Indonesia
NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 — RAHASIA DI BALIK LUMBUNG

Pukul lima pagi, gubuk kecil di Perbatasan Utara masih diselimuti udara dingin.

Aku terbangun ketika suara angin menyusup melalui celah dinding bambu. Atap di atas kepalaku kembali meneteskan air hujan semalam, meninggalkan genangan kecil di dekat kaki. Tidak ada suara Mbok yang biasanya sibuk mengulek jamu sejak subuh. Perempuan itu masih tidur di atas tikar sebelah, dengan panci kosong tergeletak di sampingnya.

Aku mengangkat tubuh perlahan, lalu memandang dua mangkuk anyaman yang kami letakkan di depan tikar kemarin.

Mangkuk pertama berisi benih yang tampak rusak. Sebagian ringan, kusam, dan mengempis. Mangkuk kedua berisi benih yang bentuknya hampir sama, tetapi jauh lebih keras. Ketika beberapa di antaranya kami pecahkan, serbuk hitam ditemukan di bagian dalamnya.

Sekitar tiga puluh persen dari sampel yang kami periksa menunjukkan ciri mencurigakan itu.

Aku masih belum tahu apakah seluruh benih tersebut mengandung bahan beracun yang sama. Namun, bau logam berkarat dan bunga busuk yang tercium dari serbuknya terus mengingatkanku pada serbuk teratai hitam yang pernah dikaitkan dengan percobaan bunuh diri tubuh asli Kahiyang.

Kebetulan semacam itu terlalu berbahaya untuk diabaikan.

Aku mengusap wajah, kemudian menunduk melihat kedua kakiku. Lumpur kemarin masih melekat di kulit, begitu pula noda hitam yang sulit dibersihkan.

Di sampingku, Segara El-Bhumi masih tertidur.

Baju putih yang dipakainya kemarin sudah berubah menjadi kelabu. Rambutnya sedikit berantakan, sedangkan kuku-kukunya menyisakan noda hitam setelah seharian membantu memilah benih.

Sulit membayangkan bahwa lelaki yang tidur di atas tikar pandan itu adalah kaisar yang biasanya duduk di singgasana, dikelilingi pejabat yang menunduk setiap kali ia berbicara.

Aku baru hendak bangkit ketika matanya terbuka.

"Sudah pagi?" tanyanya dengan suara serak.

"Hampir pukul lima."

Segara menatap atap yang bocor, kemudian memandangku.

"Kau tidur nyenyak?"

"Kalau dibandingkan tidur di kamar istana, tentu tidak."

Sudut bibirnya bergerak tipis. Entah hendak tersenyum atau sekadar menahan komentar.

"Kalau begitu, setelah urusan di sini selesai, aku akan memastikan kau mendapat kamar yang layak."

Aku mengangkat alis. "Aku akan mengingat janji itu, Gusti."

"Silakan."

Ia bangkit, merapikan bajunya, lalu memandang dua mangkuk benih di hadapan kami.

"Namun, sebelum memikirkan kamar, kita harus mencari tahu siapa yang mengirim benih itu."

Aku mengangguk.

Hari ini kami tidak akan kembali ke sawah.

Pagi ini, kami akan memeriksa lumbung.

---

Lumbung Perbatasan Utara berdiri tidak jauh dari permukiman penduduk. Bangunannya terbuat dari bambu dan kayu tua, dengan atap jerami serta kolong yang cukup tinggi untuk membiarkan udara mengalir di bawah lantainya.

Bangunan itu jauh berbeda dari lumbung istana yang pernah kulihat. Tidak ada ukiran naga, tiang berlapis pernis, atau hiasan emas. Hanya dinding sederhana yang mulai lapuk dan pintu kayu tebal dengan dua palang pengunci.

Kepala Desa sudah menunggu di depan pintu ketika kami tiba.

Di tangannya terdapat sebuah kunci besar dan buku catatan bersampul kulit yang tampak usang.

"Gusti Kaisar. Gusti Permaisuri." Ia membungkuk dalam-dalam. "Saya sudah menyiapkan buku catatan panen seperti yang diminta."

Segara menerima kunci itu.

"Siapa saja yang memiliki akses ke lumbung?"

"Hanya saya dan Patih Agung, Gusti. Setidaknya, itu yang berlaku menurut aturan."

"Setidaknya?" tanyaku.

Kepala Desa tampak ragu.

"Orang-orang yang membawa hasil panen terkadang membantu memindahkan karung, Gusti. Namun, mereka tidak memegang kunci dan tidak diperbolehkan masuk tanpa pengawasan."

Segara menoleh kepadanya.

"Apakah pernah ada orang yang datang atas nama istana untuk mengambil atau mengirim benih?"

Kepala Desa terdiam sesaat.

"Ada pengiriman dua bulan lalu, Gusti. Namun, saya sudah menjelaskannya kemarin."

"Kalau begitu, hari ini kita periksa semuanya. Termasuk catatan pengiriman itu."

Segara memasukkan kunci ke lubang pengunci.

Pintu kayu terbuka dengan bunyi berderit panjang.

Bau padi kering segera menyambut kami. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah dinding bambu, membentuk garis-garis tipis di antara tumpukan karung.

Aku melangkah masuk dan langsung menyadari ada sesuatu yang janggal.

Lumbung itu tidak tampak penuh.

Menurut keterangan Kepala Desa, biasanya terdapat seratus karung benih yang disimpan sebagai persediaan. Namun, setelah kami menghitung tumpukan yang ada, jumlahnya hanya enam puluh.

Empat puluh karung hilang.

Aku mendekati tumpukan paling dekat, kemudian memeriksa karung di bagian atas. Ikatannya masih kuat. Ketika kubuka sedikit, tampak butiran padi berwarna kuning keemasan.

Aku mengambil segenggam, lalu membiarkannya jatuh perlahan ke dalam karung.

Tidak ada serbuk hitam.

Aku memeriksa karung kedua. Hasilnya sama.

Karung ketiga juga tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang kami temukan pada benih di sawah.

"Semua karung di sini berisi benih yang sama?" tanyaku kepada Kepala Desa.

"Sejauh yang saya ketahui, iya, Gusti."

"Apakah ada karung yang baru dikirim setelah benih pengganti itu ditanam?"

"Tidak ada pengiriman lagi."

Aku beralih memandang Segara.

"Berarti benih yang tersimpan di sini tidak menunjukkan kerusakan yang sama dengan sampel dari sawah."

Segara mengambil beberapa butir padi dari tanganku. Ia mengamatinya sebentar sebelum mengembalikannya.

"Kita belum bisa menyimpulkan bahwa semua benih yang dikirim dalam keadaan baik," katanya. "Tetapi kita tahu persediaan yang tersisa berbeda dari benih yang merusak sawah."

Ia menatap Kepala Desa.

"Buka catatannya."

---

Kami duduk di atas papan kayu di dekat pintu lumbung. Kepala Desa membuka buku bersampul kulit itu dengan hati-hati, seolah takut halaman-halamannya hancur jika disentuh terlalu keras.

Tulisan di dalamnya menggunakan aksara Kerajaan Langit.

Dahulu, deretan huruf semacam ini akan membuatku menyerah bahkan sebelum mencoba membacanya. Namun, selama beberapa minggu terakhir, Segara mengajariku mengenali aksara tersebut sedikit demi sedikit. Satu huruf setiap hari, terkadang lebih banyak jika suasana hatinya sedang baik.

Ternyata pelajaran itu berguna juga di luar istana.

Aku membuka halaman pertama.

Catatan panen tahun-tahun sebelumnya tersusun rapi. Jumlah hasil panen, persediaan yang masuk, benih yang dikeluarkan, dan sisa karung selalu ditulis dengan jelas.

Pada catatan pertama, terdapat seratus dua puluh karung hasil panen. Dua puluh karung dikeluarkan untuk kebutuhan penanaman berikutnya, menyisakan seratus karung.

Catatan kedua menunjukkan hasil yang sedikit berbeda, tetapi jumlah akhirnya tetap seratus karung.

Aku membalik halaman demi halaman.

Polanya berulang.

Tidak selalu dengan angka hasil panen yang sama, tetapi jumlah persediaan yang disisakan selalu sesuai dengan perhitungan. Pada bagian bawah setiap catatan terdapat tanda tangan Kepala Desa dan Patih Agung.

Semuanya tampak wajar sampai aku tiba di halaman terakhir.

Halaman itu mencatat hasil panen musim hujan tahun ini.

Tinta yang digunakan terlihat lebih pekat dibandingkan tulisan pada halaman sebelumnya. Di sana tertulis bahwa seratus karung masuk ke lumbung. Empat puluh karung kemudian dikeluarkan untuk benih, sehingga persediaan yang tersisa berjumlah enam puluh karung.

Aku membaca angka-angka itu sekali lagi.

Seratus dikurangi empat puluh.

Enam puluh.

Jumlahnya cocok dengan karung yang baru saja kami hitung.

Namun, ada satu hal yang mengusikku.

"Pak Kepala Desa, boleh saya tahu untuk apa empat puluh karung itu dikeluarkan?"

Kepala Desa mengusap telapak tangannya pada kain bajunya.

"Menurut surat perintah yang saya terima, benih lama harus dibawa ke Desa Lereng Gunung karena dianggap tidak lagi layak digunakan. Sebagai gantinya, istana akan mengirim benih baru yang lebih tahan terhadap hama."

"Apakah benih lama benar-benar dibawa ke sana?"

"Saya tidak ikut dalam perjalanan itu, Gusti. Saya hanya menyaksikan karung-karungnya diangkut."

"Siapa yang mengangkutnya?"

"Orang-orang yang datang membawa surat perintah."

Aku menutup buku sebentar.

"Jadi, Bapak tidak melihat sendiri benih lama itu sampai di Desa Lereng Gunung?"

Kepala Desa menggeleng pelan.

Aku kembali membuka buku.

"Kalau begitu, kita belum tahu apakah benih lama benar-benar dibuang ke sana."

Segara mengangguk tipis.

"Benar. Kita hanya memiliki catatan bahwa benih itu dikeluarkan, bukan bukti tentang tujuan akhirnya."

Jawaban itu membuatku kembali memandang halaman terakhir.

Empat puluh karung benih lama keluar dari lumbung. Empat puluh karung benih baru datang menggantikannya. Setelah benih baru ditanam, sawah berubah hitam.

Jika pengiriman itu memang sengaja dirancang untuk merusak panen, seseorang telah memanfaatkan prosedur resmi agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Tetapi untuk apa?

Dan mengapa harus melalui perbatasan utara?

Aku belum menemukan jawabannya.

"Surat perintahnya masih ada?" tanya Segara.

Kepala Desa mengangguk cepat. Ia merogoh kantong kain di balik bajunya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang dilipat beberapa kali.

"Ini surat yang saya terima, Gusti. Saya menyimpannya karena harus menjadi bukti pengeluaran benih."

Segara menerima kertas itu, kemudian membentangkannya di atas buku catatan.

Aku mendekat.

Surat tersebut menggunakan lambang naga hitam Kerajaan Langit. Isinya memerintahkan pengeluaran empat puluh karung benih lama dan penggantian dengan benih baru dari Lumbung Istana Dalam.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan yang mengatasnamakan Patih Agung.

Aku membandingkannya dengan tanda tangan pada halaman-halaman sebelumnya.

Awalnya, perbedaannya terlihat kecil.

Namun, setelah kuperhatikan lebih teliti, aku mulai memahami apa yang mengusikku.

Tanda tangan lama memiliki tarikan pena yang panjang dan tegas. Pada huruf terakhir, terdapat goresan melengkung menyerupai ekor naga.

Tanda tangan pada surat baru itu jauh lebih pendek.

Tidak ada lengkungan khas di bagian akhir.

Aku menggeser buku agar Segara bisa melihatnya.

"Gusti, coba perhatikan bagian ini."

Segara menunduk. Ia membandingkan kedua tanda tangan itu tanpa berkata-kata.

Beberapa saat kemudian, rahangnya mengeras.

"Ini bukan tanda tangan Patih Agung."

Suara itu pelan, tetapi perubahan sikapnya langsung terasa.

Kepala Desa memucat.

"Bagaimana mungkin, Gusti? Surat itu membawa lambang istana."

"Lambang dapat ditiru." Segara mengangkat kertas tersebut. "Tanda tangan juga dapat dipalsukan."

Ia menatap surat itu cukup lama.

"Aku sudah bekerja bersama Patih Agung selama bertahun-tahun. Aku mengenali cara ia menulis namanya."

Aku menatap Segara.

"Apakah itu berarti Patih Agung tidak terlibat?"

Segara tidak langsung menjawab.

"Tidak. Kita belum memiliki cukup bukti untuk menyimpulkan apa pun tentang dirinya. Surat ini bisa dipalsukan oleh orang lain. Bisa pula ada bagian dari kejadian ini yang belum kita ketahui."

Jawaban itu membuatku sedikit lega. Setidaknya, ia tidak langsung menjatuhkan tuduhan kepada seseorang hanya karena sebuah tanda tangan yang mencurigakan.

Namun, aku juga tahu bahwa pemalsuan surat resmi bukan persoalan kecil.

Seseorang telah menggunakan nama pejabat tinggi untuk memindahkan benih dalam jumlah besar.

Seseorang yang mengetahui cara kerja istana.

Atau seseorang yang memiliki akses ke dokumen-dokumennya.

"Pak Kepala Desa," ujar Segara, "siapa yang datang membawa surat ini?"

Kepala Desa menelan ludah.

"Saya tidak mengenali mereka, Gusti. Mereka datang pada malam hari dengan gerobak. Ada empat orang, semuanya memakai pakaian gelap."

"Apakah mereka mengenakan seragam istana?"

"Tidak, Gusti."

"Apakah mereka menyebutkan nama pejabat yang mengutus mereka?"

Kepala Desa menggeleng.

"Mereka hanya menunjukkan surat itu. Karena ada lambang naga hitam dan tanda tangan Patih Agung, saya mengira semuanya benar."

Segara mengembuskan napas perlahan.

"Apakah kau melihat wajah mereka dengan jelas?"

"Hanya sebagian, Gusti. Mereka tidak banyak bicara. Setelah menurunkan karung, mereka langsung pergi."

Aku mencatat setiap keterangannya dalam ingatan.

Empat orang.

Pakaian gelap.

Gerobak yang datang malam-malam.

Tidak ada seragam, tidak ada nama pengirim yang dapat diverifikasi.

Mereka datang membawa benih baru dan pergi setelah menukar karung-karung itu.

Semuanya terlalu teratur untuk dianggap sebagai kebetulan.

Tetapi aku belum ingin menuduh siapa pun.

Aku sudah belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya bahwa kecurigaan yang terlalu cepat bisa membawa orang yang salah ke dalam bahaya.

"Apakah gerobak itu memiliki ciri khusus?" tanyaku.

Kepala Desa mengerutkan dahi, berusaha mengingat.

"Roda belakangnya agak miring, Gusti. Saya ingat karena salah satu karung hampir terjatuh saat diturunkan."

Aku dan Segara saling berpandangan.

Itu belum cukup untuk menemukan pemilik gerobak, tetapi setidaknya merupakan petunjuk lain yang bisa kami cari.

Segara melipat surat itu kembali.

"Mulai sekarang, jangan ceritakan pemeriksaan ini kepada siapa pun di luar orang-orang yang benar-benar kau percaya. Jangan mengubah catatan, dan jangan membuang apa pun yang berkaitan dengan pengiriman tersebut."

"Baik, Gusti."

"Bukan karena aku menganggapmu bersalah," lanjut Segara. "Aku hanya tidak ingin bukti yang kita miliki menghilang sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Kepala Desa menunduk dalam-dalam.

"Saya mengerti, Gusti."

---

Menjelang tengah hari, kami masih berada di dalam lumbung.

Aku dan Segara memeriksa kembali catatan pengeluaran, sementara Kepala Desa membantu menghitung persediaan untuk terakhir kalinya. Enam puluh karung tetap sesuai dengan catatan.

Tidak ada karung kosong yang tertinggal.

Tidak ada bekas tumpahan benih di lantai.

Namun, kami juga tidak menemukan bukti yang dapat memastikan ke mana empat puluh karung lama itu dibawa.

Ketika cahaya matahari mulai masuk lebih jauh melalui celah dinding, suara langkah kaki terdengar dari luar.

"Gusti Permaisuri!"

Mbok muncul di ambang pintu sambil membawa rantang dan panci kecil. Wajahnya langsung berubah ketika melihat kami duduk di antara buku catatan dan karung-karung padi.

"Aduh, Gusti! Dari pagi sampai sekarang masih di sini? Memangnya lumbung ini mau dijadikan kamar baru?"

Aku menahan tawa.

"Kami sedang memeriksa catatan, Mbok."

"Catatan boleh diperiksa, tapi perut juga harus diperhatikan." Ia meletakkan rantang di atas papan kayu. "Kalau Gusti berdua jatuh sakit, siapa yang akan mengurus semuanya?"

"Mbok bisa mengurusnya," jawabku.

"Justru itu yang saya khawatirkan, Gusti. Kalau saya yang mengurus, seluruh istana bisa saya suruh mengupas bawang sampai malam!"

Segara mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti tawa tertahan.

Mbok langsung menoleh kepadanya.

"Gusti Kaisar juga jangan tertawa. Tangan Gusti masih kotor. Cuci dulu sebelum makan."

Aku terdiam sejenak.

Bukan karena perintah Mbok, melainkan karena Segara benar-benar bangkit tanpa membantah.

Di istana, mungkin tak seorang pun berani menyuruhnya mencuci tangan seperti anak kecil.

Namun, di lumbung sederhana ini, ia mengikuti perkataan Mbok dengan wajah datar.

Aku hampir tertawa ketika melihatnya menggosok tangan menggunakan air dalam tempayan.

"Jangan menertawakan aku," katanya tanpa menoleh.

"Aku tidak tertawa."

"Kau sedang menahan tawa."

"Itu berbeda."

Segara melirikku. Untuk sesaat, ketegangan di antara kami mencair.

Kami makan di dekat pintu lumbung. Mbok membawa nasi, tempe, sambal, dan air putih. Makanannya sederhana, tetapi setelah berjam-jam menghirup debu, semuanya terasa lebih nikmat daripada hidangan mewah di istana.

Di tengah makan, aku melihat Segara memperhatikan tangannya sendiri.

"Kenapa?" tanyaku.

Ia mengusap noda hitam yang masih tersisa di sekitar kukunya.

"Selama ini, aku menerima laporan tentang hasil panen dari seluruh wilayah kerajaan. Angkanya selalu tertulis dengan rapi. Aku mengira selama persediaan cukup dan pajak dibayarkan, semuanya berjalan sebagaimana mestinya."

Ia berhenti sebentar.

"Aku tidak pernah memikirkan berapa banyak pekerjaan yang diperlukan untuk menghasilkan satu karung padi."

Aku menatapnya.

Mungkin inilah pertama kalinya aku mendengar Segara berbicara tentang tugasnya tanpa menyebut kekuasaan, kewajiban, atau hukuman.

"Kemarin, ketika melihat sawah itu, aku baru menyadari bahwa satu keputusan di istana bisa menentukan apakah sebuah keluarga memiliki makanan untuk bulan berikutnya."

Aku menurunkan sendok.

"Orang-orang di istana sering melihat angka, Gusti. Tapi orang-orang di desa harus hidup dengan akibatnya."

Segara menatapku cukup lama.

"Kau selalu berbicara seolah-olah pernah melihat kerajaan dari tempat yang sangat jauh."

Aku terdiam.

Karena memang begitu adanya.

Aku berasal dari abad ke-21. Aku pernah belajar sejarah, membaca tentang kerajaan-kerajaan masa lalu, dan menganggap catatan panen hanya sebagai angka dalam buku.

Kini aku berada di tengah kehidupan orang-orang yang seharusnya hanya kubaca melalui lembaran sejarah.

Aku tidak bisa menjelaskan semuanya kepada Segara.

Belum.

"Aku hanya pernah melihat kehidupan dari sisi yang berbeda," jawabku akhirnya.

Ia tidak mendesakku.

Segara kembali melanjutkan makan, tetapi tatapannya kepadaku telah berubah sedikit. Seolah-olah ia mulai menyadari bahwa masih ada banyak hal tentang diriku yang belum ia ketahui.

---

Kami meninggalkan lumbung menjelang pukul lima sore.

Sebelum pergi, Segara memastikan pintunya kembali terkunci. Kepala Desa menyimpan satu kunci, sedangkan kunci yang lain tetap menjadi tanggung jawab Patih Agung di istana.

Buku catatan dan surat perintah yang mencurigakan kubawa bersama kami untuk diamankan. Sampel benih dari hari sebelumnya juga tetap tersimpan terpisah agar tidak tercampur dengan benih lain.

Aku memasukkan dokumen tersebut ke dalam kotak cendana yang dibawa dalam gerobak.

Di luar, hamparan sawah hitam terbentang sejauh mata memandang. Dari kejauhan, petak kecil yang kami bersihkan kemarin tampak seperti luka yang terlalu kecil untuk menutupi kerusakan di sekelilingnya.

Segara berdiri di sampingku.

"Empat puluh karung benih yang masih layak dikeluarkan dari lumbung," katanya. "Lalu benih pengganti dikirim atas nama istana. Setelah ditanam, sebagian benih itu justru menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan."

"Dan surat perintahnya memakai tanda tangan yang tidak sesuai dengan tanda tangan Patih Agung."

"Benar."

Aku memandang sawah itu lagi.

"Jika seseorang sengaja menukar benih, tujuannya mungkin bukan sekadar merusak panen."

Segara menoleh.

"Apa maksudmu?"

"Kerusakan ini terjadi di wilayah yang berada di bawah perlindungan istana. Jika rakyat kehilangan hasil panen, mereka bisa kehilangan kepercayaan kepada orang yang seharusnya melindungi mereka."

Aku menarik napas perlahan.

"Dan jika mereka kembali percaya bahwa aku membawa kesialan, seseorang bisa menggunakan kejadian ini untuk menghidupkan kembali tuduhan lama."

Tanganku tanpa sadar menyentuh bekas luka tipis di leherku.

Luka itu telah menutup, tetapi kenangan tentang tubuh asli Kahiyang belum sepenuhnya hilang. Perempuan yang namanya kini kupakai pernah berada di ambang kematian karena racun dan tuduhan yang tidak mampu ia bantah.

Aku tidak tahu siapa yang pertama kali menanamkan kebencian itu di dalam istana.

Aku juga belum tahu apakah penukaran benih ini berhubungan langsung dengan kejadian tersebut.

Namun, jika seseorang memang berusaha mengulang pola yang sama, aku tidak akan membiarkannya berjalan tanpa perlawanan.

Segara memperhatikan tanganku yang masih berada di leher.

"Kau tidak perlu menyelesaikan semuanya sendirian," katanya.

Aku menoleh kepadanya.

"Aku tahu."

"Benarkah?"

Aku menghela napas.

"Aku sedang berusaha memercayai orang lain, Gusti. Tapi jangan meminta aku berhenti berpikir hanya karena keadaan berbahaya."

"Aku tidak meminta itu."

Ia berdiri sedikit lebih dekat.

"Aku hanya meminta kau tidak sengaja menempatkan dirimu dalam bahaya tanpa memberitahuku."

Untuk beberapa saat, aku tidak menjawab.

Kemudian aku mengangguk.

"Baik. Tapi Gusti juga harus berjanji tidak akan bertindak sendirian hanya karena merasa bertanggung jawab atas seluruh kerajaan."

Segara menatapku. Kali ini, ia tidak segera membalas.

"Aku akan berusaha."

"Jawaban yang cukup adil."

Kami kembali menaiki gerobak ketika langit mulai berubah jingga.

Perjalanan menuju gubuk terasa lebih sunyi daripada biasanya. Aku terus memikirkan surat perintah itu, tanda tangan yang tidak sesuai, dan empat orang berpakaian gelap yang datang pada malam hari.

Siapa yang memiliki keberanian untuk memalsukan dokumen kerajaan?

Siapa yang mengetahui jadwal pengiriman benih?

Dan jika mereka tidak membawa seragam istana, bagaimana mereka bisa melewati penjagaan serta mengangkut puluhan karung tanpa menimbulkan kecurigaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban.

Namun, aku tahu satu hal.

Lumbung tersebut bukan akhir penyelidikan kami.

Itu baru permulaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!