Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
“Ayahku. Dan sekarang suamiku.” Ia mengambil berkas di meja. “Orang lain mau percaya apa, terserah.” Namun sebelum mulai bekerja, ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Fahri. [Sudah sampai kantor? Jangan lupa sarapan kedua kalau lapar.]
Tira tersenyum melihatnya. Di tengah ribuan orang yang sedang membicarakan masa lalunya, hanya satu pesan sederhana dari Fahri yang berhasil membuat hatinya tenang. Ia membalas, [Sudah, Bang. Abang juga jangan lupa makan.]
Kemudian Tira meletakkan ponselnya dan mulai bekerja. Di luar sana, kisah tentang perempuan yang meninggalkan kekasihnya setelah delapan tahun masih terus menjadi bahan pembicaraan. Tetapi Tira tidak peduli. Orang-orang akhirnya boleh mengetahui siapa yang sebenarnya tidak pernah berani berkomitmen. Namun bagi Tira, persoalan itu sudah selesai sejak lama. Ia bukan perempuan yang meninggalkan cinta. Ia adalah perempuan yang akhirnya berani meninggalkan penantian. Dan mungkin, justru karena itulah banyak orang mulai memandangnya bukan sebagai perempuan yang kejam, melainkan sebagai perempuan yang akhirnya sadar bahwa cinta tanpa kepastian hanya akan mengajarkan seseorang bagaimana rasanya menunggu tanpa tujuan.
Ia tidak ingin membaca lebih banyak. Baginya, semua sudah jelas. Teman-temannya yang mengetahui perjalanan hubungan mereka selama delapan tahun sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tira tidak perlu ikut turun tangan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan jahat seperti yang dituduhkan orang-orang.
Kalau Tira muncul sekarang, kasus ini malah naik lagi. Sudah cukup. Tira nggak mau memberi panggung untuk Dimas. Dimas sudah menjadi bagian dari masa lalu. Delapan tahun memang bukan waktu yang sebentar, tetapi bukan berarti delapan tahun harus menjadi alasan baginya untuk terus tinggal di sana. Ia sudah menangis. Sudah menunggu. Sudah meminta kepastian. Sudah memberikan kesempatan. Bahkan sudah mengatakan dengan jelas bahwa jika Dimas tidak datang membawa keseriusan, hubungan mereka selesai. Dimas memilih diam. Dan ketika Tira benar-benar pergi, lelaki itu baru berteriak kehilangan.
Tira tidak ingin mengulang semuanya hanya demi menjelaskan kepada orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya. “Aku cuma mau hidup tenang,” katanya. “Aku sudah menikah.”
Sejak tinggal bersama Fahri, pikirannya memang terasa lebih ringan. Ia punya rumah yang harus diurus, pekerjaan yang menunggu, suami yang membuatnya tenang, dan kehidupan baru yang perlahan mulai ia sukai. Ia tidak ingin semua itu kembali dipenuhi cerita lama. “Dimas itu masa lalu,” ujar Tira akhirnya. “Sudah berlalu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi ia mengucapkannya dengan keyakinan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Ia membuka laptop dan kembali menyelesaikan pekerjaannya. Di luar sana, nama Tira dan Dimas masih menjadi bahan pembicaraan. Orang-orang masih memperdebatkan siapa yang salah. Namun Tira tidak lagi peduli. Ia tidak ingin menang dalam sebuah cerita yang sudah ia tinggalkan. Ia hanya ingin bahagia dalam kehidupan yang sekarang sedang ia bangun. Sebab bagi Tira, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada membuat semua orang memahami kisahnya: memastikan dirinya sendiri tidak lagi kembali kepada kisah itu.
***
Sementara itu, di kantor, Dimas sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Sejak pagi ia berkali-kali membuka media sosial, berharap ada sesuatu dari Tira. Dimas tahu harusnya hari ini cuti Tira berakhir dan ia sudah masuk kerja. Ia ingin perempuan itu muncul. Ia ingin Tira memberikan sanggahan, membela diri, atau mengatakan apa pun tentang berita yang sedang ramai.
Bukan karena Dimas benar-benar ingin Tira membersihkan namanya. Ada sesuatu yang lebih egois di kepalanya. Ia ingin masuk lagi ke dalam cerita itu. Kalau Tira membuat klarifikasi, Dimas bisa muncul sebagai pihak yang merasa terluka. Ia bisa mengatakan bahwa mereka memang pernah menjalin hubungan selama delapan tahun. Ia bisa bercerita tentang perjuangannya. Ia bisa kembali mendapatkan perhatian orang-orang. Dan yang paling penting, ia punya alasan untuk menghubungi Tira lagi.
Namun sampai jam makan siang berlalu, Tira tetap diam. Sore datang. Dimas masih menunggu. Tidak ada unggahan. Tidak ada video. Tidak ada tulisan panjang. Bahkan tidak ada satu kalimat pun yang menyebut namanya. Dimas mulai gelisah. “Kenapa dia diam?” gumamnya.
Ia membuka akun Tira lagi. Tidak ada perubahan. Foto terakhir masih foto pernikahannya bersama Fahri. Dimas menatap foto itu lama. Ada Tira dengan senyum yang tidak pernah ia lihat selama beberapa bulan terakhir hubungan mereka. Ada Fahri berdiri di sampingnya dengan wajah tenang. Entah mengapa foto itu membuat dadanya panas.
Dimas ingin Tira membuktikan bahwa ia masih terluka. Ia ingin melihat Tira menangis. Ia ingin tahu bahwa perempuan itu tidak baik-baik saja. Tetapi Tira justru diam. Seolah-olah apa yang terjadi tidak cukup penting untuk membuatnya bicara. Semakin sore, pikiran Dimas semakin kacau. Muncul satu pikiran buruk yang bahkan membuatnya sendiri merasa tidak nyaman. Kalau aku tidak bisa memiliki Tira, maka dia juga tidak boleh tenang dengan suaminya.
Ia mengepalkan tangan. Aku resah, dia juga harus resah. Pikiran itu tumbuh semakin liar. Selama ini Dimas selalu yakin Tira tidak akan benar-benar meninggalkannya. Delapan tahun membuatnya terlalu percaya diri. Ia mengira, seberapa jauh pun Tira pergi, perempuan itu pada akhirnya akan kembali. Ternyata ia salah. Tira menikah. Tira pindah rumah. Tira menjalani hidup baru. Dan sekarang Tira bahkan tidak memberinya ruang untuk masuk kembali.
Menjelang jam pulang kantor, Dimas membuka akun Tira sekali lagi. Ia ingin melihat apakah perempuan itu akhirnya mengunggah sesuatu. Namun layar justru menampilkan sesuatu yang membuat dahinya berkerut. Ia mencoba membuka profil Tira. Tidak bisa. Ia keluar dari aplikasi, lalu masuk lagi. Tetap sama. Dimas mencoba mencari nama Tira dari akun lain. Profilnya muncul. Dari akun pribadinya sendiri, tidak. Dimas terdiam. “Jangan-jangan...”
Ia mencoba mengirim pesan. Tidak terkirim. Ia melihat daftar pengikut. Akunnya sudah tidak ada di sana. Tira telah memblokirnya. Untuk beberapa detik Dimas hanya memandangi layar ponsel. Kemudian wajahnya berubah merah. “Sialan!” Ia membanting ponsel ke atas meja.
Beberapa rekan kerja yang berada tidak jauh darinya menoleh. Dimas segera mengambil ponselnya lagi. Tangannya mengepal. Bukan karena Tira mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Justru karena Tira tidak mengatakan apa-apa. Perempuan itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk bertengkar. Tidak memberinya kesempatan menjelaskan. Tidak memberinya kesempatan menjadi bagian dari kehidupan barunya. Tira hanya menutup pintu. Diam-diam. Tegas. Tanpa drama. Dan bagi Dimas, itulah yang paling menyakitkan.
Selama delapan tahun, ia terbiasa mengetahui bahwa Tira ada. Ia tahu ke mana harus menghubungi perempuan itu. Ia tahu kapan Tira marah. Ia tahu bagaimana membuat Tira luluh. Ia tahu bahwa meskipun mereka bertengkar, Tira akan tetap ada. Sekarang semua akses itu hilang dalam satu sentuhan. Dimas menatap layar ponselnya sekali lagi. Foto profil Tira tidak lagi terlihat. Ia benar-benar diblokir. “Kamu pikir selesai begitu saja?” gumamnya.