Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Suara dentukan tongkat berujung perak milik Eleanor Moretti bergaung keras menghantam lantai marmer aula Puri Moretti, memecah keheningan yang mencekam bagaikan retakan petir di tengah badai. Pria-pria bersenjata di sekeliling ruangan berdiri mematung, menahan napas menyaksikan murka Sang Ratu Tua yang legendaris.
"Kau membangkang, Gabriel!" suara Eleanor melengking tajam, dipenuhi oleh racun amarah yang terbendung sejak helikopternya mendarat. Mata tuanya yang setajam elang menyipit memancar ketegangan yang sanggup membekukan darah siapa pun. "Dewan tetua melapor padaku bahwa kau menelantarkan rapat strategis wilayah barat hanya demi mengurung seorang wanita tak berharga di puri ini! Kau bahkan membelikannya Blue Heart dari lelang Jenewa dan memerintahkan dokter pribadi untuk memastikan rahimnya siap mengandung!"
Eleanor melangkah mendekat dengan gaun hitam elegannya yang berkibar anggun namun mematikan. Setiap jengkal tubuh wanita tua itu memancarkan aura kepemimpinan dinasti lama yang dibangun di atas tumpukan mayat musuh-musuhnya.
"Di mana selir murahan itu?!" gertak Eleanor, matanya mengedar ke setiap sudut aula, mencari kejanggalan di balik pilar-pilar batu besar. "Bawa dia ke hadapanku sekarang! Aku sendiri yang akan meretas lehernya dan mencuci noda kekotoran yang mulai mencemari nama besar Moretti!"
Namun, di hadapan amarah yang sanggup meruntuhkan faksi-faksi mafia terbesar di Eropa tersebut, Gabriel Moretti justru bersikap teramat santai.
Sang Don berdiri dengan kedua tangan terbenam rileks di dalam saku celana bahan mewahnya. Bahunya terangkat sedikit, memperlihatkan raut wajah yang sepenuhnya tenang, kaku, dan datar seolah-olah bentakan sang ibu hanyalah deru angin malam yang tak berarti bagi telinganya.
Gabriel mengikis jarak di antara mereka dengan langkah lambat yang anggun, melangkah tanpa sedikit pun rasa gentar atau gestur tunduk yang biasa ditunjukkan oleh seorang anak kepada orang tuanya.
"Tenangkan dirimu, Ibu," jawab Gabriel dengan suara berbariton rendah yang terdengar begitu santai, bahkan terselip sedikit nada geli yang dingin di balik helatan nafasnya. "Suaramu yang melengking bisa merusak keindahan arsitektur puri tua ini. Lagi pula, tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum menyatroni kediamanku dengan armada tempur lengkap?"
Eleanor mengepalkan jemarinya di atas kepala tongkat perak hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan berani-berani bermain kata denganku, Gabriel! Jangan lupa siapa yang mengajarimu cara memegang pistol dan memotong urat leher musuhmu! Aku adalah ibumu, dan aku tidak akan membiarkan anak tunggalku menghancurkan dinasti ini demi seonggok daging pemuas nafsu!"
Gabriel terkekeh pelan sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang membuat para pengawal di sekeliling mereka merinding ketakutan. Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Eleanor, menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang telah melahirkannya dengan tatapan superioritas murni.
"Mencemari nama Moretti?" gumam Gabriel seraya memiringkan kepalanya sedikit. "Ibu datang jauh-jauh dari Eropa hanya karena terhasut oleh racun para tetua penakut yang kemarin malam baru saja kusebelah lehernya di pelabuhan?"
Gabriel melangkah memutari ibunya perlahan, seperti seekor pemangsa utama yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya sendiri.
"Dengar baik-baik, Ibu," lanjut Gabriel dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh penekanan mutlak. "Tidak ada yang namanya kekotoran di puri ini. Yang ada hanyalah kekuasaanku. Apa yang kuinginkan, apa yang kusukai, dan siapa yang boleh berada di atas peraduanku adalah hak mutlakku sebagai Don tertinggi keluarga Moretti. Kau atau dewan tetua tua bangkai itu sama sekali tidak memiliki hak suara dalam hal ini."
Napas Eleanor memburu hebat, dadanya kempas-kempis oleh amarah yang membakar jiwa. "Kau sudah buta oleh nafsu, Gabriel! Kau bertindak seperti pria bodoh yang kehilangan akal sehatnya! Kau tahu betul aturan tak tertulis dinasti kita sejak ratusan tahun lalu!"
Eleanor membalikkan tubuhnya kasar, menunjuk tepat ke dada tegap Gabriel dengan ujung jari telunjuknya yang berhiaskan cincin stempel keluarga Moretti.
"Kau tidak boleh merusak garis keturunan dari keluarga Moretti!" bentak Eleanor dengan nada yang sangat tegas dan tidak dapat diganggu gugat. "Garis darah kita adalah darah murni penguasa! Kita hanya pantas bersanding dengan darah bangsawan, dengan putri-putri konsorsium Eropa atau pewaris dinasti yang memiliki aliansi politik dan kekayaan bersih, bukan dengan seorang selir rendahan tanpa latar belakang yang jelas!"
Suara Eleanor bergaung menembus lorong-lorong batu puri, memantul hingga ke ruang rahasia bawah tanah.
Di bawah sana, di dalam Sanktuarium baja yang kedap suara, Aurora berdiri terpaku di depan layar pemantau CCTV. Suara dari aula utama dipancarkan secara jernih melalui pengeras suara internal ruangan rahasia.
Setiap kata yang diucapkan oleh Eleanor menghantam dada Aurora bagaikan sabetan sembilu yang tajam.
“...bukan dengan seorang selir rendahan tanpa latar belakang yang jelas!”
Aurora memejamkan matanya rapat-rapt, merapatkan punggungnya ke dinding besi dingin. Kenyataan pahit itu disuarakan tanpa tendeng aling-aling oleh ibu Gabriel sendiri. Di mata dunia bawah, di mata dinasti Moretti yang berdarah murni, Aurora hanyalah seonggok sampah yang tidak sengaja dipungut oleh Gabriel seorang selir rendahan yang keberadaannya dianggap sebagai cacat dalam garis keturunan mereka.
Rasa hina dan amarah bercampur menjadi satu di dalam rongga dada Aurora. Namun di balik rasa sakit itu, timbul rasa penasaran yang teramat besar: Bagaimana respon Gabriel? Apakah pria itu akhirnya akan tersadar dan menyerahkannya pada Sang Ratu Tua untuk dieksekusi?
Aurora kembali menatap layar monitor dengan napas tertahan, memandangi wajah tampan dan dingin Gabriel yang terpatri di layar.
Di aula utama, Gabriel yang mendengar bentakan ibunya mengenai 'darah bangsawan' dan 'selir rendahan' sama sekali tidak menunjukkan raut wajah marah atau terintimidasi. Sebaliknya, raut wajah sang Don justru semakin santai dan dipenuhi aura meremehkan.
Gabriel menghela napas pelan, lalu merapikan kerah jas mewahnya dengan gerakan jemari yang sangat elegan.
"Darah bangsawan?" ulang Gabriel dingin, bibirnya membentuk sunggingan senyum sinis yang teramat tajam. "Maksud Ibu adalah putri-putri manja dari konsorsium Eropa yang bahkan tidak tahu cara mengisi peluru senapan? Atau putri dari keluarga bangsawan tua yang ayahnya menangis memohon ampun padaku saat kutagih utang wilayah mereka tahun lalu?"
Eleanor menatap anaknya dengan mata membelalak. "Gabriel!"
"Cukup, Ibu," potong Gabriel tegas, suaranya mendadak berubah menjadi dingin menakutkan, membunuh seluruh ketenangan santai yang tadi diperlihatkannya. "Jangan pernah membicarakan masalah garis keturunan di hadapanku seolah-olah kau sedang mengajari seorang anak kecil."
Gabriel maju satu langkah, menundukkan kepalanya sedikit agar matanya sejajar dengan mata Eleanor. Aura mematikan yang biasa ia gunakan di medan pertempuran kini meluap penuh, menekan atmosfer di aula hingga para pengawal Eleanor secara refleks memegang gagang senjata mereka.
"Siapa yang menentukan mana darah murni dan mana darah rendahan di dunia ini?" bisik Gabriel, suaranya begitu dalam dan sarat akan dominasi mutlak. "Aku. Aku adalah Don Moretti. Aku adalah hukum di dalam dinasti ini. Jika aku menunjuk seorang wanita dan mengatakan bahwa rahimnya adalah tempat terbaik untuk melahirkan pewaris tunggal Moretti, maka anak yang lahir darinya adalah raja tertinggi berikutnya lepas dari apakah ibunya berasal dari garis bangsawan atau dari neraka sekalipun."
"Kau gila..." bisik Eleanor dengan suara bergetar, untuk pertama kalinya merasa ngeri melihat betapa gelapnya obsesi dan keangkuhan yang dimiliki oleh anak kandungnya sendiri. "Kau rela mempertaruhkan kehormatan keluarga ini demi seorang wanita?"
"Aku tidak mempertaruhkan apa pun," jawab Gabriel santai seraya menegakkan kembali tubuhnya. "Aku hanya mengambil apa yang memang menjadi hakku. Aurora adalah milikku. Setiap tetes darah di tubuhnya, setiap helai nafasnya, dan rahim tempat calon anakku bersemayam adalah kekuasaanku yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun. Termasuk olehmu, Ibu."
Gabriel membalikkan badannya, memunggungi Eleanor dengan sikap acuh tak acuh yang teramat menghina.
"Marco," panggil Gabriel keras.
Marco yang berdiri di sudut aula segera maju dan membungkuk dalam. "Saya, Tuan."
"Siapkan helikopter pribadi untuk Nyonya Besar," perintah Gabriel tanpa menoleh sedikit pun ke arah ibunya. "Antarkan ibuku kembali ke markas Eropa siang ini juga. Pastikan pengawalannya ketat, dan pastikan beliau tidak menginjajkan kakinya kembali di puri ini tanpa persetujuan tertulis dariku."
"Gabriel! Berani-beraninya kau mengusir ibumu sendiri?!" teriak Eleanor, wajah cantiknya yang sudah dimakan usia kini pucat pasi oleh rasa ketidakpercayaan yang mendalam. Anak yang dibesarkannya dengan tangan besi kini secara terang-terangan mengusirnya hanya untuk melindungi keberadaan seorang selir.
Gabriel menghentikan langkahnya sejenak di pangkal tangga utama. Tanpa menoleh ke belakang, pria itu memberikan ucapan perpisahan yang begitu dingin dan mematikan.
"Nikmatilah masa tua Anda di Eropa, Ibu," ujar Gabriel datar. "Dan ingatlah satu hal ini baik-baik sebelum Anda berencana mengirim pembunuh bayaran untuk wanita saya... Jika sehelai saja rambut Aurora tersentuh atau terancam oleh tindakan Anda, saya tidak akan ragu untuk menghapus nama Eleanor Moretti dari daftar silsilah keluarga ini."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti deklarasi perang dingin tersebut, Gabriel melangkah naik menyusuri tangga dengan santai, meninggalkan Eleanor yang berdiri membeku dalam amarah bercampur kebingungan yang tak terhingga di tengah aula.
Di dalam ruang rahasia bawah tanah, Aurora terduduk lemah di sofa kulit. Layar monitor di hadapannya kini memperlihatkan Eleanor yang akhirnya melangkah pergi meninggalkan puri dengan raut wajah kalah dan penuh dendam yang tertahan.
Keheningan melingkupi ruangan baja itu kembali.
Aurora menatap kedua tangannya yang gemetar pelan di atas pangkuan. Kalimat-kalimat yang baru saja diucapkan oleh Gabriel terus bergema berulang kali di dalam otaknya:
“Jika aku menunjuk seorang wanita dan mengatakan bahwa rahimnya adalah tempat terbaik untuk melahirkan pewaris tunggal Moretti, maka anak yang lahir darinya adalah raja tertinggi berikutnya...”
“...Jika sehelai saja rambut Aurora tersentuh atau terancam oleh tindakan Anda, saya tidak akan ragu untuk menghapus nama Eleanor Moretti dari daftar silsilah keluarga ini.”
Aurora memegang dadanya yang berdenyut kencang. Pria iblis itu baru saja mengusir ibu kandungnya sendiri, menantang tradisi ratusan tahun dinasti mafia terbesar, dan mengancam legenda berdarah keluarga Moretti hanya untuk menjaga keselamatan dirinya seorang selir yang sebenarnya tidak pernah meminta untuk dicintai.
Suara mekanisme pintu baja bawah tanah yang mulai terbuka terdengar bergaung berat.
BZZZZT... CKLAK!
Pintu raksasa itu terdorong ke samping, memperlihatkan sosok Gabriel yang berdiri di ambang pintu. Cahaya remang-remang dari lorong menerpa tubuh tegap sang Don. Wajah mematikan yang tadi dipertunjukkannya di hadapan Eleanor kini perlahan-lahan luntur, berganti menjadi raut wajah yang penuh kelembutan dan kecemasan yang mendalam saat mata hitamnya menemukan sosok Aurora.
Gabriel melangkah masuk, mendekati Aurora yang masih membeku di tempatnya. Pria itu berjongkok di hadapan Aurora, meraih kedua tangan wanita itu yang dingin dan menggenggamnya erat-erat, seolah-olah memastikan bahwa wanitanya masih utuh dan aman di dalam naungannya.
"Semua sudah aman, Cara mia," bisik Gabriel lembut seraya mengecup punggung tangan Aurora dengan kehangatan yang begitu kontras dengan kebiasaannya membantai nyawa. "Tidak ada lagi yang bisa menyentuhmu."
Aurora menatap lurus ke dalam manik mata Gabriel, mencari kebohongan atau pura-pura di sana, namun yang ia temukan hanyalah lautan obsesi dan cinta gila yang teramat pekat. Sebuah jeritan batin kembali bergema di dalam jiwa Aurora: Bagaimana mungkin ia bisa melarikan diri dari pria yang rela membakar dunianya sendiri hanya untuk menjaganya tetap bernapas?