Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

​Motor sport Adrian melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan dan hawa panas sore hari. Setelah membelah kemacetan, motor itu akhirnya berbelok dan berhenti di area parkir sebuah mal megah di pusat kota.

​Luna dan Adrian kompak turun hampir bersamaan. Luna melepas helmnya, membetulkan rambutnya yang agak berantakan, lalu mengedarkan pandangan dengan dahi berkerut.

Ia masih kurang paham kenapa Adrian membawanya ke tempat seseram ini untuk ukuran orang yang sedang menyamar—tempat ramai penuh potensi memicu panggilan alam para pengawal ayahnya.

​"Kak Adrian, kita mau ngapain ke sini?" tanya Luna heran.

​Adrian mengaitkan helmnya di stang motor, lalu menoleh sambil tersenyum tipis. "Kita makan dulu, ya. Gue udah lapar soalnya. Lo juga lapar, kan?"

​"Kelihatan banget ya di muka gue kalau lagi lapar?" bisik Luna pelan, nyaris tak terdengar.

​Adrian tersenyum lebar. Dalam pandangannya, ekspresi cemas bertaut bingung di wajah Luna terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

​"Bukan cuma di muka," terkekeh Adrian pelan. "Dari tadi udah kedengaran cacing di perut lo lagi demo."

​Deg.

​Luna refleks memegangi perutnya. Wajahnya seketika memerah menahan malu setengah mati. Hah, masa sih?! Sialan banget nih cacing, bikin malu gue aja di depan gebetan! umpat Luna menjerit dalam hati.

​Demi menutupi salah tingkahnya, Luna cuma bisa memasang cengiran canggung yang dipaksakan.

"E-eh... iya sih, lumayan."

​"Ayo masuk," ajak Adrian santai, melangkah lebih dulu menuju lobi utama mal yang megah itu, disusul oleh Luna yang mengekor di belakangnya sambil tetap mengawasi sekitar secara waspada.

Mereka memilih sebuah restoran Jepang yang agak privat di lantai atas mal. Setelah memesan makanan, Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, memiringkan kepala sedikit sambil menatap Luna dengan binar mata yang ramah dan hangat.

​"Jadi... soal yang tadi di gerbang," buka Adrian lembut, memecah keheningan. "Kenapa lo bisa diusik sama Moreno? Dia biasanya nggak peduli sama mahasiswa baru, apalagi sampai ngepung kayak gitu."

​Luna tersentak pelan, tangannya yang sedang memegang sumpit mendadak kaku. Meski hatinya kembang-kempis duduk berhadapan dengan sang pangeran kampus, insting kewaspadaannya tetap terjaga. Ia tidak mungkin jujur soal kabur dari rumah, apalagi insiden tendang tulang kering di gang remang semalam.

​"Oh... itu," Luna tertawa kecil yang dibuat-buat, mencoba terlihat santai. "Cuma salah paham biasa kok, Kak. Semalam... maksud gue, tadi pas di koridor toilet, gue nggak sengaja nyenggol dia. Eh, dia malah ngira gue sengaja nyari masalah. Lagian dia sensitif banget, padahal gue udah minta maaf."

​Adrian menaikkan sebelah alisnya, mengamati perubahan raut wajah Luna yang sedikit tegang. Sebagai sosok yang paham betul tabiat adik tirinya, Adrian tahu ada hal yang disembunyikan. Tapi bukannya memaksa, ia justru tersenyum —senyuman hangat yang sanggup meruntuhkan pertahanan siapa pun.

​"Moreno memang gitu. Temperamental dan hobi bikin rusuh," ujar Adrian penuh simpati, walau ada sedikit aura dingin di matanya setiap kali menyebut nama Moreno.

"Tapi kalau dia udah mulai nargetin seseorang, dia nggak bakal berhenti. Makanya, kalau ada apa-apa, lo bisa lapor ke gue. Biar bagaimanapun, gue tetap kakaknya... dan gue punya cara buat bikin dia mundur."

​Luna mengangguk-angguk anggun. "Duh, perhatian banget sih Kak Adrian," batin Luna meleyot.

​Makanan pun datang dan menyela perbincangan mereka. Setelah menghabiskan porsi masing-masing dan menyelesaikan pembayaran, mereka melangkah keluar menuju area parkir.

​"Yaudah Kak Adrian, makasih banyak ya buat makan malamnya. Gue balik naik taksi online aja dari sini," pamit Luna cepat, sengaja ingin menyembunyikan lokasi apartemen kumuhnya.

​"Lho, kenapa naik taksi?" Adrian menahan langkah Luna dengan kerutan halus di dahi. "Gue kan yang bawa lo ke sini, ya harus gue juga yang anter lo pulang sampai depan pintu."

​"Nggak usah, Kak! Beneran deh, arah rumah gue agak masuk gang dan muter-muter, repot ntar kalau naik motor sport gini," tolak Luna halus, menyunggingkan senyum terbaiknya.

​Adrian tersenyum tipis—sebuah senyuman manis namun dipenuhi taktik tersembunyi. Ia tidak ingin kehilangan jejak gadis yang sukses memancing amarah Moreno ini.

​"Luna... jalanan jam segini makin rawan. Apalagi lo cewek sendirian naik taksi malam-malam," kata Adrian dengan nada suara yang begitu tenang dan mengayomi, melangkah satu piksel lebih dekat.

"Kalau sampai ada apa-apa di jalan, gue yang bakal ngerasa bersalah banget karena udah nahan lo di mal sampai malam begini. Boleh ya, biar perasaan gue tenang?"

​Kalimat manis bertopeng kepedulian itu sukses melumpuhkan benteng pertahanan Luna. Tatapan Adrian yang begitu tulus membuat rasa bersalah Luna mencuat jika terus menolak.

​Luna menghela napas pasrah, pipinya sedikit memerah. "Y-yaudah deh... tapi drop di depan persimpangan jalannya aja ya Kak, soalnya jalannya sempit."

​Adrian tersenyum puas—sebuah kemenangan kecil yang tersusun rapi. "Oke, deal. Ayo."

Sementara itu, di sebuah lounge club eksklusif yang menjadi markas tak resmi Moreno dan gengnya, suasana masih relatif lengang. Lampu remang bertema warm-gothic membingkai ruangan besar itu, mengingat jarum jam belum juga menyentuh tengah malam.

​Moreno duduk bersandar di sofa kulit hitam yang luas. Di depannya, berjejer beberapa botol wine mahal yang tinggal separuh. Jarinya yang dihiasi cincin perak mengapit sebatang cerutu, menghembuskan asap tipis ke udara dengan pandangan kosong yang dingin.

Sementara di sekelilingnya, teman-temannya sibuk bersenang-senang dan bermesraan dengan pasangan masing-masing.

​Dimas, salah satu temannya, melirik Moreno yang sejak tadi diam seperti patung bermuka masam. Ia menyenggol bahu seorang lady escort bergaun merah di sampingnya, lalu menunjuk ke arah Moreno.

​"Ren, parah banget muka lo dari tadi ditekuk gitu," ceretus Dimas sambil terkekeh pelan. "Nih, kenalin. Biar ada yang nemenin minum, daripada lo ngelamun kayak orang ketempelan."

​Cewek bergaun merah itu tersenyum manja, berniat mendekat dan duduk di samping Moreno. Namun belum sempat ia mendaratkan tubuhnya, Moreno mematikan cerutunya di asbak dengan gerakan menekan yang tegas.

​"Pergi," kata Moreno singkat. Suaranya rendah, tanpa intonasi, namun sanggup membuat cewek itu membeku dan langsung mundur teratur.

​Dimas menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala. "Sensitif amat lo malam ini. Masih kepikiran soal si Adrian tadi sore?"

​"Diem lo, berisik," balas Moreno dingin.

​Bzzzt... Bzzzt...

​Ponsel di atas meja bergetar keras. Nama panggilan di layarnya membuat tatapan mata Moreno seketika berubah tajam. Tanpa membuang waktu, ia menyambar ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau.

​"Gimana?" tanya Moreno straight to the point.

​"Semua data yang lo minta udah lengkap, Bos. Gue ada di parkiran luar sekarang," sahut suara di balik telepon.

​"Oke gue turun."

​Moreno mematikan sambungan secara sepihak lalu berdiri mendadak dari sofa, menyambar jaket kulitnya yang tergeletak.

​"Woi, Ren! Mau ke mana lo? Baru juga jam sepuluh!" seru Dimas heran melihat pergerakan impulsif temannya itu.

​"Cari angin. Jangan cari gue," jawab Moreno asal-asalan tanpa berbalik badan, langsung melangkah lebar meninggalkan riuk ruangan club.

​Udara malam yang dingin menyambut Moreno begitu ia melangkah keluar menuju area parkir VIP yang sepi. Di dekat sebuah mobil sedan hitam, tampak seorang pria berjaket hoodie gelap sudah menunggunya sambil memegang sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat.

​"Cepat juga kerjaan lo," ujar Moreno seraya menyandarkan tubuhnya di kap mobil, melipat kedua tangan di dada.

​Pria itu terkekeh pelan, lalu menyodorkan map cokelat tersebut ke dada Moreno.

​"Nama target: Luna Damaris. Anak tunggal dari Alan Damaris—pemilik Damaris Group," terang pria itu membocorkan informasi awal.

"Dia kabur dari rumah beberapa hari yang lalu gara-gara menolak perjodohan bisnis papanya. Sekarang dia sembunyi di Apartemen Cemara, dan papanya menyebar puluhan pengawal buat memburu dia di seluruh penjuru kota."

​Moreno membuka lembaran map itu di bawah remangnya lampu parkiran. Matanya memindai foto wajah Luna yang terlampir, lalu beralih ke deretan data keuangan di lembar berikutnya.

​Sudut bibir Moreno pelan-pelan terangkat, membentuk sebuah seringai predator yang mematikan.

​"Alan Damaris..." gumam Moreno pelan, memutar-mutar nama itu di lidahnya. "Bukannya perusahaan dia lagi di ambang kebangkrutan dan punya utang puluhan miliar ke holding keluarga gue?"

​Pria ber-hoodie itu tersenyum miring dan mengangguk. "Tepat sekali, Bos. Papanya lagi sekarat nyari pinjaman dana segar buat menutup utangnya."

​Moreno menutup map cokelat itu dengan suara puk yang mantap. Matanya berkilat tajam yang bercampur dengan rasa puas yang luar biasa.

​Rencana pembalasan dendamnya kini tak lagi sekadar main-main. Ia baru saja menemukan kartu as yang sanggup meremukkan Luna tanpa sisa.

​"Gue udah nemu cara buat membalas tendangan lo, Luna Damaris..." desis Moreno dengan suara berat dan sarat ancaman.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!