Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil yang Menunggu

Silvia menghela napas pelan, “Anda tidak perlu tahu terlalu banyak.”

Kelvin terdiam di tempat. Hanya dalam satu malam, berkali-kali ia merasakan perasaan yang sama, seolah adiknya benar-benar telah meninggalkannya jauh di belakang.

“Kalau tidak ada apa-apa lagi, aku naik dulu.”

Setelah mengatakan itu, Silvia berbalik dan masuk ke dalam gedung.

Ting!

Lantai delapan.

Begitu melangkahkan kaki keluar dari lift, hal pertama yang tertangkap oleh pandangan Silvia adalah lukisan potret mereka bertiga.

Lukisan yang dibuat sendiri oleh Nelia. Dulu Chris pernah bilang lukisan itu bagus, sehingga akhirnya lukisan tersebut begitu saja dipasang di depan pintu apartemen mereka.

Silvia menghela napas panjang, tangannya menekan gagang pintu dengan kuat. Di dalam, Nelia sedang bersandar di dekat jendela, masih memperhatikan Kelvin yang belum beranjak dari bawah gedung.

Begitu mendengar suara gagang pintu, Nelia langsung menoleh, “Sil, kamu gimana?”

Nelia berlari kecil menghampiri Silvia dan menggenggam pergelangan tangannya, “Kamu sama abangmu nggak bertengkar, kan?”

Silvia menunduk, pandangannya jatuh pada gelang yang melingkar di pergelangan tangan Nelia, “Tidak kok.”

Silvia kemudian menjauh sedikit dan meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu, “Bagaimana perkembanganmu dengan abangku?”

Nelia langsung menundukkan kepala, pipinya perlahan memerah, “Biasa saja sih...”

Seoleh merasakan tatapan menggoda Silvia, Nelia menggembungkan pipinya dan buru-buru mengalihkan pembicaraan, “Jangan mengalihkan pembicaraanku! Aku tadi sedang bertanya, kamu sama abangmu ngomongin apa dibawah?”

Tatapan Silvia perlahan meredup, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, “Dia tidak ingin aku pergi.”

“Hah?” Nelia mengernyit binging, “Kok gitu?”

Silvia terkekeh pelan lalu menggeleng, “Nggak tahu. Dia cuman memberitahuku panjang lebar soal orang-orang di Hills University.”

Nelia mengerutkan kening sebelum bertanya dengan hati-hati, “Sil, kamu pernah berpikir nggak...mungkin sebenarnya abangmu bukan nggak peduli sama kamu?”

Silvia tertawa dingin, “Nelia, jangan bercanda lah.”

Mana mungkin Kelvin menyayanginya? Sejak berusia lima tahun, kakaknya itu bahkan tidak pernah benar-benar memandangnya. Bahkan bisa dibilang, dibandingkan dirinya, Kelvin justru terlihat jauh lebih dekat dengan Nelia, adik perempuan yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Lampu apartemen satu per satu padam.

Kelvin sandar di atas kap mobilnya. Beberapa batang rokok yang telah habis berserakan di dekat kakinya. Tatapannya dalam, terpaku pada jendela apartemen yang kini telah sepenuhnya gelap.

“Silvia...apakah Abang sudah terlambat menyadari keberadaanmu?”

Keesokan harinya.

Sinar matahari menerobos celah tirai.

Nelia perlahan membuka mata sambil mengusap lehernya yang terasa pegal. Ia tersenyum kecil, kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar Silvia.

Klik!

Hembusan udara hangat dari kamar perlahan menyapu wajah Nelia.

Silvia duduk bersandar di kepala ranjang. Jemarinya perlahan mengusap gelang benang merah yang melingkar di pergelangan tangannya. Lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya. Rambutnya berantakan, beberapa helainya menempel di pipi.

“Sil, kamu nggak tidur semalaman?” Suara Nelia terdengar keras.

Namun Silvia tidak memberikannya reaksi apa pun. Ia hanya duduk diam di sana, seperti boneka cantik yang kehilangan nyawanya.

Jantung Nelia seakan berhenti berdetak sesaat, ia langsung berlutut di samping ranjang, “Sil, kamu jangan bikin aku takut.”

Wajah Silvia pucat, bibirnya kering dan sedikit pecah, suaranya terdengar serak, “Aku nggak apa-apa kok.”

Nelia langsung menjatuhkan tubuhnya ke telapak tangan Silvia, “Silvia, kamu benar-benar membuatku takut setengah mati.”

Ia memaksakan diri untuk semangat, lalu membantu Silvia berbaring kembali, “Kamu tidur sebentar lagi ya. Aku pergi bikin sarapan kasihmu.”

Nelia menutup pintu kamar dengan pelan. Begitu sampai di balkon, ia meregangkan tubuhnya. Tatapannya langsung tertuju pada mobil Roll-Royce hitam yang masih terparkir di tempat yang sama di bawah gedung, “Kelvin belum pergi...”

Suara dintingan mangkuk dan peralatan dapur terdengar dari dalam apartemen. Nelia berdiri di depan wastafel. Beberapa helai busa masih menempel di tangannya.

Sementara itu, rambut Silvia sudah diikat rapi. Ia mengenakan kacamata besar berbingkai hitam. Kulitnya yang secara alami memliki rona dingin tampak sedikit berkilau ketika terkena cahaya matahari.

“Sil, kamu nggak ingin tidur lagi.” Nelia membawa semangkuk pangsit panas yang masih mengepulkan uap.

Uap panas membuat lensa kacamata Silvia sedikit berembun. Ia mengambil tisu lalu mengusap lensanya, “Terima kasih, Nelia.”

Tatapan Silvia tanpa sengaja jatuh pada satu kotak pangsit yang diletakkan di sampingnya, tertutup oleh tudung kaca. Ia mengambil satu pangsit dengan sendok, meniupnya perlahan, lalu bertanya, “Kotak yang itu...”

Wajah Nelia seketika memerah. Ia buru-buru memeluk kotak pangsit itu ke dadanya. “Kamu makan punyamu saja! Aku keluar bentar.”

Brak!

Pintu kamar tertutup rapat. Silvia perlahan berjalan menuju balkon.

Begitu melihat Rolls-Royce hitam yang masih terparkir di bawah, sudut bibirnya sedikit terangkat. Namun senyum itu segera menghilang.

Bayangan pertengkarannya dengan Kelvin tadi malam terus berputar di kepalanya. Tatapan Kelvin yang memerah, napasnya yang berat. Semua itu terus menghantui Silvia sepanjang malam.

Tak lama kemudian, sosok Nelia muncul di depan matanya. Nelia berdiri di samping mobil dan menunduk, memperhatikan pria yang duduk di dalamnya. Ia mengetuk kaca jendela mobil dengan pelan.

Meski hanya bisa melihat punggungnya dari kejauhan, Silvia tetap bisa membayangkan betapa hati-hatinya Nelia saat mendekati Kelvin. Tak lama kemudian, Silvia melihat Nelia menyerahkan kotak pangsit tadi kepada pria di dalam mobil.

Rolls-Royce hitam itu tetap terparkir di bawah gedung cukup lama.

Bahkan setelah Nelia kembali ke apartemen, mobil itu masih belum pergi, “Sil, kamu berdiri di balkon ngapain?”

Silvia menopang kedua tangannya di pagar balkon. Dengan latar belakang ribuan lampu kota di belakangnya, ia tersenyum lebar, “Lagi lihat seorang gadis kecil mengantarkan sarapan untuk tunangannya. Silvia Pollis! Kamu mengawasiku! Dasar licik!”

Nelia menunjuk hidung Silvia yang tinggi dengan wajah kesal sekaligus malu. Ia kemudian duduk dengan gusar di sofa ruang tamu.

Silvia melirik mobil yang masih terparkir di bawah. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Nelia. Tangannya merangkul bahu Nelia dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Seperti sedang menghibur seekor kucing kecil, Silvia menyentuh pipi Nelia yang masih menggembung, “Sudahlah, maafin aku. Aku yang salah kok.”

Beberapa saat kemudian, pipi Nelia yang menggembung akhirnya perlahan mengempis.

Nelia menyandarkan kepalanya di paha Silvia sambil menonton video di ponselnya. Ia bertanya dengan rasa ingin tahu, “Silvia, sore ini kita ada rencana apa?”

Silvia memegang sebuah buku berbahasa Inggris. Jemarinya perlahan membalik halaman, “Baca buku.”

“Buku?” Nelia langsung bangkit dan melihat buku di tangan Silvia, “Baca buku itu membosankan...”

“Nelia, kalau mau kuliah di luar negeri, aku harus mengikuti tes IELTS.” Silvia tersenyum lembut.

“Baiklah. Hari ini aku juga nggak keluar juga deh.”

Nelia memakai sandal rumahnya lalu berjalan ke kamarnya, ia kembali membawa laptop, “Aku temani kamu di sini. Kebetulan stok gambar untuk komik cadanganku hampir habis. Aku harus segera memperbaruinya.”

Awal musim semi tiba dengan kehangatan yang masih diselimuti sedikit kesejukan. Ruang tamu apartemen dipenuhi suara halaman buku yang dibalik dan suara pena digital yang terus bergerak di atas layar.

Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak saling mengganggu, tetapi sesekali mata mereka bertemu dan diakhiri dengan senyum kecil.

Langit perlahan berubah gelap. Nelia mengangkat kepala dan menatap cahaya matahari yang semakin redup di balik jendela. Mobil yang sejak semalam menunggu di bawah gedung akhirnya sudah tidak terlihat lagi.

Sudut bibir Nelia turun, ia menahan napas sejenak sebelum berbisik pelan, “Pergi juga lebih baik...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!