Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pria di Kejauhan

Kirana kembali ke lorong rumah sakit dengan Raka di sampingnya, hatinya masih berkecamuk oleh percakapan mereka di taman. Namun begitu mereka mendekati ruang tunggu ICU, langkahnya terhenti.

Seorang pria berdiri di sana, berbicara pelan dengan Sari. Tingginya sedang, mengenakan jaket kulit basah oleh sisa hujan, wajahnya tegang. Ada sesuatu yang familiar dari raut wajahnya—sesuatu yang membuat dada Kirana berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.

"Itu dia," bisik Kirana pada Raka. "Kamu tahu siapa itu?"

Raka tidak menjawab, tapi ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.

Sari menoleh, matanya membelalak melihat Kirana mendekat. Ia berbisik sesuatu pada pria itu, yang kemudian menoleh, dan untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu.

Pria itu memiliki mata yang sama dengan Bapak—bentuk yang sama, warna coklat gelap yang sama, bahkan cara memandang yang terasa familiar meski wajahnya sepenuhnya asing bagi Kirana. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada surat yang ia temukan sebelumnya.

"Kamu pasti Kirana," pria itu bicara duluan, suaranya tenang namun ada getar yang tak bisa disembunyikan. "Aku Denis."

Nama itu, yang beberapa jam lalu hanya berupa tulisan di atas kertas usang, kini berdiri nyata di hadapannya. Kirana tidak tahu harus merasa apa—marah, bingung, atau sesuatu yang lebih rumit dari keduanya.

"Kamu tahu namaku," Kirana akhirnya bersuara, nadanya lebih dingin dari yang ia niatkan.

"Bapak sering cerita tentang kalian," Denis menjawab pelan. "Tentang kamu dan Kak Sari. Meski aku tidak pernah punya kesempatan untuk benar-benar mengenal kalian."

Ada kepahitan tersembunyi di balik kalimat itu, sesuatu yang membuat Kirana tertegun sejenak. Ia datang ke sini dengan amarah yang membara, tapi mendengar nada suara Denis, ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini mungkin juga korban dari situasi yang sama rumitnya.

"Kenapa kamu di sini sekarang?" tanya Kirana, mencoba menahan gejolak emosinya.

"Aku selalu di sini," jawab Denis, "hanya saja diam-diam. Bapak tidak pernah mau aku muncul terang-terangan, katanya untuk melindungi kalian, melindungi keluarga ini dari... dari apa yang mungkin terjadi kalau orang tahu kebenarannya."

"Melindungi kami?" Kirana nyaris tertawa getir. "Dengan berbohong selama puluhan tahun?"

"Aku tidak minta dilahirkan dalam situasi seperti ini," suara Denis meninggi sedikit, matanya berkilat menahan emosi yang sama besarnya dengan Kirana. "Aku juga tidak minta jadi rahasia yang harus disembunyikan seumur hidup. Kamu pikir cuma kamu yang terluka oleh semua ini?"

Sari melangkah maju, mencoba menengahi. "Sudahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk—"

"Kapan waktu yang tepat, Kak?" potong Kirana, matanya masih terpaku pada Denis. "Selalu ada alasan untuk menunda kebenaran, kan? Itulah yang selama ini terjadi di keluarga ini."

Denis menghela napas, amarahnya perlahan mereda menjadi sesuatu yang lebih menyerupai kelelahan. "Aku tidak datang untuk berkonflik denganmu, Kirana. Aku datang karena Bapak sekarat, dan terlepas dari segala kerumitan ini, dia tetap ayahku juga. Aku berhak berada di sini, sama seperti kamu."

Kata-kata itu menghantam sesuatu dalam diri Kirana yang tidak ia duga—bukan kemarahan, melainkan pengakuan pahit bahwa Denis benar. Siapa pun yang harus disalahkan atas kebohongan ini, itu bukan Denis. Ia hanyalah anak yang terlahir di tengah situasi yang tidak pernah ia pilih, sama seperti Kirana yang juga tidak pernah memilih untuk dibohongi.

"Aku tidak tahu harus merasa apa," aku Kirana akhirnya, suaranya melembut meski masih penuh kebingungan. "Aku baru tahu kamu ada beberapa jam lalu, dan sekarang kamu berdiri di depanku sebagai... apa? Kakakku?"

"Aku tidak berharap kamu langsung menerimaku," jawab Denis jujur. "Aku hanya berharap kita bisa... aku tidak tahu, mencoba mengerti satu sama lain. Terutama sekarang, saat Bapak membutuhkan kita berdua."

Sebuah suara alarm tiba-tiba berbunyi nyaring dari ruang ICU, memecah ketegangan di antara mereka. Beberapa perawat berlarian masuk, dan wajah Raka yang tadinya tenang berubah waspada.

"Ada apa?" Ibu, yang baru saja kembali dari kamar mandi, berlari panik ke arah mereka.

Raka bergegas masuk ke ruang ICU, meninggalkan mereka semua dalam ketegangan yang mencekam. Melalui jendela kaca, Kirana bisa melihat tim medis bergerak cepat mengelilingi ranjang Bapak, suara alarm masih terus berbunyi, memantulkan kepanikan yang sama di wajah semua orang yang menyaksikan dari luar.

"Bapak..." bisik Sari, tangannya mencengkeram lengan Kirana erat.

Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, Kirana, Sari, dan Denis berdiri berdampingan—tiga orang yang baru saja dipersatukan oleh kebenaran yang menyakitkan, kini bersatu dalam ketakutan yang sama akan kehilangan orang yang menjadi alasan mereka semua berdiri di tempat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!