Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:132
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Di tempat perkemahan, matahari makin condong ke barat, namun tak ada tanda-tanda kepulangan mereka. Semua orang tak tenang. Amar yang pergi menyusul juga belum kembali, dan kecemasan perlahan menyelimuti wajah mereka.

"Mereka belum pulang..." gumam Toni sambil terus Menatap jalan setapak yang tertutup pepohonan.

Hendrik mengangguk pelan, meski hatinya juga gelisah. "Kita tunggu sebentar lagi. Jika sampai tak kunjung kembali, kita akan menyusul ke sana."

Natalia tak bisa duduk tenang, mondar-mandir sesekali melirik ke arah sungai. Ia tahu Danu tangguh, tapi bayangan yang tak diinginkan terus menghantui pikirannya. Mega mendekat, meletakkan tangan di bahunya, mencoba menenangkan meski dirinya sendiri juga cemas.

Di kejauhan, bayangan akhirnya muncul — tiga orang berjalan beriringan, meski langkah mereka berat dan wajah mereka penuh debu serta lelah.

"Itu mereka!" seru Wenda pelan.

Semua orang segera bangkit dan menyambut kedatangan mereka. Namun saat melihat hanya Danu, Rafli, dan Amar yang kembali, wajah mereka seketika berubah cemas.

"Di mana Andri? Zacky?" tanya Toni segera.

Suasana hening seketika. Danu menunduk, napasnya berat.

"Mereka pergi..." jawab Rafli pelan. "Mereka sengaja meninggalkan Danu, dan Andri... dia juga yang menjebak Danu di dalam rumah pemukiman warga."

Keterkejutan melanda wajah semua orang. Natalia menatap Danu tak percaya, lalu mendekat memastikan ia baik-baik saja.

"aku melihat mereka membawa persediaan makanan, obat-obatan, dan senjata..." tambah Amar. "aku kira mereka kabur karena ada zombie, ternyata Andri dan Zacky meninggalkan Danu di sana dengan para zombie yg sudah mengepung."

Danu mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu. "Tak apa-apa. Yang penting kalian semua selamat. Kita akan bertahan dengan apa yang ada. Mulai sekarang, kita perketat penjagaan. Tak ada yang boleh pergi sendirian."

Malam itu suasana lebih dingin dari biasanya. Kepercayaan yang dulu menyatukan mereka kini retak, dan bahaya dari luar belumlah satu-satunya yang harus diwaspadai.

Malam hari nya hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Angin kencang berhembus kencang, membuat nyala api unggun meliuk-liuk nyaris padam. Rafli dan Toni mendongak ke langit, melihat gumpalan awan hitam yang makin menebal menutupi bintang.

"Sepertinya hujan lebat akan turun malam ini," ucap Rafli pelan.

Toni mengangguk setuju. "Semoga tenda kita kuat menahan badai ini."

Rafli menarik napas, lalu menatap mereka semua. "Sebenarnya... tadi aku menemukan tempat yang jauh lebih aman untuk kita berlindung."

"Tempat apa?" tanya Danu segera.

"Sebuah toko besar. Bangunannya kokoh, di dalamnya ada persediaan makanan yang melimpah, kamar mandi, hingga kamar tidur. kita bisa berlindung di tempat itu, aman dari mayat hidup dan badai," jelas Rafli.

Danu menatap sekeliling, lalu mengangguk mantap. "baiklah jika ada ingin ke sana, kita berangkat."

Simon yang duduk di samping Sheena segera menyahut. "Kami setuju. Kasihan Sheena anak kecil ini harus tidur di luar begini."

"Baiklah... kita berangkat sekarang!" perintah Danu.

Mereka segera membereskan segala barang, memadamkan sisa api, lalu bergerak beriringan meninggalkan tepian sungai — menuju tempat yang diharapkan menjadi perlindungan baru yang lebih aman. Langkah kaki mereka cepat, karena di belakang, langit sudah mulai menggelegar dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi.

Mereka melangkah menyusuri jalan di belakang deretan rumah warga, jalur yang dipilih Rafli karena dinilai lebih aman dan tersembunyi. Setiap langkah diambil dengan hati-hati, mata mengawasi setiap sudut gelap, telinga menangkap suara sekecil apa pun.

Tak lama kemudian, atap bangunan yang kokoh mulai terlihat di kejauhan — tempat yang dimaksud Rafli.

"Itu dia... ayo cepat masuk!" bisik Rafli.

Semua orang bergerak cepat namun tenang, mendekati pintu toko yang ternyata masih terkunci rapat. Rafli segera membukanya, mempersilakan mereka masuk satu per satu. Mereka melangkah masuk dengan napas tertahan, takut ada suara yang menarik perhatian makhluk di luar.

Pintu ditutup dan dikunci kembali dari dalam. Ruangan itu remang, namun cukup untuk melihat sekeliling — rak-rak yang masih penuh, lantai yang bersih, dan udara yang terasa sejuk dan aman. Mereka akhirnya bisa berhenti berlari, berhenti bersembunyi sembunyi, setidaknya untuk malam ini.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!