tidak pernah langsung menghakimiku meski pandangan keluarga lain bertentangan denganku.
Terdengar langkah kaki masuk ke ruang utama. Ternyata Jessica datang membawa hidangan manis dan sebuah kotak kue di tangannya.
"Hai, Jessica? Kamu sudah sampai juga?"
"Iya, Tante. Tadi kebetulan macet, jadi agak terlambat di jalan."
"Oh, Tante paham sekali, memang sedang padat lalu lintas di ibu kota."
"Ini ada bingkisan kecil untuk Tante."
"Ih, sayang sekali, tidak perlu repot-repot membawakan begini."
"Tidak apa-apa, Tante. Semoga Tante menyukainya."
"Tentu pasti Tante suka."
Jessica pun menyapa dengan ramah dan penuh perhatian, "Hai, Kevin... Om... dan Nenek."
Kehadiran Jessica terasa tiba-tiba namun dia persiapkan dengan sangat rapi—senyum manis, sikap sopan, dan membawa hadiah. Ia sengaja tampil sempurna di depan keluarga besar, berusaha memikat hati Nenek dan orang tua Kevin, seolah-olah dialah calon yang paling pantas. Kevin hanya diam menatapnya, merasa kehadiran wanita ini terlalu tiba-tiba dan direncanakan.
"Kevin, kebetulan Mama mengundang Jessica untuk makan malam bersama. Supaya kalian makin akrab. Dia rekan bisnismu, jadi kamu harus bersikap baik."
Astaga... Mama rupanya sudah merencanakan semuanya. Kenapa harus dia ada di sini? gerutu dalam hati Kevin.
"Hai, Om. Apa kabar? Ini salam dari Ayah."
"Jessica, kamu makin cantik ya. Dulu Om melihatmu masih kecil, bermain bersama Kevin."
"Om bisa saja. Aku sudah besar, Om masih saja suka bercanda."
"Iya, benar. Sudah cantik dan sukses juga, ya, Jessica."
"Terima kasih, Om."
"Memang sangat cocok sekali, calon menantu idaman," puji Mama Kevin.
"Benar-benar serasi dengan Kevin."
Kevin melihat sandiwara ini merasa sangat muak. Ia hanya bertahan di sini karena ada Nenek.
Pujian dan sikap manis kedua orang tua Kevin terhadap Jessica terasa begitu paksa dan penuh rencana. Kevin menahan rasa jijik melihat akting Jessica yang sempurna, serta kesal karena diposisikan seolah-olah pasangan yang pas. Kehadiran Nenek menjadi satu-satunya alasan ia tidak langsung pergi dari ruangan itu.
Meja makan berisi Kevin, Jessica, Nenek, serta Mama dan Papa. Suasana makan malam terasa begitu kaku dan penuh ketegangan.
"Oh iya, bagaimana kabar Ayahmu, Jessica? Apakah masih di luar negeri?"
"Dia sudah kembali dan menetap di sini lagi, Om."
"Syukurlah, nanti Om sempatkan bertemu dengannya kapan-kapan."
"Baik, Om."
Mama menyahut ramah, "Jes, makan yang banyak ya. Tante sudah menyajikan masakan kesukaanmu."
"Terima kasih banyak, Tante. Tante sungguh perhatian sekali."
Jessica duduk tepat di sebelah Kevin, matanya tak lepas menatap pemuda itu.
"Kevin, kamu juga makan ayam panggang ini ya. Dulu kamu sangat menyukainya," ucapnya seolah hafal segala hal yang disukai Kevin.
"Tak usah, Jes. Nanti aku ambil sendiri," jawab Kevin dingin.
"Romantis sekali ya, Pa, lihat anak muda itu," puji Mama dengan senyum lebar.
Kevin yang sudah muak dengan sandiwara keluarga ini merasa sangat tidak nyaman.
Jessica memainkan peran dengan sangat sempurna—sopan, paham selera Kevin, dan memikat hati orang tua. Sementara itu, Kevin merasa seperti dipaksa menonton pertunjukan yang menjengkelkan. Hanya Nenek yang tenang, diam mengamati semuanya tanpa banyak bicara.
Terlihat jelas perhatian wanita itu dibuat-buat, dan Kevin pun tampak sangat tidak nyaman berada di sampingnya. Sementara itu, Nenek terus memperhatikan setiap gerak-gerik Jessica dengan saksama.
Kepekaan hati tua Nenek tidak tertipu. Di balik senyum manis dan sikap sempurna Jessica, ia menangkap ketulusan yang hilang—semuanya terasa direncanakan, dipaksakan, seolah sedang memerankan sebuah peran. Ia juga melihat wajah cucunya yang kaku dan jauh dari bahagia. Bagi Nenek, Jessica mungkin cantik dan berpendidikan, namun ada sesuatu yang terasa palsu di matanya.
Nenek menatap sekeliling meja makan, lalu bertanya kepada Mama Kevin.
"Kok Raka tidak ikut makan malam?"
"Ma, Raka malam ini tidak ada di rumah. Kebetulan dia sedang bersama teman-temannya," jawab Mama.
"Oh, pantas saja rasanya ada yang kurang." Nenek tersenyum tipis. "Lain kali cucu Nenek yang satu itu harus luangkan waktu untuk Nenek ya. Lihat saja Kevin, sesibuk apa pun dia tetap menyempatkan waktu buat Nenek."
"Bukan begitu, Ma. Hanya kebetulan saja hari ini dia pergi," sahut Mama berusaha menenangkan suasana.
Dalam hati Mama, ia paham betul watak kedua anaknya: Kevin dan Raka memang belum akrab. Maka Raka sengaja mengalah dan memilih tidak hadir malam ini.
Pertanyaan sederhana Nenek justru menambah gambaran suasana di keluarga besar ini. Di balik kemewahan dan kerukunan yang dipamerkan, ternyata ada jarak antara saudara kandung. Kevin diam saja, sementara Jessica tampak waspada mendengar nama Raka disebut.
Kevin langsung berdiri dan berkata, "Makan malamku sudah selesai. Aku harus kembali duluan, Nek. Nanti aku pasti datang lagi menjenguk Nenek."
"Ih, baru saja bertemu sudah mau pergi saja," ujar Nenek kecewa.
"Ada urusan penting yang harus ku selesaikan, Nek."
"Baiklah kalau begitu... Hati-hati ya, Nak."
"Iya, Nenek. Mama, Papa, aku pamit dulu."
"Kevin, makan malam belum selesai. Masih banyak hal yang ingin Mama dan Papa bahas," cegah Mamanya. "Lagipula masih ada tamu di sini, Kevin."
"Lain waktu saja ya, Mah. Kevin sedang terburu-buru."
"Kevin, kenapa kamu langsung pergi? Kita kan baru saja bertemu," sahut Jessica berusaha menahan langkahnya. "Aku ingin mengobrol lebih lama bersamamu."
"Bukan hari ini, Jessica. Aku sedang sangat sibuk," jawab Kevin dingin dan tegas.
Kevin sama sekali tidak mau berlama-lama dalam kepura-puraan itu. Ia memutuskan pergi tanpa ragu, meninggalkan Mama yang terkejut, Papa yang menahan kesal, dan Jessica yang menahan malu karena ditolak mentah-mentah. Nenek hanya diam memandang kepergiannya, paham betul cucunya merasa tidak nyaman di sana.
Hati Jessica mendidih menahan amarah.
Kevin... kenapa kamu tidak pernah sekalipun melirikku? Pasti kamu terburu-buru menemui wanita murahan itu lagi!
Ia menggertakkan gigi, lalu menenangkan diri dengan paksa.
Jessica, kamu harus sabar. Kevin itu milikku. Aku tidak boleh kalah, aku harus memenangkan hati mereka semua dan tampil sempurna di depan keluarga ini.
Kemarahan Jessica tersembunyi rapat di balik senyum yang dipaksakan. Ia sadar tidak boleh meledak sekarang, saat semua mata sedang mengawasinya. Di dalam hatinya, niat jahat semakin menguat—ia akan memainkan peran sebagai wanita sabar dan berbakti, untuk membalikkan keadaan sepenuhnya demi menguasai Kevin dan posisinya.