Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NYAMUK!
Jam 7 pagi itu Azarin dan Naya tengah menyuapi makan putra putri mereka di sofa tunggu. Begitu juga dengan Fajar dan Gani yang sedari tadi duduk di sofa depan mereka dengan perasaan canggung.
Dalam hati Fajar merasa tidak nyaman karena sedari tadi tatapan Azarin begitu sinis ke arahnya. Sementara Mia yang sudah mulai agak lebih tenang dan tidak lagi menangis jadi sering curi-curi pandang ke arah Fajar.
"Bukannya ini om yang ngaci jajan kemalin?" batin Mia.
Fajar tatap canggung Mia dan Azarin di depannya. Melambai kecil ke arah putrinya.
"Hay cantik." bisik Fajar meringis.
Namun wajah Mia segera di tarik oleh Azarin menatap ke arah lain. Mendelik tajam pada Fajar seraya melirik punggung Nyonya Diana yang setia di kursi kecil samping putranya.
"Brisik." desis wanita itu, nyaris tak terdengar.
Fajar menarik nafas panjang. Sementara tatapan Gani tertuju pada sang putra yang juga menatap ke arahnya dengan mulut penuh makanan.
"Papa." lirih Azril polos.
Wajah Gani langsung berbinar, punggung yang semula membungkuk langsung tegap, ingin berdiri memeluk sang putra. Namun segera di tahan oleh Naya.
"Gausah sok asik!"
Gani pun urung akan niatnya. Kembali duduk dengan ragu. Dua pejantan itu saling tatap-tatapan dengan canggung, menggaruk tengkuk lehernya kikuk.
"Gini amat yah jadi bapak." bisik Gani di telinga Fajar.
Temannya mengangguk kecil, "Iya, aku jadi ga berani."
"Bisik-bisik apa kalian?" tanya Naya sinis.
Jika bukan karena ada Nyona Diana saja, sudah mereka usir dua pria menyebalkan di depan mereka dari tadi. Untung saja anak-anak bisa diajak bekerja sama. Jadi penyamaran mereka yang tidak saling mengenal masih terjaga.
"Nay, nyamuknya ngajak berantem mulu yah. Andai saja bisa ku jotos terus ku tampar ke dinding sampe benyek." celetuk Azarin dengan nada sinis.
"Iya kamu bener, Rin. NYAMUK itu memang harusnya di tampar, di bejek-bejek sampe benyek terus kasi makan kecoa." balas Naya.
"Hooh, andai ada pembasmi NYAMUK raksasa disini yah. Pasti udah kita cekokin ke mulutnya sampe bengek!"
Fajar dan Gani relfeks merunduk, menelan ludah susah payah. Kapok, mereka berdua jelas sedang menyindirnya.
Mia dan Azril kompak mendongak menatap ibu mereka polos.
"Mama, emang ada nyamuk lakcaca?" tanya Mia polos.
"Iya ma, nyamuk lakcaca nya jantan apa betina? Kalo di adu cama ulat Pak Capto menang mana, Ma?" kini gantian Azril bertanya pada Naya.
Tatapan dua ibu muda itu langsung bersilat mata ke arah sumber wabah di depan mereka, lalu ke putra putri mereka intens.
"Ohh tentu nyamuknya yang mati, sayang." balas Naya penuh percaya diri, "Nyamuk cungkring sekali lahap ya ngap! Apalagi kalo nyamuknya anak mama, gabisa belain istrinya."
Yang langsung mengundang gelak tawa dua anak kecil di pangkuan mereka.
"Betul tuh, sama nyamuk yang suka nyakitin istrinya, hobby selingkuh lagi. Huhh....kalo bisa mama patahin sayapnya sampe benyek." imbuh Azarin tak kalah sengak.
Fajar dan Gani merunduk dalam. Menyelipkan kedua tangan di tengah paha seperti murid yang baru habis kena hukuman.
Mereka berdua saling berpandangan sambil telan ludah masing-masing.
"Gini amat."
"Nasib lah met."
***
Kini jam sudah menunjukkan pukul 8. Nyonya Diana izin untuk menangani urusan kantor menggantikan Dean. Azarin dan Mia selalu setia menunggu di sampingnya.
Sementara Nyonya Diana, Naya, Gani dan Fajar izin pamit pulang untuk bekerja. Dan akan kembali menjenguk sore nanti.
"Mama...papa belum bangun juga." cicit Mia khawatir, matanya mulai berkaca-kaca.
Azarin pun sama cemasnya, ia elus pucuk kepala Mia di pangkuannya pelan, tatapannya tak pernah lekang dari wajah pucat yang masih dalam masa pemulihan itu.
"Mama juga khawatir, Mia. Kita do'akan saja semoga papa cepat sembuh yah sayang."
Mia mengangguk dengan bibir memanyun kecil. Menggenggam jari kelingking Dean erat.
Tiba-tiba saja jari kelingking di genggaman Mia bergerak. Anak kecil itu lantas mendongak menatap mamanya dengan bola mata penuh binar.
"Mama tangan papa gelak!"
Mendengar itu Azarin reflesk bangkit setengah badan, mencondongkan tubuhnya ke arah Dean.
Bola matanya yang semula berair mulai menemukan kembali binarnya, senyum yang semula hambar itu kembali merekah.
"Mas...?"
Terlihat mata Dean mengerjab kecil. Tubuh yang semula beku tanpa pergerakan kini mulai menunjukkan kesadaran.
"Ak-aku dimana..."
Azarin raih bahu Dean cepat, menatap pria itu dengan senyum merekah lebar. Bukan lagi air mata kesedihan yang luruh, melainkan air mata kebahagiaan yang melegakan.
"Mass gimana apa masih ada yang sakit?"
"Papa...papa macih cakit?"
"Mas tenangkan diri dulu, jangan banyak gerak yah. Aku panggil dokter sekarang."
Baru saja tubuh Azarin berbalik. Ucapan Dean mengejutkan dirinya, hingga seluruh tubuhnya membeku.
"Kamu siapa."
DEG!
Tatapan Azarin yang semula penuh binar langsung berubah kosong. Berbalik lemah menatap Dean yang juga menatapnya penuh tanya.
"Dan, apa yang terjadi padaku?" Dean meringis ngilu, memegangi dahinya yang berdenyut nyeri.
Air mata Azarin kembali luruh, senyumnya memudar, kembali terduduk dengan lemas pada kursi.
"Mas kamu—"
Azarin menggeleng lemah. Gak. Gamungkin kan Mas Dean hilang ingatan?
Dean tatap Azarin lagi dengan kening mengerut. Dapat ia lihat wajah syok wanita di depannya.
"Kenapa kamu menangis?" tanyanya lagi, "Apa kita saling kenal?"
Azarin tutup wajahnya dengan tangan cepat, menangis tertahan. Sementara Mia hanya bisa menatap polos keduanya, ia masih belum mengerti dengan keadaan yang terjadi di antara dua orang dewasa di depannya itu.
"Mas kamu—kamu hilang ingatan?" tanya Azarin pias, ia raih lengan Dean, menggenggamnya erat, "Bilang kalo ini bohong, mas!"
Sementara respon Dean hanya melongo saja, menggeleng lemah. Membuat tangis Azarin pecah disaat itu.
Azarin merunduk lemah, menutup wajahnya dengan tangan seraya menangis sesegukan, "Hikss kenapa begini?! Kenapa disaat hubungan kita baik-baik saja kamu malah kaya gini, mas?!"
"Bercanda...hehehe." kekeh Dean tertawa mengejek.
Sementara Azarin yang menangis sesegukan itu mendongak lemah, menatap kosong Dean yang malah tertawa disaat ia panik setengah mati. Menggeplak bahu Dean kesal.
"Mass jail ihh!!" seru Azarin histeris, tangisnya malah semakin pecah.
Dean terkekeh kecil, gatau kenapa dia ingin menjaili Azarin saat melihat wajah piasnya tadi.
Pria itu raih tangan Azarin lemah, menggenggamnya erat.
"Iya maaf yah sayang."
Azarin tarik tangannya dari genggaman Dean cepat, menangis tertahan.
"Mas jahat! Aku gasuka bercandaan mas kaya gitu! Kalo kenyataan gimana?" sungut Azarin mengelap ingusnya dengan tisu.
Dean tersenyum lebar, "Jangan atuh. Maaf yah."
Bibir wanita itu memanyun. Menatap Mia yang malah tertawa lebar melihat mamanya panik. Sahut-sahutan dengan Dean.
"Lihat, Mia. Mama kamu ketakutan, hihihi...." bisik Dean pada Mia.
Mia tutup mulut nya menahan tawa, mereka berdua kompak menertawakan Azarin.
"Hihihi ... Iya pa, mama lucu, hihi." kekeh Mia.
Azarin tatap keduanya kesal, memalingkan wajah ke arah lain seraya mengelap ingusnya yang terus keluar, memanyun sedih.
"Berisik!"
"Hahaha...!"
lanjuut thor.....