Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Salah Tempat
Suasana malam begitu sunyi. Zionathan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Mereka melewati lereng gunung dan hutan menuju kediaman Tuan Dore. Tuan Dore adalah salah satu nama sebutan Ketua Geng Pembunuh nomor satu di dunia. Mendengar nama Dore, orang-orang langsung tunduk ketakutan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Anya dan Zionathan sudah hampir sampai di markas kediaman Tuan Dore itu. Disana sudah terlihat bangunan megah dengan pagar yang menjulang tinggi. Zionathan memarkirkan mobilnya.
Kedua orang itu keluar dari dalam mobil. Zionathan membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan karung besar yang di dalamnya ada Alexa yang masih tidak sadarkan diri.
"Ayo cepat kak, bawa masuk wanita sampah ini." perintah Anya dengan tatapan benci.
Zionathan dan Anya langsung masuk ke dalam Markas yang seram itu. Markas yang hanya disinari pantulan cahaya lampu dari luar ruangan. Suasana di markas itu begitu sangat mencekam. Di tambah lagi Tuan Dore yang berwajah seram sedang menghisap rokoknya. Di sampingnya berdiri beberapa pengawal yang berbadan kekar. Sementara di belakangnya ada tiga pria yang sangat garang.
Tatapan ketiga Pria itu tertuju kepada Anya dan Zionathan. Tatapannya seperti tatapan burung elang yang siap menerkam mangsanya.
Zionathan meletakkan karung yang dibawahnya itu di depan Tuan Dore. Wajahnya ketakutan, begitupun dengan Anya.
"Permisi Ketua Bleiz. Kami datang untuk anda,,, untuk menjual seseorang." ucap Zionathan terbata-bata. Tangannya gemetaran. Keringat membasahi pelipisnya.
Ketiga pria yang berdiri di belakang Theodore menatap sinis kepada Zionathan dan Anya. Ketiga pria itu memainkan benda di tangannya masing-masing.
Theodore meneguk secangkir kopi yang ia pengang. "Dasar makhluk-makhluk tak punya mata. Kamu pikir Serikat Bleiz ini..." ucapannya terhenti. Theodore meletakkan cangkir yang dipegangnya itu.
"Apa kau pikir Serikat Bleiz ini tempat sampah? Segalah macam sampah masyarakat... Semuanya harus di terima?" Theodore menatap tajam kepada Zionathan dan Anya. Suaranya pelan namun tegas.
Alexa pun tersadar. Tetapi gadis itu masih berada di dalam karung. Mulutnya ditutup dengan selotip. Kedua tangannya di ikat membuatnya tidak bisa berteriak dan berbuat apa-apa. "Bajingan, Anya Zayn apa maunya?" ucapnya dalah hati.
"Ti-tidak,,, bagaimana bisa begitu, Ketua Bleiz? Dia ini cantik luar biasa!" Zionathan menunjuk karung yang berada di depannya. "Dia pasti bisa mendatangkan keuntungan untuk anda. Anda akan senang ketika melihatnya." Ia berusaha meyakinkan Theodore.
"Benar Ketua Bleiz. Anda bisa jadikan pelayan, dia bisa kerja. Melayani pria bisa dapat uang, apalagi dengan parasnya yang cantik. Pasti bisa jadi primadona." Anya tersenyum miring. Kata-katanya yang manis itu, berharap ia bisa meyakinkan Theodore.
Alexa semakin geram mendengar apa yang di katakan wanita ular itu. "Anya brengsek! Dia mau menjual ku jadi budak!" pekik Alexa dalam hati. Ia berusaha memberontak di balik karung itu.
"Tunggu!" Alexa membulatkan matanya. "Tadi dia bilang Ketua Bleiz. Jangan-jangan ini Serikat Bleiz?" tebak Alexa. Ia semakin memberontak.
BRUUKK.
BRUUKK.
BRUUKK.
Suara tendangan Anya begitu keras. Anya menendang Alexa yang memberontak di balik karung itu.
Alexa berusaha untuk bersuara. Meskipun mulutnya masih tertutup rapat oleh selotip hitam itu.
Leonard mengangkat pandangannya, ia memfokuskan pendengarannya. "Kenapa suara ini terdengar seperti suara adik, ya?"
Damian berjalan dengan tongkat kasti di tangannya. "Adik ketiga, kamu Merindukan adik sampai gila, ya?" Damian tertawa kecil.
Gideon ikut berdiri. "Adik kita itu sangan cerdas dan banyak akal. Ilmu bela dirinya pun sangat tinggi. Orang yang bisa menangkapnya... Orang itu mungkin sudah lama mati. tidak ada yang berani menyakiti adik kesayangan kita." jelas Gideon sangat memuji kehebatan adik angkatnya itu.
"Benar juga." ucap Leonard singkat. Mungkin dia hanya salah mengenali suara saja.
Alexa yang mendengar suara Kakak-kakaknya itu pun semakin memberontak.
BRUUKK.
BRUUKK.
BRUUKK.
Anya kembali menendangnya dengan keras. Alexa begitu sangat kesakitan. Ia ingin berteriak tapi mulutnya masih tertutup.
"Wanita ini liar tapi.... Aku yakin, nggak ada yang Serikat Bleiz.... Tidak ada wanita yang tidak bisa Tuan Muda atasi." Anya melihat ke arah Gideon.
"Tuan Muda Bleiz kedua, beli saja dia. Harganya hanya 100 juta saja. Beli ini, di jamin tidak akan rugi, nggak akan ketipu. Percaya sama kami." jelas Anya. Kata-katanya itu sangat meyakinkan Tuan Muda Serikat Bleiz.
"Benar, ini Serikat Bleiz." batin Alexa dan kembali memberontak di dalam karung besar itu.
Lagi-lagi Anya kembali menendangnya dengan sangat keras.
"Jangan berisik! kamu bisa ganggu Ketua Bleiz! Kau mau cari mati?" Bentak Anya dengan suara kasar dan tegas.
Zionathan pun ikut kesal melihat Alexa memberontak. "Brengsek! Awas, aku pukul mati kau!" Zionathan hendak menendang Alexa. Namun tendangannya terhenti.
"Sudah, cukup!" Suara berat itu membuatnya tidak jadi menendang gadis yang dibungkus karung itu.
Gideon melangkah. "Baiklah, aku beli saja." Ia memberi kode kepada pengawal dengan tangannya.
Pengawal yang mengenakan jas rapih itu segera memberikan Gideon koper yang berisi uang. Namun, Gideon tidak memberikan semua uang itu. Melainkan ia hanya mengambil selembar uang berwarna merah dan melemparnya begitu saja di depan Zionathan dan Anya.
"Buka!" tegas Gideon. Ia masih memainkan Sebuah pisau tajam di tangannya. Sesekali membolak-balikkan mata pisau itu di telapak tangannya.
Zionathan dengan wajah berseri-seri pun segera mengambil uang yang terjatuh di lantai.
"Baik...baik! akan segera kubuka karungnya." Anya berjongkok dan membuka ikatan karung itu dengan cepat.
"Ayah, kakak, kakak kedua dan kakak ketiga. Saat melihatku, kalian kaget tidak, ya?" Batin Alexa dan tersenyum miring. Ia tidak lagi memberontak.
Tali ikatan karung itu pun terbuka. Zionathan langsung menarik paksa karung itu. Gideon dan semua orang yang berada di Markas itu menunggu siapa sebenarnya wanita yang ia beli itu dengan wajah penasaran.
Zionathan dengan rasa tidak sabar pun segera membuka karung itu dengan buru-buru. Terlihat seorang wanita berambut panjang. Rambutnya menutupi seluruh wajahnya.
Alexa menggelengkan kepala hingga rambut itu tak lagi menutupi wajahnya. Alexa mengangkat kepalanya, ia membulatkan matanya dan melihat ke arah Theodore dan ketiga Pria yang berdiri di depannya itu.
Mata Alexa merah, kepalanya masih terasa pusing. Namun, ia masih bisa menahannya. Matanya berkaca-kaca melihat orang yang sedang berdiri di depannya.
Zionathan dan Anya tersenyum puasa. ia mengira sebentar lagi mereka akan mendapat bayaran yang banyak dengan menjual Alexa kepada Serikat Bleiz.
"Ini! Tuan Muda Kedua. Saya jamin anda akan puas!" ucap Anya tersenyum licik.
Theodore sontak berdiri dengan mata membulat, begitu pun dengan ketiga pria yang sudah dari tadi berdiri di depannya.
"Loh, Adik!"
"Adik!"
"Loh, Adik!"
"Nak...?"
***
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...