JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Kemenangan Mutlak Sang Raja
*BRAKKKK!*
Pintu gerbang besi depan markas besar Black Cobra akhirnya hancur lebur diterjang paksa oleh sebuah mobil van hitam milik faksi musuh. Pecahan engsel logam berhamburan di atas lantai semen, disusul oleh masuknya puluhan pria berjaket kulit putih dengan lambang kepala macan di punggung mereka. Mereka merangsek masuk dengan sorot mata beringas dan senjata tajam yang terhunus tegak di tangan masing-masing, langsung mengepung area tengah gudang kontainer yang luas.
Di barisan paling depan pasukan utara, berdiri sang ketua tertinggi faksi White Tiger—sesosok pria dengan rambut perak dan tatapan mata sedingin es yang dikenal sebagai Macan Putih. Ia melangkah maju dua langkah sambil memegang sebilah pedang samurai pendek yang berkilau tajam di bawah siraman lampu neon remang-remang markas.
"Akhirnya hari kehancuran Black Cobra tiba juga, Eksan Prasetya!" raung sang ketua White Tiger dengan suara menggelegar pekat, memotong keheningan malam yang mencekam. "Serahkan gadis sekolah di atas sekarang juga, atau malam ini aku bersumpah akan meratakan tempat ini menjadi tanah kuburan kalian!"
Eksan yang berdiri kokoh memimpin di barisan paling depan sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun di sepasang mata elangnya yang pekat. Aura haus darah murni yang luar biasa pekat mendadak kembali memancar kuat dari tubuh tegapnya, menekan seluruh atmosfer udara di dalam gudang kontainer hingga anak buah musuh refleks menahan napas mereka karena ketakutan.
Ia mengangkat tinggi pipa besi tebal di tangan kanannya, lalu menunjuk langsung tepat ke arah wajah ketua musuh dengan sebuah seringai dingin yang luar biasa mengerikan. "Kau terlalu banyak bermimpi untuk ukuran seekor kucing utara yang berani mengemis maut di sayangku, Tua Bangka bereng sek," balas Eksan dengan suara rendah yang berat namun menggelegar penuh dengan getaran intimidasi mutlak. "Gadis di atas adalah harga diriku yang paling sakral. Dan siapa pun orang jalanan yang berani mengusik harga diri seorang Eksan... mereka semua hanya memiliki satu jalur tunggal untuk pulang malam ini, yaitu di dalam keranda mayat."
"SERANG SEKARANG JUGA!!!" raung ketua White Tiger yang langsung tersulut amarah besarnya mendengarkan tantangan sombong dari Eksan.
*BRUUAAAKKK!*
Pertempuran akbar dan paling berdarah yang menentukan siapa penguasa tunggal di atas aspal jalanan kota itu akhirnya resmi pecah secara brutal di dalam gudang kontainer. Puluhan orang dari kedua belah kubu faksi jalanan saling menerjang dan berhantam secara beringas. Suara dentuman keras dari balok kayu yang menghantam tulang, gemerincing logam besi yang saling beradu kasar, dan teriakan amarah penuh dendam saling bersahutan memecah keheningan malam yang sunyi.
Eksan bergerak menerjang maju layaknya seekor monster jalanan yang kelaparan di tengah kegelapan malam. Di balik rasa perih luar biasa yang membakar perut kirinya akibat jahitan perbannya yang kembali robek total dan mengeluarkan cairan merah pekat, gerakan fisik bertarungnya sama sekali tidak melambat seujung kuku pun. Ia mengayunkan pipa besinya dengan sangat brutal dan tanpa rasa ampun sedikit pun, langsung menumbangkan setiap anak buah White Tiger yang mencoba menghalangi jalannya hingga mereka semua terkapar tak berdaya di atas lantai semen yang bersimbah genangan darah segar.
Target utama Eksan hanya satu: sang ketua tertinggi White Tiger. Dalam hitungan detik menembus kerumunan perkelahian massal, Eksan akhirnya berhasil memotong jalur dan berdiri tepat berhadapan satu lawan satu dengan pria berambut perak tersebut.
"Malam ini, aku sendiri yang akan mencabuti semua taring macan putih kalian dari jalanan kota ini tanpa sisa!" raung Eksan sembari mencengkeram erat-erat pipa besi di tangannya, bersiap melakukan duel maut satu lawan satu yang akan mengakhiri seluruh sengketa kekuasaan di dalam gang kota.
Ketua White Tiger menyeringai kejam, lalu melesatkan pedang samurainya dalam tebasan diagonal yang sangat cepat mengincar dada Eksan. Eksan bergerak refleks memiringkan tubuh tegapnya ke kanan, membiarkan mata pisau tajam musuh menggores kain jaket kulit hitamnya hingga robek. Bersamaan dengan gerakan menghindar yang tipis itu, Eksan mengayunkan pipa besi di tangan kanannya dari bawah ke atas dengan kekuatan gila.
Pipa besi itu menghantam telak pergelangan tangan ketua White Tiger, membuat pedang samurai pendek di tangannya seketika terlempar jatuh ke lantai semen dengan bunyi dentangan nyaring. Sebelum pria berambut perak itu sempat memulihkan posisi tubuhnya akibat terkejut, Eksan mengambil satu langkah cepat ke depan untuk menutup mati jarak aman di antara mereka.
Tiga pukulan mentah dengan kepalan tangan kanan Eksan menghantam bertubi-tubi tepat di bagian rahang dan hidung ketua White Tiger tanpa belas kasihan sedikit pun. Darah segar menyembur keluar dari wajah pria paruh baya itu, melumuri tangan Eksan. Pada hantaman keempat, Eksan melepaskan satu tendangan lurus berkekuatan penuh yang telak menghantam dada musuhnya hingga ketua White Tiger itu terbangun terpental ambruk menghantam dinding kontainer besi di belakangnya.
Tubuh besar ketua faksi utara itu akhirnya tumbang dengan sangat mengenaskan ke atas lantai, tidak lagi memiliki sisa kekuatan untuk sekadar menegakkan kepalanya sendiri. Ia batuk darah berulang kali dengan tubuh yang gemetar hebat menahan rasa sakit luar biasa di dada dan wajahnya.
Melihat pemimpin tertinggi mereka ditumbangkan secara brutal dan hancur lebur oleh kegilaan bertarung Eksan, seluruh sisa pasukan geng White Tiger yang awalnya bertarung beringas mendadak membeku di tempat dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Nyali jalanan mereka menciut habis dalam sekejap melihat pemandangan mengerikan di hadapan mereka. Eksan berdiri tegak di tengah ruangan, berselimutkan darahnya sendiri dan darah musuh, menatap mereka semua dengan sorot mata elang pekat yang haus darah murni.
"Bawa bangkai ketua kalian ini pergi dari kawasan industri sekarang juga..." suara Eksan terdengar sangat rendah, berat, serak, namun memiliki gaung intimidasi mutlak yang menggema mematikan di setiap sudut malam yang dingin. "Dan sampaikan pada seluruh orang jalanan di kota ini... siapa pun yang berani mengusik ketenangan Nasya lagi setelah malam ini, aku bersumpah demi nama Black Cobra akan memburu kepala mereka sampai ke lubang neraka terdalam."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, belasan anggota White Tiger yang tersisa langsung berlari ketakutan membopong tubuh ketua mereka yang sudah babak belur tidak sadarkan diri. Mereka melesat kabur melarikan diri menembus kegelapan malam menggunakan motor dan mobil van mereka, menyisakan kehancuran total di halaman depan dan kemenangan mutlak bagi faksi Black Cobra.
Faksi Black Cobra telah memenangkan pertempuran besar penentuan malam ini dengan mutlak dan sah diakui sebagai penguasa tertinggi jalanan kota. Seluruh anak buah Eksan serentak bersorak riuh meneriakkan nama pemimpin tertinggi mereka dengan bangga, namun Eksan sama sekali tidak merayakan kemenangan besar tersebut.
Tubuh tegap Eksan mendadak limbung ke arah samping. Pandangan matanya mulai berputar hebat karena telah kehilangan terlalu banyak darah sepanjang duel maut tadi. Sambil memegangi perut kirinya yang terasa mati rasa dan bersimbah darah pekat, Eksan berjalan terhuyung-huyung melangkah menaiki anak tangga besi satu per satu, mengabaikan seluruh rasa sakit di tubuh jahitannya demi satu tujuan pasti: menemui gadis sekolah yang ia sembunyikan di kamar atas.
Tangannya yang gemetar meraih slot kunci ganda pintu kamar, memutarnya perlahan, lalu membuka pintu kayu tersebut.
Di dalam kamar yang temaram, Nasya yang sedari tadi menangis histeris dalam ketakutan mendengar suara dentuman pertempuran di bawah langsung beranjak dari tepi kasur saat melihat pintu terbuka. Begitu matanya menangkap sosok Eksan berdiri di ambang pintu dengan tubuh bersimbah darah dari atas hingga bawah namun tatapan matanya tetap memancarkan kilatan posesif yang teduh, Nasya langsung berlari kencang memeluk erat tubuh tegap pemuda itu dengan air mata yang tumpah membanjiri pipinya.
"Eksan!!! Ya Tuhan, kau selamat... kau kembali kepadaku...!" tangis Nasya histeris dengan bahu yang terguncang hebat di dalam dekapan Eksan.
Eksan menjatuhkan seluruh berat tubuh tegapnya ke dalam pelukan hangat Nasya, melingkarkan kedua belah lengan kekarnya di sekitar punggung mungil gadis itu dengan cengkeraman erat yang sangat posesif dan protektif. Meskipun kesadarannya berada di ambang batas terjauh akibat kehabisan darah, sudut bibir Eksan yang terluka tetap mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.
"Sudah aku katakan kepadamu... badainya sudah selesai, Nasya," bisik Eksan sangat lirih tepat di samping telinga gadis itu, menghirup aroma harum rambut hitam Nasya untuk mengunci takdir kepemilikannya. "Kau aman di dalam sayangku. Mulai detik ini dan selamanya, tidak akan ada satu orang pun di kota ini yang bisa merebut dari dekapan seorang Eksan Prasetya."
Cengkeraman tangan Eksan di tubuh Nasya semakin mengerat kuat sebelum akhirnya ia memejamkan matanya, jatuh pingsan dengan aman di dalam pelukan hangat wanita yang telah resmi menjadi ratu di dalam seluruh kerajaan jalan nya.