Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Pagi itu, suasana kediaman Halvar terasa lebih ramai dari biasanya.

Beberapa pelayan sudah sibuk berjalan ke sana kemari untuk membantu Livia di dapur. Sesekali terdengar suara peralatan masak yang saling beradu, memenuhi ruangan dengan kesibukan pagi itu.

Livia bahkan sudah beberapa kali melirik jam dinding sejak selesai menyiapkan sarapan. Tatapannya terus tertuju pada jarum jam, seolah sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

“Leonard, Lionel! Kalian sudah siap belum?”

“Sudah, Ma!” sahut si kembar hampir bersamaan dari lantai atas.

Beberapa saat kemudian, keduanya muncul dengan seragam sekolah yang rapi. Senyum Lionel terpancar cerah saat berhadapan dengan Livia.

Livia mengangguk puas, sebelum akhirnya menyadari satu orang yang belum terlihat.

“Dimana Elara?”

Leonard dan Lionel saling berpandangan.

Benar juga. Sejak tadi mereka tidak melihat adik mereka itu.

Hingga suara langkah kaki mulai terdengar dari arah tangga.

Ketiganya serempak menoleh. Dan untuk sesaat ruangan mendadak hening.

Elara berdiri di anak tangga terakhir dengan seragam sekolah yang sama dengan Leonard dan Lionel.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai rapi di belakang. Sedangkan mata hijaunya yang khas tampak semakin mencolok di bawah cahaya pagi.

Gadis itu mengernyit, menatap mereka satu per satu.

“Kalian kenapa?”

Lionel yang pertama kali tersadar langsung menunjuk ke arahnya.

“Kamu… benar-benar akan membuat satu sekolah jadi ribut hari ini.”

Elara berkedip bingung.

Sedangkan Leonard hanya menghela nafas pelan.

“Untuk pertama kalinya aku setuju dengan Lionel.”

Livia justru tersenyum bangga. “Mama juga setuju. Hari ini Elara terlihat cantik sekali.”

Mendengar pujian itu Elara hanya memiringkan kepalanya. Seolah belum memahami mengapa semua orang memberikan reaksi berlebihan.

Sarapan pagi berlangsung lebih ramai dari biasanya. Keempat putra Halvar kini sudah jauh lebih terbuka dengan kehadiran Elara.

Lionel bahkan beberapa kali melirik Elara yang duduk di seberangnya.

“Kenapa?” tanya Elara yang akhirnya menyadari tatapan itu.

Lionel segera mengalihkan pandangannya. “Tidak.”

“Kamu sudah melihatku sebanyak tujuh belas kali sejak duduk di sana.”

Sendok di tangan Lionel hampir terjatuh.

Leonard yang duduk di sampingnya langsung tertawa. “Dia cuma penasaran apa kamu akan bertingkah aneh di sekolah nanti.”

“Memangnya kapan aku pernah bertingkah aneh?”

Semua keluarga Halvar saling berpandangan mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Elara.

“Tidak sadar diri,” gumam Faresta.

Livia akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya.

Jarum jam menunjukkan waktu yang tepat untuk mereka berangkat. Leonard meraih helmnya, sedangkan Lionel sudah lebih dulu berada di atas motor sambil memainkan gasnya.

“Kita berangkat duluan.”

“Hati-hati di jalan,” ujar Livia.

“Iya, Ma.”

Sebelum pergi Lionel sempat menoleh ke arah Elara yang masih berdiri di depan rumah bersama Livia dan yang lainnya.

“Kalau disekolah ada yang mengganggu dan membuatmu kesal, laporkan saja padaku.”

“Kamu sendiri sering membuat orang kesal, Lio,” sahut Leonard.

“Itu beda.” Lionel berdecak kesal lalu segera menarik gas dan melaju.

Leonard menggeleng pelan sebelum akhirnya menyusul adik kembarnya.

Beberapa saat setelah suara dua motor sport itu menghilang.

“Nona Elara, kita juga harus berangkat,” ujar Paman Surya, supir baru keluarga Halvar yang ditugaskan khusus untuk mengantar jemput Elara.

Elara mengangguk pelan. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia sempat menatap langit pagi. Angin berhembus lembut memainkan ujung rambutnya. Mata hijaunya menyipit seolah merasakan sesuatu.

Namun, beberapa detik kemudian ia melangkah masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, Elara hanya diam menikmati pemandangan kota yang sangat berbeda dengan keasrian hutan.

Kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan yang berbeda, suara bising yang sangat kontras dengan kedamaian hutan, dan kemacetan yang mulai terlihat di beberapa titik.

Elara memperhatikan itu dalam diam.

“Kenapa semua orang harus datang ke tempat yang sama setiap hari?” gumamnya, yang masih bisa didengar oleh Paman Surya.

Pria paruh baya itu tersenyum melalui kaca spion. “Karena mereka datang dengan tujuan, Nona. Ada yang bekerja dan ada yang sekolah. Jika mereka tidak bekerja mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan sekolah membantu seseorang belajar agar memiliki masa depan yang lebih baik.

“Kalau tujuan sekolah adalah belajar, bukankah buku bisa dibaca di rumah?”

“Memang benar. Tapi hanya dengan membaca, seseorang tidak akan belajar memahami orang lain.”

Elara menoleh bingung. “Memahami orang lain?”

“Sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran. Di sana orang juga belajar berteman, bekerja sama, menyelesaikan masalah, bahkan menghadapi orang yang tidak mereka sukai.”

Elara kembali terdiam. Tatapannya mengarah keluar jendela. Disana orang-orang berlalu lalang di trotoar. Sebagian berjalan dengan tergesa-gesa, sebagian lagi terlihat menikmati suasana pagi.

“Manusia memang rumit,” gumamnya.

Paman Surya mengernyit, merasa aneh dengan ungkapan Elara barusan.

“Itu berarti, sekolah adalah tempat untuk mempelajari manusia?”

Pria itu tersenyum kaku sambil menggaruk lehernya. “Kurang lebih seperti itu.”

Elara mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah, ia sedikit penasaran dengan tempat yang akan ia datangi.

Tak lama kemudian, mobil perlahan memasuki gerbang sekolah.

Kedatangan mobil mewah yang dikenal sebagai milik keluarga Halvar membuat perhatian beberapa siswa teralihkan.

Beberapa di antara mereka mulai berbisik, penasaran dengan sosok yang berada di dalam mobil tersebut.

Saat pintu terbuka, sepasang sepatu hitam menginjak tanah terlebih dahulu.

Barulah beberapa detik kemudian, Elara keluar dengan tenang. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di punggung. Kulitnya yang cerah berpadu dengan mata hijau yang begitu mencolok langsung mencuri perhatian.

Untuk sesaat, halaman sekolah mendadak hening. Bahkan beberapa siswa yang berjalan tanpa sadar menghentikan langkahnya.

Di kejauhan, Bianca yang melihat kedatangan Elara perlahan kehilangan senyumnya. Ia mulai memahami mengapa satu sekolah begitu ramai membicarakan gadis bernama Elara itu. Karena untuk pertama kalinya, rumor yang beredar ternyata tidak dilebih-lebihkan.

Namun, Elara sama sekali tidak menyadari perhatian yang tertuju padanya.

Gadis itu berbalik menghadap mobil. “Terima kasih, Paman.”

Surya tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya tersenyum hangat. “Sudah tugas saya, Nona.”

Elara mengangguk pelan. “Tetap saja. Terima kasih.”

Paman Surya hanya bisa tersenyum dengan lebar. Entah mengapa, ucapan sederhana itu terasa menyenangkan untuk didengar.

Setelah memastikan mobil telah pergi, Elara kembali menoleh ke arah bangunan sekolah di depannya.

Tatapannya menyapu halaman yang ramai. Begitu banyak manusia berkumpul di beberapa tempat.

“Elara!”

Suara yang familiar membuatnya menoleh. Leonard dan Lionel tengah berlari kecil ke arahnya.

“Kami pikir kamu tersesat,” ujar Lionel.

“Aku baru saja turun dari mobil. Belum melangkah satu jengkal pun.”

“Tetap saja. Itu tidak menutup kemungkinan jika kamu tidak tersesat.”

Elara memandang Lionel beberapa saat. “Sekarang aku mulai mengerti kenapa Kak Leon sering mengabaikanmu. Kamu terlalu banyak omong.”

“HEI!”

Leonard yang berdiri di samping mereka langsung menahan tawa. “Sudah ayo masuk. Sebelum satu sekolah makin lama memperhatikan kita.”

Dan saat itu baru lah Elara menyadari banyak pasang mata yang mengarah ke arahnya.

Mata hijaunya beralih menatap sekeliling. “kenapa mereka melihatku seperti itu?”

Leonard dan Lionel saling berpandangan, lalu menghela nafas hampir bersamaan.

“Karena kamu murid baru,” jawab Leonard.

“Dan rumor tentangmu sudah menyebar ke seluruh sekolah,” sambung Lionel.

Elara mengernyit. “Rumor?”

“Iya.”

“Apa aku melakukan sesuatu?”

“Justru karena kamu belum melakukan apa-apa.” jawab Leonard.

Lionel mengangguk setuju. “Orang-orang hanya penasaran. Mereka mendengar keluarga Halvar mengadopsi anak perempuan, lalu mereka mulai membuat berbagai tebakan.”

Elara menatap sekeliling sekali lagi. Beberapa siswa langsung mengalihkan pandangan saat ketahuan sedang memperhatikannya.

Namun, tidak sedikit yang masih terus menatapnya secara terang-terangan.

“Manusia memang suka membicarakan sesuatu yang belum pasti,” gumam Elara.

“Ayo jalan!” Leonard mendorong pundak saudara kembarnya, berusaha mengabaikan perkataan Elara yang terdengar aneh.

Mereka bertiga melangkah menyusuri koridor, meninggalkan kerumunan siswa yang perlahan kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

“Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Lionel santai.

Elara hanya mengangguk kecil. Baginya, perkataan orang lain bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

1
lily
menarik.. semoga sampai tamat
Pawon Ana
elara ini lempeng ya ekspresinya....kayak tidak punya emosi🤔
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!