Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Jebakan Yang Sia-sia
Kevin sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di kantor pemerintahan kota.
Ini adalah pertama kalinya Kevin menginjakkan kaki di Kantor pemerintahan tersebut. Melihat bangunan megah dan lingkungan yang tertata rapi, dia tidak bisa menahan kekagumannya.
Pantas saja begitu banyak orang berlomba-lomba menjadi pejabat. Fasilitas dan lingkungan kerjanya memang luar biasa!
Tiba-tiba, terdengar suara penuh keterkejutan.
"Tuan Kevin, apa yang membawa Anda kemari? Kenapa Anda tidak memberi tahu saya sebelumnya?"
Kevin menoleh dan melihat sosok yang dikenalnya berjalan mendekat.
"Presdir Jaya." Kevin menyambutnya dengan senyum hangat. "Kebetulan, Walikota memanggil saya untuk membicarakan sesuatu. Saya harus menemuinya terlebih dahulu."
Presdir Jaya tersenyum ramah.
"Walikota? Apa yang ingin dilakukan rubah tua itu terhadapmu?"
Wajah Albert Wijaya langsung berubah serius. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Walikota tiba-tiba memanggil Kevin.
"Saya juga tidak tahu," jawab Kevin sambil mengangkat bahu. "Tapi saya akan melihat sendiri apa yang dia inginkan. Jadi Saya akan menemuinya sekarang."
Albert Wijaya mengangguk. Namun sebelum Kevin pergi, dia mendekat dan berbisik dengan suara rendah.
"Kevin, sebenarnya saya tidak seharusnya menjelek-jelekkan orang lain. Namun, saya tetap harus memperingatkan Anda. Walikota memiliki latar belakang yang rumit dan dia sama sekali bukan orang baik. Anda harus berhati-hati terhadapnya."
Kevin mengernyitkan alis.
Albert Wijaya melanjutkan, "Sejak dia kembali dari Rumah Sakit Pusat, dia terus mencari informasi tentang Anda. Dia bahkan menanyakan kemampuan medis Anda dan apakah Anda menggunakan Jarum Medis yang legendaris itu."
Mendengar Jarum Medis Legendaris, hati Kevin langsung menegang.
Demonic....!
Sekali lagi, organisasi itu muncul di hadapannya.
"Terima kasih atas peringatannya, Presdir Jaya. Saya akan berhati-hati. Kalau begitu, saya pergi dulu."
Kevin mengangguk dan kemudian berjalan menuju ruangan Walikota.
Di dalam ruangan, Walikota berdiri di tempat sambil menatap wajah Kevin dengan ekspresi senang.
Semuanya terasa tidak beres.
Namun, mata Walikota saat ini berbinar. Dia segera menyambut Kevin dengan senyum lebar.
"Tuan Kevin, akhirnya Anda datang juga. Saya sudah lama menunggu kedatangan Anda. Mari, silahkan duduk."
Setelah bertukar basa-basi singkat, Kevin langsung menuju pokok pembicaraan.
"Walikota, sebenarnya untuk apa Anda memanggil saya?"
Walikota sempat tertegun.
Dia sudah menyiapkan berbagai kalimat untuk membujuk Kevin, tetapi keterusterangan pria itu membuat semua rencana yang sudah disusun mendadak tidak berguna.
Namun, Walikota bukanlah orang biasa. Dia segera menyesuaikan ekspresinya dan menghela napas.
"Tuan Kevin benar-benar orang yang terus terang. Kalau begitu, saya tidak akan berputar-putar."
Dia memasang ekspresi sedih.
"Saat melihat kemampuan medis Anda di Rumah Sakit Pusat, saya benar-benar sangat terkesan. Kebetulan istri saya sedang menderita penyakit serius. Karena itu, saya memberanikan diri meminta bantuan Anda untuk mengobatinya."
Walikota segera menambahkan, "Tentu saja, saya tidak akan membiarkan Anda membantu secara cuma-cuma. Saya pasti akan memberikan imbalan yang setimpal."
"Hanya itu?"
Kevin mengangkat alis.
Setelah berpikir sejenak, dia mengangguk.
"Kalau begitu, bawa istri Anda kepada saya. Saya akan memeriksa kondisinya terlebih dahulu."
"Istri saya sebenarnya ada di sini sekarang."
Walikota nyaris tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
Namun dia segera memasang wajah serius.
"Hanya saja penyakitnya agak aneh dan mungkin menular. Karena itu, saya tidak bisa membawanya keluar dari tempat ini."
"Baik. Tunjukkan jalannya."
Kevin menjawab dengan santai.
"Silakan lewat sini."
Walikota segera memimpin jalan.
Mereka melewati lorong dan semakin jauh masuk ke dalam ruangan dalam gedung, hingga akhirnya tiba di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi.
"Anda menyembunyikan istri Anda di bawah tanah?"
Kevin memandang sekeliling dengan heran.
Tempat itu dihias dengan cukup mewah. Sama sekali tidak terlihat seperti ruang penyimpanan biasa.
"Apakah kompleks pemerintahan memang memiliki ruang bawah tanah seperti ini?"
Walikota mengangguk sambil memasang ekspresi tak berdaya.
"Saya tidak punya pilihan. Saya harus mengisolasi istri saya di sini agar penyakitnya tidak menular kepada orang lain. Mohon dimaklumi."
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah gerbang besi.
Walikota membukanya.
Di balik gerbang itu hanya ada kegelapan pekat.
Kevin mengernyit.
"Anda benar-benar hemat listrik. Gelap seperti ini, tetapi lampunya bahkan tidak dinyalakan."
"Istri saya tidak sadarkan diri. Menyalakan lampu juga tidak ada gunanya."
Walikota tersenyum kaku.
"Silakan masuk terlebih dahulu. Saya akan menyalakan listrik dan lampunya."
Ketegangan memenuhi hati Walikota.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Dia tahu persis apa yang akan terjadi setelah Kevin masuk.
Kevin meliriknya sekilas.
"Begitu."
Tanpa banyak bicara, dia melangkah melewati gerbang besi.
Begitu Kevin masuk sepenuhnya—
Brak!
Gerbang besi langsung ditutup dari luar!
Walikota segera menguncinya rapat-rapat.
Sesaat kemudian, lampu di ruangan itu menyala terang.
Kevin menyipitkan mata dan perlahan menyesuaikan pandangannya.
Di hadapannya berdiri seorang pria berkepala cepak. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara sudut bibirnya melengkung membentuk senyum dingin.
Hanya mereka berdua yang berada di ruangan tersebut.
Kevin menatap pria itu beberapa detik sebelum berkata dengan ekspresi aneh,
"Jadi, ini 'istri' Walikota?"
Dia tertawa kecil.
"Saya benar-benar tidak menyangka seorang pejabat tinggi seperti Walikota ternyata memiliki selera yang begitu... unik."
Kevin bahkan sengaja mengamati pria itu dari atas hingga bawah.
"Kalau boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi, dalam hubungan kalian berdua, siapa yang biasanya berada di posisi atas?"
Wajah pria berkepala cepak itu langsung berubah muram.
"Brengsek!"
Dia mengepalkan gigi dan berkata dengan penuh kebencian,
"Kau sudah berkali-kali menggagalkan rencana Organisasi kami. Kekuatanmu memang luar biasa, dan mulutmu juga sangat menyebalkan!"
"Oh?"
Tatapan Kevin menjadi tajam.
"Jadi, Demonic lagi."
Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Sepertinya pengaruh Demonic benar-benar luas. Bahkan Walikota pun bisa kalian kendalikan."
"Benar."
Pria itu menyeringai.
"Untuk menghadapi Anda, saya sudah menggunakan kartu terakhir Demonic di Kota Jaya."
Dia menatap Kevin dengan dingin.
"Anggap saja Anda beruntung. Anda adalah orang pertama yang membuat Organisasi Demonic bersedia mengerahkan kekuatan sebesar ini hanya untuk menangkap seseorang."
Senyumnya semakin lebar.
"Tapi sekarang Anda sudah berada di sini..."
Tatapannya berubah menjadi penuh niat membunuh.
"Nasib Anda sudah ditentukan."
Pria itu mengetuk dinding baja di sampingnya.
"Dinding, lantai, bahkan langit-langit tempat ini semuanya terbuat dari baja bertulang dengan ketebalan lebih dari tiga puluh sentimeter."
Dia tertawa dingin.
"Di tempat seperti ini, bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa melarikan diri."
Kevin memandangi sekeliling ruangan, lalu menghela napas pelan.
"Begitu rupanya..."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sayangnya, kalian tampaknya masih belum memahami satu hal."
Tatapan Kevin perlahan berubah tajam.
"Kalau ingin menjebakku, tempat seperti ini masih jauh dari cukup."
bibirmu berjenggot?