Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monster?

Wajah Aro terlihat serius. Tidak minat mebalas ucapanku. "Ayo, langsung naik! Di belakang banyak unit yang mulai datang. Helikopter dan drone juga"

Aku sedikit terkesima? Mulai naik. Aro langsung memacu gas. Kembali tersentak. Motor seakan melesat kuat di jalanan. Air menyiprat dari ban membelah genangan. Aku coba menilik barometer digital, bergidik. Aro mengemudi dengan kecepatan hingga 80 Km/jam. Bukankah ini terlalu cepat

"Bukankah ini terlalu cepat?!" Aku berseru, suara motor membungkam segalanya.

"Hah?!" Aro juga balas menyeru. "Oh Iya?!" Aro melepas salah satu tangannya dari kemudi. Mengambil sesuatu dari rompi hijaunya –dia masih menggunakan kostum pemanahnya.

Lelaki di depanku menjulurkan pistol. Ini kan pistol yang kuberikan tadi. "Jaga belakang ya!!"

Aku mengangguk, menerima pistol tersebut.

Mulai memutar leher ke belekang. Ternyata benar, di langit-langit, diantara pucuk-pucuk gedung yang tinggi, tampak sekelompok helikopter mulai mendekat. Baling-balingnya menggetar udara, suaranya bercampur denga gemuruh hujan.

Tapi bukan itu yang harus ku hadapi terlebih dahulu. Drone lebih dulu menyusul di belakang. Hanya terpisah belasan meter, mengambang di atas jalan raya. Benda itu terbang mengimbangi kecepatan tinggi motor.

Aku menaikan pistol. Membidik salah satu drone.

Tarik nafas. Mengidentivikasi energi yang di keluarkan drone tersebut. Dimulai dari angin yang timbul dari baling-baling, energi listrik di dalamnya. Hingga tahu jika lempeng besi yang menjadi tubuh drone ini sangat kokoh, tidak bisa di tembus peluru. Tapi ada satu celah..

Dor! Satu peluru lepas. Membuat satu drone mendadak mati dan terjatuh. Aku berhasil mengincar lempeng besi batrai di bawah benda tersebut.

TRRRRRRRRTATATATATATATATATATATATAT!!!

Kembali tersentak, bukan karena tembakan barusan. Tapi karena tiba-tiba motor berkelok tajam. Miring hampir menyentuh aspal. Aku seketika mencengkram pinggang Aro. Motor berbok di sebuah tikungan. Membuat keciprak air. Drone di belakang terkecoh, menabrak dinding kaca bangunan hingga pecah. Tembus ke dalam.

Jantungku berdetak kuat.

Aro terbahak. “Kaget ya”

“Kau akan membawaku seperti itu nantinya?” Aku iseng bertanya. Sedikit teriak.

“Hah?!” Lelaki itu tidak mendengarnya.

Lupakanlah, fokus menatap ke jalan. Langsung bergidik. Puluhan meter di depan sana belasan mobil Komodo v4 melaju berlawanan.

Menatap ke belakang. Unit lain juga mulai mendekat. Termasuk helikopter.

Aro justru menambah laju motornya. Aku terkesima.

“Hey! Mau apa” Aku benar-benar berseru kali ini. “Belok! Belok!”

Aro balas berteriak. “Bentar napa!”

Setidaknya terhitung hingga lima belas mobil. Semuanya melaju cepat di aspal yang becek di timpa hujan. Airnya memercik di belakang ban.

Aku tidak tahu apa yang di pikirkan anak ini. Dia tetap meneruskan lajunya. Jantungku berdetak cepat. Tangan mencengkram kuat pinggangnya.

Suara mesin motor membungkam suasana hujan. Aro melaju semakin cepat. Tersisa beberapa meter. Aku menggertak gigi. Menutup mata.

Delapan meter, empat meter. Sedetik saja, beberap meter terlewati.

Motor kembali berkelok tajam. Aku berseru tertahan. Peganganku hampir lemas. Dua mobil pertama berhasil di lewati. Aro, entah bagaimana dia bisa.......

Masih ada tiga belas. Ukurannya yang besar hanya dapat memuat dua unit di satu lajur. Sekarang dua selanjutnya berupaya menjepit.

Aro memutar paksa motor. Memindah arah empat puluh lima derajat. Ban mencecit ngilu. Aku terperanjat, berseru tertahan. Segera merengkuh seluruh tubuh orang di depanku. Aku hapir terlempar.

Motor lanjut di pacu lagi. Aro menurunkan grip. Seakan terhempas, angin deras melewati telinga. Motor terasa terlempar.

Aku takut terjatuh. Motor terus berkelir ke samping. Menuju sisi jalan raya. Naik ke trotoar. Lantas melaju di atasnya. Tidak ada yang menghalangi kali ini. Tapi belum selesai. Keadaan justru bertambah buruk. Belasan mobil berat barusan berhenti mendadak. Semua personil yang ada di dalamnya berhamburan turun.

Aro berbelok lagi. Menuju suatu bangunan. Mataku melebar seketika melihatnya. Gedung di depan kami adalah pusat mall terkenal di negara ini. Cabangnya sudah merata di berbagai kota. Bangunan tersebut bercahaya terang, menggunakan dinding kaca yang langsung memperlihatkan aktivitas ramai di dalam.

Dan Anak ini akan membawa pasukan tadi ke sana?

Aku melepas kedua tananku dari tubuh Aro. Sumpah ini sedikit memalukan, tapi bagaimana lagi.

Aro melaju di halaman gedung yang luas. Kecepatannya tidak berkurang. Beberapa penjaga berteriak, mencoba menghentikan.

Namun itu sia-sia. Aro terus memacu motornya. Terpenting pasukan di belakang kehilangang jejak.

Sampai tepat di hadapan bangunan Mall. Aro mulai menarik rem. Laju motor terhenti. Beberapa orang yang beridiri di depan pintu bangunan termangu.

Aro segera turun. Air menetes dari pakaian basah kami. Berlari cepat melewati pintu. Aku mengikutinya di belakang. Mulai masuk. Hiruk pikuk dalam mall langsung menyeruak suasana. Terasa pekat. Mall ini sangat besar dan luas. Model bangunannya juga tak kalah menakjubkan. Dari lantai satu pengunjung akan melihat lantai-lantai di atasnya karena bangunan sengaja di buat bolong tengah yang cukup lebar hingga langit-langit lantai paling tinggi. Menampakkan singkat aktifitas di lantai lainnya. Empat pilar besar menopang seluruh bobot bangunan ini, tak luput satu lift dengan komponen kaca tepat di tengah ruangan –yang memungkinkan para pengunjung melihat pemandangan seluruh mall ketika di dalamnya, terlihat megah dan mewah–walau masih banyak lift lagi di sisi bangunan, lengkap dengan jembatan penghubung untuk sampai pada lantai tersebut.

Beberapa orang terlihat sadar dan langsung menyorot kami. Tidak peduli, aku, Aro terus berlari membaur dengan pengunjung mall lainnya.

Aktivitas di dalamnya memang sedikit terganggu. Pertama kami hadapkan dengan produk otomotif. Seorang seller baru saja terkejut begitu kami melewatinya. Lanjut mesin, dan alat-alat rumahan, bertemu mesin cuci dan kulkas. Beberapa detik, puluhan meter berhasil kami lewati. Lari kami sangat cepat. Berkelit-kelit menghindar di antara pengunjung mall.

Tapi ini akan membahayakan pengunjung yang lain.

“Kau sama saja membawa pasukan itu ke tempat ini” Aku berkata.

Aro menoleh. “Baguslah, itu akan membuat mereka enggan mengeluarkan peluru”

Aku termangu menatapnya, entah bisa di benarkan atau tidak. Tapi para petugas akan tetap berfikir panjang untuk menembakan satu peluru saja.

Terus berlari, tidak peduli pakaian basah kuyup dan mengotori ubin indah bangunan.

"Hentikan anak itu!!!" Seseorang berteriak. Aku menoleh sedikit. Memang, beberapa petugas mulai menyusul di belakang. Tapi itu jauh sekali, hanya suaranya yang terdengar lantang. Tapi itu cukup membuat suasana mall tertahan sebentar. Orang-orang terdiam menatap gerombolan pasukan berpakaian serba hitam yang mulai menyebar di dalam bangunan.

"SIALAN!!!! SIAPAPUN TANGKAP MONSTER ITU!! DIA HAMA NEGARA!!!!" Salah satu petugas berteriak lebih kuat. Suaranya mengekang senyap.

Aku tersentak, gejolak hati segera menaik. Apa yang dia bilang tadi? Aku? Hama negara? Dia siapa bilang gitu? Akan ku tunjukkan siapa yang hama?

Semua orang berpindah mata ke padaku.

Langkahku tertahan. Mulai memutar tubuh.

Marahku terlanjur menggumpal. Siapa yang terima di tunding seperti itu di depan umum.

Aro ikut tertahan. Menatapku seketika. "Hey Ila, tahan emosimu" Tangannya segera membelai tanganku.

Sedikit terkesima, perasaanku langsung mencius. Menatap tangan yang dia pegang lalu berganti ke wajahnya –dia memang dirias seperti bukan dirinya lagi. Tapi yang ku lihat tetaplah sesosok lelaki itu dengan wajah tetap tenang dan optimis.

“Lift tinggal beberapa langkah lagi, kita harus segera menghilangkan jejak” Terang lelaki itu.

Anak rambut meneteskan air ke wajah. Aku menelan ludah. Baiklah. Kembali membalik arah. Pegangan tangannya terlepas. Lanjut berlari. Menuju lift. Kebetulan sedang terbuka.

Kami berhasil masuk. Bersama beberapa pengunjung mall random. Pitu lift tertutup.

Sementara petugas tertinggal puluhan meter di belakang sana. Lantai pertama di gedung ini sengaja di buat melapang tanpa sekat tembok satupun. Begitu lift mulai menaik, kami dapat melihat semuanya. Orang-orang di lantai satu, juga para pasukan yang mulai mengisi seperempat ruangan.

Lift mendesing lembut. Naik perlahan.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!