Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO yang Bikin Kesal
Mobil Zevanna berhenti di parkiran perusahaan Verion Group. Lalu ia keluar dari mobil menuju meja kerjanya.
Suasana pagi itu cukup tenang, karena baru beberapa karyawan yang datang.
Tisha tersenyum melihat Zevanna, ia langsung menyambutnya sambil membawa sesuatu dari meja.
Ternyata Tisha membawa katalog pakaian untuk acara perusahaan.
"Zev, lo udah siap belum buat acara minggu depan?" Tanya Tisha.
Zevanna mendelik. "Kenapa sih pagi-pagi bahas acara? Gue baru sampai ege!"
"Lo belum nentuin baju?"
"Belum."
"Kenapa lo belum nentuin baju? Acaranya bentar lagi, Zev. Bentar lagi dan lo belum tau mau pakai baju apa?!" Kata Tisha.
"Gue pakai apa aja juga nggak bakal ada yang peduli." Jawab Zevanna.
"Yang peduli nanti panitia kalau lo dateng pakai kaus oblong."
Zevanna mendecih kecil. "Bodoamat, gue nggak peduli. Yang penting kan gue hadir di acara itu."
Tisha geleng-geleng kepala. "Ya ampun punya temen kayak gini amat, katanya mau tampil kece. Tapi malah bodoamat sama pakaian."
Zevanna menoleh. "Udah lah, gue mau ke meja gue."
Zevanna berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk.
Baru beberapa menit, Elsa datang ke meja Zevanna.
"Zevanna."
Zevanna mendongak. "Ya, Mbak?"
"Tolong kamu cek daftar meja dan tempat duduk tamu ya. Tadi mau minta sama yang lain tapi semua pada sibuk, tolong ya, Zevanna!" Ucap Elsa pelan.
Zevanna hanya mengangguk. "Baik, Mbak."
"Oke, kamu sama Tisha bantu-bantu yang lain." Elsa pun pergi.
Zevanna mengeluh karena pekerjaannya semakin banyak.
"Ini sebenarnya acara atau kerja rodi sih?"
"Makanya jangan banyak ngeluh, Zev." Celetuk Tisha sambil terkekeh kecil.
Zevanna menatap Tisha sinis. "Diem lo! Mending lo aja yang bantu-bantu."
Tisha tersentak. "Loh? Kok gue sih? Kan kita disuruh bantu bareng-bareng."
"Udah, ah. Capek gue!"
"Yeeee, bukan lo aja yang capek tapi semua orang juga capek ege!" Sahut Tisha.
"Diem atau gue robek mulut lo?!" Kata Zevanna kesal.
Lalu mereka berdua berjalan menuju tempat persiapan acara perusahaan.
Zevanna mulai mengecek kartu nama tamu.
Karena terburu-buru, ia salah menaruh satu kartu nama.
Tisha menoleh ke arah Zevanna. "Eh, Zev! Itu bukan tempatnya!"
Zevanna mengernyitkan kening. "Lah? Gue kira di sini."
Tisha menepuk jidatnya. "Baca dulu sebelum naruh!"
Zevanna mendengus dan berdecak. "Namanya juga manusia, bisa salah."
"Lo manusia atau bencana?" Kata Tisha.
Zevanna mendelik tajam. "Maksud lo apa? Lo bilang gue bencana gitu?"
Tisha langsung gelagapan lalu menggeleng. "E-enggak, maksud gue. Lo harus lebih teliti, nanti kalau salah. Kita yang di salahin."
Zevanna menghela napas berat. "Iya, gue bakal lebih teliti."
Tisha mengelus dadanya merasa lega karena Zevanna tidak meledak.
Kemudian Zevanna melanjutkan mengecek nama tamu dengan teliti.
Sementara itu, Ravenzo turun untuk memeriksa persiapan acara.
Ia melihat Zevanna dan Tisha.
Ravenzo kemudian memperhatikan kartu nama yang salah.
"Itu kenapa di sana?" Tanya Ravenzo.
Zevanna langsung melihat kartu tersebut. "Eh..."
Tisha menahan tawa melihat Zevanna yang lagi-lagi salah menaruh kartu nama.
Ravenzo menatap Zevanna. "Kamu yang menaruh ini?"
Zevanna cuma tersenyum kecil dan cengengesan. "Hehe, iya. Pak!"
"Jangan 'hehe'."
Zevanna langsung mencibir. "Iya pak, maaf."
Ravenzo menatap Zevanna. "Perbaiki sampai benar."
Zevanna mengangguk. "Pak CEO kalau ngomong jangan galak-galak dong."
"Saya tidak galak." Kata Ravenzo singkat.
Zevanna menatapnya. "Bapak ngomongnya kayak mau nagih utang." Jawabnya sambil terkekeh.
Arvin yang kebetulan ada di belakang menahan tawanya.
Ravenzo menatap Arvin. "Ada yang lucu?"
Arvin langsung pura-pura serius. "Nggak ada, Pak."
Ravenzo kembali menatap Zevanna. "Kamu bawa beberapa dokumen ke ruang rapat."
Zevanna membelalakkan matanya kaget. "Kenapa saya, pak?"
"Karena kamu yang paling dekat." Jawab Ravenzo.
"Tapi Tisha juga dekat. Kenapa saya mulu sih?" Kata Zevanna.
Ravenzo menoleh ke arah Tisha.
Tisha langsung pura-pura sibuk. "Maaf, Zev. Gue tiba-tiba ada kerjaan nih!"
Zevanna melotot lebar. "Pengkhianat lo!"
"Udah, cepet bawa dokumen ke ruang rapat." Ucap Ravenzo datar.
Zevanna menghela napas, mencoba menahan emosinya.
"Iya, Pak."
Zevanna membawa dokumen bersama Ravenzo.
Suasananya agak canggung karena mereka berjalan berdua.
Zevanna berdehem kecil. "Pak."
"Hm?"
"Bapak kalau jalan jangan cepet-cepet dong."
Ravenzo melambatkan langkahnya. "Kamu yang terlalu lambat."
Zevanna mendecih kecil. "Ya saya kan bukan robot."
Ravenzo menoleh sebentar. "Saya juga bukan robot."
"Tapi muka bapak kayak robot, datar mulu. Nggak pernah senyum gitu." Kata Zevanna menatap wajahnya.
Ravenzo terdiam dan menatapnya tajam.
Zevanna langsung sadar dengan ucapannya. "Saya cuma becanda aja, Pak."
"Jangan sering-sering becandain orang. Nanti kualat." Kata Ravenzo dingin, menyindir Zevanna.
Zevanna tersentak mendengar kalimat Ravenzo. "S-saya nggak sering becandain orang kok, Pak. Cuma kadang mulut saya suka keceplosan."
Ravenzo hanya mengangguk lalu kembali berjalan.
Zevanna mengikuti Ravenzo dari samping.
Zevanna masih berjalan di samping Ravenzo sambil membawa beberapa dokumen.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di depan ruang rapat.
Ravenzo membuka pintu.
"Taruh di meja."
Zevanna masuk dan meletakkan dokumen tersebut di atas meja.
"Udah, Pak."
Ravenzo mengangguk. "Terima kasih."
Zevanna yang hendak keluar tiba-tiba berhenti.
Ia menoleh ke arah Ravenzo. "Pak."
"Hm?"
"Kenapa tadi saya yang disuruh bawa dokumen?" Tanya Zevanna lagi—heran.
Ravenzo menatapnya. "Karena kamu yang paling dekat."
Zevanna mengangguk pelan. "Oh, dekat ya..."
Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti lagi. "Tapi kalau dipikir-pikir..."
Ravenzo mengangkat alis. "Apa lagi?"
"Kayaknya Bapak emang sengaja nyuruh saya."
Ravenzo mengerutkan kening. "Kenapa saya harus sengaja?"
Zevanna mengangkat bahu. "Nggak tahu. Soalnya dari tadi Bapak manggil saya terus."
Ravenzo terdiam.
Zevanna menatapnya curiga. "Jangan-jangan Bapak suka nyariin saya, ya?"
Ravenzo langsung menatap Zevanna datar. "Jangan terlalu percaya diri."
Zevanna langsung manyun. "Ya saya cuma nanya aja, Pak."
"Kalau sudah selesai, kembali bekerja."
"Iya, iya."
Zevanna hendak pergi.
Namun sebelum pintu terbuka, Ravenzo kembali memanggilnya.
"Zevanna."
Zevanna menoleh. "Apa, Pak?"
"Jangan salah menaruh kartu nama lagi." Jawab Ravenzo.
Zevanna langsung cemberut. "Iya, Pak. Itu cuma sekali."
Ravenzo menatapnya. "Barusan juga salah."
Zevanna terdiam. "...Oh iya, hehe."
Ravenzo menghela napas kecil. "Pergi."
"Iya, pak CEO!"
Zevanna keluar dari ruang rapat sambil mendecih kecil. Begitu pintu tertutup, ia bergumam.
"Nyebelin banget tuh CEO. Apa-apa gue mulu yang disuruh."
Di dalam ruang rapat, Ravenzo yang masih berdiri di dekat meja tanpa sengaja mendengar gumaman itu.
Ia menggeleng kecil. "Dia juga sama."
Setelah Zevanna pergi, Ravenzo masuk ke ruang rapat.
Di dalam ruangan, beberapa manajer sudah menunggu. Henry juga sudah duduk sambil membuka dokumen di depannya.
Ravenzo duduk di kursinya. "Baik. Kita mulai rapatnya."
Henry membuka laporan. "Untuk persiapan acara minggu depan, sebagian besar sudah selesai, Pak."
Ravenzo menatapnya. "Berapa persen?"
"Kurang lebih delapan puluh persen."
"Bagian mana yang belum selesai?"
"Registrasi tamu, dekorasi, dan beberapa perlengkapan masih dalam proses."
Ravenzo mengangguk. "Pastikan semuanya selesai sesuai jadwal."
"Baik, Pak."
Salah satu manajer kemudian menyerahkan dokumen lain.
"Untuk keamanan acara juga sudah kami koordinasikan dengan tim terkait."
"Bagus."
Ravenzo membaca dokumen tersebut sebentar. "Bagaimana dengan daftar tamu VVIP?"
Henry menjawab, "Masih diperiksa ulang, Pak. Tadi ada beberapa data yang tertukar."
Ravenzo mengangkat pandangan. "Pastikan tidak ada kesalahan lagi."
"Baik, Pak."
Rapat pun dilanjutkan dengan pembahasan beberapa persiapan lainnya.
Sementara itu, Ravenzo tetap fokus mendengarkan laporan dari para manajer.
***
Rapat selesai beberapa waktu kemudian.
Ravenzo keluar dari ruang rapat bersama Henry.
"Untuk laporan selanjutnya, kirim ke saya sebelum sore," ujar Ravenzo.
"Baik, Pak." Henry kemudian pergi menuju ruangannya.
Ravenzo berjalan melewati koridor.
Saat melewati area administrasi, pandangannya tanpa sengaja melihat Zevanna yang sedang duduk di depan komputer.
Zevanna terlihat sibuk mengetik.
Ravenzo berhenti sebentar. "Zevanna."
Zevanna langsung mendongak. "Hm? Pak?"
Ravenzo mendekat. "Kamu sudah makan?"
Zevanna mengerutkan kening. "Udah."
Ravenzo menatapnya sebentar. "Kapan?"
Zevanna berpikir. "Pas... tadi."
"Tadi kapan?"
Zevanna terdiam. "Duh, nggak inget. Pak."
Ravenzo menghela napas. "Jadi belum makan."
Zevanna langsung membantah. "Udah, Pak!"
"Kamu yakin?"
"Iya, yakin!"
Ravenzo menatapnya datar.
Zevanna akhirnya menyerah. "...Belum."
Ravenzo mengangguk kecil. "Pergi makan."
Zevanna melongo. "Hah?"
"Saya bilang pergi makan." Ulang Ravenzo.
"Tapi kerjaan saya masih banyak, Pak."
"Kerjaan bisa dilanjutkan."
Zevanna menatap Ravenzo dengan wajah heran. "Pak CEO perhatian banget sih."
Ravenzo langsung menatapnya. "Saya hanya tidak mau ada karyawan yang pingsan karena lupa makan."
"Ohhh..." Zevanna mengangguk-angguk. "Kirain Bapak khawatir sama saya."
Ravenzo terdiam dan membuang muka.
Zevanna langsung nyengir. "Kan saya cuma bercanda, Pak."
"Pergi makan."
"Iya, Pak! Galak amat sih!"
Ravenzo kemudian pergi meninggalkan Zevanna.
Zevanna menatap punggungnya. "Katanya cuma nggak mau karyawan pingsan."
Ia mengangkat bahu. "Ya udah, gue makan."
***
Jam istirahat pun tiba, Zevanna berjalan menuju ke pantry untuk makan siang bersama Tisha.
Mereka berdua makan di dekat jendela.
Tisha menyeruput minumannya lalu menatap Zevanna. "Pak CEO nyuruh lo makan, Zev?"
Zevanna mengangguk. "Iya."
Tisha langsung senyum jahil. "Cieeee..."
Zevanna mendelik dan berdecak. "Apaan sih? Cie-cie, matamu!"
"Ternyata pak CEO perhatian ya sama lo." Kata Tisha menggodanya.
"Dia cuma nyuruh gue makan, Tisha!" Gerutu Zevanna.
"Iya, iya. Cuma nyuruh makan."
"Jangan mulai gosip lo." Kata Zevanna mulai kesal.
Tisha mencibir. "Dih, siapa juga yang gosip. Orang gue cuma nanya aja."
"Pertanyaan lo nggak penting, bilang cie-cie apa maksudnya coba?" Omel Zevanna.
"Ya gue refleks aja tadi, hehe." Kata Tisha cengengesan.
"Refleks bapakmu!"
Tisha terkikik pelan. "Kok lo sewot sih, Zev? Salting ya lo, di cie-ciein."
"Dih, najis. Salting apaan coba! Biasa aja." Elaknya.
"Salting itu!"
"Nggak! Gue nggak salting!" Tanpa sengaja tangannya menyenggol minumannya sendiri.
Untung seseorang menahan gelas tersebut.
Ternyata Ravenzo.
Zevanna langsung terdiam melihat Ravenzo ada di depannya.
Ravenzo menatap Zevanna dingin. "Kamu kalau makan jangan sambil banyak bicara."
"Ya saya nggak sengaja, pak. Toh, hampir tumpahin doang." Ucap Zevanna.
"Makanya hati-hati."
Tisha yang melihat dari samping langsung senyum-senyum sendiri.
Ravenzo meletakkan gelas itu kembali di atas meja. "Lain kali jangan banyak bicara saat makan."
Zevanna mendengus kecil. "Iya, Pak. Maaf."
Lalu Ravenzo pergi meninggalkan Zevanna dan Tisha.
Zevanna berdecak kesal. "Tuh, CEO kenapa tiba-tiba dateng sih?"
"Ya kan ini perusahaannya, jadi terserah dia mau dateng apa nggak ke sini." Sahut Tisha sambil terkekeh geli.
"Lo liat nggak mukanya tadi? Nyebelin banget, sok cool lagi. Heran gue kok bisa orang kayak dia jadi CEO?!" Cibir Zevanna geram.
"Ya terus siapa yang jadi CEO? Emang lo mau hah?" Kata Tisha.
"Ya nggak mau lah." Kata Zevanna cepat. "Gue maunya jadi istrinya CEO, biar enak hidup gue buat habisin duit dia!"
"Emang ada CEO yang mau sama lo?"
Zevanna mendelik. "Ada lah, pastinya. Tapi bukan cowok lima miliar itu."
Tisha menahan tawa. "Ya jodoh nggak ada yang tau, Zev. Mungkin lo jodoh sama dia."
"Dih, ogah. Amit-amit jabang bayi. Gue nikah sama dia, yang ada gue tiap hari muak liat mukanya yang sok cool itu!" Kata Zevanna sambil meminum minumannya.
Tisha terkekeh kecil mendengar kata-kata dari sahabatnya.
***
Arvin berjalan menuju ruangan Ravenzo.
"Oi, Rav."
Ravenzo mendongak menatap temannya. "Kalau masuk itu ketuk pintu."
Arvin cuma cengengesan. "Hehe, sorry. Gue lupa tadi, Rav."
Ravenzo geleng-geleng kepala, kembali menatap laptopnya.
"Rav, akhir-akhir ini gue sering liat lo sama Zevanna." Kata Arvin.
"Kebetulan." Jawab Ravenzo cuek.
"Kebetulan terus?"
Ravenzo menatap Arvin. "Kerjaan lo udah selesai?"
"Waduh, ganti topik." Ucap Arvin. "Belum, soalnya tadi gue habis makan."
"Terus ngapain lo ke sini?" Tanya Ravenzo.
Arvin terdiam sejenak. "Itu tadi gue mau kasih tau ke lo, kalau persiapan acara bentar lagi selesai."
Ravenzo melirik jam tangannya. "Lanjut kerja sana."
"Siap, bos." Arvin keluar dari ruangan Ravenzo sambil menahan tawa.
Ravenzo menghela napasnya lalu menyandarkan punggungnya di kursi.
Setelah Arvin pergi dari ruangannya.
Ravenzo kembali menatap layar laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, ia membuka salah satu laporan persiapan acara yang baru saja diterimanya.
Ravenzo memeriksa beberapa data di dalam laporan tersebut.
Ada beberapa bagian yang perlu dicocokkan dengan data administrasi.
Ia kemudian mengambil beberapa dokumen dan berdiri dari kursinya.
Sementara itu, di lantai bawah, Zevanna dan Tisha sudah kembali ke meja kerja setelah makan siang.
Zevanna baru saja duduk dan menyalakan komputer.
"Yahhh... kerja lagi," gumamnya.
Tisha yang duduk di sebelahnya terkekeh. "Makanya jangan kebanyakan ngobrol pas makan."
Zevanna meliriknya. "Lo jangan mulai lagi deh."
"Apaan? Gue cuma ngomong." Ucap Tisha.
"Udah, diem lo."
Tisha mengangkat kedua tangannya. "Iya, iya. Gue diem."
Zevanna baru saja membuka beberapa dokumen ketika seseorang berhenti di samping mejanya.
"Zevanna."
Zevanna mendongak.
Ravenzo berdiri di samping mejanya sambil membawa beberapa dokumen.
"Iya, ada apa. Pak?"
Ravenzo mengulurkan dokumen tersebut. "Tolong bantu periksa ini."
Zevanna melihat tumpukan dokumen di tangannya. "Ini lagi?"
"Kenapa?"
Zevanna menerima dokumen itu dengan wajah pasrah. "Kenapa saya terus sih, Pak?"
Ravenzo menatapnya datar. "Karena kamu sudah memahami data acara."
"Ohhh."
Zevanna melihat dokumen tersebut sekilas. "Jadi cuma diperiksa aja, Pak?"
"Iya. Cocokkan jumlah meja, nama tamu, dan nomor tempat duduknya."
Zevanna mengangguk. "Baik, pak."
Ravenzo hendak kembali ke ruangannya, tapi Zevanna tiba-tiba memanggil.
"Pak."
Ravenzo berhenti dan menoleh. "Apa?"
Zevanna menunjuk dokumen di tangannya. "Kalau ada yang salah, saya boleh nyalahin Bapak nggak?"
Ravenzo mengernyit. "Kenapa saya yang disalahkan?"
"Soalnya Bapak yang kasih kerjaan ini."
Ravenzo terdiam beberapa detik. "Itu bukan alasan."
Zevanna mendengus. "Yaudah, saya kerjain."
Ravenzo mengangguk kecil. "Bagus."
Ia kemudian berjalan meninggalkan meja Zevanna.
Zevanna melihat dokumen di tangannya sambil menghela napas. "Kerjaan gue nggak habis-habis."
Tisha meliriknya dari samping. "Makanya jangan banyak protes."
Zevanna langsung menoleh. "Lo diem aja."
Tisha terkekeh. "Padahal tadi Pak CEO cuma minta bantuan."
"Ya gue tau."
Zevanna mulai membuka dokumen. "Tapi kenapa harus gue terus?"
Tisha mengangkat bahu. "Mungkin karena lo paling dipercaya."
Zevanna berhenti sebentar dan menatap Tisha. "Serius?"
Tisha langsung menggeleng. "Nggak tau. Gue cuma asal ngomong."
Zevanna mendecih. "Kirain beneran."
Tisha tertawa kecil. "Udah, kerja sana."
"Iya, bawel lo."
Zevanna mulai memeriksa dokumen satu per satu. "Nomor meja... jumlah kursi... daftar tamu..."
Ia mencocokkan data di dokumen dengan data yang ada di komputer.
Beberapa menit berlalu.
Zevanna masih sibuk memeriksa data. Sesekali ia menguap karena mulai bosan.
"Kenapa data acara banyak banget sih?" Ia kembali melihat dokumen di depannya.
"Nomor meja delapan belas..." Zevanna mengetik angka tersebut ke komputer. Namun karena terburu-buru, ia justru memasukkan angka 81.
Tanpa menyadarinya, Zevanna langsung lanjut memeriksa data berikutnya. "Yang ini juga cocok."
Sementara itu, Ravenzo baru saja keluar dari ruangannya setelah selesai memeriksa beberapa laporan.
Ia berjalan melewati meja Zevanna. Namun langkahnya berhenti saat melihat layar komputer Zevanna.
Kening Ravenzo sedikit berkerut. "Zevanna."
Zevanna yang sedang fokus langsung menoleh. "Iya, Pak?"
Ravenzo menunjuk layar komputer. "Itu salah."
Zevanna mengernyit. "Hah? Yang mana?"
"Nomor mejanya."
Zevanna langsung melihat layar.
Ia terdiam beberapa detik. "O-oh..."
Ravenzo menunjuk angka tersebut. "Seharusnya delapan belas, bukan delapan puluh satu."
Zevanna buru-buru mengambil dokumen di sampingnya dan mencocokkannya.
"Oh iya ya..."
Ia langsung memperbaiki angka tersebut. "Maaf, Pak. Salah pencet."
Ravenzo menatap layar komputer. "Kamu harus lebih teliti."
Zevanna mendengus kecil. "Saya biasanya teliti, Pak. Cuma tadi salah pencet doang."
Ravenzo mengangguk kecil. "Semoga cuma sekali."
Zevanna langsung menoleh. "Iya, Pak. Saya juga nggak mau kerja dua kali."
Ravenzo hendak kembali ke ruangannya. Namun sebelum pergi, ia berkata.
"Jangan sampai salah lagi."
Zevanna mengangkat tangan. "Siap, Pak!"
Ravenzo berjalan pergi.
Zevanna menatap punggungnya dengan kesal. "Galak banget sih."
Ia kembali melihat layar komputer. "Padahal cuma salah satu angka doang."
Tisha yang sejak tadi mendengar percakapan mereka menahan tawa.
"Zev."
"Apa?"
"Kayaknya Pak CEO perhatian banget sama kerjaan lo." Ucap Tisha iseng.
Zevanna langsung menoleh. "Perhatian dari mana? Dia cuma negur gue!"
Tisha terkekeh. "Iya, iya. Cuma negur."
"Udah, kerja sana!"
***
Menjelang jam pulang kantor, Zevanna telah selesai dengan tugasnya.
Ia keluar dari ruangan CEO.
Tidak lama kemudian Ravenzo juga keluar. Mereka berdua berjalan menuju lift.
Zevanna melirik Ravenzo. "Pak."
Ravenzo menoleh dan mengerutkan keningnya. "Apa?"
"Kita pulang bareng?"
"Kebetulan," jawab Ravenzo singkat.
Zevanna mengangguk. "Oh kebetulan."
Pintu lift terbuka, lalu mereka masuk.
Suasana di dalam lift sedikit canggung karena hanya ada mereka berdua.
Zevanna berdehem kecil sambil merapikan rambutnya ke belakang telinga. "Pak, bapak nggak capek?"
"Capek," jawabnya singkat.
"Terus kenapa nggak istirahat aja, Pak?" Tanya Zevanna.
Ravenzo memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. "Pekerjaan tidak akan selesai kalau saya istirahat terus."
Zevanna mengangguk. "Ohhh... Ternyata CEO juga manusia, toh."
Ravenzo langsung menoleh. "Memangnya kamu kira saya apa?"
Zevanna berpikir sebentar, lalu menatap Ravenzo polos. "Robot."
Ravenzo tersentak kecil, mendengar ucapan Zevanna yang spontan.
Zevanna baru sadar kalau jawabannya mungkin bakal bikin masalah.
"Eh..."
Ting!
Pintu lift terbuka. Zevanna langsung keluar duluan sebelum di jewer sama sang CEO.
Ravenzo menatap punggung Zevanna yang semakin menjauh.
Ia kemudian keluar dari lift sambil menghela napas.
"Dasar karyawan nggak tau malu."
Saat Zevanna berjalan menyusuri koridor kantor, ia tiba-tiba melihat seorang staf membawa beberapa kardus.
Namun, langkah Zevanna terhenti ketika melihat sebuah label yang terasa familiar.
Ia memperhatikan kardus tersebut dengan saksama. "Eh... tanda itu kan..."
Staf tersebut sempat berhenti dan menatap Zevanna sekilas. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa dan kembali melanjutkan langkahnya.
Zevanna memperhatikan kardus yang dibawa staf tersebut. "Bukannya gue pernah lihat tanda ini di gudang?"
Matanya kemudian tertuju pada tulisan kecil yang tertera di salah satu kardus.
VERION GROUP — ARSIP LAMA
Di bawah tulisan tersebut terdapat sebuah kode penyimpanan.
Zevanna mengernyitkan kening. "Jangan-jangan ini ada hubungannya sama Kak Zoyya?"
Ia berniat mengejar staf tersebut untuk bertanya. Namun, staf itu sudah berjalan cukup jauh.
"Ck, udah pergi jauh. Padahal gue mau nanya."
Zevanna menghela napas kecil. Ia kembali menatap kardus-kardus tersebut dari kejauhan.
Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang.
***
Malam harinya, Zevanna duduk di kamarnya yang hanya diterangi lampu redup.
Pikirannya masih tertuju pada kejadian di kantor tadi.
Ia mengambil ponselnya, lalu membuka catatan dan mulai menulis beberapa hal.
Zoyya—mantan sekretaris Verion Group
Gudang—sosok misterius
Label penyimpanan—sama
Arsip lama—masih ada
Zevanna menatap catatan tersebut beberapa saat.
"Kalau semuanya cuma kebetulan..."
Ia berhenti sebentar. Kemudian mengerutkan kening. "Kenapa kebetulan-nya banyak banget, ya?"
Zevanna kembali melihat layar ponselnya. "Apa orang itu tahu sesuatu tentang kak Zoyya?"
Ia terdiam. Rasa penasarannya terhadap Zoyya justru semakin besar.
Bersambung…