Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29. Pulang liburan

Hari-hari libur yang terasa begitu singkat akhirnya berakhir juga. Pagi itu, udara masih sejuk, namun ada semangat baru yang menyelimuti hatiku. Sebentar lagi aku akan kembali ke kampus — kembali ke tempat di mana kami harus berpura-pura asing, kembali ke lorong-lorong yang penuh kenangan, dan kembali melihatnya setiap hari, walau hanya dari kejauhan. Tapi kali ini berbeda. Setelah semua momen indah yang kami lalui bersama selama liburan — dari taman bunga, pantai berkelap-kelip lampu, hingga semangkuk bubur buatan tangannya sendiri — hatiku tak lagi merasa berat saat harus kembali menyembunyikan perasaan. Sebaliknya, aku justru merasa bersyukur. Karena setiap pertemuan di kampus, sekecil apa pun, kini terasa lebih berharga dan lebih bermakna.

Sebelum berangkat, aku berdiri sejenak di depan cermin. Di leherku, kalung pemberiannya masih terpasang rapi — liontin kecil yang berkilau lembut seakan mengingatkanku pada janji-janji yang pernah kami ucapkan. Di jari tanganku, cincin yang sama dengan miliknya tersembunyi di balik lengan baju seragam. Semuanya terlihat biasa saja di mata orang lain, namun bagiku, itu adalah tanda bahwa aku tak pernah benar-benar sendirian. Kehadirannya selalu menyertai ke mana pun aku pergi.

Langkah kakiku terasa ringan saat melangkah masuk ke gerbang kampus. Gedung-gedung yang dulu terasa membosankan, kini tampak begitu ramah. Pohon-pohon di sepanjang lorong seakan ikut menyambutku, dan udara pagi yang sejuk terasa lebih menyegarkan dari biasanya. Teman-teman saling menyapa, bercerita tentang liburan mereka yang penuh perjalanan dan keramaian. Aku hanya tersenyum mendengarkan, tak menceritakan ke mana pun aku pergi. Karena liburanku bukan tentang tempat yang jauh atau pemandangan yang megah. Liburanku adalah tentang menemukan sisi lain dari pria yang kucintai — sisi yang lembut, tulus, dan sepenuhnya milikku.

Saat bel masuk berbunyi dan pintu kelas terbuka, jantungku berdebar kencang seperti biasa. Arga melangkah masuk dengan pakaian rapi, wajahnya kembali tenang dan tegas seperti sedia kala. Tak ada yang berbeda di mata orang lain. Namun bagiku, ada sesuatu yang berubah — tatapannya saat menyapu ruangan berhenti sedikit lebih lama di wajahku, dan sekilas sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hanya aku yang tahu artinya. Sebuah sapaan tanpa kata, yang mengatakan: Selamat kembali, Lisna. Aku merindukanmu.

Sepanjang jam pelajaran, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Bukan karena membosankan, melainkan karena setiap detik kehadirannya di depan kelas membuat hatiku penuh. Aku memperhatikannya — cara ia berbicara, cara ia menunjuk ke papan tulis, cara ia sesekali menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Semua hal itu kini terasa begitu akrab dan begitu dekat, walau jarak di antara kami jauh. Dan aku tahu, ia juga merasakannya. Setiap kali ada kesempatan, matanya akan bertemu dengan mataku, dan dalam sekejap itu saja, kami saling mengerti — bahwa liburan yang berakhir bukanlah akhir dari kebersamaan kami, melainkan awal dari perjuangan baru yang lebih kuat.

Saat jam pelajaran usai dan mahasiswa mulai beranjak keluar, aku sengaja berjalan agak lambat, berharap bisa berpapasan dengannya sebentar. Dan benar saja, saat aku hampir sampai di pintu, ia berjalan melewati mejaku, meletakkan selembar kertas kecil di samping bukuku dengan gerakan yang begitu cepat dan tak terlihat oleh siapa pun. Lalu ia berjalan terus keluar kelas seakan tak melakukan apa-apa.

Aku segera menyelipkan kertas itu ke dalam bukuku, menahan rasa penasaran sampai aku sampai di tempat yang sepi. Di bawah pohon rindang di taman belakang, aku membukanya perlahan. Tulisan tangannya yang rapi dan tegas tertulis di sana:

"Selamat kembali ke rutinitas, Lisna. Aku tahu rasanya berat harus kembali berpura-pura setelah hari-hari kita bersama. Tapi percayalah, setiap kali aku berdiri di depan kelas dan melihatmu duduk di sana, hatiku merasa lebih tenang dan bahagia daripada sebelumnya. Liburan telah mengajarkanku satu hal — bahwa tak peduli di mana kita berada, selama kita saling menjaga hati dan saling percaya, kita tak pernah benar-benar terpisah. Semangat ya. Kita berjuang bersama. — Arga."

Air mata bahagia menetes di atas kertas itu, namun aku segera menyekanya agar tak merusak tulisannya. Kertas kecil itu begitu sederhana, namun isinya cukup untuk menguatkan hatiku kembali. Pulang liburan bukan berarti berpisah. Justru sebaliknya — kini kami kembali dengan hati yang lebih penuh, lebih yakin, dan lebih siap untuk melangkah lebih jauh.

Aku melipat kertas itu rapi dan menyimpannya di dalam dompet, di samping foto kecil kami yang diambil diam-diam saat di pantai. Lalu aku menatap ke arah gedung tempat ruang kerjanya berada, berbisik pelan dalam hati: "Aku juga merindukanmu, Kak. Dan aku siap menjalani semuanya lagi, asalkan di ujung perjuangan ini, ada kita berdua yang bersatu selamanya."

Hari itu, langkahku meninggalkan kampus terasa begitu ringan dan penuh harapan. Liburan memang telah berakhir, namun cinta yang tumbuh di dalamnya takkan pernah berakhir. Ia justru semakin kuat, semakin dalam, dan semakin siap untuk menghadapi apa pun yang datang. Dan aku tahu, perjalanan ini masih panjang, namun aku tak takut. Karena aku tak lagi berjalan sendirian. Ia selalu ada — di setiap tatapan, setiap perhatian kecil, dan setiap doa yang kami panjatkan untuk masa depan kami.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!