Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Boncengan Pertama di Bawah Langit Mendung
Pagi itu langit sudah terlihat kelabu sejak Aisyah berangkat. Seperti biasa, Papa yang mengantarnya ke sekolah menggunakan motor satu-satunya yang mereka miliki. Papa memang sering bekerja, tapi kalau sedang libur atau tugasnya selesai lebih awal, ia selalu menyempatkan diri mengantar Aisyah. Cuaca mendung membuat udara terasa sejuk, dan Aisyah sempat berharap hujan turun nanti sore supaya tidak terlalu panas saat pulang.
Namun saat bel pulang berbunyi, langit justru semakin gelap, awan hitam menumpuk tebal, dan angin mulai berhembus cukup kencang. Aisyah berdiri di depan gerbang sekolah sambil memeluk tasnya erat-erat, menunggu hujan reda atau setidaknya mereda sedikit. Ia tidak membawa payung, dan Papa hari ini harus bekerja, jadi ia berencana menunggu sebentar lalu berjalan pelan saja.
“Ya ampun kamu tuh begitu sangat berbakti banget ya sama orang tua? Sampai sampai kamu diantarin orang tua aja kamu enggak enggak kenapa napa?”
Aisyah menaikkan naik ke atas alisnya kenapa emang kalau diantar sama orang tua? Emang ada sesuatu hal yang salah?
“Ya enggak kenapa napa sih cuman ya kalau gue sih kayak minder aja gitu apalagi pake motor butut kayak begitu!”
“Ah kalau kita ngikutin gengsi enggak akan pernah ada habisnya semua orang juga bakalan enggak suka kalau misalkan melihat kita bahagia tapi aku merasa happy dan biasa aja sih,” sahut Aisyah yang sangat santai tapi nyelekit.
Pulang sekolah.
Tiba-tiba terdengar suara klakson pelan dari belakangnya.
Tin... tin...
Aisyah menoleh perlahan. Matanya membelalak sedikit saat melihat siapa yang duduk di atas motor berwarna hitam mengkilap itu. Dimas. Ia mengenakan jaket sekolah, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan saat menatap Aisyah, ia melebarkan senyumnya—senyum yang selalu bikin hati siapa saja yang melihatnya berdebar.
"Pulang sekarang, Syah?" tanyanya ramah, suaranya terdengar jelas di tengah suara angin.
Aisyah mengangguk pelan, tangannya meremas tali tas. "Iya... cuma nunggu sebentar nih, takut hujan turun deras banget."
Dimas menoleh ke langit sebentar, lalu kembali menatap Aisyah. "Kayaknya nggak bakal reda sebentar lagi nih. Langitnya udah gelap banget. Daripada nunggu lama terus nanti kehujanan, mending aku antar ya?"
Aisyah langsung geleng-geleng kepala dengan cepat. "Nggak usah deh, Dim. Makasih ya. Nggak enak nanti kalau aku diantar kamu. Lagian rumah aku lumayan jauh lho, nanti kamu repot."
"Repot dari mana?" Dimas tertawa pelan, matanya menyipit. "Aku kan juga lewat arah sana. Lagian daripada kamu basah kuyup, nanti sakit. Naik aja ya, nggak apa-apa kok."
"Tapi..." Aisyah masih ragu, pipinya mulai terasa hangat. Ia belum pernah sekali pun dibonceng laki-laki, apalagi itu Dimas—cowok paling terkenal di sekolah, yang disukai banyak cewek, dan yang selama ini diam-diam dikagumi banyak orang termasuk dirinya sendiri.
"Yuk naik aja, Syah. Nanti mulai hujan lho," bujuk Dimas lagi dengan nada lembut namun meyakinkan. "Tenang aja, aku bawa motornya pelan-pelan kok."
Melihat titik-titik air mulai jatuh membasahi aspal, Aisyah akhirnya mengalah. Ia tidak mungkin menolak terus-terusan. "Yaudah deh... makasih ya, Dim. Tapi beneran nggak keberatan?"
"Sama sekali nggak!" Dimas tersenyum lebar, lalu sedikit memundurkan motornya memberi ruang. "Naik ya, hati-hati."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aisyah naik ke atas motor itu. Duduk di belakang Dimas membuat jantungnya berdegup kencang sekali, rasanya seperti mau melompat keluar dari dada. Ia tidak berani menyentuh bahu Dimas sedikit pun, kedua tangannya justru memegang erat ujung jaketnya sendiri, tubuhnya sedikit menegang.
"Pegang yang bener ya, biar nggak jatuh," kata Dimas pelan sebelum menyalakan lampu motor.
"Nggak apa-apa kok, aku udah pegang erat," jawab Aisyah suaranya terdengar sedikit bergetar.
Motor itu mulai bergerak pelan meninggalkan gerbang sekolah. Hujan mulai turun perlahan, rintik-rintik air membasahi wajah mereka. Angin menerpa wajah Aisyah, tapi ia sama sekali tidak merasakan dinginnya. Yang ia rasakan hanyalah detak jantungnya sendiri yang berpacu cepat, dan aroma sabun yang lembut dari arah Dimas—aroma yang membuatnya merasa tenang sekaligus gugup luar biasa.
Sepanjang perjalanan, Aisyah terus menunduk sedikit, berusaha tidak menyentuh punggung Dimas walau sedikit. Ia sadar betul ini adalah pertama kalinya ia berdekatan sedekat ini dengan seorang cowok. Dan cowok itu adalah Dimas. Yang semua cewek di sekolah impikan.
Ya ampun... kenapa jantungku berdebar kencang banget sih? batinnya berteriak. Tenang Syah, tenang... ini cuma diantar pulang doang. Nggak usah berlebihan kayak gini.
Tapi semakin ia berusaha tenang, semakin ia menyadari betapa hangat dan tenangnya suasana itu. Di depan Dimas yang sedang menyetir dengan hati-hati, sesekali tersenyum kecil tanpa diketahui Aisyah. Ia sengaja membawa motornya pelan, menikmati perjalanan yang terasa begitu singkat baginya.
"Nggak kedinginan kan?" tanya Dimas tiba-tiba tanpa menoleh, suaranya terdengar lembut diiringi suara hujan.
"Eh... nggak kok! Nggak dingin sama sekali," jawab Aisyah cepat, berharap Dimas tidak mendengar betapa bergetarnya suaranya.
"Bagus deh. Nanti kalau hujannya makin deras, bilang aja ya."
"Iya... makasih ya, Dim."
Sisa perjalanan itu berjalan dalam diam, namun bukan diam yang canggung. Justru diam yang hangat, penuh rasa terima kasih, dan jantung yang sama-sama berdebar tanpa mereka sadari. Aisyah mulai berani sedikit mendekatkan tubuhnya, tangannya perlahan menyentuh ujung jaket Dimas dengan sangat hati-hati, seolah takut salah. Ia tidak tahu bahwa momen sederhana ini akan menjadi salah satu kenangan paling berharga yang tersimpan rapi di hatinya untuk waktu yang sangat lama.
Dan di bawah langit yang mulai basah itu, Dimas pun dalam hatinya berharap jalan menuju rumah Aisyah itu sedikit lebih panjang, supaya perjalanan ini tidak berakhir terlalu cepat.
“Ya Allah kenapa tiba tiba perasaan hamba kayak begini sih? Kenapa Dimas malah nawarin untuk mengantar pulang ke rumah?”
Eh ternyata Dimas malah melimpir sebentar untuk makan bakso katanya dan Aisyah pun menolak karena enggak mau kan kalau misalkan ada orang yang liatin mereka berdua pasti nantinya disangkanya aneh! Eh malah Dimas menawarkan Aisyah untuk makan bakso bersama ternyata udah dipesan duluan ya kak menghargai enggak mungkin dong tiba-tiba aja menolak kan kayaknya enggak bagus. Kenapa sih kok kayak beda banget padahal kan ibaratnya teman dan teman satu kelas juga jadi biasa aja kali kalau misalkan kayak begitu!
“Ya aku canggung aja kalau misalkan berduaan kayak begini kalau misalkan di kelas kan banyak teman teman yang lain?”
Dimas malah menggelengkan kepala kok bisa bisanya sih kayak begitu ya sama aja namanya juga berteman? “ Sudahlah enggak usah memikirkan kayak gimana namanya sekolah dan kita pulang sekolah tuh sama aja jadi kamu enggak usah ngerasa gimana gimana banget!”
Aisyah berbicara dalam hati ternyata orang yang di hadapannya ini begitu sangat ganteng juga ya pantesan aja mereka berdua tuh kayak ketar-ketir Dimas ternyata kalau misalkan dilihat dari cukup lumayan juga. “ Kamu enggak suka pedas ya? Kalau aku sih suka satu sendok di rumah! Tapi jangan ditiru sih kayak begitu enggak baik kalau misalkan kebanyakan cabenya!”
“Ya aku sih tahan tahan aja kalau misalkan ada cabai cuman enggak bisa yang terlalu banyak gitu lo paham kan maksudnya? Tapi makasih ya nanti aku bayar deh kalau misalkan aku punya uang lebih untuk traktir kamu!”
Dimas pun menggelengkan kepala kok bisanya ngomong kayak begitu santai aja ucapnya dengan Aisyah. “Em aku boleh nanya sesuatu enggak sama kamu tapi aku harap kamu jangan tersinggung ya sama pertanyaan aku ini?”
“Em pertanyaan apa?”
Aisyah tampak bingung sih untuk memulai obrolan ini dari mana karena ia merasa nanti bakalan tersinggung atau cuma dibilang kayak kayak gimana jadi kayak maju mundur gitu untuk menanyakan hal ini! “Kalau misalkan kamu pengen nanya ya nanya aja jangan ngerasa bingung atau kayak gimana santai aja aku bakalan jawab kok kalau misalkan selama itu aku enggak napa dengan pertanyaannya!”
“Di antara Rara sama Laras kira-kira kamu suka yang mana? Ya maksudnya dalam karakter gitu ya ini cuma sekedar pertanyaan doang sih aku harap kamu jangan tersinggung ya sama pertanyaan aku ini, tapi kalau misalkan kamu merasa keberatan juga enggak masalah sih aku cuma sekedar nanya doang sama kamu!”
“Dan di luar nurul sekali ya pertanyaan kamu ini?”
“Em jadi gimana?”