Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Cinta yang Disimpan Bertahun-Tahun

Naira Alesha berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya sendiri.

Gaun berwarna biru muda yang dikenakannya terlihat sederhana, namun tetap terlihat cantik, cocok untuk menghadiri pesta ulang tahun seseorang yang sangat berarti baginya.

Seseorang yang selama hampir sepuluh tahun diam-diam memenuhi hatinya.

Ravian Elvano.

Naira tersenyum kecil. Hari ini Ravian berulang tahun yang kedua puluh delapan.

 Seperti tahun-tahun sebelumnya, Naira sudah menyiapkan hadiah untuknya, sebuah jam tangan.

Bukan barang mahal. Naira membelinya menggunakan uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit, hasil menjual sketsa desain pakaian kepada teman-temannya.

Ia memandangi kotak kecil yang tergeletak di atas meja.

"Semoga kamu suka," bisiknya pelan.

Naira menghela napas panjang. Sebenarnya ada satu hadiah lain yang ingin diberikannya kepada Ravian. Sebuah surat. Surat yang sudah ditulisnya tiga kali, namun selalu berakhir di tempat sampah.

Naira mengambil selembar kertas yang terlipat di dalam laci. Tangannya membuka lipatan itu perlahan.

Ravian, sebenarnya aku...

Naira langsung melipatnya kembali dengan cepat.

"Tidak." Ia menggeleng kuat.

"Belum sekarang."

Sejak dulu Naira selalu mengatakan hal yang sama. Belum sekarang. Mungkin besok. Mungkin bulan depan. Atau suatu hari ketika dirinya sudah cukup berani. Masalahnya, hari itu tidak pernah datang.

Naira mengenal Ravian sejak masih duduk di bangku sekolah. Ravian adalah kakak dari teman dekatnya, sekaligus seseorang yang selalu ada dalam hidupnya.

Ketika Naira jatuh dari sepeda, Ravianlah yang mengantarnya pulang.

Ketika Naira gagal dalam lomba menggambar, Ravianlah yang membelikannya es krim.

Dan ketika Naira mengatakan ingin menjadi desainer fashion, Ravian adalah orang pertama yang meyakinkan bahwa ia pasti bisa mewujudkannya.

Mungkin karena itulah Naira jatuh cinta. Bukan karena Ravian seorang pria yang sempurna, melainkan karena Ravian selalu membuat Naira merasa dirinya berharga.

Naira memasukkan hadiah ke dalam tas, lalu mengambil ponselnya. Ada satu pesan dari Ravian.

"Aku tunggu di rumah. Jangan terlambat."

Naira langsung tersenyum lebar. Hanya enam kata. Namun entah kenapa, enam kata itu cukup membuat jantungnya berdebar kencang. Ia membalas dengan cepat.

"Aku berangkat sekarang."

Naira lalu memeriksa penampilannya sekali lagi. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan sedikit gelombang alami. Tidak ada riasan berlebihan, hanya lipstik merah muda dan sedikit bedak.

"Semoga malam ini berbeda," gumamnya sambil tersenyum pada bayangannya sendiri.

Mungkin malam ini ia akan mengatakan perasaannya. Mungkin. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Naira merasa cukup berani.

**********

Rumah Ravian sudah ramai ketika Naira tiba. Lampu taman menyala terang, beberapa mobil terparkir di halaman, dan suara musik terdengar dari dalam rumah.

Naira turun dari taksi sambil memeluk tasnya erat, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.

"Naira!"

Seseorang melambaikan tangan dari teras. Naira mendongak dan tersenyum.

"Ravian."

Pria itu berjalan menghampirinya. Kemeja putih yang dikenakannya membuat Ravian terlihat semakin tampan malam itu.

Rambutnya tertata rapi, meski beberapa helai jatuh di dahinya. Seketika Naira lupa bagaimana caranya bernapas.

"Selamat ulang tahun," ucapnya sambil menyerahkan kotak hadiah.

Ravian menerimanya sambil tersenyum. "Terima kasih."

"Jangan dibuka sekarang."

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan."

Ravian tertawa renyah. "Baiklah."

Ia kemudian menatap Naira dari atas sampai bawah. "Kamu cantik malam ini."

Pipi Naira langsung memanas. "Benarkah?"

"Iya."

Naira tersenyum malu. "Terima kasih, Rav."

Hanya pujian sederhana. Namun bagi Naira, rasanya seperti mendapatkan hadiah terbesar malam itu.

"Masuklah. Semua orang sudah menunggu," ajak Ravian, lalu berjalan lebih dulu.

Naira mengikuti dari belakang dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Malam ini mungkin benar-benar akan menjadi malam yang berbeda.

Sampai sebuah suara memanggil dari ruang tengah.

"Ravian!"

Seorang perempuan cantik berjalan menghampiri mereka. Selena. Sahabat Naira.

 Selena mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya terlihat anggun, dengan rambut panjang yang tergerai di bahu.

Begitu melihat Ravian, wajahnya langsung berbinar. Ia berjalan mendekat dan memeluk pria itu.

Naira berhenti melangkah. Senyumnya perlahan menghilang.

Ravian tersenyum lembut kepada Selena. "Akhirnya kamu datang juga."

"Tentu saja. Masa aku tidak datang ke ulang tahunmu?" Selena tertawa kecil.

Naira berdiri beberapa langkah dari mereka. Ada sesuatu yang terasa aneh.

Cara Ravian memandang Selena.

Cara Selena menyentuh lengan Ravian.

Cara keduanya tersenyum satu sama lain.

 Naira menelan ludah. Entah kenapa dadanya mulai terasa sesak dan tidak nyaman.

Selena akhirnya menyadari keberadaan Naira. "Oh, Naira." Ia berjalan menghampiri sahabatnya dan memeluknya. "Kamu cantik sekali."

Naira berusaha tersenyum. "Kamu juga Sel."

Selena menarik tangan Naira. "Ayo masuk. Aku mau memperkenalkanmu kepada seseorang."

Naira mengikuti Selena ke ruang tengah, namun pikirannya masih tertinggal pada Ravian.

Beberapa menit kemudian, semua tamu berkumpul. Ravian berdiri di depan ruangan.

 Naira memperhatikannya dari kejauhan, dan ia tersenyum ketika Ravian meniup lilin. Semua orang bertepuk tangan. Lalu Ravian mengambil mikrofon.

"Terima kasih semuanya sudah datang," ucapnya.

Naira ikut tersenyum. Sampai Ravian mengatakan sesuatu yang membuat dunia Naira seolah berhenti berputar.

"Ada satu hal yang ingin aku umumkan malam ini."

Ravian menoleh kepada Selena. Perempuan itu tersenyum. Lalu Ravian berjalan menghampirinya. Naira merasa jantungnya berdetak terlalu keras.

"Selama beberapa bulan terakhir, ada seseorang yang selalu berada di sisiku," kata Ravian sambil menggenggam tangan Selena.

 "Dan malam ini aku ingin memperkenalkan dia sebagai seseorang yang sangat berarti dalam hidupku."

Naira membeku.

Seseorang di sampingnya berbisik, "Mereka ternyata pacaran."

Naira menoleh perlahan. "Apa?"

Temannya tersenyum. "Ravian dan Selena. Mereka sudah pacaran."

Dunia Naira mendadak sunyi. Ia kembali menatap ke depan. Ravian tersenyum. Selena tersenyum. Semua orang bertepuk tangan.

Naira tidak. Tangannya perlahan menggenggam tali tas. Di dalam tas itu ada sebuah surat. Surat yang berisi perasaan yang selama bertahun-tahun ia simpan untuk Ravian.

Naira menunduk. Ia ingin menangis. Tapi ia tidak mau menangis di depan semua orang. Tidak malam ini. Tidak di depan Ravian. Terlebih lagi, tidak di depan Selena.

"Naira?" Selena menghampirinya.

Naira segera mengangkat wajah. Selena tersenyum lebar. "Aku sebenarnya ingin memberitahumu dari kemarin."

Naira mencoba tersenyum. "Tidak apa Sel. Selamat ya."

Hanya dua kata, namun suaranya hampir bergetar. Selena memeluknya. "Aku bahagia sekali, Nai."

Naira memejamkan mata. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Aku ikut bahagia, Sel."

Setelah Selena pergi, Naira berbalik dan berjalan menuju halaman belakang. Ia membutuhkan udara.

Begitu sampai di taman, Naira duduk di bangku kayu. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia membuka tas dan mengeluarkan surat tadi.

Ravian, sebenarnya aku...

Naira menatap tulisan tangannya sendiri. Kemudian ia merobek surat itu menjadi dua. Lalu empat bagian. Lalu semakin kecil.

Potongan kertas itu jatuh berantakan ke tanah. Naira mengusap air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Selamat ulang tahun, Ravian," bisiknya dengan senyum yang terasa pahit. "Semoga kamu bahagia."

Malam itu, Naira akhirnya memahami sesuatu. Ternyata cinta yang disimpan terlalu lama tidak selalu menemukan waktu yang tepat untuk diucapkan.

Kadang, sebelum sempat menjadi sebuah pengakuan, cinta itu sudah lebih dulu kehilangan tempat.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Naira harus belajar melepaskan seseorang yang selama ini selalu ia harapkan.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!