Namanya Ares. Bos mafia Amerika yang paling ditakuti—dingin, kejam, dan tak percaya pada cinta. Mereka menjulukinya "Don Tanpa Hati", dan dia bangga akan gelar itu.
Demi memenuhi janji terakhir pada mendiang ayahnya, Ares memutuskan menikah. Bukan karena cinta—dia bahkan tak percaya kata itu—melainkan untuk mendapatkan seorang pewaris. Pilihannya jatuh pada Ingrid: gadis desa berusia sembilan belas tahun, polos, ceria, tumbuh di peternakan di antara hewan-hewan yang ia beri nama satu per satu. Ares merenggutnya dari keluarganya dengan ancaman, membawanya masuk ke dunia berdarah penuh senjata, pengawal, dan wanita-wanita simpanan yang haus akan takhta di sisinya.
Ingrid seharusnya hanya menjadi "istri di atas kertas". Tapi gadis yang tampak lugu ini menyimpan hati sekeras baja dan akal sehalus sutra. Alih-alih hancur, ia memilih bertahan—dan bertarung. Dengan senyum manis, lidah tajam, dan strategi yang membuat para saingannya bertekuk lutut, Ingrid perlahan menembus tembok es yang selama ini melindungi sang Don.
Namun mencintai seorang bos mafia berarti hidup di antara bayang-bayang: pengkhianatan, dendam, dan musuh yang mengincar titik terlemahnya—Ingrid sendiri. Mampukah cinta seorang gadis desa yang tulus benar-benar mencairkan hati pria yang bersumpah tak akan pernah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun Rencana Bagian 1
"Ma, aku sama sekali tidak mengerti, sama sekali," kata Ingrid.
"Pertama-tama, apa kau kenal 'teman-teman' perempuannya itu?" tanya Justine.
"Tidak! Dia yang menceritakannya padaku, dan dia bilang tak akan berhenti keluar dengan mereka, bagian itu kutangkap jelas, ih, menjijikkan sekali!!! Rasanya ingin kubunuh dia! Kulempar dari balkon, dan tahu tidak, kurasa aku akan menembaknya tanpa belas kasihan sedikit pun, lalu berpura-pura menangis di pemakamannya," kata Ingrid.
Mereka pun tertawa.
"Nak! Jangan bicara begitu...." kata Justine.
"Tapi itu kenyataan, aku memang ingin, ingin sekali, memukul bagian bawahnya, tapi tidak kulakukan, tuh, lihat betapa aku menuruti Mama," kata Ingrid.
Jolie dan Edyth tertawa.
"Syukurlah, sayangku, syukurlah, kau kan lihat sendiri betapa lembutnya dia. Kalau kau bersikap seperti yang kaubilang tadi, apa dia akan tetap begitu?...." kata Justine.
"Aku kenal mereka dan bisa menunjukkan fotonya, aku punya akses ke media sosial mereka," kata Jolie.
"Mereka perempuan-perempuan menjijikkan, tidak membawa hal baik apa pun dalam hidup anak itu, dan lebih dari itu, seringkali, hampir selalu, merekalah yang mengejar-ngejarnya," kata Edyth.
"Itu benar, kalian tahu sendiri segala fasilitas mewah yang diberikan sang Don," ujar Jolie.
"Ah, tidak!!! Sekarang aku malah makin ngeri pada mereka, belum kenal saja sudah kubenci! Mereka memakai uang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain.... Sudah cukup, selain memakai orang yang katanya suamiku, mereka juga memakai uang si tolol itu!" seru Ingrid geram.
Mereka tertawa.
"Untuk orang yang katanya sedikit pun tidak menyukainya, kau kelihatan sangat kesal," kata Justine sambil tersenyum.
"Aku tidak suka padanya, tapi aku juga tak mau dicap sebagai gadis polos yang lugu dan..... sudahlah, lupakan," kata Ingrid.
"Jolie, bisa tunjukkan fotonya padaku?" tanya Edyth.
"Tentu saja bisa," kata Jolie sambil mencari-cari di ponselnya.
"Sekarang aku jadi penasaran, kenapa Mama mau melihat foto mereka?" tanya Ingrid.
"Aturan nomor satu, Nak, kenali baik-baik musuhmu dan jangan pernah meremehkannya," kata Justine.
"Wah! Mama cerdas sekali," ujar Jolie.
"Terima kasih, tapi aku tak sepintar itu, lebih tepatnya berpengalaman. Hidup mengajarkan kita banyak hal," kata Justine.
"Aku sepenuhnya setuju denganmu. Apalagi kau orang pertama yang tidak menghakimi anak itu tanpa lebih dulu menganalisisnya," kata Edyth.
"Ini mereka, aku tarik dari media sosialnya," kata Jolie sambil menunjukkan.
Ruth kurang lebih mirip wanita di foto atas, diambil dari internet
Nancy kurang lebih mirip wanita di foto atas, diambil dari internet
"Wajah mereka memang kelihatan menjijikkan, tapi mereka cantik," kata Justine.
"Mama! Seharusnya Mama tidak menganggap mereka cantik," protes Ingrid.
"Nak, Mama tak mau bohong, kedua perempuan ini memang cantik. Lihat baik-baik tubuh mereka, penuh lekuk, atau seperti kata orang, mereka 'seksi'. Tapi tubuh hanyalah bagian kecil. Yang lebih berharga dari seorang perempuan adalah sikapnya, bagaimana dia di dalam, bagaimana dia merawat diri, apakah dia bisa jadi pendamping yang baik..... pokoknya banyak faktor. Dan Nak, kau ini cantik! Wajahmu, kepolosanmu, tingkahmu, itu semua tak akan mereka miliki meski mereka menginginkannya. Kita akan manfaatkan semua itu untuk keuntunganmu! Nah, kalau soal tubuh, kita perlu bekerja keras!" kata Justine.
"Maksudnya? Ada apa dengan tubuhku?" tanya Ingrid.
"Tidak ada yang salah, sayangku, hanya saja Don Ares itu pria yang lebih berpengalaman, dan 'teman-teman' perempuannya unggul dalam hal ini. Kau cuma perlu menambah sedikit massa otot," kata Justine.
"Aku setuju dengan ibumu, dan aku bisa membantu di bagian ini. Aku sudah bertahun-tahun punya pelatih pribadi, dia hebat sekali!!! Tubuhku banyak berubah berkat latihan dengannya, sangat banyak. Tanya saja Adam. Waktu seusiamu, Ingrid, aku jatuh cinta pada Adam, tapi dia bahkan tak meliriku. Tubuhku waktu itu tidak mendukung, terlalu kurus, lalu aku mulai sadar aku perlu berubah. Singkat cerita, setelah beberapa bulan latihan di gym, tubuhku berubah dan Adam mulai memandangku dengan cara yang berbeda. Tentu saja bukan cuma itu, sebenarnya perubahan itulah yang menarik perhatiannya, dan sisanya yang membuat dia terpikat padaku.... intinya, kami sudah menikah beberapa tahun sekarang," kata Jolie sambil tersenyum.
"Tepat sekali, itulah yang akan kita lakukan," kata Justine.
"Dan bagaimana caranya kalian melakukan itu padaku? Apa ada mesin yang bisa kumasuki lalu keluar dengan tubuh penuh lekuk? Seperti kata orang," celetuk Ingrid.
Mereka tertawa.
"Kalau ada mesin seperti itu, aku juga mau," kata Edyth, masih tertawa.
"Tidak ada, Ingrid, sayangnya tidak, tapi yang ada adalah olahraga," kata Justine.
"Aduh, aku paling benci bagian ini, olahraga," keluh Ingrid.
"Ayo kita cari tahu aktivitas fisik apa yang paling membentuk tubuh," kata Justine.
"Ide bagus," kata Jolie sambil langsung mencari di ponselnya.
"Aku suka, aku berani bertaruh angkat beban ada di urutan teratas," kata Edyth.
"Ketemu, situs ini cukup tepercaya, mari kita lihat apa katanya.
Selain angkat beban, ada aktivitas lain yang dianjurkan untuk menambah massa otot, seperti:
• Pilates: aktivitas fisik yang melatih tubuh secara menyeluruh, memperkuat otot-otot inti (perut, punggung, dan panggul).
• Renang: salah satu olahraga paling lengkap, tapi karena air mengurangi benturan, penambahan massa ototnya lebih lambat.
• Bela diri: aktivitas fisik yang melatih tubuh secara menyeluruh, membutuhkan kekuatan, daya tahan, dan kelenturan, sekaligus meningkatkan koordinasi gerak.
• HIIT (High Intensity Interval Training): jenis latihan interval berintensitas tinggi yang menyelingi periode aktivitas fisik intens dengan periode istirahat. Pilihan yang bagus untuk yang ingin menambah massa otot sekaligus membakar lemak.
Ada juga yang lain, seperti dansa dan tenis, yang juga dianjurkan," kata Jolie.
"Katamu Don Ares akan bepergian selama beberapa bulan?" tanya Justine.
"Iya, katanya sekitar empat bulan, kalau boleh sih maunya setahun," jawab Ingrid.
"Maaf, tapi kurasa mereka akan pulang lebih cepat, sekitar tiga bulan," kata Jolie.
"Edyth, betul, menurutku juga mereka pulang lebih cepat, Ares hampir selalu kembali sebelum waktu yang dia sebutkan," kata Edyth.
"Kalau begitu kita harus berpacu dengan waktu," kata Justine.
"Iya, biasanya dalam 8 minggu, atau 2 bulan, perubahan tubuh sudah mulai terlihat, tentu kalau latihan 3 kali seminggu," kata Jolie.
"Bagaimana kalau Ingrid melakukan angkat beban, bela diri, pilates, dan tenis?" usul Justine.
"Ya Tuhan! Mama, apa Mama benar-benar sayang padaku? Atau Mama mau membunuhku?" seru Ingrid.
Mereka tertawa.
"Putriku, kita butuh hasil yang cepat, dan tak ada yang lebih baik daripada berlatih dengan intensitas dan fokus. Mama jamin kau tak akan mati, malah kesehatan fisik dan mentalmu akan jauh membaik. Olahraga itu jauh melampaui soal penampilan, sebenarnya penampilan hanyalah dampak sampingannya," kata Justine.
"Benar, aku sendiri juga akan mulai berolahraga lagi. Dulu aku pilates lalu berhenti! Padahal dulu badanku terasa enak sekali, dan sekarang aku sering nyeri-nyeri yang tak pernah kualami waktu masih rutin olahraga!" kata Edyth.
"Nah, bagus itu, kalian bisa berlatih bersama!" kata Justine.
"Iya, bagaimana, Ingrid?" tanya Edyth.
"Aku suka!" kata Ingrid antusias.
"Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu bela diri. Aku sabuk hitam judo dan sudah tiga belas tahun berlatih tinju," kata Jolie.
"Wah!!! Wah dan wah!! Sahabatku!!! Mau tidak? Mau banget!!!! Bayangkan, kau pasti seperti Wonder Woman, Black Widow, Captain America," kata Ingrid, terkagum-kagum pada kemampuan Jolie.
"Tidak sehebat itu, tapi aku memang bisa memberi banyak pria pelajaran yang setimpal," kata Jolie sambil tertawa.
"Oh iya, tadi kalian bicara soal tenis, anak itu, Ares, suka tenis, kadang-kadang dia main, kita bahkan punya lapangan di area luar," kata Edyth.
"Iya, Adam, Derick, dan Mark juga main, dan mereka datang bermain dengan Ares saat ada waktu luang," kata Jolie.
"Apa 'teman-teman' perempuannya juga main?" tanya Justine.
"Mereka cuma mau hidup enak, kemewahan.... baju, perhiasan, salon, perawatan kecantikan, spa..... Setahuku mereka tidak bisa main, atau setidaknya aku tak pernah melihat mereka main dengan Ares," kata Jolie.
"Aku juga tidak pernah. Di rumah ini, dia tak pernah membawa mereka bermain. Belakangan waktu mereka datang, mereka hanya berada di area luar. Syukurlah, sebab mereka sudah merasa hebat cuma karena berada di dekatnya.... (dia sadar sebaiknya tak melanjutkan dan berhenti)," kata Edyth.
"Ingrid akan menekuni tenis, belajar bermain! Dan bermain dengan baik!" kata Justine.
"Serahkan padaku, aku akan mencari guru tenis, dan pelatih pribadi kita sudah punya," kata Jolie.
"Sempurna! Jolie akan mengajarimu bela diri dan berlatih pilates bersama Edyth," kata Justine.
"Ya Tuhan! Malaikatku, kau ini bukti bahwa mereka memang ingin membunuhku," kata Ingrid sambil tersenyum.