Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.Kembalinya Isabella
Dua minggu setelah pesta rujak dan es krim durian jam 2 pagi itu, kehidupan di mansion De Luca semakin bahagia.
Perut Elena yang dulu rata sekarang sudah mulai sedikit membuncit. Baru 7 minggu, tapi karena bayi kembar, perutnya terlihat sedikit lebih besar dari ibu hamil biasa yang hamil satu bayi. Elena memakai dress hamil warna putih yang cantik pemberian Lorenzo, rambut pirangnya diikat setengah, wajahnya yang dulu pucat karena mual sekarang sudah mulai berseri-seri karena bahagia dan dimanjakan terus.
Lorenzo semakin bucin. Kalau dulu dia adalah Tuan Muda Mafia yang jam 6 pagi sudah rapat membahas senjata dan bisnis gelap triliunan dollar, sekarang jam 6 pagi dia ada di dapur belajar masak bubur ayam untuk Elena dari YouTube, ditemani Bi Inem.
Tato naga di lehernya masih terlihat garang, tapi kalau di depan Elena, naga itu seperti naga boneka yang jinak.
Siang itu, Elena sedang duduk di taman belakang mansion yang luas dan indah, penuh dengan bunga mawar putih dan merah kesukaan Elena. Di taman itu ada ayunan putih besar. Elena duduk di ayunan itu sambil mengelus perutnya yang mulai buncit, membaca buku tentang cara merawat bayi kembar.
Di sebelahnya, Thomas berdiri dengan payung besar untuk melindungi Elena dari matahari.
"Nona Elena, jangan lama-lama di luar ya, nanti masuk angin, kasihan Leon dan Luna," kata Thomas.
Elena tersenyum. "Iya Thomas, 5 menit lagi saya masuk. Saya suka angin di taman ini, seger..."
Tiba-tiba, dari gerbang depan mansion yang dijaga 10 penjaga bersenjata lengkap, terdengar suara ribut-ribut.
"MAAF NONA, NONA TIDAK BOLEH MASUK! INI MANSION KELUARGA DE LUCA! TIDAK ADA JANJI TIDAK BOLEH MASUK!"
"SAYA ISABELLA MORETTI! CALON NYONYA DE LUCA YANG ASLI! SAYA MAU KETEMU LORENZO! MINGGIR KALIAN SEMUA!"
Mendengar nama Isabella Moretti disebut, Elena langsung berdiri dari ayunan dengan kaget. Buku bayi kembarnya jatuh ke rumput.
Isabella?
Wanita cantik tapi jahat yang dulu pernah mencoba membunuh Elena dengan gaun pengantin beracun di Bab 6? Yang ayahnya Don Roberto sudah dipenjara karena menculik Elena di pulau Miami?
Elena memegang perutnya yang buncit dengan panik dan berjalan cepat ke gerbang depan, diikuti Thomas.
Di gerbang depan, terlihat seorang wanita cantik dengan dress merah ketat yang sangat seksi, rambut hitam panjang bergelombang, kacamata hitam besar, dan koper besar di sampingnya. Wajahnya cantik tapi terlihat kusam dan kurus, tidak seperti dulu yang glamor.
Itu memang Isabella Moretti!
Isabella yang dulu hidup mewah sebagai putri bos Mafia, sekarang setelah keluarganya bangkrut dan ayahnya dipenjara, hidup miskin di desa terpencil Italia. Dia kabur dari Italia dengan sisa uang terakhirnya untuk kembali ke New York dan merebut Lorenzo.
Begitu melihat Elena yang perutnya sudah sedikit buncit dengan dress hamil putih, mata Isabella langsung melot penuh iri dan dendam.
"ELENA! Jadi benar! Kamu hamil! Kamu hamil anak Lorenzo! Seharusnya itu saya! Seharusnya saya yang hamil anak Lorenzo! Saya yang dijodohkan dengan Lorenzo sejak 20 tahun lalu!" teriak Isabella dengan suara melengking.
Elena mundur selangkah, memegang perutnya untuk melindungi bayi kembarnya.
"Isabella... kenapa kamu di sini... bukannya kamu di Italia..."
Isabella tertawa sinis dan membuka kacamata hitamnya. Matanya merah karena menangis dan kurang tidur.
"Di Italia? Kamu pikir saya betah hidup miskin di desa dengan bau kambing? Saya Isabella Moretti! Saya harusnya jadi Nyonya De Luca! Bukan pembantu miskin seperti kamu! Saya datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik saya! Lorenzo!"
Para penjaga mansion langsung menodongkan pistol ke arah Isabella karena dia berteriak-teriak.
"Jangan dekati Nyonya De Luca! Mundur! Atau kami tembak!" bentak salah satu penjaga.
Isabella tidak takut. Dia malah berjalan mendekati Elena dengan langkah pelan.
"Elena, kamu pikir dengan hamil kembar kamu bisa aman? Kamu pikir Lorenzo akan mencintai kamu selamanya? Lorenzo itu Mafia, Elena! Mafia tidak pernah mencintai satu wanita selamanya! Hari ini dia cinta kamu karena kamu hamil! Besok kalau anak kembar itu lahir, dia akan bosan dan kembali ke saya! Karena saya lebih cantik, lebih seksi, dan lebih pantas jadi Nyonya Mafia daripada pembantu seperti kamu!" kata Isabella dengan bisikan jahat di dekat telinga Elena.
Elena yang sedang hamil dan hormonnya tidak stabil, langsung menangis mendengar kata-kata jahat Isabella.
"Jangan... jangan ngomong begitu... Lorenzo mencintai saya... dia tidak akan bosan..." kata Elena dengan air mata mengalir.
Melihat Elena menangis, Thomas langsung maju dan mendorong Isabella agak jauh dari Elena.
"Nona Isabella! Tolong jaga bicara Anda! Nona Elena sedang hamil! Jangan buat Nona Elena stres! Tuan Muda Lorenzo tidak akan suka kalau tahu Anda datang dan membuat Nyonya menangis!" kata Thomas dengan tegas.
Tepat saat itu, suara mobil Rolls Royce hitam terdengar dari jalan masuk.
Mobil itu berhenti dengan rem mendadak.
_CIIT!_
Pintu mobil terbuka dengan keras dan Lorenzo keluar dengan jas hitam yang rapi dan wajah super panik karena Thomas sudah meneleponnya 5 menit yang lalu dan bilang Nyonya didatangi Isabella.
Lorenzo berlari dengan sangat cepat ke arah Elena dan langsung memeluk Elena dari belakang, melindungi perut buncit Elena.
"Elena! Istriku! Kamu tidak apa-apa? Apakah wanita ini menyakiti kamu? Apakah Leon dan Luna tidak apa-apa?" tanya Lorenzo dengan panik sambil mengelus perut Elena.
Elena menggeleng sambil menangis di dada Lorenzo. "Saya tidak apa-apa, Lorenzo... cuma... Isabella bilang kamu akan bosan sama saya..."
Mendengar itu, amarah Lorenzo yang sudah lama tidak keluar, keluar lagi. Matanya yang hitam menatap Isabella dengan tatapan paling dingin dan paling mematikan.
"ISABELLA MORETTI! BERANI-BERANINYA KAMU DATANG KE MANSION SAYA DAN MEMBUAT ISTRI SAYA MENANGIS! ISTRI SAYA SEDANG HAMIL ANAK KEMBAR SAYA! KALAU BAYI KEMBAR SAYA KENAPA-KENAPA KARENA STRES KARENA KAMU, SAYA AKAN BUNUH KAMU DENGAN TANGAN SAYA SENDIRI!" teriak Lorenzo dengan suara menggelegar sampai semua burung di taman terbang ketakutan.
Isabella yang tadinya sombong, langsung ciut melihat amarah Lorenzo. Tapi dia masih mencoba bersikap manja.
"Lorenzo sayang... aku Isabella... calon istrimu... aku kembali untuk kamu, sayang... aku masih cinta kamu... aku tidak peduli kamu sudah menikahi pembantu itu... aku mau jadi istri kedua kamu juga tidak apa-apa... asal aku bisa di dekat kamu lagi..." kata Isabella dengan suara manja sambil mencoba memegang tangan Lorenzo.
Lorenzo langsung menepis tangan Isabella dengan kasar.
"JANGAN SENTUH SAYA! Saya bukan Lorenzo kamu lagi! Saya adalah suami Elena Rossi De Luca! Saya adalah Papa dari Leon dan Luna De Luca! Dan kamu, Isabella, adalah masa lalu saya yang sudah saya buang ke Italia! Saya sudah bilang 1000 kali, saya tidak pernah mencintai kamu! Saya hanya mencintai Elena! Dari 5 tahun lalu di panti asuhan sampai sekarang! Hanya Elena!" kata Lorenzo dengan tegas dan lantang.
Setiap kata Lorenzo itu seperti pisau yang menusuk hati Isabella.
Isabella menangis. Untuk pertama kalinya, putri Mafia yang sombong itu menangis di depan umum.
"Tapi Lorenzo... ayah saya sudah di penjara... keluarga saya bangkrut... saya tidak punya siapa-siapa lagi... saya tidak punya uang... saya tidur di stasiun kemarin... tolong saya, Lorenzo..."
Mendengar Isabella menangis dan bilang tidur di stasiun, hati Elena yang lembut dan baik itu langsung luluh, meskipun Isabella sudah jahat padanya.
Elena yang ada di pelukan Lorenzo, menarik jas Lorenzo dengan pelan.
"Lorenzo... kasihan Isabella... dia tidak punya siapa-siapa lagi... bagaimana kalau kita kasih dia uang untuk pulang ke Italia dan hidup yang baik di sana... jangan usir dia dengan kasar..." bisik Elena dengan suara lembut.
Lorenzo menatap Elena dengan heran. Istrinya yang baru saja dibuat menangis oleh Isabella, malah kasihan pada Isabella.
"Elena, kamu terlalu baik... wanita ini sudah mencoba membunuh kamu dengan gaun beracun... dan sekarang kamu kasihan padanya?" kata Lorenzo.
Elena mengangguk. "Saya tahu dia jahat, Lorenzo... tapi saya sekarang akan jadi seorang Mama... saya tidak mau anak-anak saya lahir melihat Papanya mengusir wanita miskin dengan kasar... kasih dia kesempatan terakhir ya, Lorenzo..."
Lorenzo menghela napas panjang. Dia tidak bisa menolak permintaan istri hamilnya yang baik hati itu.
Lorenzo menatap Isabella dengan dingin.
"Isabella, karena istri saya yang baik hati minta saya kasihan sama kamu, saya akan kasih kamu satu kesempatan terakhir. Thomas! Kasih dia cek 100 ribu dollar! Dan belikan tiket pesawat kelas bisnis ke Italia malam ini juga! Dan setelah ini, jangan pernah injakkan kaki kamu lagi di New York! Jangan pernah dekati keluarga saya lagi! Kalau kamu masih berani dekati Elena dan bayi kembar saya lagi, saya tidak akan segan-segan habisi kamu! Mengerti?" kata Lorenzo.
Isabella menerima cek 100 ribu dollar itu dengan tangan gemetar. 100 ribu dollar itu sangat besar untuknya yang sekarang miskin, tapi sangat kecil dibandingkan kehidupan mewahnya dulu.
Isabella menatap cek itu, lalu menatap perut buncit Elena, lalu menatap Lorenzo yang memeluk Elena dengan mesra.
Di dalam hatinya, dendam Isabella belum hilang. Malah semakin besar.
"Terima kasih, Lorenzo... terima kasih, Elena... kalian baik sekali..." kata Isabella dengan senyum palsu, tapi di dalam hatinya dia berbisik, "Lihat saja, Elena... 100 ribu dollar ini akan saya pakai untuk menyewa pembunuh bayaran yang lebih hebat dari ayah saya... bayi kembar kamu tidak akan lahir dengan selamat..."
Isabella pergi dari mansion De Luca dengan koper besarnya, diantar oleh dua penjaga sampai ke bandara.
Setelah Isabella pergi, Elena masih menangis di pelukan Lorenzo.
"Lorenzo, apakah saya terlalu baik? Apakah saya salah kasih dia uang?" tanya Elena.
Lorenzo mencium kening Elena dengan lembut.
"Tidak, sayang... kamu tidak salah... kamu adalah wanita paling baik yang pernah saya kenal... itulah kenapa saya mencintai kamu... kamu baik bahkan sama musuh kamu... dan itulah kenapa Leon dan Luna akan jadi anak-anak yang baik juga seperti Mamanya..." kata Lorenzo.
Lorenzo menggendong Elena kembali ke taman dan mendudukkannya di ayunan putih.
"Sudah, jangan pikirkan Isabella lagi... sekarang yang penting adalah kamu dan Leon dan Luna... ayo, Papa bacakan buku bayi kembar lagi untuk kalian bertiga..." kata Lorenzo sambil mengambil buku bayi yang tadi jatuh dan membacanya dengan suara lucu.
Elena tertawa bahagia di ayunan, perut buncitnya dielus-elus Lorenzo.
Tapi di dalam mobil taksi menuju bandara, Isabella Moretti sedang menelepon seseorang dengan wajah penuh dendam.
"Halo, ini Isabella Moretti... saya mau sewa pembunuh bayaran terbaik di New York... targetnya: Elena Rossi De Luca yang sedang hamil kembar... saya mau dia keguguran... saya bayar 100 ribu dollar yang baru saja saya dapat dari suaminya!"
Bahaya besar untuk bayi kembar Leon dan Luna akan segera datang di Bab 14!