Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Ginza Hall
"Kilau lampu sorot paling terang tidak akan pernah bisa memancarkan pesona sejati, jika di balik lapisan kulit hanya ada kepalsuan dan rasa sombong."
"Samson! Jangan sampai jas wol pink pastel lu itu kena tetesan kopi panas Mami! Kita tinggal tiga puluh menit lagi sampai di lokasi pameran!" panggil Kenanga seraya merapikan dokumen kepersertaan.
Pagi hari di kawasan Ginza, Tokyo, disambut oleh langit biru yang bersih dan hembusan angin musim gugur yang menyejukkan. Di depan gedung konvensi megah Ginza World Trade Center, karpet merah sepanjang seratus meter membentang dari jalan utama menuju pintu masuk hall pameran.
Ribuan wartawan dari media massa internasional, fotografer fashion, serta para pakar kecantikan dunia telah berkumpul di balik pagar pembatas. Puluhan kendaraan mewah berdatangan satu per satu, menurunkan para kontestan delegasi dari berbagai belahan benua.
Di dalam bus van khusus milik Perkasa Putra, suasana sangat riuh. Samson duduk tegap di depan cermin portabel, mengoleskan lip balm stoberi dan merapikan tatanan rambut poninya hingga terlihat begitu presisi dan berkilau alami. Jas wol pink pastel yang dipadukan dengan kemeja putih bersih membuat tubuh bidang 178 sentimeter nya tampak sangat mencolok dan menawan. "Aduh Mbak Kenanga sayang, tenang dong!" sahut Samson riang seraya membetulkan bando pita pink penahan poninya. "Samson ini sudah terlatih menjaga kestabilan gerakan tubuh! Jangankan tetesan kopi Mami, guncangan ombak laut pun kagak bakal bikin outfit Samson ini ternoda!"
Mami yang duduk di samping Papi Joko terkekeh pelan seraya membetulkan selendang batik keemasannya. "Mami cuma nervous sedikit, Sam. Lihat tuh di luar, orang-orang luar negeri tingginya kayak pohon kelapa semua! Kamera wartawan juga jeprat-jepret kagak ada berhentinya!"
Papi Joko yang mengenakan setelan jas hitam klasik lengkap dengan apron soft pink legendaris yang sudah disetrika rapi, merangkul jemari Mami dengan lembut. "Jangan takut, Mami. Kita ke sini bukan cuma membawa produk, tapi membawa nama baik dan warisan keluarga."
Di bangku belakang, Bang Jarot tampil sangat gagah dengan setelan jas hitam, kacamata hitam, dan pin berlogo Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra di dadanya. Di luar van, Ryuji dan empat anggota geng Bosozoku yang mengenakan seragam jaket kulit rapi berdiri bersiap memberi pengawalan kehormatan.
"Sip! Semua pasukan udah siap!" seru Bang Jarot seraya meraba kumis tebalnya. "Begitu pintu van terbuka, kita tunjukkan sama warga Tokyo gimana gayanya tim Perkasa Putra melangkah!"
CKLAK!
Pintu van bergeser terbuka. Begitu Samson menjejakkan kaki perdananya di atas karpet merah Ginza, riuh suara jepretan kamera dan kilatan lampu flash mendadak berhamburan menyorot ke arahnya.
"Siapa mereka?!" bisik seorang fotografer dari majalah fashion Prancis. "Lihat pemuda berbadan tegap berbando pita itu! Kulit wajahnya sangat bersinar alami tanpa bedak tebal!"
Samson melangkah dengan gaya anggun yang penuh percaya diri. Di belakangnya, Papi Joko, Mami, Kenanga, dan Bang Jarot melangkah tegap diapit oleh jajaran pengawal geng Bosozoku yang berbaris rapi. Pemandangan kontras namun sangat elegan itu seketika mencuri perhatian seluruh hadirin dan juri pameran.
Namun, di tengah sambutan hangat para wartawan, sebuah rombongan besar melangkah memotong jalur karpet merah Perkasa Putra. Kenjiro Takahashi muncul dengan gaya sangat angkuh, dikawal oleh belasan spesialis berjas laboratorium putih steril dan jajaran pengawal pribadi berbadan tegap.
Kenjiro menghentikan langkahnya tepat di depan Samson dan Papi Joko. Wajah berambut peraknya menyunggingkan senyum meremehkan yang sangat dingin.
"Selamat datang di tempat pembuktian terakhir, Joko," ujar Kenjiro dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan langsung oleh asistennya lewat pengeras suara kecil. "Luar biasa sekali kamu membawa rombongan sirkus dan geng jalanan ke ajang paling bergengsi di dunia ini. Tapi perlu kamu tahu, panggung Ginza hanya menghargai sains dan teknologi tingkat tinggi, bukan drama komedi!"
Para pengawal dan staf Kenjiro tertawa kecil mengejek. Para wartawan langsung mengarahkan mikrofon dan kamera mereka ke arah kedua belah pihak, menantikan bentrokan kata-kata yang memanas.
Papi Joko hendak melangkah maju menjawab ejekan itu, namun Samson dengan cepat menahan bahu sang Papi. Samson melangkah maju satu tapak, membusungkan dada bidangnya, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Kenjiro.
Samson mengedipkan matanya centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki. "Aduh Pak Kenjiro yang ganteng-ganteng kaku..." ucap Samson dengan nada suara meliuk mewahnya yang menggelegar halus lewat mikrofon wartawan. "Bapak ini selalu saja bicara soal sirkus dan drama. Padahal di dunia estetika sejati, hasil nyata lah yang berbicara! Mau bawa teknologi nano atau teknologi angkasa luar, kalau produk Bapak cuma bisa bikin wajah kelihatan kaku kayak patung Lilin, buat apa?"
Gelak tawa ringan mendadak terdengar dari beberapa wartawan internasional yang mengerti sindiran Samson. Wajah Kenjiro seketika memerah menahan malu di depan puluhan kamera TV asing.
"Kurang ajar!" geram Kenjiro pelan seraya mengepalkan tangannya. "Kita lihat di panggung pengujian lima puluh menit lagi, Samson! Aku akan memastikan namamu dan bengkel murahanmu itu hancur di hadapan dewan juri dunia!"
Kenjiro membalikkan badan dengan gusar, memimpin rombongannya masuk menerobos pintu kaca utama hall pameran.
Bang Jarot menyeringai puas seraya menepuk-nepuk tangannya. "Mantap betul, Sam! Belum juga naik panggung, mukanya Pak Tua Kribo itu udah makin kusam ketutupan rasa emosi!"
Kenanga tersenyum tipis seraya memeriksa kerapian bando pita Samson. "Serangan verbal yang bagus, Sam. Sekarang saatnya kita buktikan kualitas racikan Serum Royal Wijayakusuma di dalam ruangan."
Dengan semangat membara dan kepala tegak, seluruh anggota tim Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra melangkah memasuki aula konvensi Ginza Hall. Pertarungan puncak antarnegara untuk menentukan produk estetika terbaik di panggung dunia kini resmi dimulai!
"Hadirin dan para dewan juri yang terhormat! Selamat datang di babak pengujian klinis langsung World Beauty & Aesthetic Expo!" suara pembawa acara bergema megah di dalam auditorium bertingkat tiga.
Di atas panggung raksasa berkapasitas ribuan penonton, dua stan demonstrasi utama telah disiapkan di bawah sorotan lampu penerangan khusus. Di stan sebelah kiri, Takahashi Laboratories memamerkan perangkat digital canggih bernilai jutaan dolar, lengkap dengan tabung-tabung kaca kimia berisi cairan Nano-Platinum Serum.
Sementara di stan sebelah kanan, Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra tampil unik dan hangat. Meja kayu berukir khas Indonesia dipadukan dengan jajaran botol kaca ungu berisi Serum Royal Wijayakusuma, ekstrak Pegagan Emas, serta mangkuk keramik berisi kelopak bunga mawar segar.
Enam orang dewan juri internasional yang terdiri dari para profesor dermatologi dari Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Swiss, Jepang, dan Indonesia duduk di barisan terdepan dengan lembaran penilaian digital di tangan mereka.
"Aturan pengujian sangat sederhana!" lanjut sang pembawa acara. "Masing-masing kontestan diberi dua model dengan kondisi kulit kering dan kusam akibat paparan cuaca dingin ekstrem. Kontestan harus merawat dan mengembalikan kelembapan alami kulit model dalam waktu lima belas menit!"
Vektor dan tim Takahashi Laboratories langsung bergerak cepat. Dua dokter spesialis kimia mereka menyemprotkan cairan Nano-Platinum menggunakan alat aerosol bertekanan tinggi ke wajah model mereka. Dalam hitungan dua menit, wajah sang model memang terlihat mengencang secara mendadak dan berkilau sangat tajam di bawah lampu sorot.
"Lihat!" seru Kenjiro bangga seraya mengarahkan mikrofonnya ke dewan juri. "Teknologi rekayasa nano kami mampu mengunci kelembapan dan menarik jaringan kulit secara instan tanpa perlu menunggu proses penyerapan yang lambat!"
Para penonton bertepuk tangan terkesima melihat perubahan instan tersebut. Namun, juri dari Prancis menyipitkan mata, mengamati melalui layar pembesar digital bahwa pori-pori wajah sang model tertutup rapat oleh lapisan polimer sintetis yang membuat kulit tidak bisa bernapas.
Kini giliran stan Perkasa Putra. Samson melangkah ke tengah panggung dengan gerakan anggun dan tenang. Ia memoleskan beberapa tetes Serum Royal Wijayakusuma ke telapak tangannya yang hangat, lalu secara perlahan mengaplikasikannya ke wajah sang model uji coba menggunakan teknik pijatan Acupressure Glow khas Perkasa Putra.
Jemari lentik Samson menekan titik-titik meridian di sekitar dahi, pipi, dan dagu sang model dengan presisi yang luar biasa. Aroma wangi herbal murni dari bunga Wijayakusuma dan ekstrak pegagan alami langsung membumbung tinggi, memenuhi udara auditorium yang tadinya berbau cairan kimia laboratorium.
Hanya dalam kurun waktu lima menit, cairan serum ungu keemasan itu meresap sempurna ke dalam jaringan epidermis. Kulit wajah sang model mendadak memancarkan pendaran cahaya alami yang sangat lembut, kenyal, merona merah muda segar, dan terlihat sangat sehat bertransformasi total. Sang model Jepang itu bahkan mengelus pipinya sendiri dengan mata berbinar-binar terpesona.
"Subarashii... (Luar biasa...)" bisik sang model spontan lewat mikrofon kecil di bajunya. "Kulitku terasa sangat ringan, hangat, dan seperti dilahirkan kembali!"
Juri pakar dermatologi dari Jerman langsung berdiri dari kursinya, melangkah naik ke panggung dengan membawa alat pemindai hidrasi tingkat dalam. Ia menempelkan sensor ke pipi model Perkasa Putra dan model Takahashi Laboratories secara bergantian.
Layar raksasa di latar belakang panggung mendadak menampilkan data perbandingan grafik secara otomatis.
Model Takahashi Laboratories: Tingkat hidrasi permukaan 85%, namun aliran oksigen pori-pori 0% (Kulit mengalami penyumbatan total akibat bahan polimer).
Model Perkasa Putra: Tingkat hidrasi epidermis 98%, aliran oksigen pori-pori 100% sempurna (Kulit bernapas bebas dengan perlindungan nutrisi alami jangka panjang).
Gemuruh tepuk tangan mendadak meledak dari sudut barisan penonton! Bang Jarot, Kenanga, Mami, Ryuji, dan anggota geng Bosozoku melompat berdiri seraya bersorak-sorak riuh.
"TIDAK MUNGKIN!" jerit Kenjiro panik seraya menunjuk layar raksasa. "Mesin pemindai itu pasti rusak! Produk berbahan tanaman kuno tidak mungkin mengalahkan formulasi rekayasa nano milikku!"
Samson melangkah mendekati Kenjiro dengan keanggunan yang tak tertandingi. Samson mengedip-ngedipkan matanya centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki.
"Aduh Pak Kenjiro sayang..." cicit Samson manis seraya mengibaskan tangannya pelan. "Sains itu diciptakan untuk memahami dan merawat alam, bukan untuk memaksakan bahan sintetis merusak jaringan kulit manusia. Racikan Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra menang karena kami merawat kulit dengan ketulusan dan cinta!"
Ketua Dewan Juri dari Swiss melangkah ke depan mikrofon utama seraya memukul palu keputusannya dengan mantap. DOK! DOK! DOK!
"Berdasarkan hasil analisis klinis, keamanan jaringan jangka panjang, dan tingkat hidrasi tertinggi dalam sejarah pameran ini... Penghargaan Emas World Beauty & Aesthetic Expo tahun ini secara resmi dianugerahkan kepada... BENGKEL & AUTO-BEAUTY LOUNGE PERKASA PUTRA DARI INDONESIA!"
DUARRR!
Hujan potongan kertas emas dan perak berguguran dari langit-langit Ginza Hall! Suara sorak-sorai riuh rendah memenuhi seluruh ruangan. Papi Joko menangis haru seraya memeluk Mami erat-erat, sementara Bang Jarot menggendong Samson dan mengayun-ayunkan tubuh tegapnya di atas panggung!
Kenjiro Takahashi terduduk lemas di samping mejanya yang megah, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana racikan herbal tradisional dari sebuah bengkel tua di Pasar Subuh berhasil menaklukkan puncak dunia estetika internasional!