Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Keesokan siangnya, usai memimpin rapat penting di kantor yang berlangsung kaku dan penuh tekanan, Jungkook langsung melangkah cepat menuju ruang kerjanya. Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada laporan bisnis atau grafik penjualan. Fokusnya sepanjang hari hanya satu: Kim Mira.
Pria itu menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran, lalu meraih ponsel di atas meja. Dengan dada yang bergemuruh sarat penyesalan, Jungkook menekan nomor Mira, berniat menanyakan keberadaannya sebelum meluncur ke kampus.
Namun, tidak ada nada dering biasa yang menyambutnya.
Panggilan itu mendadak langsung terputus dengan suara operator otomatis. Jungkook menatap layar ponselnya bingung, lalu mencoba mengirimkan pesan singkat. Pengiriman Gagal.
Seketika itu juga, rahang Jungkook mengetat. Gadis itu benar-benar telah memblokir nomor ponselnya.
Rasa panik dan cemas kian melingkupi dada Jungkook. Pria itu menyadari betapa dalam luka yang ia torehkan semalam hingga Mira enggan mendengar suaranya lagi. Tanpa membuang waktu, Jungkook mengambil kunci mobil dan coat tebalnya di sandaran kursi. Pria itu bertekad untuk langsung mendatangi Universitas Sorbonne, menunggu di depan gedung fakultas Mira sampai gadis itu mau menemuinya.
Namun, baru saja langkah lebarnya mencapai pintu keluar ruangan, ponsel di genggamannya mendadak bergetar hebat.
Jungkook melirik layar, berharap nama Mira yang muncul. Namun nama yang tertera di sana justru membuat langkah kakinya terhenti seketika.
Sunmi.
Dahi Jungkook berkerut tebal. Sunmi adalah teman lamanya, seorang wanita dari kalangan atas yang sudah cukup lama berada di luar negeri dan jarang berkomunikasi dengannya.
Dengan helaan napas berat dan rasa ragu, Jungkook akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Sunmi?" suara Jungkook terdengar datar dan dingin, tidak mampu menyembunyikan keterburu-buruannya.
"Jungkook-ah! Akhirnya diangkat juga," suara wanita di seberang sana mengalun renyah dan terdengar sangat akrab. "Aku berada di Paris secara mendadak. Ada urusan mendesak yang harus kubicarakan dengamu sekarang. Kau sedang di mana? Kita bisa bertemu sebentar?"
Jungkook memejamkan mata erat-erat. Pikirannya saat ini sudah sepenuhnya tertuju pada Mira, namun nada suara Sunmi yang terdengar terdesak membuatnya tertahan di ambang pintu.
Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat. Nama Sunmi yang tertera di layar ponselnya seketika membuat pelipisnya berdenyut menegang.
Sunmi adalah putri dari kawan dekat orang tuanya, dia adalah wanita yang selama bertahun-tahun ini terus mengejar cintanya. Jungkook tidak pernah menyimpan perasaan apa pun padanya dan selalu menjaga jarak bersikap dingin. Namun, ada satu hal yang membuat Jungkook tidak pernah bisa benar-benar bersikap kasar atau memutuskan hubungan secara sepihak: keluarga Sunmi pernah mengulurkan bantuan finansial yang teramat besar saat bisnis orang tua Jungkook berada di titik terendah bertahun-tahun lalu. Utang budi keluarga itulah yang membelenggu Jungkook.
Dan yang sama sekali tidak diketahui oleh Jungkook... Sunmi adalah wanita yang beberapa waktu lalu secara lancang mendatangi apartemennya saat ia sedang di luar kota, wanita yang mengintimidasi dan melemparkan kata-kata dingin pada Mira hingga membuat gadis itu terluka dan memilih pergi.
"Jungkook-ah? Kau masih di sana, kan?" suara Sunmi mengalun manja di seberang telepon. "Aku baru tiba kembali di Paris. Bisakah kita makan siang bersama sekarang? Ada dokumen dan pesan penting dari Ayah yang harus kuserahkan padamu."
Jungkook mengepalkan tangannya di samping tubuh. Pikirannya saat ini benar-benar terbagi dan kalut. Di satu sisi, penyesalan mendalam pada Mira membakar dadanya; ia harus segera pergi ke kampus untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahpahamannya. Namun di sisi lain, membawa-bawa nama ayahnya dan utang budi keluarga membuat Jungkook tidak bisa menolak panggilan Sunmi begitu saja.
"Kirimkan lokasimu," ujar Jungkook akhirnya dengan suara bariton yang teramat dingin dan tanpa nada. "Aku tidak punya banyak waktu. Kita hanya bisa bertemu sebentar."
"Baiklah! Aku tunggu di restoran favorit kita biasa ya," sahut Sunmi riang sebelum mematikan sambungan telepon.
Jungkook mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat. Pria itu mengusap wajahnya kasar, diliputi rasa serba salah yang menyiksa. Dengan langkah terpaksa, ia mengubah arah tujuannya, menemuinya terlebih dahulu demi menyelesaikan urusan utang budi itu secepat mungkin, agar ia bisa segera berlari ke kampus untuk mengejar Mira.
Jungkook duduk di sudut restoran fine dining dengan memasang raut wajah yang dingin dan kaku. Matanya berulang kali melirik jam tangan mewahnya, sama sekali tidak berniat menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Di seberang meja, Sunmi terus berkicau riang, menceritakan perjalanannya dan sesekali memamerkan senyuman manis yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Jungkook. Pria itu hanya menanggapi omongan Sunmi secara malas-malasan dengan gumaman singkat.
Pikirannya sudah melayang jauh ke Universitas Sorbonne, membayangkan raut terluka Mira saat ia menuduhnya semalam.
Namun, suasana santai Sunmi mendadak pecah saat wanita itu memotong pembicaraan dan terkekeh pelan.
"Ah, iya, Jungkook-ah... Aku hampir lupa memberitahumu," ujar Sunmi seraya menyesap minumannya santai. "Beberapa waktu lalu saat kau sedang bertugas di luar kota, aku sempat datang mampir ke apartemenmu. Tapi aneh sekali, bukannya kau, yang membukakan pintu justru seorang perempuan muda."
Deg.
Kalimat itu menghantam Jungkook bagaikan petir di tengah hari bolong. Genggaman tangannya pada sendok seketika membeku. Matanya membelalak kaget saat sebuah potongan teka-teki yang selama ini membingungkannya mendadak menyatu secara sempurna di dalam kepala.
Wanita? Menemui Mira di apartemen?
Seketika itu juga, Jungkook bertanya kembali apa alasan sebenarnya di balik sikap Mira yang mendadak dingin, alasannya berbohong, dan alasannya nekat angkat kaki dari apartemennya. Apakah Mira kabur karena pria lain? atau Mira pergi karena terluka dan salah paham atas kedatangan wanita ini?
Rasa panik, penyesalan, kebingungan dan amarah seketika membakar dada Jungkook. Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap Sunmi dengan tatapan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi.
Namun, alih-alih langsung memahami semuanya secara utuh, kepala Jungkook justru makin dipenuhi oleh tumpukan tanda tanya baru yang membingungkan. Jika Sunmi mengaku hanya menanyakan keberadaannya lalu langsung pergi, lantas alasan apa yang sebenarnya membuat Mira nekat menyusun kebohongan rumit, mengepak barang-barangnya, dan angkat kaki dari apartemennya?
Apakah Mira marah karena ada wanita lain yang datangnke apartemennya? Apakah Mira merasa terganggu dengan kehadiran Sunmi? Atau... ada hal lain yang terjadi di antara mereka saat ia sedang berada di luar kota?
Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap wajahnya yang terasa pening luar biasa. Semua teka-teki ini terasa makin menekan dadanya. Satu hal yang kini pasti di kepalanya: ia tidak bisa lagi membiarkan asumsi-asumsi liar merusak hubungan mereka. Ia harus mendengar kebenaran itu langsung dari mulut Mira sendiri.
"Apa yang kau katakan padanya?" tuntut Jungkook dengan suara bariton yang teramat rendah dan berbahaya. "Apa yang kau katakan pada wanita yang membukakan pintu di apartemenku?!"
Sunmi terkejut melihat perubahan reaksi Jungkook yang begitu drastis dan menakutkan. Wanita itu agak terperanjat, namun cepat-cepat mengontrol raut wajahnya dan bersikap acuh tak acuh.
"E-eh? Kenapa kau membentakku begitu?" kilah Sunmi pura-pura polos. "Aku tidak bicara apa-apa padanya. Aku cuma menanyakan di mana keberadaanmu. Setelah tahu kau sedang tidak ada di apartemen, ya sudah, aku langsung pulang."
Tanpa basa-basi lagi, Jungkook berdiri dari kursinya. Ia menyambar coat-nya dengan kasar, sama sekali tidak memedulikan Sunmi yang menatapnya kaget.
"Jungkook-ah! Kau mau ke mana?! Kita bahkan belum selesai bicara!" teriak Sunmi kesal.
Abaikan panggilan itu, Jungkook melangkah lebar meninggalkan restoran tanpa berbalik sedikit pun. Ia menyambar pintu mobil sports sedan-nya dan menginjak pedal gas dalam-dalam, melaju membelah jalanan Paris menuju Universitas Sorbonne dengan satu tekad bulat: menemui Mira, meminta maaf atas tuduhan kejamnya semalam, dan menagih penjelasan atas semua rahasia di antara mereka.