"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlalu
Empat tahun berlalu, tidak disangka bahwa Ariska sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Sekarang sudah menjadi bocah laki-laki berusia 3 tahun yang diberi nama Arka Danu Hutama. Arka tumbuh menjadi seorang bocah laki-laki yang cerewet dan genius. Otaknya itu bisa mudah mencerna ajaran atau ilmu dengan mudah. Dimulai dari membaca dan menghitung sampai Ariska saja dibuat tak percaya oleh kemampuan anaknya.
Kondisi perekonomian keluarga Ariska juga perlahan membaik. Walaupun pada saat kehamilannya, dia sedikit kesulitan bekerja karena mudah lelah. Akhirnya Ariska memilih resign dari toko bangunan dan membangun usaha sendiri. Dimulai iseng menjadi dropship hingga reseller usaha oranglain, kini Ariska bisa membangun bisnisnya sendiri. Toko offline dan online perlengkapan anak-anaknya sukses setelah kelahiran Arka. Bahkan Arka sering dijadikan model untuk produk anak, bisnis yang dibangunnya. AR'S Baby itu adalah nama toko yang dibangunnya.
"Arka, print itu semua resi pesanan yang baru masuk." suruh Nana yang sudah lulus SMA satu tahun lalu. Kini Nana juga melanjutkan kuliah dengan jurusan manajemen dibiayai oleh Ariska.
"Bental, Onty. Ndak lihat ini Alka balu minum susu. Masa suluh kelja telus, ndak dibayal juga." ucap Arka setelah melepaskan dot botolnya dari bibir mungilnya itu.
"Dibayar ya. Kamu pikir itu susu, belinya pakai apa? Ya pakai uang gaji kamu dong," ucap Nana tak terima dengan pernyataan Arka.
"Ndak ya. Ini susu dibeli sama Mama kok, bukan gajinya Alka." ucap Arka sambil memelototkan matanya.
"Nggak bis..."
"Nana, jangan jahilin Arka terus. Nanti dia ngambek, nggak mau difoto. Kita yang susah buat iklan media sosial," seru Ariska dari arah dapur menyela ucapan Nana.
Wlekkk...
"Lasain, diomelin sama Mamanya Alka." ledek Arka sambil menjulurkan lidahnya.
Nana hanya bisa mencebikkan bibirnya sebal karena tak dapat menjahili Arka sampai menangis. Padahal jika sampai menangis, Nana bisa melihat wajah menggemaskan dari Arka. Rumah milik Nenek Yuli sudah direnovasi total oleh Ariska. Semua berkat bisnis toko perlengkapan bayinya yang semakin maju. Bahkan Ariska membeli tanah di samping rumah Nenek Yuli untuk dijadikan toko. Nenek Yuli juga sudah tidak berjualan di Alun-Alun Kota sesuai permintaan Ariska dan Nana. Dia hanya membantu usaha cucunya itu sambil menjaga Arka.
"Nenek, Onty Nana jahil sekali. Jewel itu telinganya bial melal kaya kololnya Ichal," adu Arka pada Nenek Yuli yang baru saja masuk ke dalam toko.
Heh...
Hahaha...
"Arka, nggak boleh begitu ya. Kan Ichal itu temannya Arka kok kamu ejek," tegur Ariska sambil membawakan cemilan untuk Arka dan Nana. Sedangkan Nana, malah tertawa mendengar ocehan dari Arka.
"Ini ndak ejek, Mama. Ichal itu olang kaya di desa ini lho, masa kololnya molol masih dipakai? Beda kalau Alka bilang kolol mololnya sama anak ndak mampu, balu itu ejek." ucap Arka menjelaskan.
"Dengar tuh, Mbak. Anakmu itu pintar lho. Udah cocok jadi Dosen," ucap Nana meledek Ariska yang tak bisa berkata-kata lagi ketika menghadapi anaknya.
Ariska hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah meniru siapa Arka ini sampai anaknya sangat cerewet dan bisa membalikkan ucapan. Setelah susu di dalam botolnya habis, Arka segera mencetak resi pesanan marketplace yang sudah masuk. Beruntungnya Ariska mempunyai anak seperti Arka. Bocah cilik itu baru dua kali diajari, sudah bisa melakukan pekerjaannya dengan cepat. Bahkan Arka juga bisa membuat aplikasi khusus untuk memeriksa stok barang dan laporan keuangan toko.
"Mama, ini selibu kan ya angkanya?" tanya Arka sambil melihat intens pada layar laptopnya. Khawatir jika penglihatannya salah.
"Iya. Syukur lah... Pesanannya udah jadi seribu aja," ucap Ariska bersyukur sekali dengan rejeki yang sangat lancar ini.
"Apa kita mending cari karyawan saja, Nak? Nenek tuh kalau suruh packing begini takut salah-salah. Mana kalau seribu kan ya tangannya encok kalau cuma dikerjakan kita bertiga. Apalagi nanti kalau Nana masuk kuliah, kita akan kuwalahan karena dia tidak bisa full bantu. Toko juga harus ada yang jaga, walaupun pemasukan lebih banyak dari online." saran Nenek Yuli yang selama ini membantu packing pesanan untuk dikirim.
"Benal itu kata Nenek, Ma. Cali dua olang dulu. Nanti kalau pesanan tambah banyak, cali lagi." ucap Arka setuju dengan Nenek Yuli.
Kenapa anakku pintar sekali ya? Ini aku harus bersyukur atau merasa bersalah?
Huft...
***
Berbeda dengan kehidupan Ariska yang sudah berubah menjadi lebih baik. Frans yang notabene adalah Papa kandung Arka pun masih sama saja. Bahkan setiap hari, suasana hatinya mendung. Dia tak bisa menemui Mamanya karena belum menemukan keberadaan Ariska. Frans kesal karena Carlo dan anak buahnya belum juga menemukan informasi apapun. Omset perusahaan pembuatan obatnya juga sedikit menurun karena Frans tidak fokus. Padahal seharusnya, Frans sudah dijadwalkan meneliti obat baru yang hendak diproduksi bulan ini.
"Tuan Frans, ada bahan yang kosong dari supplier. Padahal obat ini harus segera diproduksi karena ada permintaan dari rumah sakit Cahaya Kita sebanyak dua ribu box," ucap Carlo yang langsung masuk dalam ruangan Frans.
"Jangan sampai rumah sakit ini juga lepas kerjasamanya karena produksi kita lambat," lanjutnya memerintah Frans. Padahal di sini, atasannya adalah Frans.
"Aku pusing, Carlo." ucap Frans sambil mengusap wajahnya kasar. Dia seperti tidak ada semangat hidup, pikirannya selalu berkelana pada wajah cantik Ariska yang membayangi hidupnya selama hampir 4 tahun ini.
Haish...
"Pusing minum obat sakit kepala. Percuma punya pabrik pembuatan obat kalau pusing saja cuma mengeluh," sindir Carlo sambil mendengus sebal.
Hampir setiap hari Frans seperti ini. Carlo pusing karena Frans tidak niat bekerja sehingga ada beberapa kerjasama rumah sakit lepas begitu saja. Terutama setelah Carlo mendapatkan foto Ariska dari HRD hotel. Jeritan dan tangisan itu juga selalu membuat Frans merasa bersalah. Frans menghela nafasnya kasar karena mendapatkan omelan dari Carlo.
"Hubungi Javen, biar aku coba negosiasi sama dia." ucap Frans yang langsung berdiri. Dia akan menghubungi teman lamanya yang merupakan distributor bahan obat-obatan.
"Bukannya Tuan Javen itu susah dihubungi ya, Tuan." tanya Carlo merasa ragu-ragu. Pasalnya dia sering mendengar bahwa Javen ini sangat susah diajak kerjasama.
"Makanya hubungi dulu sekretarisnya, bilang Frans akan datang." ucap Frans menatap Carlo dengan kesal.
"Baik, Tuan."
Carlo keluar dari ruangan Frans untuk menghubungi Javen. Di perusahaan dan hotelnya, banyak orang yang bergantung padanya. Jika seperti ini terus, bisa-bisa dirinya bangkrut. Dia tidak mau keadaannya berubah menyedihkan. Apalagi sampai mengorbankan keluarganya yang sudah mengelola perusahaan dan hotel ini sejak dahulu.
"Jika nanti aku bertemu dengan Ariska, masa penampilanku kaya Kakek-Kakek begini." gumam Frans sambil menatap kaca di depannya.
"Akan aku kejar kamu sampai dapat, Ariska. Sekali pun kamu sembunyi di kolong kasur sekali pun," lanjutnya dengan tatapan berubah tajam.
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣