Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monisha Affan 02.
Affan mengendarai sepeda motornya sangat pelan menuju ke restoran yang sudah diberi tahu oleh orang tua. Ia pergi ke restoran di bantu oleh google maps lewat ponsel yang sudah ia taruh di holder motornya.
Namun, beberapa saat pandangan nya yang semula betah liat google maps, teralihkan ke arah sepeda motor yang baru saja menyalip sepeda motor yang dikendarai oleh Affan.
Pengemudi nya seorang gadis sekolahan, di balik punggung ramping gadis itu Affan sudah tau siapa pelakunya. Apa lagi ransel mini warna cream dengan gantungan boneka teddy kecil yang menggantung milik Mona membuat Affan langsung terkekeh geli.
'Bilang tadi naik ojol, bilang ban nya bocor, tau-tau datang ke sekolah naik motor, pulang sekolah ngebut pula!' Dengan begitu, Affan langsung menaikkan kecepatan mengejar laju motor yang dikendarai Mona. Tujuannya sih simpel, untuk memperingatkan gadis itu biar tidak ugal-ugalan kalau naik motor.
Hanya saja Mona yang lagi enggak sabar makan rendang di rumah makan padang justru semakin ngebut, membuat Affan langsung tancap gas sepeda motornya.
Hingga aksi kebut-kebutan mereka jika dilihat dari POV atas awan seperti sedang berada di sirkuit moto GP.
Dimana mobil-mobil di salip habis oleh Mona karena terlihat lampu hijau perempatan ingin berganti warna merah, sementara Affan yang terjebak lampu merah sampai belok ke kiri untuk putar balik dan kembali mengejar Mona. Google maps yang semula terus di perhatikan oleh Affan mendadak diabaikan begitu saja.
Hingga pengejaran Mona berhasil dikejar oleh Affan sampai parkiran restoran padang pagi sore.
Mona yang panik karena ada seseorang yang mengikuti motornya dari belakang langsung melepas nafas lega ketika melihat wajah yang dari tadi tertutup helm full face nya kini sudah terbuka. "Kau ngapain sih ngikutin saya? Lagi belajar jadi debt collector ya hah?!" Katanya asal ceplos. Membuat darah Affan yang semula sudah adem ayem kembali mendidih.
"Apa kau bilang?" Affan menatap sinis.
"Gak! Kalau suka bilang aja, gausah ngikutin segala" Mona lantas membuang wajah seraya memampang wajah jijik.
Affan yang mendengar ucapan tidak enak di dengar itu lantas mendekat ke sisi Mona untuk mencegah nya melangkah masuk ke dalam resto. "Dengar ya, saya kejar kamu karena kamu kepergok kebut-kebutan di jalan, bukan karena saya suka! Amit-amit"
Mendengar penekanan kata amit-amit dari mulut Affan membuat sepasang mata Mona membola sekaligus. "Muka kaya beruk tua aja apa yang dibanggakan sampai jual mahal gitu hah? Sok-sokan bilang amit-amit, cewek yang naksir kamu aja enggak ada, puih!"
Sumpah, rasa pengen nampol mulut lantam nya Mona semakin menjadi-jadi. Tapi kali ini Affan masih berusaha untuk sabar agar ia tidak semena-mena pada gadis itu.
Affan menyilangkan kedua tangan di dada seraya mendengus geli, sebelum Affan akan menjawab perkataan nyebelin itu. "Lah kamu sendiri bertahun-tahun jomblo, gak laku ya?"
Satu detik berikutnya justru Mona menampol mulut lantam nya Affan. "Oy! kasar banget si jadi cewek!" Protes Affan dongkol.
"Bodo! Saya jomblo bertahun-tahun bukan berarti saya enggak laku ya, karena mau aja, komplen aja jadi orang, setan!" Dengan wajah angkuh, Mona masuk ke dalam restoran daripada nambah gila karena terus meladeni Affan.
Sedangkan Affan akan kembali melanjutkan perjalanan menuju restoran yang diarahkan oleh orang tua nya.
Saat Affan sudah duduk di atas motor seraya memakai helm full face nya. Ia lantas kaget kalau titik google maps nya berada di tempat ini.
Untuk memastikan, ia buru-buru melepas helm dan turun dari motor, kemudian berlari mengejar Mona yang sudah masuk ke dalam restoran.
Disaat Affan sudah masuk ke dalam resto, justru ia kaget kalau ada karpet merah yang sudah digelar menuju meja makan keluarga nya. Lebih kaget lagi di meja itu ada Mona yang sedang terkejut saat mendengar nama Affan tercetus dari mulut wanita paruh baya disamping mama nya. "Sini Affan ke meja"
"Mah, teman mama kok kenal dengan Affan ya?" Tanya Mona pada Mama Anggun. Anggun adalah ibu kandung nya Monisha.
"Beliau ibunya Affan sayang" Jawab mama berusaha lembut pada anak gadisnya. Dan itu membuat badan Mona langsung nge freeze. Pikirannya sudah mulai kacau. Semoga saja apa yang ada dipikirannya tidak terjadi.
Hanya saja pikiran itu mendadak retak saat Bu Sisi, ibunya Affan bilang seperti ini. "Affan, depan kamu ini gadis yang sudah mama ceritakan, dia yang akan kamu nikahkan bulan depan"
"APAAAA!!!!!!!" Keduanya terkejut parah. "Gak gak, Gak mau!"
"Kalian duduk dulu, biar ibu kalian bicara dulu sampai tuntas, gak sopan asal nolak" Timpal Pak Arman, papa nya Affan yang geram karena perjodohan ini langsung di tolak sama mereka. Affan menuruti keinginan papa nya, sedangkan Mona masih berdiri seakan-akan badan nya sudah membeku.
"Mona! Duduk" Sebuah perintah tegas dari papa Reza membuat anak gadisnya menoleh dan duduk di samping mama Anggun.
Mama Sisi menyerahkan secarik kertas sebuah perjanjian pernikahan dari mendiang kakeknya Affan.
"Kalian baca bareng-bareng" Titah Mama sisi.
Membuat kepala Mona dan Affan berdekatan untuk membacanya bersama. Isinya terlihat sepenuhnya pada mereka yang masih berusia tiga tahun saat itu. Kakek Affan yang gemas dengan baby face Mona langsung ada niatan untuk jodohkan dengan cucunya. Sementara kakek nya Mona setuju dengan usulan itu, sebab kakek nya Mona ingin menunjukkan rasa terima kasih pada kakek Affan karena sudah menyelamatkan perusahaan nya dari kebangkrutan.
Kalau ini permintaan kakek, Mona jadi enggan menolak wasiat dari nya.
Karena selama kakeknya masih hidup, Mona sangat sayang banget sama kakek, sebab dari kecil gadis itu tumbuh karena diasuh sama kakek penuh kasih sayang, sementara kedua orang tua Mona saat itu sedang sibuk-sibuknya ngurus perusahaan sebagai penerus baru.
Sisi Affan juga sama. Pria itu sayang banget sama kakeknya, karena saat Affan kecil kakek setiap hari membelikannya mainan baru, setiap hari ngasih uang jajan lebih, tiap hari minggu selalu ngajak dia jalan-jalan ke sebuah danau. Dari pada orang tua yang acuh dan sibuk dengan bisnis terusan kakeknya yang memilih pensiun.
Pada akhirnya yang awalnya mereka ingin menolak keras, kedua manusia itu lantas mengangguk setuju kalau akan di nikahkan dalam waktu satu bulan demi menjaga wasiat kakek.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan