"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Penyesalan
Nikolai
Aku di Secret. Satu hari yang bagai neraka telah berakhir, tapi bebannya tidak. Sudah berhari-hari aku tak menginjakkan kaki di rumahku sendiri. Setiap sudut di sana mengingatkanku pada Helena. Setiap detail seakan menyandang aromanya, suara tawanya, sentuhan yang seharusnya sudah tak ada lagi dalam hidupku.
Aku lebih memilih berada di sini. Setidaknya di kehampaan Secret, tak ada yang memaksaku menghadapi masa lalu pada setiap tatapan.
Aku memegang segelas vodka. Minuman itu turun membakar, seakan menyeret amarah dan rasa sakit sekaligus. Tapi tak berhasil. Tak ada yang berhasil.
Ponselku bergetar di meja. Kulihat. Natalia.
Di bilah notifikasi, tampaknya bukan sekadar pesan: itu sebuah foto. Sesak di dada memperingatkanku, tapi dorongan itu menang. Kubuka.
Apa yang kulihat membekukanku sesaat.
Dan mustahil untuk mengalihkan pandangan.
Di bawahnya ada pesan-pesan lain…
"Niko, aku menyayangimu dan karena menyayangimu, aku ada di sini. Helena dan bayinya membutuhkanmu.
Jangan keras kepala.
Helena tidak baik-baik saja. Ia anemia."
Mataku tak beranjak dari citra USG itu. Setiap detail, setiap bayang, setiap titik kecil yang melambangkan anakku, menyesakkan dadaku dengan cara yang tak bisa kukendalikan.
Tapi bersama kegembiraan itu, rasa sakit yang teramat sangat menyerbuku. Helena tidak baik-baik saja. Ia tidak bersamaku. Dan aku tak bisa berbuat apa pun sekarang, selain terus menatap sebuah layar dan merasakan frustrasi yang kian membesar.
Aku merasa seperti binatang dalam kurungan, terjebak di antara keinginan berlari menghampirinya dan kenyataan kejam bahwa aku tak bisa. Gelas vodka di tanganku nyaris terlepas tanpa kusadari, dan aku menyadari bahkan minuman pun tak mampu membiuskan campuran amarah, takut, dan rindu ini.
Dadaku ingin bergerak bahkan sebelum kepalaku berpikir. Aku ingin berlari menghampirinya, memeluknya, melindunginya, menunjukkan bahwa tak ada yang akan menyakitinya. Tapi harga diriku… harga diri terkutukku terasa lebih berat daripada mendesak apa pun.
Kutarik napas dalam-dalam, menekan ponsel ke dadaku. Aku ingin meyakinkan diri bahwa aku melakukan hal yang benar dengan berdiam diri. Bahwa ia butuh ruang. Bahwa aku tak boleh merusak segalanya dengan emosiku.
Tapi setiap detik yang berlalu tanpa aku berada di sisinya bagai bilah yang menembus dadaku. Aku merasa tak berdaya, terjebak di antara hasrat untuk bersamanya dan keharusan mempertahankan martabatku, meski aku tahu aku justru semakin menjauhkannya.
Kupejamkan mata. Kucoba mengendalikan diri. Kucoba meyakinkan diri bahwa menunggu adalah kekuatan. Tapi kenyataannya kejam: setiap menit jauh darinya menghancurkanku sedikit demi sedikit.
Dan meski begitu… aku tak bergerak. Aku tak sanggup menyerah. Belum.
Aku tak sanggup menahan diri. Simpul di dada, kecemasan, rasa takut… semuanya melimpah. Kuraih lagi ponsel, kubalas Natalia dengan pesan yang sederhana dan lugas:
"Terus kabari aku."
Tanpa kata-kata penenang, tanpa permintaan maaf, tanpa pertanyaan yang tak perlu. Hanya kebutuhan untuk tahu, untuk tetap terhubung dengan detail apa pun yang menyangkut Helena dan bayinya.
Jariku gemetar saat mengirim pesan itu. Setiap detik hening yang menyusul terasa menyiksa. Kurasakan jantungku berpacu, sadar bahwa, bahkan dari kejauhan, setiap kabar akan menjadi rantai yang mengikatku padanya.
Aku tak bisa pergi sekarang. Aku tak boleh mengizinkan diriku… tapi aku tak sanggup memutuskannya. Aku tak sanggup menjauh. Ponsel adalah satu-satunya benang yang menjagaku tetap dekat dengannya, sekecil apa pun itu.
Dmitry masuk ke Secret tanpa menimbulkan suara, tapi kehadirannya cukup untuk menyentakku dari lamunan. Ia berhenti di sisiku, mengamatiku beberapa detik, seperti seseorang yang tahu ini bukan waktu untuk bercanda.
"Semuanya baik-baik saja?" tanyanya, hati-hati.
Kuangkat pandangan perlahan. Gelas itu masih di tanganku, tapi aku sudah tak lagi merasakan rasa vodka. Yang kurasakan adalah sesuatu yang lain. Sebuah beban baru. Yang dalam.
"Apa yang akan kaurasakan…" aku memulai, suaraku lebih pelan daripada yang kuinginkan, "seandainya tahu bahwa kau akan menjadi seorang ayah?"
Dmitry mengernyitkan dahi, terkejut. Ia butuh waktu untuk menjawab, seakan pertanyaan itu menuntut lebih banyak kejujuran daripada biasanya.
"Takut," ucapnya, akhirnya.
"Sangat takut. Tapi juga… sejenis kekuatan yang tak kau sangka kaumiliki."
Aku menelan ludah. Kupandang kekosongan.
"Dan bagaimana jika itu datang di tengah kekacauan?" lanjutku. "Jika kau telah melakukan segalanya dengan salah sebelum mengetahuinya?"
Ia menatapku dengan mantap.
"Kalau begitu anak itu menjadi kesempatan untuk memperbaiki keadaan," jawabnya.
"Bukan untuk menghapus masa lalu. Tapi untuk tidak mengulanginya."
Kata-kata itu menghantam keras. Lebih keras daripada pukulan apa pun.
Kualihkan pandangan, merasakan sesuatu retak di dalam diriku.
Karena untuk pertama kalinya sejak melihat citra itu…
yang kurasakan bukan lagi hanya amarah atau pengkhianatan.
Aku merasa takut.
Dan, di luar kehendakku… ada harapan.
Aku tak bisa berdiam diri. Setiap kali kucoba berkonsentrasi, pikiran-pikiran itu berjejalan, berputar dalam lingkaran, mencekikku. Amarah, takut, rasa bersalah, rindu… semuanya bercampur, tanpa awal maupun akhir.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Aku perlu menggerakkan tubuh, meski pikiranku tetap terperangkap dalam pusaran yang sama. Aku keluar dari Secret, udara dingin jalanan menampar wajahku, tapi tak membangunkanku. Ia hanya menjagaku tetap sadar bahwa aku masih hidup, meski setiap langkah terasa berat.
Cahaya-cahaya kota berlalu cepat, kabur. Kulihat wajah-wajah orang tanpa benar-benar memperhatikan. Setiap mobil yang lewat seakan membawa seseorang yang bukan diriku. Tapi aku terus berjalan, berusaha menemukan setitik kejernihan di tengah kekacauan.
Meski dengan segenap kekalutan di dalam diriku, aku tahu satu hal: aku tak bisa lagi mengabaikan Helena. Aku tak bisa lagi mengabaikan apa yang ia kandung, apa yang telah kubiarkan terjadi.
Dan meski begitu, aku tak tahu bagaimana cara mendekatinya. Aku tak tahu apakah aku akan sanggup. Tapi aku harus mencoba.