Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Orang Tua yang Diremehkan
"Kenapa mereka datang ke sini? Atau mungkin adikmu Anugrah sengaja mengundang mereka, biar mereka tahu, betapa tingginya derajat keluarga kita?"
Tatapan Danisha mulai bergerak dari ujung kepala hingga kaki kedua orang tua Cynara.
Meskipun mereka sudah mengenakan pakaian yang pantas untuk menghadiri acara besar, tetap terlihat jelas bahwa mereka tidak terbiasa berada di antara tamu-tamu elite ibu kota ini.
Danisha tersenyum sinis. “Kelihatan sekali mereka tidak cocok bergabung di sini.”
Ibu Anugrah terkekeh. “Meski kalian memakai pakaian mahal sekalipun, wajah kalian yang nelangsa itu tak akan mampu berbohong!”
Ucapan itu terdengar cukup keras, membuat Ayah dan ibu Cynara yang sedang berbicara dengan Candra, asisten Alvin, langsung menoleh.
Mereka tampak bingung. Mereka sangat mengenal siapa yang sedang berbicara. Mereka adalah keluarga dari menantu yang dulu, keluarga Anugrah.
Mereka sangat menyadari bahwa perkataan itu ditujukan kepada mereka, ibu Cynara menundukkan wajah.
“Bak …” Ia menggenggam lengan suaminya.
“Jangan dipikirkan.” Ayah Cynara hanya mengangguk.
Mereka memang tidak terbiasa menghadapi orang-orang seperti itu.
Apalagi di tempat yang dihadiri oleh orang-orang berpenampilan high class meski hanya menghadiri akad nikah seperti ini.
Danisha mulai melangkah mendekati mereka. “Dulu waktu anak kalian menikah dengan Anugrah, kalian juga seperti ini juga, kan?”
Candra mulai sadar, sedari tadi orang-orang ini memang sengaja mengusik keluarga pengantin bos-nya. Dengan gagah ia memasang badan.
"Maaf, Bu ... Saya harap, kalian semua jangan mengacau di prosesi sakral pernikahan Pak Alvin ini. Jika Pak Alvin tahu, kalian semua mungkin akan diusir beliau."
Namun melihat mantan keluarga besan dilindungi, Danisha malah semakin naik pitam. Dia tak mengenal Candra, dengan berani dia meledakkan emosinya.
“Kamu jangan ikut campur ya! Kami ini keluarga besan dari keluarga Mahendra. Kami ini keluarga Anugrah, manajer JM Corporation!"
Candra hanya menatap Danisha dengan datar. Lalu memperhatikan wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya memasang mata tajam.
Pada waktu yang sama, Gadiza dan Anugrah baru saja memasuki pintu mesjid. Sama hal-nya dengan keluarganya tadi, Anugrah langsung menangkap wajah mertuanya dulu.
"Bak? Mak?" ucap Anugrah refleks membuat mantan mertuanya ikut menoleh ke belakang.
"Anugrah?" Kedua orang tua Cynara menyebut namanya dengan bersamaan. Dan mata mereka juga serempak menatap tangan yang merangkul lengan Anugrah.
Tampak perempuan yang merangkul Anugrah membuat wajah mantan ayah mertuanya itu mengeras.
"Mas, kamu kenal dengan mereka?" tanya Gadiza dengan bingung.
Anugrah mengajak Gadiza berputar arah, dan ternyata malah menemukan keluarganya yang sedang marah-marah kepada Candra.
Anugrah menepuk jidat dan melepas rangkulan tangan Gadiza berjalan cepat menuju kakaknya itu.
"Nanti saya laporkan pada Alvin kamu ya?" ancam ibu Anugrah.
"Bu ... Apa yang ibu lakukan pada Pak Candra?" Anugrah menarik ibu dan kakaknya itu.
"Maaf ya Candra ... Mereka tidak tahu apa-apa," ucap Anugrah menangkupkan kedua tangannya.
Candra menatap Anugrah dengan datar. "Nanti, kalau Pak Alvin tahu keluarga Pak Anugrah mengganggu keluarga calon mempelai, bisa jadi Pak Alvin akan murka."
Danisha dan ibunya mengerutkan kening. "Kenapa kamu malah ancam saya?" bentak Danisha.
"Justru kamu yang akan saya laporkan pada Alvin! Anak saya itu manajer kesayangan Alvin!" ancam ibu Anugrah.
Anugrah makin panik. "Mbak ... Bu ... Dia ini Candra. Asisten kepercayaan Pak Alvin. Bagaimana mengadukan dia? Yang ada Ibu dan Mbak yang akan dikadukan ke Pak Alvin," terang Anugrah dengan wajah mengerut.
Mendengar penjelasan Anugrah, ibu dan anak perempuannya itu tersentak.
"Ma-mana mungkin?" Danisha seketika menjadi gugup.
Sang ibu langsung berlindung di belakang Anugrah. "Jangan bilang kamu bisa dipecat kalau kakak iparmu lebih mendengar orang ini?"
"Aku tak tahu, Bu. Tapi kalau dia lebih percaya sama Candra, bisa saja aku kena tendang." Lalu, Anugrah teringat ucapan Candra tadi.
'Mengganggu keluarga calon mempelai?'
Saat ingin menanyakan maksud pernyataan Candra tadi, ternyata asisten Alvin dan kedua orang tua Cynara sudah tidak ada di tempat.
Ternyata Candra membawa mereka dan sedang berjalan ke posisi yang lebih depan lagi.
Hingga akhirnya mereka berhenti di tempat khusus yang telah disiapkan untuk keluarga inti calon pengantin.
Ayah Cynara terlihat bingung.
“Kami tidak perlu duduk di sini, Nak. Kami di duduk di belakang saja.”
Candra menggeleng. “Bapak Ibu itu orang tua mempelai wanita.”
Ia menunjuk kursi yang telah disiapkan.
“Dan Bapak dan Ibu harus duduk di sini.”
Kedua orang tua Cynara saling pandang. Mereka akhirnya menurut.
Tidak lama kemudian, Candra membawa mereka bertemu dengan keluarga besar Mahendra.
“Pak, Bu.” Candra menundukkan kepala.
“Perkenalkan, ini orang tua dari calon istri Pak Alvin.”
Tuan Jaya Mahendra yang berdiri di samping istrinya menoleh. Nyonya Ratih pun ikut memandang.
Keduanya sempat menatap panjang pada kedua orang itu. Mereka tentu sudah mengetahui bahwa Alvin akan menikah.
Namun, selama ini putra mereka tidak pernah menjelaskan secara rinci mengenai keluarga calon istrinya.
Dan sekarang mereka baru melihat sendiri. Keluarga calon menantu mereka ternyata sangat sederhana.
Tuan Jaya sempat mengernyit. Nyonya Ratih pun tampak terkejut. Namun keduanya segera menyadari satu hal.
Alvin sudah memilih. Dan mereka mengenal putra mereka. Kalau Alvin sudah mengambil keputusan, hampir tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya.
“Selamat datang,” ucap Tuan Jaya akhirnya.
Ayah Cynara segera menundukkan kepala. “Terima kasih, Pak.”
Nyonya Ratih tersenyum. “Anggap saja ini rumah sendiri.”
Ibu Cynara terlihat gugup. “Terima kasih, Bu.”
Nyonya Ratih kemudian mengulurkan tangan. “Boleh saya memanggil Bapak dan Ibu sebagai besan?”
Ibu Cynara membeku. Matanya langsung berkaca-kaca. “Besan?”
Nyonya Ratih mengangguk. “Ya.”
Ia tersenyum. “Bukankah sebentar lagi anak-anak kita akan menikah?”
Ibu Cynara tidak mampu berkata-kata. Ia hanya mengangguk pelan.
Tuan Jaya pun menjabat tangan ayah Cynara. Keduanya berasal dari kehidupan yang sangat berbeda.
Namun pada hari itu, mereka berdiri sebagai dua keluarga yang akan dipersatukan melalui pernikahan anak-anak mereka.
Dari kejauhan, Ibu Anugrah menyaksikan semuanya. Wajahnya berubah. Danisha pun tidak lagi tersenyum.
Mereka baru saja melihat orang tua Cynara diperlakukan dengan hormat oleh keluarga Mahendra.
Bukan sebagai tamu biasa. Melainkan sebagai besan. Anugrah sendiri hanya diam.
Tatapannya tertuju kepada kedua orang tua Cynara.
Ia tahu persis bagaimana keluarganya dulu memperlakukan mereka.
Namun sekarang... orang tua yang dulu mereka anggap tidak pantas itu justru duduk di barisan paling depan.
Di tempat terhormat. Di antara keluarga Mahendra.
"Jangan-jangan yang akan dinikahkan dengan Alvin adalah salah satu adik perempuan Cynara? Sekarang aku mengerti alasan Cynara sering bolak balik kantor—"
"Ternyata buat menangkapnya menjadi menantu keluarga itu," sambung Danisha dengan muka masam.
.
.
MC mulai membimbing acara dengan beberapa pembukaan membuat suasana di dalam ruangan mendadak hening.
Para tamu telah menempati tempat masing-masing.
Di bagian depan, Alvin Mahendra duduk berhadapan dengan ayah Cynara.
Sementara itu, pengantin belum terlihat.
Anugrah duduk di samping Gadiza. Sejak tadi matanya tidak lepas dari Alvin. Ada sesuatu yang terasa aneh.
Ia masih belum mengetahui siapa perempuan yang akan menjadi istri kakak iparnya. Bahkan Gadiza pun tidak tahu.
“Kenapa calon istrinya belum keluar?” bisik Gadiza.
“Mungkin setelah akad,” jawab Anugrah singkat.
Kepala Anugrah sedikit berputar mencari wajah adik-adik Cynara. Namun, wajah mereka termasuk Cynara tak satu pun yang terlihat. Hal ini membuatnya semakin yakin adik Cynara lah yang akan menikah dengan Alvin.
'Tapi, adiknya yang mana?' batinnya.
Tatapannya kembali kepada Alvin. Pria itu terlihat tenang. Tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.
Kemudian pembawa acara mempersilakan penghulu memulai prosesi akad.
Ayah Cynara menjabat tangan Alvin yang duduk di hadapan Alvin.
"Wahai Alvin Mahendra ... Saya nikahkan, putri kandung saya ....
Wajah Anugrah menegang menunggu nama yang diucapkan mantan mertuanya itu. Begitu pun para membaca tak sabar menunggu reaksi keluarga itu. Sebelumnya, buat Kakak-Kakak readers kirimin VOTE dong untuk mereka. Siapa tau mereka semakin banyak yang baca. Terima kasih ya, sudah hadir hingga menemani pernikahan mereka ... Saranghae... ❤️😍
*bersambung*