Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RODA YANG PERLAHAN MULAI BERPUTAR [POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]

Fang Ye membawa catatan Lu Cheng ke Elder Wei tiga hari setelah mendengar kabar penangkapan itu, memilih untuk tidak menunggu lebih lama lagi meski risikonya belum sepenuhnya jelas baginya.

"Kau seharusnya membawa ini padaku sebelum pergi ke Fengyang," Elder Wei berkata, setelah membaca separuh catatan itu, nada suaranya tidak sepenuhnya marah, tapi jelas tidak senang. "Bukan setelah seseorang sudah dipenjara karena membantumu."

"Aku tahu," Fang Ye berkata, tidak membela diri. "Aku pikir aku bisa menyelesaikan ini sendiri, lebih cepat daripada menunggu proses resmi."

"Dan sekarang seorang juru tulis tua duduk di penjara karena keputusanmu itu," Elder Wei berkata tajam. Ia berhenti sejenak, menghela napas panjang. "Aku tidak mengatakan ini untuk menghukummu lebih jauh. Aku mengatakannya karena kau perlu belajar bahwa keberanian tanpa perhitungan bisa menciptakan korban yang tidak kau duga."

 

Su Yan, yang diundang Fang Ye untuk hadir karena pengalamannya menghadapi Dewan Tetua sebelumnya, duduk di sudut ruangan, membaca sisa catatan yang sudah selesai dibaca Elder Wei.

"Ini lebih besar daripada satu hakim korup," ia berkata, menunjuk bagian surat-menyurat yang menyebut pejabat provinsi. "Kalau ini benar, seseorang di ibu kota provinsi sudah menerima bagian dari uang ini selama bertahun-tahun. Itu bukan lagi masalah yang bisa diselesaikan level kabupaten."

"Aku tahu," Elder Wei berkata. "Dan itu yang membuat situasi ini jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan Fang Ye saat berangkat ke sana."

 

"Apa yang akan kau lakukan dengan ini?" Fang Ye bertanya.

"Aku akan membawanya ke Dewan Tetua," Elder Wei berkata, "tapi tidak dengan cara yang sama seperti sidangmu, Su Yan. Ini bukan pelanggaran protokol yang bisa diputuskan cepat dalam satu sesi. Ini menyangkut hubungan sekte dengan otoritas provinsi, yang berarti setiap langkah harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati."

"Sementara itu, Lu Cheng tetap di penjara," Fang Ye berkata, tidak bisa menyembunyikan frustrasinya.

"Ya," Elder Wei berkata, tidak berusaha meringankan kenyataan itu. "Dan aku tidak bisa menjanjikanmu proses ini akan bergerak secepat yang kau inginkan, atau akan berakhir dengan pembebasannya. Sekte punya pengaruh, tapi pengaruh itu punya batas, terutama menyangkut urusan internal provinsi yang secara teknis bukan yurisdiksi kita."

 

Pertemuan Dewan Tetua berlangsung seminggu kemudian, jauh lebih tenang daripada sidang Su Yan sebelumnya—bukan karena masalahnya lebih kecil, tapi karena semua orang di ruangan itu menyadari implikasi politiknya terlalu besar untuk diselesaikan dengan perdebatan emosional semata.

Elder Chen, yang Fang Ye duga akan menjadi penentang paling keras, justru mengambil sikap yang mengejutkan.

"Bukti ini, kalau diverifikasi, menunjukkan sekte kita selama bertahun-tahun secara tidak langsung mendukung otoritas yang korup dengan tidak pernah mempertanyakan alasan di balik kenaikan pajak yang mereka klaim demi 'keamanan jalur dagang,'" ia berkata, suaranya tegas seperti biasa, tapi arahnya berbeda dari yang diharapkan Fang Ye. "Aku mengusulkan kita membentuk delegasi resmi untuk menyelidiki ini secara menyeluruh, bukan hanya karena ini benar secara moral, tapi karena membiarkan korupsi seperti ini terus berlanjut tanpa pengawasan pada akhirnya akan merusak stabilitas yang selama ini kita coba jaga."

 

Fang Ye menatap Elder Chen, mencoba memahami perubahan sikap yang begitu tiba-tiba.

Su Yan, yang duduk di sampingnya, membisikkan penjelasan yang lebih sinis. "Ia melihat ke arah mana angin bertiup. Kalau skandal ini terungkap dan sekte diketahui pernah tahu tentang indikasinya tapi tidak bertindak, itu akan merusak reputasi sekte—termasuk reputasinya sendiri sebagai salah satu tetua paling senior. Lebih baik ia yang mengusulkan penyelidikan sekarang, daripada terlihat menghalangi keadilan nanti kalau semuanya terungkap dengan cara yang lebih memalukan."

"Jadi ia melakukan hal yang benar karena alasan yang salah," Fang Ye berkata pelan.

"Kadang itu satu-satunya cara sesuatu yang benar akhirnya terjadi," Su Yan menjawab. "Jangan terlalu memikirkannya. Hasilnya sama, terlepas dari motifnya."

 

Dewan akhirnya memutuskan membentuk delegasi resmi, dipimpin oleh Elder Feng—tetua yang sebelumnya membela Su Yan di sidang lamanya—untuk menyelidiki tuduhan korupsi secara formal, dengan wewenang mengajukan keluhan resmi ke pemerintah provinsi jika bukti cukup kuat.

Ini bukan kemenangan penuh. Prosesnya akan memakan waktu berbulan-bulan, mungkin lebih lama. Han Lei dan keluarganya masih menunggu status resmi mereka di Qingshan. Lu Cheng masih di penjara Fengyang, dan Elder Wei sudah memperingatkan tidak ada jaminan penyelidikan ini akan membebaskannya—paling banter, hasilnya bisa memberi tekanan pada Hakim Tong untuk melunakkan hukumannya, jika terbukti Lu Cheng bertindak untuk mengungkap kebenaran, bukan mencuri untuk keuntungan pribadi.

Tapi ini pergerakan, setelah berbulan-bulan kebuntuan yang terasa seperti tidak ada yang berubah sama sekali.

 

Setelah sidang, Elder Chen mendekati Fang Ye di koridor, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya tanpa kehadiran putranya sebagai alasan.

"Aku tahu kau berpikir aku mendukung penyelidikan ini demi alasan yang tidak murni," Elder Chen berkata, tidak dengan nada membela diri, hanya menyatakan fakta. "Kau mungkin benar sebagian. Tapi jangan berasumsi itu berarti aku tidak peduli pada hasilnya."

"Aku tidak berasumsi apa pun, Elder Chen," Fang Ye berkata, memilih kejujuran daripada kesopanan kosong.

"Bagus," Elder Chen berkata. "Karena aku juga tidak akan berasumsi kau melakukan semua ini murni demi keadilan abstrak, tanpa sedikit pun keinginan membuktikan dirimu benar setelah sidang Su Yan. Kita berdua punya motif campuran, Fang Ye. Itu tidak selalu berarti hasilnya salah."

 

Ia pergi setelah itu, meninggalkan Fang Ye dengan sesuatu yang lebih rumit daripada rasa puas sederhana—pengakuan tidak langsung bahwa bahkan dirinya sendiri mungkin tidak sepenuhnya murni dalam motivasinya, sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pertimbangkan sebelumnya.

Su Yan menunggunya di luar, sudah mendengar sebagian percakapan itu.

"Ia tidak sepenuhnya salah," ia berkata. "Kau memang ingin membuktikan dirimu benar, bukan hanya demi Han Lei atau Lu Cheng. Tidak ada yang salah dengan itu, selama kau tidak berpura-pura motifmu sepenuhnya suci."

 

Malam itu, Fang Ye menulis surat untuk dikirim ke Fengyang, ditujukan pada keluarga Lu Cheng yang mungkin masih tinggal di sana—permintaan maaf, penjelasan tentang penyelidikan resmi yang baru dimulai, dan janji bahwa ia tidak akan berhenti mengupayakan pembebasannya, meski ia tidak bisa menjanjikan kapan atau apakah itu akan berhasil.

Ia tidak tahu apakah surat itu akan sampai, atau apakah keluarga Lu Cheng akan menganggapnya cukup setelah semua yang sudah terjadi.

Tapi ia menuliskannya juga, menyadari bahwa keadilan, ternyata, jarang datang dalam bentuk kemenangan bersih yang ia bayangkan saat pertama kali membaca kalimat di gerbang sektenya bertahun-tahun lalu.

Kadang keadilan hanya berarti roda yang mulai berputar, perlahan, tanpa jaminan ke mana putaran itu akan berakhir, dan siapa yang akan sempat diselamatkannya sebelum berhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!