Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Entah kenapa, menurut Theo malam ini serasa berbeda dari malam sebelumnya. Ia merasa suasana malam ini terasa berbeda. keheningan seketika pecah ketika suara adzan isya berkumandang. Theo beserta Tiara dan Bu Sri bergegas bersiap untuk menuju ke masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Malam semakin larut ketika Theo, Tiara, dan Bu Sri baru saja kembali dari masjid desa usai menunaikan salat Isya berjamaah. Langkah kaki mereka menyusuri jalanan desa yang tak terlalu terang karena sorot lampu jalannya memang masih sedikit terbatas.
Mereka berjalan beriringan dengan beberapa warga lain yang juga menunaikan sholat berjamaah di masjid. Sesekali mereka berbincang untuk memecah kedinginan malam yang terasa menusuk ke tulang. Satu persatu warna mulai masuk dan berbelok merubah arah menuju ke rumah mereka masing masing. Hingga tersisa keluarga Theo dan juga keluarga Joko yang kebetulan memang gang rumahnya tepat di selatan rumah milik keluarga Theo. Mereka tampak berbincang santai sembari berjalan.
"Mas Joko punya kenalan yang bisa nyupir nggak mas?" tanya Theo.
" kenapa memangnya?" tanya Joko.
"Saya butuh temen buat gantian nyupir ke Jakarta Mas. Mau selesaikan urusan disana sebelum menetap disini." ucap Theo.
"saya juga bisa si Mas sebenernya." ucap Joko.
"hussh ngawur... Kalau kamu pergi sama Theo, siapa yang urus peternakan. Cari yang lain saja, jangan kamu." ucap Bu Sri yang melarang Joko untuk menemani Theo ke Jakarta.
"Yaudah besok saya minta mas Yayan ke rumah. Dia juga kan memang tugasnya mengirimkan daging hewan potong kita ke pedangan langganan." ucap Joko.
"nah iya Yayan saja, lagian dia kan memang biasa bawa mobil jauh, jadi uti lebih nyaman kamu sama Yayan, Theo." ucap Bu Sri yang kali ini setuju usulan Joko agar Theo mengajak Yayan.
"baik kalo gitu,.minta tolong sama Mas Joko buat suruh Mas Yayan ke rumah besok pagi ya Pak." ucap Theo.
"siap mas, aman." jawab Joko sebelum akhirnya mereka berpisah karena Joko berbelok menuju ke gang kecil yang merupakan jalan menuju ke rumahnya.
.
.
Begitu tiba di dalam rumah, situasi kontras langsung terasa. Mereka berkumpul di ruang tamu yang luas dengan sentuhan desain Eropa lama berhiaskan lukisan dan lampu bohlam putih terang yang sengaja dinyalakan untuk mengusir rasa penat dan sisa-sisa kengerian di luar sana.
Sambil duduk bersantai di sofa empuk bersama sang istri dan neneknya, Theo menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pembicaraan serius yang sudah dipikirkannya sejak sore tadi.
"Uti, Tiara..." ucap Theo memulai pembicaraan dengan nada hati-hati. Ia menatap bergantian ke arah wanita paruh baya dan istrinya itu. "Sepertinya aku harus kembali ke Jakarta dalam beberapa hari deh. Banyak hal yang harus aku selesaikan disana, termasuk kerjaan dan rumah di Jakarta juga."
Bu Sri yang duduk di samping Tiara mengangguk pelan, memahami tanggung jawab cucunya. "Iya, Le. Uti paham, urusan di kota sana memang harus diselesaikan dulu biar di sini kalian bisa tenang."
Theo melirik Tiara.
"sayang, kamu disini aja ya sama Uti. Kasihan kalau uti dirumah sendirian. Kamu nggak apa apakan sayang?" tanya Theo dengan nada lembut.
Tiara langsung tersenyum menenangkan, lalu menggenggam lengan suaminya. "Iya, Sayang. Kamu nggak usah khawatir berlebihan. Aku kan di sini nemenin Uti, jadi kamu bisa fokus menyelesaikan urusan kamu di Jakarta dengan cepat."
Mendengar jawaban tulus dari Tiara, beban di pundak Theo sedikit terangkat. Bu Sri turut tersenyum hangat, mengelus punggung tangan cucunya dengan penuh kasih sayang.
"kalian pokoknya jaga diri baik baik disini, kalau ada apa apa hubungi aku secepatnya ya." ucap Theo.
"Sudah, Le. Jangan terlalu cemas begitu. Uti dan Tiara akan baik-baik saja di rumah ini. Kamu selesaikan saja urusanmu, tapi ingat, jangan lama-lama perginya," pesan Bu Sri lembut.
"yasudah, kalian ke kamar istirahat. Uti juga mau ke kamar." jawab Bu Sri sambil beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke kamarnya.
Langkah kaki Theo dan Tiara menyusuri koridor lantai dua yang temaram sebelum akhirnya mengayun masuk ke dalam kamar tidur pribadi Theo.
Kamar itu begitu luas dengan dinding bercat putih bersih yang berpadu apik dengan gaya arsitektur Eropa klasik. Di sudut ruangan, berjejer rapi barang-barang peninggalan masa remaja Theo sebelum teror mengerikan di masa SMP memaksanya meninggalkan rumah ini. Sebuah komputer model lama, televisi tabung kecil, serta konsol PlayStation lawas masih tampak tergeletak di atas rak tv dengan rapi, seolah membeku dalam waktu dan menanti sang pemilik kembali menyalakannya.
Setelah lelah beraktivitas seharian, Theo dan Tiara melangkah ke arah springbed berukuran besar yang berada di tengah kamar. Mereka merebahkan tubuh yang penat.
Sambil menatap langit-langit kamar yang tinggi, Theo mulai membuka obrolan ringan dengan istrinya.
"Sayang, besok lusa kalau aku sudah sampai di Jakarta, hal pertama yang mau aku beresin itu urusan serah terima pekerjaan di kantor lama, terus lanjut ke rumah mama sama papa kamu untuk berpamitan serta menyerahkan kunci rumah kepada mereka. Paling aku mau ambil beberapa barang yang penting aja dirumah kita yang di Jakarta." ucap Theo sambil membelai rambut Tiara yang berbaring di sampingnya.
Tiara mendengarkan dengan penuh perhatian, sebelah tangannya memainkan ujung selimut. "Iya, Sayang."
"Tenang saja, Paling butuh waktu dua sampai tiga hari maksimal, habis itu aku langsung balik lagi kesini." balas Theo meyakinkan, menoleh dan tersenyum hangat pada istrinya.
Tiara mengangguk kecil, merasa lega mendengar rencana suaminya yang terstruktur. "Baguslah kalau begitu. Aku juga nanti di sini bisa sambil bantu-bantu Uti merapikan rumah dan mengenal lingkungan sekitar lebih jauh lagi. Jadi, kamu nggak usah terlalu khawatir pas di Jakarta nanti, ya, Sayang."
Namun, di tengah kehangatan obrolan malam itu, tepat saat tawa kecil Tiara mereda, suasana kamar mendadak berubah hening.
Angin malam berembus pelan, menggetarkan kaca jendela besar yang menghadap ke arah halaman belakang. Di sela-sela desau angin tersebut, telinga mereka menangkap sesuatu yang membuat debaran jantung keduanya mendadak berhenti.
Sayup-sayup, terdengar suara seorang wanita menangis lirih. Suaranya terdengar sangat pilu, gemetar, dan tertahan di balik kepekatan malam—entah berasal dari sudut kamar itu, atau merambat naik dari kegelapan di luar jendela lantai dua.
Sekujur tubuh Theo dan Tiara mendadak menegang. Percakapan ringan yang tadinya menghangatkan kamar seketika menguap, digantikan oleh kesunyian mencekam yang hanya diisi oleh suara isak tangis lirih dari sumber yang tidak kasat mata.
"mas." ucap Tiara sambil menajamkan pendengarannya. Ia ingin memastikan dengan betul suara tangisan pilu seorang wanita yang masuk kedalam indera pendengarannya.
Theo yang menyadari istrinya tampak ketakutan, langsung bangkit dari posisi berbaringnya, menarik Tiara agar berada sedikit di belakang punggungnya. Mata tajamnya menatap lekat ke arah jendela besar berbalut tirai putih tipis yang menutupi kaca.
"Kamu... kamu dengar itu juga, Sayang?" bisik Theo tertahan, napasnya mulai memburu dan keringat dingin merayapi pelipisnya.
Tiara mencengkeram erat ujung baju suaminya, tubuhnya bergetar hebat. Matanya terbuka lebar menatap ke arah yang sama dengan tatapan penuh teror. "Dengar, Mas... Suara itu dekat banget. Ya Allah, suara apa itu? Kok jam segini ada perempuan nangis di luar?.." suara Tiara bergetar ketakutan, dadanya naik turun tak beraturan.
Theo menelan ludah yang terasa kelat. Pikirannya langsung melayang pada bayangan-bayangan ngeri masa lalu dan rintihan yang sempat didengar oleh Uti sehari sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri tegak.
"Jangan-jangan..." kalimat Theo menggantung di udara.
Belum sempat Theo menyelesaikan ucapannya, hawa di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat dingin menusuk tulang. Bau busuk yang menyengat bercampur aroma bunga melayu layu tiba-tiba menyeruak memenuhi ruangan.
Di saat yang bersamaan, tepat di balik tirai putih jendela kamar yang temaram tersiram cahaya bulan, bayangan putih dan tinggi perlahan-lahan bergerak.
*Deg!*
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨