Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Halus di Balik Layar
Setelah malam pesta yang mengguncang itu, nama Elena von Secilia menjadi topik hangat di kalangan kelas atas Secilia City. Bukan lagi sebagai istri pajangan yang tidak berguna, melainkan sebagai wanita misterius yang berhasil menarik perhatian penuh dari Duke Xavier von Obsidian.
Di dalam ruang kerja rahasianya di paviliun barat, Elena duduk dengan tenang di depan tiga layar monitor besar yang menyala terang. Jari-jemarinya yang lentik mengetuk meja mahoni secara beraturan. Di salah satu layar, terpampang profil lengkap struktur keuangan Aris Group, perusahaan milik Arsenio yang baru saja dipindahkan ke kota ini.
"Kamu berpikir bisa menguasai pasar medis di kota ini dengan mengandalkan tender hasil curian itu, Arsenio?" bisik Elena, sepasang mata safir birunya berkilat dingin penuh kalkulasi. "Mari kita lihat seberapa kuat fondasimu saat aku menarik pasokan utamamu."
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Adrian melangkah masuk dengan wajah masam dan rahang yang mengeras. Sejak malam pesta itu, egonya sebagai pria keluarga benar-benar terluka melihat bagaimana Elena lebih memilih berjalan di samping Duke Xavier daripada dirinya.
"Elena! Apa maksud dari semua ini?!" Adrian melemparkan sebuah dokumen audit ke atas meja kerja Elena. "Kenapa dana dari rekening bersama kita dialihkan hampir seluruhnya ke sebuah lembaga investasi asing? Dan dari mana kamu mendapatkan kalung safir dari Duke Xavier itu?!"
Elena tidak terkejut. Dia perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi sutra, menatap Adrian dengan pandangan datar tanpa riak emosi sedikit pun.
"Adrian, bukankah aku sudah mengatakannya? Aku meminta hak akses penuh atas aset pribadi dan tunjangan yang tertulis di perjanjian pra-nikah kita," jawab Elena, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penekanan. "Uang yang kupakai adalah hakku. Mengenai Duke Xavier... dia hanya seorang rekan bisnis yang tahu cara menghargai mitra kerjanya. Sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan selama tiga tahun ini."
"Rekan bisnis?!" Adrian mendengus sinis, melangkah maju mendekati meja kerja Elena. "Jangan membual, Elena! Obsidian Group tidak pernah bekerja sama dengan wanita dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut seperti keluargamu! Apa yang sebenarnya kamu berikan kepada Xavier hingga dia bersedia menjadi perisaimu?!"
Elena berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tegak dan tatapan matanya yang sedingin es seketika membuat Adrian menghentikan kalimat makiannya. Atmosfer di dalam ruangan mendadak berbalik menekan Adrian.
"Jaga bicaramu, Adrian von Secilia," ucap Elena dengan nada rendah yang sangat mengintimidasi. "Jika aku jadi kamu, daripada sibuk mencurigai istri yang tidak pernah kamu anggap ini, aku akan lebih fokus pada saham Secilia Group yang perlahan mulai digerogoti oleh mata-mata internalmu sendiri. Pergilah. Aku tidak punya waktu untuk melayani kecemburuan kekanak-kanakanmu."
"Kamu—" Adrian mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. Namun, melihat sorot mata Elena yang begitu kuat dan tidak menyisakan ruang untuk berdebat, Adrian akhirnya berbalik dan melangkah keluar sembari membanting pintu dengan keras
.
Elena mengembuskan napas pelan setelah kepergian Adrian. Dia kembali duduk dan menekan sebuah tombol interkom rahasia yang terhubung langsung dengan asisten pribadi Duke Xavier.
"Koneksikan saya dengan Duke," perintah Elena singkat.
Hanya butuh waktu tiga detik sebelum suara bariton yang berat, dalam, dan sangat familier terdengar dari seberang garis telepon. "Ada yang bisa kubantu, Nyonya Muda Secilia? Atau Anda merindukan sekutu bisnis Anda malam ini?"
Elena terkekeh hambar, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman puas. "Duke Xavier, saya rasa ini saat yang tepat untuk mengeksekusi rencana kita terhadap Aris Group.
Sore ini, Arsenio baru saja menandatangani kontrak pengadaan bahan baku dengan distributor lokal. Saya ingin Anda memblokir seluruh jalur logistik mereka di distrik utara menggunakan pengaruh Obsidian."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar suara tawa rendah Xavier yang terdengar sangat puas. "Sebuah gerakan yang sangat agresif. Anda benar-benar ingin mencekik pria bernama Arsenio itu hingga mati di awal langkahnya, bukan?"
"Dia berutang terlalu banyak hal pada masa lalu saya, Duke," jawab Elena, matanya menggelap mengingat setiap detik penderitaannya sebagai Clarissa. "Dan saya adalah tipe penagih utang yang sangat tidak sabaran."
"Baiklah, keinginan Anda adalah perintah bagiku, Elena," bisik Xavier dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi lembut namun sarat akan kepemilikan yang berbahaya. "Seluruh jalur logistik utara akan ditutup malam ini juga. Bersiaplah melihat tikus kecilmu itu panik besok pagi."
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄