Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Esok paginya, aula utama Clan Kabut Dingin dipenuhi dengan puluhan orang.
Ketua Cyrus, dengan jubah putih kebesarannya, menatap seluruh anggota Clan yang berdiri berbaris rapi di hadapannya.
“Dengarkan baik-baik semua! Mulai hari ini, Ryan adalah keluarga kita. Tidak ada perdebatan, tidak ada keraguan. Aku sendiri yang mengakuinya sebagai anggota resmi Clan Kabut Dingin.”
Bisik-bisik langsung terdengar di antara para tetua dan murid muda.
Zenith tampak menahan senyum haru karena putranya akhirnya diterima, sementara beberapa tetua mengangguk setuju.
Namun tidak semua orang senang.
Dari barisan sebelah kanan, terlihat Asdar yang selalu dikenal ambisius mengerutkan dahi, sedangkan Erik, pewaris sah Clan Kabut Dingin saat ini, menatap Ryan dengan mata tajam penuh kebencian.
Baginya, kedatangan Ryan hanyalah ancaman yang bisa menggoyahkan posisinya.
"Namun.." Ketua Cyrus melanjutkan. “ketahuilah, aku juga memutuskan Ryan untuk tidak menjadi pewaris Clan Kabut Dingin ini.”
Seketika seluruh ruangan bergemuruh.
"Apa?! Kenapa begitu, ketua?"
“Ryan adalah anak yang luar biasa! Dia jelas memiliki potensi yang lebih besar daripada pewaris manapun!”
“Benar! Dari pertarungan kemarin saja, dia sudah membuktikan dirinya.”
"Ku rasa Ryan lah satu-satunya nya yang berhak menjadi pewaris"
Tetua-tetua yang mendukung Ryan langsung melontarkan argumen mereka dengan penuh semangat.
Namun suara keras terdengar dari sisi lain. “Aku setuju dengan keputusan Ketua,” ucap Asdar dingin. “Ryan adalah orang baru. Tidak masuk akal jika tiba-tiba dia muncul dan merebut kursi pewaris. Tradisi kita tidak bisa dilanggar begitu saja.”
“Benar!” tambah Tetua Nandai. “Darah asing mengalir dalam dirinya. Dia tidak layak memimpin Clan Kabut Dingin.”
Perdebatan semakin panas.
Para tetua saling balas argumen, sebagian mendukung Ryan, sebagian menentangnya.
“Diam!” Bentak Ketua Cyrus, Semua segera terdiam, wajah mereka menegang.
Cyrus menatap seluruh hadirin dengan sorot mata tajam. “Alasanku sederhana. Ryan memang memiliki bakat besar, bahkan mungkin melebihi semua pemuda di sini. Namun… darah Kyros, sang pendekar petir, mengalir dalam dirinya. Dia adalah keturunan Clan Awan Petir. Karena itu, aku memutuskan untuk menugaskannya merebut tahta Clan Awan Petir!”
Sejenak hening, lalu sorak kagum memenuhi ruangan.
“Luar biasa! Ide yang brilian, Ketua!”
“Benar, jika dia berhasil menjadi pemimpin Clan Awan Petir, maka kekuatan kita akan berlipat ganda!”
“Clan Kabut Dingin akan memiliki pengaruh yang tak tertandingi!”
Para tetua yang semula ragu kini berubah bersinar-sinar, memahami rencana besar yang tersembunyi di balik keputusan Cyrus.
Ryan menundukkan kepala. ‘Ho… jadi mereka ingin menjadikanku alat politik? Semakin menarik. Aku akan mengikuti nya, karena dengan Dengan begitu, mereka tidak akan pernah mencurigai diriku sebagai anggota Kultus Iblis.’
Ketua Cyrus kembali menatap Ryan. “Ryan, kau harus tahu. Saat ini, Clan Awan Petir adalah Clan terkuat di seluruh benua. Dan manusia terkuat yang hidup sekarang adalah ayahmu sendiri, Kyros, dia juga ketua dari Aliansi Pedang Tujuh Langit.”
Bisik-bisik kembali terdengar. Nama Kyros bukanlah nama asing.
“Kau memiliki lima saudara di sana,” lanjut Cyrus, “dan mereka semua sedang bersaing merebut tahta. Jika kau ingin diakui sebagai anggota Clan Awan Petir, kau harus mengalahkan mereka satu per satu, hingga akhirnya merebut posisi ketua Clan Awan Petir. Itu adalah takdirmu.”
Ryan menatap lurus pada kakek Cyrus, “Kakek… aku tahu saudara-saudaraku pasti kuat. Mereka semua memiliki darah pendekar terkuat, sama seperti aku. Karena itu, aku mohon izin untuk mempelajari Aura Kabut Dingin, teknik khas Clan Kabut Dingin ini. Dengan itu, aku akan memiliki kesempatan dalam menghadapi mereka dan merebut pewaris Clan”
Ruangan mendadak senyap. Semua menunggu jawaban Ketua Cyrus.
Beberapa tetua saling berpandangan.
Permintaan itu bukan hal kecil, Aura Kabut adalah pusaka Clan, hanya diajarkan pada pewaris dan orang yang benar-benar dipercaya.
Ketua Cyrus terdiam sesaat, lalu senyumnya perlahan muncul. “Tentu saja nak. Kau adalah bagian dari Clan Kabut Dingin. Dan aku sendiri yang akan mengajarimu seni rahasia itu.”
Suasana di aula kembali pecah dengan sorakan.
“Luar biasa! Ryan akan menjadi semakin kuat!”
“Dengan kombinasi darah Awan Petir dan Aura Kabut, tak ada yang bisa menghentikannya!”
Ryan tetap menunduk dengan wajah licik. ‘Bagus. Dengan ini, aku telah mendapatkan akses pada rahasia terbesar Clan Kabut Dingin. Aura Kabut Dingin akan menjadi milikku. Semua berjalan sesuai rencana.'
---------------
Siang hari nya...
“Ryan, ayo kita mulai latihanmu. Aku akan mengajarimu semua yang aku tahu,” ucap Kakek Cyrus. “Tapi ingat, pelatihan ini tidak hanya berat… kadang bisa mematikan. Kau harus kuat, bukan hanya demi dirimu, tapi demi kebanggaan Clan.”
“Aku mengerti, Kakek.” Ryan menunduk hormat.
Kakek Cyrus mengangguk, lalu melangkah menuju air terjun besar yang bergemuruh deras di depan mereka.
Namun air terjun itu bukan sekadar pemandangan indah, itu adalah pintu rahasia Clan Kabut Dingin.
Mereka melangkah masuk, menembus derasnya air, dan mendapati sebuah gua besar di baliknya.
Suhu di dalam langsung berubah ekstrem.
Udara dingin menyesakkan paru-paru, dinding gua dipenuhi es, dan kabut tipis menyelimuti lantai bebatuan.
“Tempat ini adalah ruang pelatihan rahasia yang hanya diketahui oleh para pewaris,” ujar Kakek Cyrus. “Sekarang, duduklah di atas batu itu, lalu tarik napas dengan hidung dan keluarkan lewat mulut. Lakukan sampai napasmu mengeluarkan kabut.”
Ryan duduk bersila di atas sebuah batu besar yang dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Ia memejamkan mata, mengatur napas dengan perlahan. ‘Aku harus menyerap energi dingin di sini… lalu menghembuskannya kembali dalam bentuk kabut. Hanya dengan itu aku bisa dianggap berhasil.’
Waktu berjalan lambat.
Dua jam penuh Ryan hanya duduk diam, tubuhnya bergetar karena hawa dingin yang luar biasa.
Namun akhirnya, napasnya berubah, hembusannya menjadi putih, seperti kabut tipis yang menari di udara.
Kakek Ryan melotot tak percaya. ‘Tidak mungkin?! Hanya dua jam dia sudah bisa menguasai nya? Bocah ini benar-benar jenius! Biasanya butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu!’
“Bagus, Ryan. Sekarang kita lanjut ke tahap kedua.”
Ryan membuka mata, menatap kakeknya dengan tekad yang tak tergoyahkan.
“Kali ini,” ujar Cyrus, “kau harus menyalurkan aura ke dalam meridian khusus di tubuhmu, terutama jalur dingin yang ada di punggung dan dada. Tapi hati-hati. Jika salah, darahmu bisa membeku, dan kau akan mati dengan sangat menyakitkan.”
“Baik. Aku akan melakukannya.”
Ryan kembali memejamkan mata. Aura dingin mengalir ke meridiannya.
Tubuhnya langsung diselimuti rasa sakit dingin yang menusuk tulang, seolah ribuan jarum es menghujam dari dalam.
'Sial... Pelatihan ini sangat menyakitkan!'
Berkali-kali ia hampir kehilangan kendali, ia menggertakkan gigi, menahan semuanya.
Hari demi hari berlalu.
Lima hari penuh Ryan hanya duduk bermeditasi, tubuhnya seperti patung es.
Hingga akhirnya, aliran aura dingin itu menyatu sempurna dengan meridian tubuhnya.
“Luar biasa… kau berhasil melakukan nya Ryan!” gumam Kakek Cyrus, wajahnya penuh kekaguman.
'Akhirnya berhasil!... Tenyata tidak terlalu sulit' pikir nya.
“Baiklah, Sekarang kita akan lanjut ke tahap ketiga,” lanjutnya. “Keluarkan aura Kabut Dingin dari pori-porimu, bentuk lapisan tipis kabut putih yang menyelimuti tubuhmu. Pertahankan setidaknya satu jam.”
Ryan mengatur napasnya.
Pelan-pelan, kabut putih keluar dari pori-porinya, membungkus tubuhnya seperti selubung misterius.
Setelah beberapa hari, ia berhasil membuat Satu jam penuh bertahan tanpa kabut itu menghilang.
“bagus sekali. Kau melakukan nya dengan sangat baik, Ryan."
"Sekarang lanjut ke Tahap keempat!” seru Cyrus. “Perkuat kabutmu hingga bisa membekukan tanah dan air di sekitarmu. Jika berhasil, setiap musuh yang melangkah di dalam kabut akan merasa tubuhnya semakin berat, seakan-akan dibekukan dari dalam.”
Ryan berdiri, lalu memusatkan seluruh auranya.
Kabut di sekitarnya semakin padat, semakin dingin.