Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.
Suara hardikan Pak Andika terdengar menggelegar, memenuhi ruang tamu yang luas itu. Seketika semua orang yang berada di ruangan itu diam terpaku di tempat. Semua menoleh ke arah sosok pria paruh baya yang selama ini dikenal sangat sabar, bersahaja, dan jarang marah. Namun kini, wajah Pak Andika memerah padam, urat lehernya menonjol menahan amarah yang membuncah butuh pelampiasan.
Sementara itu, Rafa masih berdiri tenang di samping Kahiyang. Dirinya sama sekali tidak terpancing emosi atau tampak malu. Netra tajamnya menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu dengan pandangan dingin serta berwibawa. Tangan kanannya menggenggam erat jemari wanitanya yang tertunduk diam, seolah memberi kekuatan dan perlindungan penuh.
"Belum puas kamu selalu menghina dan merendahkan putriku, Retno? Lalu sekarang dengan berani dan tanpa bersalah kamu mengolok-olok teman prianya juga di rumah orangtua kami sendiri?"
Tatapan Pak Andika begitu tajam dan dingin, seakan menghujam tepat ke jantung Bu Retno. Suasana menjadi sangat hening, tak ada satu pun yang bersuara.
Bukannya merasa malu dan bersalah atas tindakannya, wanita paruh baya itu justru dengan berani menatap balik ke arah kakak iparnya, seolah ingin menantang. Ia malah tersenyum miring, merasa apa yang ia katakan adalah kebenaran.
"Kenapa...? Memang kenyataannya begitu, kan?" sergahnya keras. Ia menunjuk ke arah Rafa dengan dagunya. "Lihat saja penampilannya! Biasa saja, culun, nggak ada menariknya sama sekali. Mana bisa dia menyaingi Tedy yang ganteng, keren, dan mapan?"
"Makanya jadi perempuan itu jangan terlalu pemilih, apalagi banyak menuntut. Ujung-ujungnya kalau sudah tua, pasaran habis, akhirnya dapetnya ya, cuma kayak begini..."
Bu Retno tertawa puas, merasa telah memenangkan argumennya. Namun, tawa itu seketika terhenti saat Rafa perlahan selangkah maju ke depan, berdiri sejajar dengan Pak Andika. Sikapnya sangat tenang, tegas dan berwibawa—membuat siapa saja yang memandangnya langsung merinding dan segan.
"Maaf, Bu..." ucap Rafa sopan, tetapi nada bicaranya sangat dingin. "Penampilan saya memang sederhana, klimis, dan menggunakan kacamata tebal seperti yang Anda bilang."
"Bukan karena saya tidak mampu tampil mewah atau bergaya, tapi karena itu prinsip dan saya merasakan kenyamanan. Saya tidak perlu terlihat menarik hanya untuk memuaskan pandangan orang lain. Lelaki yang sesungguhnya dinilai dari cara dia bertanggung jawab, menjaga kehormatan wanitanya, dan bermanfaat bagi sekitarnya. Bukan dari sepatu mahal atau baju bermerek yang dia kenakan."
Pemuda itu berhenti sesaat, menatap lurus ke manik mata Bu Retno yang mulai terlihat ragu.
"Dan satu hal lagi yang perlu Anda ketahui... Mungkin menurut Anda saya tidak sekeren mantan tunangan Ayang dulu. Tapi ingatlah satu hal, lelaki yang baik tidak akan pernah menyakiti hati wanita yang tulus mencintainya. Lelaki sejati justru akan menjaga, melindungi, dan membahagiakan wanitanya dengan cara yang terhormat."
Suasana hening total. Mulut Bu Retno dan Cantika terbuka dalam diam, tak sanggup menjawab sepatah kata pun. Kata-kata Rafa yang sederhana tetapi terasa begitu tajam seolah menampar keras keangkuhan dan kedangkalan pemikiran mereka.
Pak Andika perlahan tersenyum, menatap Rafa dengan pandangan penuh kebanggaan. Di saat itulah, semua orang di ruangan itu sadar—di balik penampilan sederhana, rambut klimis, dan kacamata tebalnya, tersimpan jiwa lelaki yang jauh lebih berkelas, sangat cerdas, dan begitu berharga dibandingkan siapapun yang hanya sibuk mengurusi penampilan luarnya saja.
Kahiyang mengangkat wajahnya, menatap kekasihnya dengan mata berbinar penuh kekaguman dan rasa haru. Genggaman tangan mereka semakin erat, memberikan rasa aman yang tak tergantikan. Rafa menoleh ke arah wanitanya, memberi isyarat dengan pandangan mata, mengajak gadis itu melangkah maju mendekati Eyang Bramantyo dan Uti Halimah yang duduk di kursi kehormatan.
Keduanya berjalan beriringan dengan penuh sopan santun dan tampak serasi. Sesampainya di hadapan pasangan sepuh itu, Rafa dan Kahiyang sama-sama menundukkan badan memberi penghormatan.
"Selamat ulang tahun pernikahan emas buat Eyang dan Uti. Perkenalkan nama saya Rafa... Maafkan kami tidak membawa kado, hanya doa yang kami haturkan, semoga senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta keberkahan yang berlimpah. Semoga kasih sayang yang Anda berdua jalin selama puluhan tahun ini menjadi contoh dan pelajaran indah bagi kami semua," ucap Rafa tulus dan tenang.
Eyang Bramantyo tersenyum lebar, menatap keduanya bergantian dengan pandangan teduh. Beliau mengangguk puas, lalu mengusap bahu Rafa perlahan.
"Terima kasih, Nak. Doa darimu dan kehadiran kalian berdua di sini, itu kado paling indah yang kami terima," jawab Eyang lembut.
Beliau menatap Rafa lebih lama, menelisik sosok pemuda di hadapannya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang membaca isi hati dan karakter yang tersembunyi di balik penampilan sederhana itu. Beberapa saat hening tercipta, membuat suasana di sekitar mereka kembali terasa canggung dan penuh penasaran.
Semua yang ada di ruangan itu diam menunggu, bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh kepala keluarga itu. Kemudian Eyang mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap tajam tepat ke manik mata Rafa, seolah ingin memastikan kejujuran yang ada di sana.
"Rafa," panggilnya tegas penuh wibawa. "Ada satu hal paling utama, yang ingin Eyang tanyakan langsung ke hatimu, Nak..." suaranya terdengar serius, membuat napas semua orang tertahan.
"Katakan sejujurnya... apakah kamu benar-benar mencintai cucu perempuan Eyang, Kahiyang? Apakah rasa itu tulus, utuh, dan kamu ingin membahagiakannya seumur hidupmu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan penuh makna. Bu Retno menyipitkan mata, berharap ada keraguan yang terlihat. Cantika menahan senyum sinisnya, menunggu jawaban. Sementara Pak Andika dan Bu Arimbi saling pandang, hati mereka berdebar kencang.
Wajah Rafa tampak tenang, tidak terlihat ragu atau gugup sama sekali. Matanya menatap lurus mata Eyang dengan keyakinan penuh.
"Benar, Eyang. Saya sangat mencintai Kahiyang. Sepenuh hati, tulus, dan tanpa syarat apa pun. Saya ingin menjaganya, menghormatinya, dan membahagiakannya sampai kapan pun selama saya masih bernapas."
Jawaban itu meluncur begitu pasti, memukau siapa saja yang mendengarnya. Eyang Bramantyo terdiam beberapa saat, matanya berbinar rasa haru. Perlahan, senyum lebar nan penuh makna tersungging di bibir keriputnya. Beliau mengangguk berulang kali, tampak sangat puas dan lega.
"Kalau begitu... menikahlah dengan Kahiyang. Jadikan dia istrimu, bertanggungjawab penuh padanya, dan bahagiakan dia selamanya," pintanya dengan suara keras dan jelas agar terdengar oleh semua orang.
"A-apa...!" Kahiyang terpekik kaget. Sontak ia menutup mulut dengan kedua tangan, napasnya tertahan wajahnya memerah padam menahan rasa malu.
Setelahnya seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Mata mereka membelalak tak percaya, mulut-mulut terbuka. Tak ada satu pun yang menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Eyang.
Rafa sendiri tak kalah terkejut, tubuhnya membeku di tempat, berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya. Kalimat tersebut masih menggantung di tengah keheningan.
Pak Andika dan Bu Arimbi saling pandang, sama-sama tertegun dan tak menduga. Sementara Bu Retno serta Cantika berdiri mematung, wajah mereka pucat pasi.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭