Indonesia
NovelToon NovelToon
Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.

Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.

Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.

Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Ujian Terakhir

Dua minggu berlalu dengan sangat cepat bagaikan hembusan angin musim kemarau.

Hari ini adalah hari penentuan bagi seluruh siswa kelas tiga belas SMA elit tersebut.

Ujian akhir nasional telah memasuki hari terakhir dengan mata pelajaran fisika tingkat lanjut yang terkenal sangat mematikan.

Suasana di dalam ruang ujian terasa sangat tegang dan mencekam.

Hanya suara gesekan mata pensil di atas kertas yang terdengar mendominasi ruangan yang dingin oleh pendingin udara tersebut.

Bayu duduk dengan tenang di bangkunya yang berada di pojok belakang kelas.

Tangannya bergerak sangat lincah mengisi setiap lembar jawaban tanpa ragu sedikit pun.

Bagi murid biasa, soal-soal rumus mekanika kuantum dan termodinamika ini adalah mimpi buruk yang membuat kepala berasap.

Namun bagi Bayu, otak yang telah disempurnakan oleh energi giok hijau membuat semua soal itu terlihat seperti tebakan anak taman kanak-kanak.

Hanya dalam waktu lima belas menit, Bayu sudah menutup lembar soal dan jawabannya rapat-rapat.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada, dan memejamkan mata untuk beristirahat.

Di meja pengawas yang berada di depan kelas, Bu Rina duduk dengan postur tegak yang sangat anggun.

Namun, di balik kacamata bacanya, mata guru biologi itu terus-menerus mencuri pandang ke arah pojok belakang kelas.

Melihat dada bidang Bayu yang naik turun secara teratur saat bernapas membuat napas Bu Rina sendiri ikut menjadi sedikit lebih berat.

Ingatan tentang malam liar di atas kasur sempit kontrakan Bayu kembali berputar di kepalanya, memancing cairan hangat yang membuat duduknya terasa sangat tidak nyaman.

"Tahan, Rina, ini ruang ujian," batin Bu Rina merutuki dirinya sendiri sambil menyilangkan kakinya lebih rapat.

Di barisan tengah, Natasha juga diam-diam melirik ke arah Bayu.

Gadis primadona itu menggigit ujung pensilnya dengan frustrasi.

Bukan karena soal fisika di depannya, melainkan karena perasaannya yang semakin tidak terkendali setiap kali melihat pemuda itu.

Sejak kejadian makan siang di atap sekolah tempo hari, Bayu sengaja menjaga jarak dan membiarkan Natasha tersiksa oleh rasa penasarannya sendiri.

Teng! Tong! Teng!

Bel tanda berakhirnya ujian berbunyi nyaring, memicu helaan napas lega serentak dari puluhan murid di kelas itu.

"Waktu habis, letakkan pensil kalian dan kumpulkan lembar jawaban ke depan," perintah Bu Rina dengan suara tegas yang dipaksakan.

Bayu bangkit dari kursinya, berjalan santai menuju meja pengawas dan meletakkan lembar jawabannya.

Saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, Bu Rina menahan napas dan pipinya langsung merona merah.

Bayu hanya memberikan senyum tipis yang sangat mematikan, lalu melangkah keluar dari kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Natasha buru-buru mengumpulkan kertasnya, berniat mengejar Bayu ke koridor.

Namun, saat gadis itu sampai di luar pintu kelas, sosok Bayu sudah menghilang di antara kerumunan murid yang merayakan kebebasan mereka.

Bayu berjalan menjauhi keramaian koridor utama.

Dia ingin mencari tempat sepi untuk menenangkan pikirannya sebelum pulang dan mengurus pesanan Pil Vitalitas yang terus mengalir dari rekan-rekan elit Siska.

Langkahnya membawa pemuda itu menuju area belakang sekolah yang berbatasan langsung dengan tembok pembatas tinggi.

Tempat itu merupakan area pembakaran sampah lama dan gudang barang bekas yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan.

Rumput liar tumbuh setinggi lutut, dan bau tanah lembap mendominasi udara di sekitarnya.

Suasananya sangat sepi, sangat kontras dengan hiruk pikuk perayaan di gedung utama sekolah.

Srak. Srak.

Langkah kaki Bayu terhenti tepat di tengah halaman belakang yang luas tersebut.

Angin tiba-tiba berhembus membawa bau amis darah yang sangat pekat, menutupi bau tanah basah.

Giok hijau di telapak tangan kanan Bayu mendadak berdenyut panas, memberikan peringatan akan adanya bahaya yang mendekat.

Bayu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, matanya menatap tajam ke arah bayangan gelap di balik gudang usang.

"Bersembunyi di balik bau sampah tidak akan menutupi bau busuk dari tubuhmu," ucap Bayu dengan suara dingin yang membelah keheningan.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki yang berat dan diseret terdengar keluar dari balik bayangan gudang tersebut.

Sosok yang muncul membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan merinding ketakutan.

Itu adalah Kevin, namun penampilannya tidak lagi terlihat seperti manusia normal.

Seragam sekolahnya robek di bagian lengan dan dada, tidak muat lagi menampung otot-ototnya yang membengkak tidak wajar.

Urat-urat berwarna hitam pekat menonjol keluar dari leher hingga ke pelipisnya.

Bola mata anak orang kaya yang tadinya penuh kesombongan itu kini berubah menjadi merah darah dengan pupil yang mengecil.

Mulutnya terus-menerus meneteskan liur kental bercampur darah kehitaman.

"Bayu..." panggil Kevin dengan suara yang sangat serak dan bergema, seolah ada dua pita suara yang berbicara bersamaan.

Bayu tetap berdiri dengan tenang, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan raut keterkejutan atau ketakutan.

Mata tabib dewanya langsung memindai kondisi tubuh Kevin dalam hitungan detik.

"Pil Racun Tulang Hitam," gumam Bayu datar.

"Kau benar-benar sudah gila, merelakan nyawamu sendiri hanya demi dendam murahan seperti ini."

Kevin tertawa meledak, tawanya terdengar seperti suara besi yang digesekkan ke batu.

Hahaha!

"Nyawa? Aku sudah mati sejak kau dan kakek tua bangka itu menghancurkan keluargaku!" raung Kevin sambil menunjuk wajah Bayu dengan jari yang gemetar.

"Semua hartaku dirampas, masa depanku dihancurkan, dan kau merebut Natasha dariku!"

"Hari ini, aku akan mencabut nyawamu, mencabik-cabik dagingmu, dan meminum darahmu sampai habis!"

Kevin tidak membuang waktu lebih lama lagi.

Kedua kakinya menjejak tanah dengan kekuatan yang sangat brutal hingga menciptakan kawah kecil di bawah sepatu bekasnya.

Wush!

Tubuh Kevin melesat ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu.

Hanya dalam sekejap mata, dia sudah berada tepat di hadapan Bayu.

Kepalan tangan Kevin yang sekeras batu melayang deras mengarah ke pelipis Bayu.

Angin dari pukulan itu bahkan membuat rambut Bayu berantakan sebelum tinjunya mendarat.

Srak!

Bayu memiringkan tubuhnya ke belakang dengan refleks tingkat tinggi dari giok hijaunya.

Pukulan mematikan itu hanya mengenai ruang kosong.

Brak!

Kepalan tangan Kevin terus melaju dan menghantam dinding bata gudang tua di belakang Bayu.

Dinding tebal itu langsung hancur berantakan, debu bata merah berhamburan ke udara.

Tenaga fisik Kevin benar-benar telah meningkat sepuluh kali lipat melampaui batas manusia biasa berkat mutasi racun tersebut.

Bayu memutar tubuhnya, tangan kanannya melesat mengincar titik saraf lumpuh di pangkal leher Kevin, persis seperti yang dia lakukan di dalam kelas dulu.

Tuk!

Jari telunjuk dan tengah Bayu menusuk akurat ke titik nadi tersebut.

Namun, kali ini hasilnya sama sekali berbeda.

Bukannya tumbang kesakitan, Kevin justru memutar kepalanya dan menatap Bayu dengan senyum psikopat yang mengerikan.

"Kau pikir trik murahan itu masih mempan padaku, gembel?" ejek Kevin.

Sistem saraf Kevin sudah sepenuhnya mati rasa oleh racun, dia tidak lagi bisa merasakan sakit kelumpuhan dari titik akupunktur biasa.

Sebelum Bayu sempat menarik tangannya, tangan kiri Kevin bergerak secepat kilat menangkap pergelangan tangan Bayu.

Grep!

Cengkeraman Kevin terasa seperti penjepit baja panas yang berniat meremukkan tulang lengan Bayu.

Kevin mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkan sikunya tepat ke dada Bayu.

"Mati kau!" teriak Kevin gila.

Bayu tidak panik.

Giok hijau di telapak tangannya berdenyut sangat keras, mengalirkan energi chi murni yang membakar ke seluruh pembuluh darahnya.

Hawa panas meledak dari tubuh Bayu, membuat udara di sekitar mereka bergetar hebat.

Bayu memusatkan energi itu ke kaki kirinya, lalu menendang dada Kevin dengan kekuatan penuh sebelum siku monster itu mengenainya.

Duaghh!!!

Suara benturan tumpul terdengar sangat keras, layaknya truk yang menabrak dinding baja.

Cengkeraman Kevin terlepas.

Tubuh besar Kevin terpental mundur sejauh lima meter, kakinya terseret di atas tanah hingga meninggalkan dua garis parit yang dalam.

Kevin terbatuk pelan, memuntahkan sedikit darah hitam dari mulutnya, namun dia sama sekali tidak terlihat kesakitan.

Dia justru menyeka mulutnya dan kembali tertawa gila, bersiap menerjang Bayu untuk kedua kalinya.

"Kalau saraf fisiknya sudah mati, maka aku harus menghancurkan organ dalamnya secara langsung," batin Bayu menganalisis situasi dengan tenang.

Bayu mengangkat kedua tangannya di depan dada, memasang kuda-kuda bertarung yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun.

Jari-jarinya membentuk cengkeraman setengah terbuka, mengalirkan energi hijau yang kini terlihat samar-samar menyelimuti kedua tangannya layaknya kabut tipis.

Itu adalah wujud dari teknik bela diri internal Tabib Dewa tingkat pertama, Tapak Pemutus Nadi.

Kevin meraung keras dan kembali melesat maju, mengayunkan kedua lengannya secara membabi buta layaknya gorila yang mengamuk.

Trang! Trang! Trang!

Bayu menangkis setiap pukulan berat Kevin dengan punggung tangannya yang kini sekeras berlian berkat lapisan energi giok.

Setiap kali kulit mereka bersentuhan, suara benturan keras menggema di area sunyi tersebut.

Kevin terus menekan dengan kekuatan kasarnya, sementara Bayu bergerak mundur secara perlahan dan terukur, mencari celah yang pas.

"Teruslah menghindar, tikus pengecut!" maki Kevin bertubi-tubi.

Tiba-tiba, Kevin melakukan kesalahan fatal karena terlalu terbawa emosi.

Dia mengangkat kedua tangannya terlalu tinggi untuk melakukan pukulan dari atas ke bawah, membiarkan dada bagian kirinya terbuka lebar.

Mata Bayu berkilat dingin.

"Sekarang," desis Bayu pelan.

Bayu merendahkan tubuhnya, menghindari serangan dari atas, lalu melesat maju bagaikan peluru.

Telapak tangan kanan Bayu yang dipenuhi kabut energi hijau menghantam tepat di tengah-tengah ulu hati Kevin.

Wushhh!!! Bam!!!

Gelombang energi yang sangat besar meledak dari telapak tangan Bayu, menembus lapisan otot Kevin yang keras dan langsung menghantam jantung organ dalamnya.

Uhuk!

Mata Kevin membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya.

Untuk pertama kalinya sejak meminum pil racun itu, tubuh Kevin merasakan rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan.

Bukan sakit di kulit, melainkan rasa sakit karena organ dalamnya seolah dipelintir dan dibakar dari dalam.

Tubuh raksasa Kevin terpental melayang ke udara sejauh belasan meter.

Brak!!!

Kevin menghantam tumpukan seng berkarat dengan sangat keras, lalu jatuh berguling-guling di tanah tanpa daya.

Darah hitam menyembur deras dari mulut, hidung, dan telinganya.

Napasnya tersengal putus-putus, tubuhnya kembali kejang-kejang saat efek racun di dalam darahnya mulai kehilangan kendali karena benturan energi murni milik Bayu.

Bayu menurunkan tangannya, menghembuskan napas panjang yang sedikit berasap karena suhu tubuhnya yang meningkat.

Dia menatap tubuh Kevin yang kini sedang menunggu ajal dengan tatapan tanpa belas kasihan sedikit pun.

Prok. Prok. Prok.

Suara tepukan tangan yang sangat pelan dan ritmis tiba-tiba terdengar dari atas tembok pembatas sekolah.

Bayu mengangkat wajahnya, menatap ke arah sumber suara dengan kewaspadaan yang kembali meningkat tajam.

Seorang pria tua berjubah hitam dengan wajah penuh bekas luka sayatan melompat turun dari tembok setinggi tiga meter itu dengan seringan kapas.

Tap.

Pria tua itu mendarat tanpa suara, lalu berjalan santai menghampiri Bayu dengan mata kirinya yang memancarkan niat membunuh yang sangat pekat.

"Luar biasa, teknik Tapak Pemutus Nadi yang sangat sempurna untuk ukuran seorang bocah ingusan," puji pria tua itu dengan suara serak yang menggores telinga.

Bayu menatap mata pria tua itu, merasakan energi gelap dan beracun yang menguar kuat dari tubuh rentanya.

"Kau yang memberikan pil sampah itu pada Kevin?" tanya Bayu datar.

Ki Darmo tersenyum menyeringai, memperlihatkan giginya yang kekuningan.

"Bocah bodoh itu hanya alat ujiku untuk memastikan bahwa kau benar-benar pewaris Tabib Dewa yang kucari."

"Sudah tiga puluh tahun aku berkeliling mencari sisa-sisa perguruan sialan itu."

"Tidak kusangka, hari ini aku bisa membalaskan dendamku dan mencabut jantung pewaris terakhirnya di tempat kumuh ini."

Ki Darmo mengangkat kedua tangannya yang kurus kering bak tengkorak.

Kuku-kukunya yang hitam dan panjang tiba-tiba memancarkan asap tipis berwarna ungu kemerahan yang sangat beracun.

Ini bukan lagi pertarungan anak sekolahan atau preman jalanan.

Ini adalah pertarungan hidup dan mati antara dua ahli bela diri internal tingkat tinggi yang akan menentukan siapa penguasa sebenarnya di dunia bawah.

Bayu menyeringai tipis, giok di telapak tangannya berdenyut semakin kencang, seolah sangat haus akan pertarungan ini.

"Kalau begitu, mari kita lihat apakah tulang tuamu itu cukup keras untuk menahan seranganku," tantang Bayu dengan mata sedingin es.

1
syarif ibrahim
👍👍👍💪
syarif ibrahim
tidak perlu jendral, karena cucumu sdh jadi milikku... 🤣🤣🤣🤣🤣
syarif ibrahim
terbalik bab nya
Yui: Terimakasih atas koreksinya kak😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!