Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Aroma sup iga hangat dan tumis sayuran segar memenuhi ruang makan berlantai marmer itu. Di atas meja kayu jati yang panjang, beberapa piring hidangan telah tersaji rapi. Namun, kehangatan uap makanan itu sama sekali tak mampu mencairkan hawa dingin yang berembus kaku di antara tiga orang yang duduk di sana.
Alana duduk di sisi kiri meja, tepat berhadapan dengan Tania yang sibuk menyendok nasinya dengan bantuan Bi Sastro. Sementara di ujung meja, Gema duduk memimpin dengan kemeja santai yang sudah berganti. Pria itu menyapu pandangannya ke arah piring-piring di depannya, lalu menatap Alana yang duduk diam.
Biasanya, jam makan malam adalah momen di mana Alana akan sibuk melayani Gema. Wanita itu selalu menjadi orang pertama yang mengambilkan nasi, menuangkan kuah sup ke mangkuk suaminya, menyodorkan air minum, dan membuka percakapan hangat meski sering kali hanya dibalas dengusan atau jawaban singkat dari Gema. Alana yang dulu selalu berusaha keras mencari perhatian dan senyuman dari pria yang dinikahinya enam tahun lalu itu.
Namun malam ini, ada yang berbeda.
Alana hanya duduk tegak dengan jemari saling bertaut di atas pangkuan. Wajahnya yang masih tampak pucat itu benar-benar datar, tanpa senyum matang yang biasa dia pamerkan, tanpa binar penuh harap yang biasa terpancar dari matanya. Sorot mata wanita itu tampak redup dan sangat asing, seolah jiwanya tak lagi berada di ruang makan tersebut.
Ucapan menusuk hati yang dilontarkan Gema sore tadi tuduhan bahwa dirinya hanya mencari perhatian dan berpura-pura tertindas telah menjadi pukulan terakhir yang mematahkan sisa-sisa harapan di dalam dada Alana. Ada sesuatu yang patah di dalam dirinya, sesuatu yang membuat rasa ingin menyenangkan hati Gema mendadak menguap tanpa bekas.
Gema memicingkan mata, menyadari perubahan sikap istrinya yang tak biasa itu. Pria itu berdehem pelan, memecah keheningan.
"Kamu tidak mengambilkan saya makan?" tanya Gema dengan intonasi dingin yang biasa, menatap Alana tajam.
Alana tidak terkejut. Dia mengangkat wajahnya perlahan, menatap tepat ke arah manik mata Gema tanpa ada lagi rasa bimbang atau tatapan memohon seperti biasanya. Pandangannya begitu tenang, namun dingin bagaikan es.
"Mas Gema punya dua tangan yang sehat," jawab Alana singkat, suaranya terdengar begitu datar dan formal. "Saya kira Mas bisa mengambilnya sendiri sesuai selera malam ini."
Gema seketika membeku di kursinya. Gerakan tangannya yang hendak meraih sendok terhenti di udara. Pria itu menatap Alana dengan raut kaget yang tersembunyi rapat di balik alisnya yang bertaut. Selama enam tahun pernikahan mereka, Alana tidak pernah sekali pun menjawab ucapannya dengan nada sedingin dan selugas itu. Biasanya, wanita itu akan langsung panik, meminta maaf, dan tergesa-gesa melayaninya.
Bi Sastro yang berdiri di dekat lemari pendingin menyusutkan bahunya, merasa ketegangan mendadak melonjak drastis. Sementara Tania hanya mengedipkan matanya polos, menatap Bunda dan Ayahnya bergantian.
Tanpa menunggu reaksi Gema lebih lanjut, Alana meraih mangkuk kecil milik Tania, mengambilkan sedikit kuah sup, lalu menyodorkannya pada putri kecilnya dengan senyum tipis satu-satunya kehangatan yang tersisa di wajahnya malam ini.
"Dimakan ya, Sayang. Supnya masih hangat," tutur Alana lembut pada Tania.
"Makasih, Bunda..." cicit Tania pelan, merasakan suasana aneh yang menyelimuti meja makan.
Gema akhirnya meraih centong nasi sendiri dengan rahang yang mengetat. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menyelusup di dadanya, sebuah perasaan asing yang dipicu oleh perubahan sikap Alana. Pria itu mengambil lauk secukupnya, lalu mulai mengunyah dalam diam.
Meja makan itu hening luar biasa. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Alana sendiri hampir tidak menyentuh makanannya. Dia hanya menyendok beberapa butir nasi dan mengunyahnya lambat, seolah makanan lezat di piringnya tidak memiliki rasa sama sekali. Perutnya memang masih terasa agak tidak nyaman, tetapi rasa hampa di dadanya jauh lebih mendominasi. Wanita itu tidak lagi berinisiatif membuka obrolan, tidak menanyakan bagaimana perjalanan bisnis Gema, atau bagaimana kelancaran rapatnya di luar kota. Alana benar-benar menarik diri sepenuhnya dari kehidupan pria di ujung meja itu.
"Bagaimana dengan toko kue?" suara Gema kembali memecah keheningan, mencoba menguji atmosfer yang mencekam ini.
Alana meletakkan sendoknya perlahan, menyapu bibirnya dengan serbet kain sebelum menjawab. Dia bahkan tidak melihat ke arah Gema saat berbicara.
"Toko berjalan baik. Semuanya terkendali oleh Maya dan anak-anak dapur," sahut Alana seadanya.
"Kamu tidak perlu bekerja terlalu keras kalau akhirnya cuma membuat rumah ini berantakan dan kamu lemas begitu," ujar Gema, berniat menegur dengan gaya superioritasnya yang biasa.
Jika di hari-hari lalu kalimat itu akan membuat Alana merasa bersalah dan menunduk memohon maaf, malam ini tanggapan Alana justru di luar dugaan.
Alana menatap Gema lurus-lurus. Sebuah senyuman tipis yang sangat asing senyuman yang sarat akan ironi dan kepasrahan tercetak di bibirnya.
"Terima kasih atas perhatiannya, Mas," kata Alana dengan nada yang sangat halus, namun terasa bagaikan sindiran paling tajam. "Tapi toko itu adalah tanggung jawab saya. Mas tidak perlu khawatir, saya tidak akan membiarkan urusan toko mengganggu kenyamanan Mas di rumah ini lagi."
Gema tertegun. Kalimat Alana terdengar begitu sopan, namun ada dinding pembatas tak kasat mata yang sangat tebal dan tinggi yang baru saja dibangun oleh wanita itu di antara mereka. Alana tidak lagi berdebat, tidak lagi mencoba membela diri, dan yang paling menakutkan: Alana tidak lagi peduli.
Gema meletakkan sendoknya agak keras ke atas piring. Cling! Suara porselen beradu itu membuat Bi Sastro kaget, namun Alana bahkan tidak mengedipkan matanya sedikit pun.
"Bunda... Bunda kok makanannya nggak dihabisin?" tanya Tania polos, memecah ketegangan yang makin memuncak.
Alana mengelus rambut Tania dengan lembut. "Bunda sudah kenyang, Sayang. Tania habiskan makannya ya, habis itu langsung mandi dan siap-siap tidur."
"Iya, Bunda."
Alana kemudian berdiri dari kursinya. Dia merapikan gaunnya pelan, lalu menunduk sedikit ke arah Gema tanpa menatap matanya.
"Saya permisi ke kamar dulu. Saya mau menyiapkan pakaian dan kebersihan Tania untuk sekolah besok," ucap Alana tenang.
Tanpa menunggu persetujuan dari Gema, Alana berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya terdengar begitu ringan namun tegas, naik menaiki anak tangga menuju lantai dua tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Gema menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, matanya menatap punggung Alana yang menghilang di belokan tangga. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, pria itu merasa ada sesuatu yang bergeser secara berbahaya dalam pernikahan mereka. Keheningan dan kepatuhan Alana malam ini tidak lagi terasa seperti ketundukan seorang istri yang menyerah, melainkan seperti langkah awal dari seorang wanita yang mulai melangkah pergi.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅