Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RATU NAGA SURGAWI
Dua hari telah berlalu.
Aku kembali teringat pada surat undangan dari Kekaisaran. Perjamuan Kaisar akan diadakan tiga hari lagi.
Baru kali ini aku benar-benar mengingat nama Kekaisaran tempatku berada.
Varellion.
Aku tidak menyangka bahwa Kekaisaran Varellion akan mengundang seluruh bangsawan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan oleh Kaisar.
Aku juga mendapatkan informasi bahwa ayahku dan adik-adikku akan datang ke perjamuan tersebut. Bahkan beberapa kerabat jauhku juga akan hadir.
"Huff... sepertinya ini bakal merepotkan."
Sebelum keberangkatan besok, aku mulai memikirkan satu hal.
Hadiah apa yang cocok untuk diberikan kepada Kaisar?
Semakin lama aku memikirkannya, semakin pusing kepalaku.
"Apa yang harus kuberikan? Senjata? Barang langka? Atau sesuatu yang belum pernah dimiliki Kaisar?"
Aku akhirnya menyerah memikirkannya.
Aku akan mencari sesuatu yang cocok selama perjalanan nanti.
Jika berangkat besok, kemungkinan aku membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk mencapai ibu kota Kekaisaran Varellion.
Jadi, untuk sekarang, aku hanya perlu mempersiapkan barang-barang yang diperlukan.
Namun, sebelum berangkat, aku teringat pada enam ratus budak yang sekarang berada di Benteng Utama.
Aku segera memanggil Elisa.
"Elisa."
"Ya, Tuan?"
"Kumpulkan seluruh budak yang kita bawa ke sini. Aku ingin mereka berkumpul di alun-alun."
"Baik, Tuan."
Elisa segera pergi melaksanakan perintahku.
Beberapa jam kemudian, seluruh budak telah berkumpul di alun-alun.
Aku berdiri di hadapan mereka.
Enam ratus orang berdiri tepat di depanku.
Begitu melihatku, mereka serentak memberikan hormat. Bahkan beberapa di antara mereka langsung berlutut dan bersujud.
Aku sedikit terkejut.
"Bangun. Kalian tidak perlu bersujud seperti itu."
Mereka perlahan bangkit.
Namun, dari ekspresi mereka, aku bisa melihat kebingungan dan ketakutan.
Beberapa mulai berbisik.
"Siapa dia?"
"Apa yang akan terjadi kepada kita?"
"Apakah kita akan dieksekusi?"
"Apa kita akan dijadikan alat atau dipaksa bekerja?"
Aku memperhatikan mereka satu per satu.
Mereka semua terlihat ketakutan.
Aku sendiri bingung.
"Sebenarnya apa yang telah mereka alami selama ini sampai mereka begitu takut hanya karena dipanggil?"
Aku kemudian mengaktifkan sihir pembesar suara.
[Sihir: Pembesar Suara]
Seketika, suaraku terdengar sangat jelas ke seluruh penjuru alun-alun.
Bahkan beberapa prajurit yang berjaga cukup jauh dari tempatku langsung terkejut ketika mendengar suaraku.
Aku mulai berbicara.
"Semuanya, dengarkan aku."
Seluruh perhatian langsung tertuju kepadaku.
"Aku adalah Jendral Iyan."
Aku berhenti sejenak.
"Aku menawarkan pekerjaan, rumah, tanah, dan gaji bagi kalian yang bersedia menetap di wilayah timur."
Beberapa budak mulai saling memandang.
"Aku juga akan membangun panti asuhan dan membuka pendidikan militer di wilayah ini."
Aku kemudian mengangkat tangan.
"Jika kalian berminat, angkat tangan kalian. Beritahu aku apakah kalian bersedia atau tidak."
Namun...
Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan.
Mereka hanya saling menoleh.
Beberapa bahkan terlihat semakin takut.
Aku mengerutkan kening.
"Kenapa mereka takut? Aku bahkan menawarkan kebebasan."
Tiba-tiba—
Satu tangan kecil terangkat.
"Aku! Aku mau!"
Aku langsung melihat ke arahnya.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga belas tahun berdiri sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Budak lainnya masih terdiam.
Kemudian, seorang anak lainnya ikut mengangkat tangan.
Lalu satu lagi.
Kemudian semakin banyak tangan yang terangkat.
Hingga akhirnya...
Enam ratus orang mengangkat tangan mereka.
Aku tersenyum kecil.
"Baik."
Aku kemudian mengatakan sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.
"Mulai hari ini, kalian bukan lagi budak."
Semua orang terdiam.
"Kalian adalah rakyat Kerajaan Pendragon."
Beberapa orang mulai gemetar.
"Aku akan memberikan kalian tanah dan rumah sebagai awal kehidupan baru kalian di wilayah timur."
Suasana langsung berubah.
Beberapa orang menangis.
Sebagian lainnya bersujud sambil meneteskan air mata.
Ada yang saling berpelukan.
Mereka akhirnya tidak lagi memiliki status sebagai budak.
Mulai hari ini, mereka adalah rakyat Pendragon.
Aku kemudian melanjutkan.
"Para wanita muda yang ingin bekerja sebagai pelayan dapat mendaftarkan diri. Para pria yang memiliki tubuh kuat dapat mendaftar menjadi prajurit."
Aku melihat ke arah para orang tua.
"Sedangkan kalian yang sudah tua tidak perlu memaksakan diri. Kalian bisa tinggal di rumah dan menggarap ladang."
Aku kemudian memanggil Sebas.
"Sebas."
"Ya, Tuan."
"Atur semua dokumen dan penempatan mereka. Aku ingin mereka ditempatkan di Benteng Kedua. Di sana masih banyak lahan kosong dan rumah-rumah yang ditinggalkan."
Aku kemudian menambahkan,
"Bangun juga panti asuhan yang besar dan sekolah militer."
Sebas mengangguk.
"Baik, Tuan."
"Kita juga akan mengajari rakyat kita membaca dan menulis. Dan mulai sekarang, berikan mereka gaji sesuai pekerjaan dan usaha mereka."
"Dimengerti, Tuan."
Setelah itu, seluruh penduduk baru Pendragon mulai mengikuti Sebas.
Lou Yi juga ikut pergi untuk membantu Sebas mengatur dan memindahkan mereka menuju Benteng Kedua.
Aku akhirnya kembali ke kamarku.
"Hufff... akhirnya selesai."
Aku kemudian memanggil Elisa.
Beberapa saat kemudian, Elisa datang.
"Iya, Tuan?"
"Siapkan pakaian dan perlengkapanku untuk keberangkatan besok menuju Kekaisaran Varellion."
"Baik, Tuan."
Elisa keluar dari kamar dan mulai mempersiapkan semuanya.
Aku kemudian pergi ke balkon.
Dari sana, aku bisa melihat Sebas dan Lou Yi yang masih sibuk mengurus penduduk baru.
Namun, sebelum berangkat...
Aku tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.
"Aku sepertinya membutuhkan satu pahlawan lagi untuk pergi bersamaku ke perjamuan."
Aku mulai memikirkan pahlawan yang memiliki kemampuan dalam bisnis, tetapi juga memiliki kekuatan sihir yang sangat besar.
Seseorang yang bisa menjadi pengawal sekaligus membantuku dalam urusan bisnis.
Aku akhirnya memutuskan untuk melakukan pemanggilan.
Tubuhku mulai dipenuhi kabut hitam pekat.
Kemudian—
WUUUUSSHHH!
Sebuah gerbang besar muncul di hadapanku.
Namun kali ini, sesuatu terasa berbeda.
Bukan asap hitam yang keluar dari gerbang tersebut.
Melainkan...
Asap putih pekat.
Aku hanya bisa memperhatikannya.
Asap putih itu terasa sangat familiar.
"Ini... sama seperti waktu itu?"
Kemudian—
Sebuah kaki ramping keluar dari dalam gerbang.
Disusul tubuh seorang wanita.
Ia memiliki kulit putih bersih, rambut putih panjang, dan sepasang mata merah.
Di kepalanya terdapat sepasang tanduk naga.
Ia mengenakan pakaian serba putih dengan desain menyerupai pakaian seorang ratu.
Di belakang tubuhnya terdapat sepasang sayap.
Aku hanya bisa terdiam melihatnya.
"Cantik sekali..."
Bahkan aku sulit menggambarkan kecantikannya dengan kata-kata.
Tiba-tiba sistem muncul di hadapanku.
[Selamat!]
[Anda telah berhasil memanggil Ratu Naga Surgawi.]
[Rank: SSS]
Aku langsung terkejut.
"Rank SSS?!"
Aku tidak menyangka wanita secantik itu memiliki kekuatan sebesar ini.
Wanita tersebut kemudian berjalan mendekatiku.
Namun, bukannya bersujud atau memberikan hormat, dia justru langsung mendekat dan menyentuh pundakku.
Tangannya kemudian menyentuh pipiku.
Aku membeku.
"Hah?"
Bahkan tubuhku terasa kaku dan sulit bergerak.
Wanita itu semakin mendekat.
Aku mulai panik.
Tiba-tiba—
BRAK!
Pintu kamar didobrak.
Sebas, Elarion, dan Lou Yi muncul di depan pintu.
Mereka bertiga langsung merasakan aura luar biasa yang dipancarkan oleh Ratu Naga Surgawi.
Namun, mereka juga terkena pengaruh sihirnya.
Wanita itu kemudian mendekat dan menyentuhkan bibirnya ke pipiku.
Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah itu, dia melepaskanku dan mundur beberapa langkah.
Kemudian dia menundukkan kepalanya.
"Hormat saya, Rajaku. Namaku Selena."
Setelah memperkenalkan diri, Selena justru duduk santai di atas tempat tidurku.
Sebas, Elarion, dan Lou Yi langsung terlihat sangat marah.
Mereka seolah ingin mengamuk melihat tingkah wanita tersebut.
Aku segera mengangkat tangan.
"Sudah. Kalian bertiga kembali ke pekerjaan kalian."
"Tapi, Tuan—"
"Kembali."
Mereka bertiga akhirnya terdiam.
"Baik, Tuan."
Setelah mereka pergi, aku kembali memperhatikan Selena.
Aku membuka statusnya.
[Status Pahlawan]
Nama: Selena
Gelar: Naga Putih Surgawi
Usia: 5.000 tahun
Rank: SSS
Level: 100
Skill: Succubus, Mage, Rahasia
Aku langsung terkejut ketika melihat salah satu skillnya.
"Succubus?"
Aku mulai memahami kenapa tingkahnya begitu menggoda.
Aku kemudian menatapnya.
"Selena."
"Ya, Rajaku?"
"Besok, menyamarlah sebagai manusia biasa."
Aku menunjuk tanduk dan sayapnya.
"Aku ingin kau menyembunyikan tanduk dan sayapmu."
Selena tersenyum.
"Baik, Rajaku."
Namun, tiba-tiba dia memelukku dari belakang.
"Tuan... apakah Tuan lelah hari ini?"
Aku langsung panik.
Jantungku rasanya hampir keluar dari tubuh.
Namun, ekspresiku tetap datar.
Tidak berubah sedikit pun.
"Astaga... tenang. Jangan panik. Jangan sampai ekspresiku berubah."
Aku kemudian mulai menjelaskan kepadanya tentang etika dan sikap yang harus dijaga ketika berada di acara bangsawan nanti.
Selena hanya tersenyum santai.
"Tenang saja, Rajaku. Aku sudah hidup selama ribuan tahun. Aku tahu bagaimana menghadapi acara seperti itu."
Aku menghela napas.
"Hufff... akhirnya pemanggilan pahlawan hari ini selesai."
Aku kemudian berbaring di tempat tidur.
Selena ikut berbaring di sampingku dan memelukku erat.
Ia berbisik di telingaku,
"Tuan harus tidur malam ini. Besok pagi kita akan berangkat."
Aku perlahan memejamkan mata.
Anehnya, tubuhku langsung terasa sangat nyaman.
"Jangan-jangan ini salah satu skill Selena..."
Rasa kantuk semakin kuat.
Aku akhirnya tidak memedulikannya lagi.
Mataku tertutup.
Dan malam itu...
Aku tertidur dengan sangat pulas.