Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Anak Anda!
Bab 12 Istri Polos Tuan Anggara
(Ini? Yang ini? Ah, mana mungkin. Dia kelihatan sangat... mahal. Super mahal. Bukan aku merendahkan Lisa. Tapi sepertinya seleranya bukan Elisa yang sederhana begini. Maaf, Lisa... aku benar-benar tidak memandang kamu sebelah mata. Tapi ini cuma penilaian jujur hatiku! Elisa itu polos, lugu, mana mungkin dapat pria setampan dan se-aura CEO ini!)
Bibir Susan diam, tapi kepalanya berisik sekali, berisik seperti pasar. Saat melihat sosok pria kedua yang masuk itu, dengan tatapan dinginnya yang menusuk dan setelan jas yang harganya mungkin bisa buat bayar kos Elisa setahun, dia langsung menduga, pasti bukan lelaki ini yang sudah membuat sahabatnya hamil. Levelnya beda jauh.
Meskipun begitu, Susan tetap penasaran setengah mati. Ia berbisik pada Elisa lagi, sampai hampir menempelkan pipinya.
"Lis, kamu kenal pria ganteng yang dingin itu? Kenapa dia jenguk kamu? Darimana dia kenal kamu? Perasaan kamu gak pernah cerita punya kenalan modelan begini. Dia artis? Pengusaha?"
Wajah Elisa kaku, mulutnya terkunci rapat, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Otaknya bekerja keras dengan kecepatan tinggi, mencari alasan paling masuk akal agar Susan tidak curiga. Dia tak mungkin mengaku di depan Susan bahwa pria itulah yang membeli keperawanannya demi biaya operasi ibunya.
Jantungnya berdegup kencang.
"Susan! Kamu pasti heran ya, kenalkan! Ini Pak Anggara, dia... dia donatur yang membiayai operasi ibuku waktu itu. Beliau punya yayasan amal besar, suka menolong orang-orang tidak mampu. Kebetulan beliau tahu aku masuk RS dari pihak yayasan. Jadi menyempatkan waktunya yang sangat berharga untuk membesuk. Sangat murah hati sekali beliau ini. Iya kan, Pak Anggara?" ucap Elisa dengan ekspresi tegang yang dipaksakan tersenyum. Suaranya sedikit gemetar.
Ia menatap Anggara dengan tatapan memohon. Tolong, tolong ikuti kebohonganku.
Anggara langsung menatap tajam pada Elisa saat mendengar pernyataan gadis itu. Alisnya terangkat satu.
(Bicara apa gadis ini? Donatur? Yayasan amal? Aku tidak semurah hati itu! Aku tidak pernah menyumbang tanpa timbal balik! Tapi sepertinya kau sangat takut temanmu tahu yang sebenarnya. Baiklah! Aku ikuti permainanmu, gadis polos!)
Batin Anggara tertawa sinis.
"Salam kenal Pak Anggara," Susan menyapa ramah, mencoba mencairkan suasana. Ia mengulurkan tangan.
Anggara hanya mengangguk dingin, tidak menyambut uluran tangan Susan. Tangannya tetap di saku celana. Sementara Alex di belakang bosnya, dia ketar-ketir, keringat dingin.
(Gila! Gadis ini berani sekali berbicara seperti itu pada Pak Garra. Dia bilang Pak Garra donatur yayasan amal? Pak Garra itu hiu bisnis, bukan malaikat! Tapi Pak Garra kok diam saja? Tidak membantah? Tidak marah? Ah, sudahlah... biarkan mereka! Aku tidak mau ikut mati!)
Suasana terasa sangat kaku, sampai Susan pun merasa tidak enak. Anggara pun mendekat selangkah ke arah ranjang Elisa, menatap Elisa lekat.
"Sepertinya kedatanganku mengganggu kalian mengobrol. Baiklah, silahkan lanjutkan. Lisa! Cepat sembuh! Jangan banyak pikiran. Semua biaya sudah saya tanggung," ucapnya formal, dengan penekanan kata "saya tanggung" yang membuat Elisa merinding.
Anggara berbalik, ia menepuk pundak Alex dengan isyarat.
"Ayo kita pergi!"
Anggara kemudian keluar dari sana dengan langkah panjang dan berwibawa, meninggalkan banyak paperbag bermerek di atas meja. Pintu tertutup.
Susan langsung melihat apa saja yang dibawa oleh dua orang pria tadi dengan mata berbinar.
"Eh, baik sekali ya donatur itu. Orang kaya yang dermawan banget. Gila, ini semua buat kamu?" komentar Susan sambil membuka satu paperbag. Isinya selimut bayi impor, susu ibu hamil merk mahal, dan kotak-kotak buah.
Di belakangnya, Elisa berbaring dengan wajah gelisah, menarik selimut sampai menutupi setengah wajahnya.
(Ya Tuhan, ku harap dia tak datang kembali! Ku harap ini terakhir kalinya aku melihatnya!)
Susan masih melihat-lihat barang apa yang dibawakan oleh Alex tadi. Kemudian melihatnya dengan saksama satu per satu.
"Lis, orang tadi pasti kaya sekali. Lihat nih, buahnya aja Zespri sama anggur Shine Muscat! Sekilo bisa 300 ribu! Donatur macam apa yang sebaik ini? Kamu deket banget ya sama dia?"
Elisa tak berkomentar. Ia memejamkan mata.
"Boleh aku makan satu?" tanya Susan penasaran pada buah-buahan itu, ngiler.
"Kamu ambil saja, San. Bawa pulang semua kalau mau," jawab Elisa cepat.
"Gak apa-apa? Ini kan buat kamu sama dedek bayi?"
"Hem, ambil yang kamu mau. Aku juga tak mungkin memakannya!" Ada penegasan dan nada benci yang tak Susan ketahui. Semua pemberian Anggara, tidak ada yang membuatnya tertarik sama sekali. Jika ingat pria itu, dia malah benci, mual, dan jijik pada dirinya sendiri. Entahlah, hanya rasa tidak senang melihat wajahnya. Seperti benci tanpa sebab yang mendalam.
Menjelang malam
Susan akhirnya pamit. Sebenarnya dia malu, karena tangan kanan kiri membawa banyak barang tentengan dari Anggara. Elisa yang maksa, karena tak mungkin semuanya dimakan di RS dan ia pun tak sudi memakannya.
"Nanti, telpon saja ya kalau butuh apa-apa. Aku pulang dulu, mau ganti baju dan mandi. Abang Dimas udah bawel nanya," kata Susan.
"Makasih banyak ya, San. Oh ya. Kamu tidak usah tidur di sini malam ini. Aku tidak apa-apa kok. Kamu pasti capek. Besok ada kuliah pagi kan? UTS juga sudah dekat."
"Gak apa-apa, nanti kamu kesepian kalau gak ada temen. Kasihan."
"Gak apa-apa, San. Benar-benar gak apa-apa. Kamu jangan ke sini malam ini ya. Nanti aku malah gak enak sama Tante dan Om. Sama Mas Dimas juga. Besok aja, kalau habis pulang kuliah, kamu ke sini lagi," Elisa memaksa.
"Hemm. Iya deh. Terserah kamu si pengusir. Oh ya. Makasih ya, ini!" Susan mengangkat-angkat barang di tangannya dengan senang.
Elisa mengangguk kecil, Susan pun pamit dan keluar.
Baru lima menit pintu tertutup, Elisa baru saja bisa bernapas lega. Pintu dibuka lagi dengan agak keras. Elisa pikir, ada benda Susan yang ketinggalan.
"San, ada yang ketinggalan?" tanyanya tanpa menoleh.
Namun, dia salah. Aroma parfum mahal yang menyengat itu bukan milik Susan.
Yang muncul justru pria yang tidak mau dia lihat seumur hidupnya.
Anggara. Pria itu masuk dengan langkah yang tegas, mengunci pintu dari dalam. Ceklek.
Elisa langsung duduk tegak, waspada.
"Temanmu sudah pergi?" tanya Anggara, sekedar bertanya basa-basi, tapi tak butuh jawaban. Ia sudah tahu.
Lisa diam, memalingkan muka ke jendela.
"Anak buahku sudah mengurus semuanya. Administrasi rumah sakit lunas. Besok pagi kamu akan keluar dari sini. Dan akan ikut denganku! Aku sudah siapkan apartemen dan dokter pribadi untukmu," kata Anggara tanpa basa-basi.
"Kenapa aku harus ikut dengan anda? Saya tidak mau!" ujar Elisa tidak mau, suaranya meninggi.
"Jangan emosional! Kau sedang mengandung anakku! Kau pikir aku akan membiarkan anakku tinggal di kos sempit berjamur itu?!" ucap Anggara tegas, mendekat.
"Kenapa anda yakin ini anak anda??? Apa anda tidak tahu? Bisa saja ini anak orang lain? Bisa saja kan? Bukan anda saja yang tidur bersama saya!!!" ujar Elisa nekat. Mencoba mendorong Anggara agar menjauh darinya. Meskipun harus terlihat hina, dengan mengaku tidur dengan pria lain juga, ia rela. Asal Anggara pergi dan membencinya.
Mendengar kalimat itu, respon Anggara cukup dingin, tapi matanya menyala merah. Ia tersenyum miring yang sangat menakutkan.
Ia maju, mencengkeram dagu Elisa dengan satu tangan, memaksanya menatapnya.
"Kalau ingin berbohong, kau perlu belajar lebih keras lagi, gadis polos. Tubuhmu masih gemetar saat aku menyentuhmu. Kau pikir aku percaya kau sudah tidur dengan pria lain?"
Bersambung.
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,