Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alibi yang Hilang
“Ahqam.”
Eris langsung mendekati Ahqam lalu memeluknya. Meski wujud Ahqam berubah, Eris tahu bahwa yang berdiri di hadapannya adalah kekasihnya. Senyum Ahqam mengembang. Jin itu memeluk kekasihnya erat.
“Kamu suka?” tanya Ahqam.
“Apa pun wujudmu, aku tetap mencintaimu.”
“Terima kasih.”
Ahqam menarik dagu Eris lalu mencium bibirnya dengan lembut. Eris membalas ciuman kekasihnya. Tanpa mempedulikan sekeliling, keduanya terus saja melakukan adegan pertautan bibir.
“Astaga mimpi apa gue semalam. Pagi-pagi udah lihat demit cip*kan,” celetuk Gilang. Pemuda itu baru saja keluar dari kamarnya dan langsung melihat pemandangan yang merusak mata sucinya. “Mata gue ternoda.”
Ciuman Eris dan Ahqam berakhir begitu saja saat mendengar ucapan Gilang. Ahqam mendelik pada Gilang. Jin itu kesal, kemunculan Gilang sudah merusak momen indahnya bersama Eris.
“Lang, aku dan Ahqam mau cari Jung Kook. Aku titip trio macan sama kamu ya.”
“Trio macan siapa?”
“Tuh,” jari Eris menunjuk Nilan, Prisa dan Riri yang berdiri tak jauh Gilang.
Gilang menepuk keningnya. Profesinya sebagai babysitter ternyata belum berakhir. Bahkan pemuda itu mendapat anggota baru yang harus dijaga.
Kenapa hidupnya bisa sesial ini?
“Ri, Nino bilang, ibumu sudah mendapat perawatan di rumah sakit. Pemerintah Provinsi yang membiayai pengobatan ibumu. Biaya sekolah adikmu juga ditanggung Gubernur Jawa Barat,” ujar Eris sambil melihat ke arah Riri.
“Benarkah?” wajah Riri yang semula mendung langsung ceria. Hantu wanita itu bersyukur ada orang yang mengurus ibu dan adiknya.
“Iya, jadi kamu bisa tenang sekarang. Kamu jangan jauh-jauh dari Gilang. Prisa, kamu jangan merasuki Gilang sembarangan lagi. Tubuhnya akan semakin lemah nantinya.”
“Kalau kamu masih merasuki Gilang, aku akan mengurungmu di dalam botol!” ancam Ahqam.
“Siap! Tenang aja, kemarin aku terpaksa masuk ke tubuh Gilang,” Prisa mengangkat dua jarinya membentuk tanda damai seraya melemparkan senyuman. “BTW, kamu ganteng banget, Qam,” puji Prisa.
“Nggak usah ganjen!” ketus Eris.
Ahqam segera mengajak Eris pergi. Jangan sampai terjadi perkelahian dua hantu wanita karena memperebutkan dirinya yang sedang dalam wujud terbaiknya.
Narsis sekali Ahqam ini. Padahal penampakan dirinya sekarang bukanlah wujud aslinya. Namun rasa bangganya sudah seperti dia adalah pria paling tampan sedunia.
***
Nino dan Asep sudah berada di kantornya. Sekarang duo kancing cetet itu sedang berdiskusi dengan Miko.
“Berita kematian Riri sudah menyebar di media. Mereka menghubungkan kematian Riri dan Nilan. Mereka berasumsi jika ini adalah kasus pembunuhan berantai,” ujar Miko.
“Tapi memang iya, Ndan. Aku sudah masuk ke ingatan Riri. Pelakunya memang sama. Memakai topeng Rahwana dan menggunakan palu sebagai alat untuk menghabisi korbannya.”
“Info tentang topeng Rahwana tidak bisa kumasukkan ke dalam laporan. Tapi dari hasil autopsi memang ditemukan kesamaan dari pola pelaku saat menghabisi korban.
Setelah itu, pelaku juga memosisikan korban seperti janin. Kemungkinan besar pelakunya memang orang yang sama.”
“Hanya saja, apa motifnya? Nilan dan Riri tidak saling kenal. Kesamaan yang ada pada dua korban adalah sama-sama wanita dan mereka dibunuh setelah pulang kerja.”
“Pasti ada motif lain di baliknya. Tugas kalian mencari tahu soal itu.”
“Siap!”
“Bagaimana dengan Rama? Apa ada perkembangan?”
“Kami masih mengecek alibi Rama saat pembunuhan Riri. Dipta masih menelusuri jejaknya.”
“Kita harus segera mengungkap kasus ini. Semakin lama kasus ini belum terpecahkan, masyarakat akan semakin ketakutan.”
“Iya, komandan benar.”
“Untuk langkah sementara, aku mengusulkan penambahan unit yang berpatroli. Mereka akan berpatroli di jam rawan kejahatan dan daerah sepi.”
“Kami akan menemui Dipta dulu. Siapa tahu dia menemukan petunjuk lain.”
“Baiklah.”
Nino dan Asep bangkit dari duduknya. Kedua pria itu segera meninggalkan ruangan Miko. Sepeninggal keduanya, Miko bersiap untuk memberikan pernyataan pers mengenai kasus Riri. Pria itu menarik napas panjang sebelum meninggalkan ruangannya.
***
Nino dan Asep sudah berada di unit apartemen Pradipta. Seperti biasa, pria itu sedang mengerjakan apa yang diperintahkan mereka.
“Kamu sudah mendapatkan rekaman CCTV yang kuminta?”
“Tidak,” jawab Pradipta sambil menggeleng. “Pelaku sudah menghapus rekaman CCTV asli dan menggantikannya dengan rekaman lain.”
“Apa kamu tidak bisa mengembalikan rekaman yang dihapus?”
“Tidak bisa. Dia menghapus semuanya tanpa meninggalkan jejak. Sepertinya dia seorang ahli IT yang andal.”
“Sepertinya kemampuanmu masih berada di bawahnya.”
Pradipta hanya mendecak saja mendengar ucapan Asep yang terkesan meledeknya. Namun pria itu memilih diam. Dia malas berdebat dengan Asep.
“Saat Riri dibunuh, kamu berada di mana?” tanya Nino tiba-tiba.
“Bapak mencurigai saya?”
“Kenapa tidak? Pelaku memilki kemampuan IT yang baik. Jadi kamu layak dijadikan tersangka.”
“Jawab saja kamu ada di mana?” timpal Asep.
“Aku memang keluar, tapi cuma beli makanan aja.”
“Jam berapa?”
“Aku keluar jam sebelas malam, kembali ke sini jam satu malam.”
“Apa ada yang bisa mengonfirmasi alibimu?”
Pradipta hanya mengangkat kedua bahunya. Saat dia keluar, waktu memang sudah malam dan pria itu juga tidak tahu apakah ada yang melihatnya.
Apalagi dia membeli makanan di gerobak kaki lima. Yang pastinya tidak ada kamera CCTV yang merekam keberadaannya.
“Tulis semua tempat yang kamu datangi.”
“Baiklah.”
Pradipta mengambil secarik kertas, lalu pria itu menuliskan nama jalan tempat pedagang kaki lima yang didatanginya di malam kematian Riri.
“Bagaimana dengan Rama?”
“Setelah meninggalkan halte di daerah Ciasem, dia memang sempat berhenti di tukang martabak. Lalu dia pergi dan tidak terlihat lagi jejaknya. Dan ….”
Pradipta menghentikan sejenak ucapannya. Pria itu lalu memperlihatkan rekaman CCTV yang terpasang di bagian depan klub Butterfly. Dalam rekaman, tampak Rama memasuki klub tersebut.
“Tapi dia tidak ada dalam daftar saat penggerebekan terjadi.”
“Karena dia pergi sebelum penggerebekan terjadi.”
Jari Pradipta bergerak lincah di atas laptop, kemudian dia memutar rekaman CCTV yang ada di dalam klub. Pria itu memperlihatkan rekaman pada dua petugas polisi yang sedang bersamanya.
Dalam rekaman tampak Rama duduk sendiri di meja bar. Tak berapa lama kemudian Riri mendekat. Wanita itu sedang memesan minuman untuk pelanggannya.
Cukup lama Rama memandangi wanita di sampingnya hingga akhirnya Riri menyadarinya.
Begitu Riri menoleh, Rama melemparkan senyumnya. Saat Rama mencoba mengajaknya bicara, Riri meninggalkannya begitu saja.
“Jam berapa dia meninggalkan klub?”
“Sekitar jam sebelas malam.”
“Coba kamu telusuri ke mana dia setelah meninggalkan klub.”
“Aku sudah melacaknya, tapi tidak terlihat di mana-mana selama beberapa jam.”
“Dia datang menggunakan apa ke klub?”
“Mobil.”
Refleks Asep dan Nino saling berpandangan. Seperti tahu isi hati satu sama lain, keduanya langsung bergegas meninggalkan unit apartemen Pradipta. Mereka akan menemui Rama di kantornya.
Setengah jam kemudian, Asep dan Nino sudah tiba di kantor tempat Rama bekerja. Mereka langsung menuju ruang kerja Rama.
“Saudara Rama,” panggil Nino.
Rama yang sedang fokus dengan laptopnya, langsung mengangkat kepalanya. Dia terkejut melihat Nino dan Asep sudah berdiri di depan mejanya.
“Apa Anda bisa ikut kami ke kantor?”
“A-Apa yang terjadi?”
“Tolong bekerja samalah. Ikut dengan kami secara baik-baik.”
Rama melihat sekeliling. Semua rekan yang berada satu ruangan dengannya sedang melihat ke arahnya. Dengan perasaan tak menentu, Rama bangkit dari duduknya. Pria itu mengikuti Nino dan Asep keluar dari ruangannya.
***
Apa Rama pelakunya?🤔