Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 - batu loncatan

Rizki menatap layar ponselnya yang gelap, dahinya berkerut bingung.

"Kok Hana mematikan teleponnya ya? Kenapa tumben dia begitu dingin padaku..." gumamnya pelan, rasa cemas mulai menyelinap di hatinya.

Ia meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening. Pikirannya kacau — di satu sisi ada Hana yang tiba-tiba menjauh, di sisi lain ibunya yang seakan tidak pernah bisa menerima kehadiran wanita itu.

"Bagaimana caranya agar Mama bisa menyukai Hana? Mama itu terlalu pemilih... aku jadi bingung harus bersikap bagaimana. Selama ini Hana berusaha sebaik mungkin, tapi belum juga bisa mengambil hati Mama," batinnya gelisah.

Matanya terhenti pada foto di galeri ponselnya — foto Hana yang tersenyum manis, bersandar di bahunya. Hatinya meleleh seketika.

"Hana itu tidak buruk. Dia orang baik... tidak seperti yang Mama pikirkan. Tidak mungkin sifatnya sama dengan ibunya," tegasnya dalam hati, berusaha menepis segala keraguan.

Namun kalimat itu perlahan membawanya melayang ke masa lalu... ingatan yang selama ini ia coba abaikan. Bayangan masa kecil terlintas samar — saat melihat ayahnya tertawa bersama seorang wanita lain di belakang rumah. Wanita itu cantik, senyumnya manis... tapi tatapannya terasa licik.

Dan wanita itu adalah ibunya Hana.

Rizki menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan itu. "Sudahlah... masa lalu itu biarkan berlalu. Hana bukan ibunya. Dia berbeda. Aku harus percaya padanya," bisiknya teguh, menolak mendengarkan suara kecil di hatinya yang justru semakin berteriak was-was.

Di sisi lain, di rumah mewah yang dibelikan Rizki, Hana dan Rio tertawa lepas di bawah selimut. Gelas minuman masih tergeletak di meja samping ranjang, sisa-sisa mabuk kepayang terasa di udara.

"Sayang... kamu kenapa sih mau bersandiwara sama dia? Padahal dia kaku dan membosankan begitu," tanya Rio sambil memainkan rambut Hana.

Hana tersenyum miring, penuh penghinaan. "Rizki itu? Aku tuh cuma memanfaatkannya aja, sayang."

Rio tertawa bangga. "Oh gitu? Kamu pintar banget."

"Mendekat padanya itu cuma soal uang dan namanya. Yang aku cinta cuma kamu, Rio. Selamanya cuma kamu," bisik Hana sambil mendekatkan wajahnya.

"Bagus, sayang. Ambil semua hartanya. Habisin kalau perlu. Kita bakal hidup enak selamanya," jawab Rio licik.

"Oh iya... kapan kamu carikan aku posisi yang pas di perusahaannya? Biar aku makin gampang kendalikan semuanya," minta Hana.

"Tenang aja, sayang. Aku sudah atur semuanya. Tinggal tunggu waktu yang tepat," janji Rio.

"Makasih, cintaku..."

Mereka tertawa lagi, tak tahu bahwa kemalangan sedang menanti di depan mata. Selama dua tahun ini Hana berselingkuh dari Rizki, dan selama itu pula Rizki buta akan kenyataan pahit ini. Baginya, Rizki hanyalah mesin ATM berjalan — ladang uang yang tak akan habis-habis. Cintanya? Semua itu milik Rio seorang.

Rio tersenyum lebar, merasa sangat beruntung punya pasangan seperti Hana. Semua beban pikirannya perlahan hilang.

"Akhirnya bisa hidup enak... semua utang-utangku bisa lunas berkat kamu, sayang," gumamnya lega sambil memeluk Hana erat.

Lalu ia mengangkat wajahnya, sedikit ragu namun tak menahan keinginannya. "Sayang... boleh nggak aku minta 200 juta untuk investasi? Aku yakin keuntungannya bakal lumayan buat kita berdua nanti."

Hana tersenyum santai, merasa uang Rizki bukanlah hal yang sulit untuk ia keluarkan. "Boleh, sayang. Sekarang aku transfer ya."

Tak lama kemudian, ponsel Rio bergetar. Matanya berbinar bahagia. "Makasih, sayang! Uangnya sudah masuk! 200 juta!" serunya girang, seakan baru saja memenangkan lotre besar.

Mereka tertawa bersama, tak sedikit pun merasa bersalah. Uang itu bukan milik mereka, tapi bagi Hana, Rizki hanyalah dompet berjalan yang tak akan pernah menolak permintaannya.

Rio tertawa sinis setelah panggilan berakhir, menatap layar ponselnya dengan tatapan merendahkan.

"Dasar cewek bodoh... Gampang sekali dia menyuplai uangku, bahkan tidak menanyakan apa pun tujuannya. Tapi tidak apa-apa, biarkan saja. Selama rencanaku belum selesai, dia masih berguna bagiku. Dia hanyalah jembatan menuju kekayaan itu," pikirnya angkuh.

Senyum licik merekah di bibirnya. "Kalau rencanaku berhasil sepenuhnya, aku akan menguasai semua aset milik Rizki. Hartanya, perusahaannya, kemewahannya... semuanya akan jadi milikku. Dan wanita bodoh itu? Aku akan membuangnya begitu saja saat waktunya tiba."

Ia meminum sisa gelasnya, membayangkan masa depan yang penuh kemewahan di pundak orang lain.

Hana merapikan rambutnya di depan cermin, tersenyum bangga pada pantulan dirinya.

"Kamu jangan cari cewek lain ya. Akhir-akhir ini aku rajin banget perawatan kecantikan, tahu," ucapnya sambil memutar sedikit tubuhnya.

Rio menatapnya dengan senyum menggoda. "Tampak sekali, sayang. Kamu makin cantik banget."

"Iya dong. Penampilan ini semua untuk menarik perhatianmu... sekaligus untuk menipu si tua bodoh itu, Rizki," bisiknya dingin diakhiri tawa kecil.

"Jadi menurutmu dia jelek begitu?" goda Rio.

"Bukan cuma jelek... kaku, membosankan, terlalu baik. Nggak sebanding sama kita," jawab Rio sambil menarik pinggang Hana mendekat. "Lebih tampan aku kan? Berotot, gagah... membuat matamu nggak mau lepas dariku terus."

Hana tertawa renyah, lalu memeluknya erat. "Iya, cuma kamu yang aku mau. Sisanya cuma alat untuk kita hidup enak."

Hana menatap sekeliling dengan cemas. "Tapi rumah ini aman kan, sayang? Nggak ada CCTV-nya kan? Aku takut kalau Rizki sampai tahu..."

Rio tersenyum tenang, menenangkan Hana. "Nggak perlu panik, sayang. Sebelum aku menyuruhmu ke sini, aku sudah cek semuanya. Semuanya aman terkendali."

Hana tersenyum lega, memeluk Rio lebih erat. "Kamu ini pacar paling bisa diandalkan. Hal sekecil itu saja kamu sudah pikirkan duluan."

Rio menatapnya dengan tatapan tajam namun penuh ambisi. "Hubungan kita harus tetap dirahasiakan. Sampai aku berhasil mendapatkan semua aset milik Rizki, tidak boleh ada yang tahu."

"Betul banget! Kalau sudah jadi milik kita, kita bisa berfoya-foya dan hidup kaya raya selamanya," mata Hana berbinar membayangkan kemewahan itu.

"Iya... semuanya akan jadi milik kita," jawab Rio yakin.

Mereka tertawa puas, merasa rencana mereka sempurna tanpa celah. Namun mereka tak tahu — salah satu CCTV yang tersembunyi di sudut ruangan itu ternyata masih aktif, merekam setiap kata dan tawa licik mereka berdua...

Hana tersenyum licik menatap bayangannya di cermin, membayangkan masa depan yang penuh kemewahan di ujung jari-jarinya.

"Nanti saat aku sudah jadi Nyonya Rizki sepenuhnya... semua aset, rumah, perusahaan, tabungannya... semuanya atas namanya akan kuambil alih. Rizki... kamu terlalu bodoh. Terlalu tulus mencintai orang sepertiku, padahal aku hanya melihatmu sebagai batu loncatan saja. Kasihan sekali kamu, tapi ini memang takdirmu — dijadikan jembatan kesuksesanku."

Ia tertawa kecil, merasa menang sepenuhnya. Tak sedikit pun rasa bersalah menyelinap di hatinya.

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!