Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Ego Masing-masing
Diyah kembali ke kamar setelah Anjani pamit pulang, saat pintu tertutup dia melihat pergerakan Biyakta yang tertidur di ranjang setelah pergulataan panas mereka, pria itu mengerjap beberapa kali, lalu mengeluarkan suara.
"Air."
Dengan cepat Diyah meraih gelas berisi air putih yang selalu tersedia di meja nakas. Biyakta berusaha duduk dan menenggak air tersebut hingga tandas. Kemudian tatapannya beralih pada Diyah yang masih malu-malu.
"Kamu habis dari mana?" tanya Biyakta dengan suara sedikit parau. Menepuk lembut sisi ranjang agar Diyah duduk di sana.
"Tadi temanku datang, aku menemuinya sebentar," jawab Diyah apa adanya. Biyakta hanya manggut-manggut, sementara Diyah mulai bergelut dengan pikirannya.
"Mas, apa aku perlu minum pil kontrasepsi atau sejenisnya?"
Akhirnya pertanyaan itu terlontar. Wajah Biyakta yang semula berseri kini langsung berubah suram. Apalagi saat ini nyawanya belum sepenuhnya menyatu.
'Apa maksudnya bertanya seperti itu? Apakah dia tak ingin mengandung anakku?!'
"Kamu bilang apa?" tanya Biyakta, suaranya kembali tegas hingga Diyah langsung menegakkan tubuhnya. Sepertinya dia sudah salah bicara.
"Aku hanya ingin memastikan, Mas, karena sebelumnya kita belum membahas tentang ini," jelas Diyah supaya Biyakta tak salah paham. Namun, pria itu sudah terlanjur tersinggung.
"Pernikahan ini bukan pernikahan kontrak!" tandas Biyakta. "Aku melakukannya secara sadar dan suka rela. Lantas untuk apa kamu mempertanyakan hal yang tidak penting? Apakah sebenarnya kamu terpaksa?!" lanjutnya seraya memegang lengan atas Diyah. Otaknya jadi melalang buana, mengingat pernikahan mereka adalah hasil perjodohan, dan sebelumnya Diyah memiliki mantan kekasih yang dicintainya.
"Bukan begitu, Mas!" Diyah tanpa sadar menepis tangan Biyakta. Bahkan dia terkejut sendiri dengan perlakuannya. "Maa—"
Biyakta menatap nanar.
"Kamu selalu terlihat lemah di depan orang lain, selalu diam dan patuh terhadap apa yang mereka lakukan padamu. Tapi tidak denganku, kamu selalu membantah, menolak dan bahkan memiliki pemikiran yang berseberangan denganku. Aku tidak mengerti kenapa bisa begini, apakah karena aku yang kurang pengertian? Atau kamu yang masih terjebak di masa lalu," papar Biyakta, lalu dengan cepat menyibak selimut dan berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Diyah. Mereka masih dengan ego masing-masing, karena Diyah pun tak berkutik di tempatnya.
"Kenapa jadi begini sih? Aku hanya ingin mengajaknya diskusi, tapi ..., dia malah salah paham," gumam Diyah sambil menarik napas panjang, dadanya terasa sesak karena diperlakukan seperti itu oleh Biyakta.
****
Sementara beberapa kilometer dari tempat mereka, tepatnya di kantor RW, orang-orang sedang ramai karena kedatangan pihak manajemen artis sampai sutradara film. Warga desa dikumpulkan, untuk ajang pencarian bakat, yang nantinya akan dipromosikan di kota-kota besar untuk bermain film, penyanyi atau bintang iklan.
"Ayo Ibu-ibu, Bapak-bapak, yang anaknya punya bakat, segera daftarkan ke sini. Kami akan bimbing mereka sampai jadi artis besar. Tidak perlu ragu, karena pendaftaran dijamin gratis, tis, tis! Tanpa dipungut biaya," seru seseorang menggunakan sebuah toa.
Kabar tersebut langsung menyebar ke seluruh desa. Namun, sebagian ada yang langsung menelan mentah-mentah, sebagiannya masih kurang percaya.
Janji-janji yang diorasikan memang sangat menggiurkan, hingga membuat banyak orang tertarik. Termasuk Sarmila yang sehari-hari menjadi biduan dangdut. Tak ingin kalah dari kakak tirinya yang dinikahi anak juragan, dia pun ingin membesarkan namanya melalui ajang tersebut.
"Mau ke mana sih, Mil? Kok buru-buru banget," tanya Nuni yang melihat putrinya tidak tenang saat makan siang.
"Ini, Bu, kata temenku ada sutradara film di kantor RW. Orang-orang udah pada daftar, aku juga nggak mau ketinggalanlah. Siapa tahu ini rejekiku kan, Bu, bisa jadi artis besar dan banggain ibu," jawab Sarmila sambil melahap suapan terakhirnya. Lalu menenggak air dengan kasar.
"Ya tapi pelan-pelan, nanti kamu kesedak!" balas Nuni.
"Sudah biarkan, Bu, kita do'akan saja semoga Sarmila beruntung," sambar Jaya yang tak mau mematahkan semangat putrinya.
"Bener tuh apa kata Bapak, yang penting kalian dukung aku aja. Aku pergi dulu ya, Bu, Pak," timpal Sarmila, setelah cuci tangan dia langsung melenggang pergi tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya.
Sesampainya di sana orang masih hulu-hilir, ada yang sekedar menonton untuk mendapatkan snack, ada juga yang sudah daftar, karena memang besar harapannya untuk bisa jadi artis besar ibu kota.
Tiba-tiba tatapan Sarmila jatuh pada seorang pria yang kurang lebih berusia 30 tahunan. Dia memakai kemeja kotak-kotak dan topi seniman. Lantas Sarmila pun mendekatinya.
"Mas, bener katanya ini pendaftaran buat jadi artis?" tanya Sarmila dengan polos, khas gadis desa yang lugu.
"Iya bener, Dek, kenalin saya Andre—saya sutradara film," jawab pria itu sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Sarmila.
Mendengar itu Sarmila langsung menatap dengan takjub, baru kali ini dia bertemu dengan sutradara film secara langsung.
"Sarmila, Mas," jawab Sarmila menerima uluran tangan itu dengan cepat. "Jadi Mas yang suka buat film-film gitu ya?"
"Bener, Dek, gimana sama Adek punya bakat apa nih? Supaya bisa Mas bantu jadi artis terkenal."
Sarmila langsung membayangkan dirinya yang menjadi artis ibu kota, fotonya terpajang di mana-mana, serta memiliki banyak fans, dan yang paling penting dia bisa hidup mewah karena memiliki banyak uang.
"Saya di sini penyanyi dangdut, Mas, apa bisa ikut?" tanya Sarmila dengan antusias.
"Tentu saja bisa, Dek, daftar saja langsung ke sana. Pokoknya tenang aja, pendaftarannya gratis, dan Adek akan dibimbing dengan sebaik mungkin, percaya sama Mas Andre, soalnya muka Adek udah cocok jadi artis," papar pria bernama Andre itu dengan tatapan yang penuh arti. Sarmila langsung mengangguk dan berjalan riang menuju meja pendaftaran.
Pokoknya dia harus bisa mengalahkan Diyah. Supaya tak ada lagi yang meremehkannya.
****
Menjelang makan malam, setelah setengah hari Diyah dan Biyakta saling diam. Akhirnya ego pria itu runtuh juga, dari awal dia sering melihat istrinya yang ditindas, lantas kenapa dia jadi ikut-ikutan? Seharusnya dia menjadi pelindung Diyah, dan menjadi tempat paling aman untuk istrinya.
"Diyah," panggil Biyakta sebelum wanita itu meraih handle pintu.
"Iya, Mas," jawab Diyah dengan lembut, dia juga menyelipkan senyum tipis, berharap kemarahan suaminya mereda. Dan Diyah dibuat terkejut karena tiba-tiba Biyakta menariknya masuk ke dalam pelukan.
Deg!
"Maaf karena sudah bicara terlalu keras padamu," ucap Biyakta menyadari kekeliruannya.
Mendengar itu, senyum di bibir Diyah semakin lebar.
"Aku juga minta maaf, Mas, tidak seharusnya aku membahas hal seperti itu, apalagi kamu baru bangun tidur," balas Diyah, tak ingin seolah menang sendiri. Karena juga salah.
Biyakta mengeratkan pelukannya sesaat, lalu memberi jarak. Dia meraih dagu Diyah, hingga tatapan mereka bertemu.
"Kalau kamu sudah merasa siap, hamillah anakku. Tapi jika belum, aku akan memakluminya," ujar Biyakta berusaha untuk tidak egois. Karena suatu kehamilan perlu kesiapan yang matang, baik secara tubuh maupun mental.
"Hamil?" ulang Diyah seraya meraba perutnya.
rani hamil anaknya cakra apa bevar anaknya cakra?
makanya sarimi jangan sombong dan ber lagu,,,,kan dapat karma....
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh