Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Benar, pasien dalam keadaan koma. Kondisinya cukup parah, demam tingginya tidak segera ditangani, luka-luka di kakinya cukup besar dan menyebabkan kekurangan darah yang serius. Terlalu lama kelelahan, dan kemungkinan besar ada luka dalam yang belum diketahui pasti," jelas Dokter Raka dengan nada serius.
"Saya belum bisa memastikan semuanya karena pasien belum sadarkan diri," tambahnya.
Bara hanya terdiam mendengar penjelasan itu. Kata-kata itu terasa berat, dan ia tak tahu harus berkata apa. Ia berdiri terpaku, menatap pintu ruang rawat itu dengan perasaan campur aduk.
"Apakah Anda ingin melihat anak itu?" tanya Dokter Raka pelan, seakan mengerti keraguan di hati Bara.
"Iya," jawab Bara singkat, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah berat.
Di dalam ruangan itu, Keira terbaring diam di atas tempat tidur. Tubuhnya tampak begitu kecil di antara selimut putih dan selang-selang yang menempel di tubuhnya.
Bara berdiri di samping tempat tidur, menatap wajah anak itu dalam waktu yang lama. Rasa sakit yang tak bisa dijelaskan menyusup ke hatinya ketika melihat kondisi Keira yang begitu lemah, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Apakah dia akan bisa bangun lagi?
Berapa lama ia harus terbaring seperti ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Bara. Ia perlahan mengusap keringat di dahi Keira, matanya tertuju pada bekas luka di dahi anak itu, bekas yang tampak sudah lama sembuh, namun entah mengapa terasa begitu menyakitkan untuk dilihat.
Setelah beberapa saat, Bara berbalik dan berjalan menuju pintu. Dokter Raka masih berdiri di sana, menunggunya.
"Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?" tanya Dokter itu pelan.
"Tidak. Tolong jaga dia dengan baik. Semua biaya akan segera saya lunasi," jawab Bara datar, tanpa ada sedikit pun rasa khawatir yang terlihat di wajahnya.
"Apakah Anda tidak ingin menemaninya di masa-masa sulit ini?" tanya Dokter Raka heran.
Bagaimana bisa seorang ayah begitu dingin saat anaknya sedang terbaring lemah?
"Tidak," jawab Bara singkat, lalu berjalan pergi menuju loket pembayaran.
Bagi Bara, ini sudah cukup. Sepertinya inilah yang pantas diterima Keira, pikirnya dalam hati.
"Papa dari mana?" Keyna bertanya begitu membuka matanya, wajahnya berseri-seri melihat ayahnya sudah kembali.
Bara mendekati tempat tidur, tersenyum lembut pada putranya. "Keluar sebentar saja. Bagaimana keadaanmu, Nak?"
"Baik, Pa," jawab Keyna dengan senyum manis yang tak pernah hilang.
"Kau lucu sekali, tapi pipimu belum gemuk. Nanti makan yang banyak ya," ujar Bara sambil mengusap pipi anaknya dengan penuh kasih sayang. Ada rasa kesal pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa menemukan putrinya lebih cepat?
"Iya, Pa," Keyna memeluk ayahnya erat, rindu yang begitu dalam terasa di pelukan itu.
"Papa pahlawan Keyna. Terima kasih sudah menyelamatkan Keyna, Pa!"
"Itu sudah kewajiban Papa, Nak," Bara mengusap rambut putranya dengan lembut.
"Ada apa ini? Kenapa peluk-peluk saja?" suara terdengar dari pintu. Gina masuk dengan wajah yang tampak lebih segar dari sebelumnya.
"Mama!!" Keyna melepaskan pelukannya dan memeluk ibunya dengan semangat.
"Jangan berteriak sayang, nanti tenggorokanmu sakit," kata Gina lembut sambil memeluk putranya balik.
"Keyna rindu Mama."
"Jangan menangis dong. Mama sedih melihat pangeran kecil Mama menangis," Gina menghapus air mata Keyna dengan lembut. "Pokoknya anak Mama harus bahagia. Tidak boleh sedih-sedih. Mama akan melakukan apa saja demi anak Mama ini."
Keyna tersenyum bahagia. "Keyna sayang Mama!"
"Lucu sekali," balas Gina tersenyum.
"Keyna tidak lucu, Keyna cantik," protes Keyna sambil menggemaskan pipinya yang bulat.
"Iya deh, anak Mama yang paling cantik," kata Gina tertawa.
"Anak Papa juga cantik," timpal Bara tak mau kalah.
"Adik Segar lah," tambah Segar yang baru saja datang, ikut bercanda.
"Kalian berdua saja ya yang rebutan," kata Keyna tertawa. "Di mana Kak Arya?"
"Di jalan mungkin, Dek. Nanti sampai juga," jawab Segar.
Tiba-tiba pintu terbuka lagi. Seorang pria berjas putih dengan stetoskop di leher masuk ke dalam ruangan.
"Loh, Dokternya kok beda, Pa?" Keyna kaget melihat wajah dokter yang berbeda dari sebelumnya.
"Maaf, saya yang ditugaskan untuk memeriksa anak Anda. Dokter sebelumnya sedang berhalangan," jelas Dokter Raka dengan sopan.
"Tentu, silakan," kata Gina memberi izin.
Saat Dokter Raka masuk, tatapannya sempat berpapasan dengan Bara. Sebuah pesan seakan tersampaikan tanpa kata, tatapan itu seakan berkata: Jangan katakan apa pun tentang apa yang terjadi tadi.
Dokter Raka hanya tersenyum tipis, namun di dalam hatinya terasa perih. Ia baru saja melihat semuanya, keluarga yang begitu hangat dan penuh kasih sayang, sementara anak yang terbaring lemah di ruangan lain sendirian tanpa ada yang menjenguknya.
'Kenapa bisa begitu? Anak itu berjuang sendirian antara hidup dan mati, sementara keluarganya sibuk memanjakan anak yang lain.' Ketidakadilan itu terasa begitu nyata di matanya.
Namun ia memilih diam. Ia tak ingin mengganggu momen bahagia keluarga itu, meskipun hatinya terasa berat.