Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Kalimat yang Terlanjur Terucap

Tiga hari setelah kembali dari Surabaya, kalimat tentang mengganti nyonya rumah masih tinggal di kepalaku.

Kunjungan itu berakhir tanpa kejadian lain. Setidaknya menurut keluargaku. Ibu pulang membawa foto rumah mewah, daftar menu lamaran, dan cerita tentang betapa rendah hatinya keluarga Wirajaya. Mbak Laras membawa keyakinan bahwa masa depannya semakin dekat.

Aku membawa pulang ketakutan yang kini punya bentuk.

Di kereta, Ayah sempat bertanya apa yang dikatakan Damar di taman. Aku hanya menyampaikan bagian tentang penghuni rumah yang bisa berubah. Kalimat mengenai nyonya rumah lain tersangkut di tenggorokan. Mengulangnya akan membuatnya terdengar seperti pengakuan yang terlalu jelas, sementara aku masih takut kepada akibat jika semua orang mendengar.

"Itu bukan ucapan yang pantas," kata Ayah.

"Mungkin dia bicara umum."

"Kamu sendiri percaya begitu?"

Aku tidak menjawab.

Sesampainya di Bandung, Ibu langsung mengirim puluhan foto ke grup keluarga. Dalam setiap foto, Mbak Laras berada di depan. Aku hanya muncul dua kali, selalu dekat Ayah. Tidak ada gambar taman atau kamar dengan buku khusus itu. Hal-hal paling menakutkan memang jarang masuk album keluarga.

Malam pertama setelah pulang, aku menatap meja tempat laci kecil terpasang. Kuncinya masih tergantung di leherku. Aku terlalu lelah untuk membukanya. Semua foto dan catatan sudah ada di surel, pikirku. Gelang itu juga tak mungkin berjalan sendiri.

Aku tidak tahu bahwa rasa aman kecil tersebut sudah palsu.

Keesokan harinya, Bu Maya mengirim pesan bahwa pemeriksaan referensi belum selesai dan keputusan membutuhkan beberapa hari tambahan. Aku ingin menggunakan waktu untuk melihat kos bersama Rangga, tetapi Ibu melarang. Katanya keluarga akan berkumpul membahas lamaran dan aku harus membantu.

"Kenapa aku harus hadir kalau semua pendapatku dianggap masalah?"

"Karena kamu anggota keluarga," jawabnya.

Lagi-lagi, keluarga dipakai sebagai tali hanya ketika aku mencoba menjauh.

Ayah mendengar percakapan itu dan berkata aku boleh pergi setelah pertemuan. Cara ia menatapku membuatku tahu ia berharap aku bertahan sebentar, mungkin agar ada kesempatan lain untuk membicarakan Damar di depan Mbak Laras.

Aku setuju.

Itulah alasan aku duduk di ruang tamu sore itu, di antara amplop undangan dan orang-orang yang telah lebih dulu memutuskan kisah mana yang ingin mereka percayai.

Sore itu, ruang tamu kembali penuh oleh kerabat. Pakdhe Warto, Budhe Sari, dan Bulik Yah datang untuk mendengar hasil pertemuan di Surabaya. Kotak kue diletakkan di meja. Foto-foto dipindahkan dari satu ponsel ke ponsel lain.

"Rumahnya ada kolam renang sebesar lapangan," kata Budhe Sari.

"Jangan berlebihan," jawab Ibu sambil tertawa bangga. "Tapi memang luas. Pegawainya saja mungkin lebih banyak daripada tamu arisan kita."

"Laras nanti hidup enak."

Mbak Laras menunduk malu. Cincin di jarinya menangkap cahaya.

Aku duduk dekat pintu dapur, menempelkan alamat pada amplop undangan. Tugas yang cukup sederhana untuk membuat tanganku sibuk dan mulutku tidak ikut bicara.

"Mas Damar perhatian sekali sama Sekar," ujar Budhe Sari tiba-tiba. "Di meja makan, sambalnya khusus. Kamarnya juga bagus, kan?"

Tanganku berhenti.

Ibu tertawa pendek. "Itulah yang membuat saya malu. Sudah diperlakukan baik, anaknya malah pasang wajah. Di rumah orang kaya nggak tahu cara membawa diri."

"Aku nggak minta kamar itu disiapkan seperti itu," kataku.

"Mulai lagi." Ibu menggeleng kepada para kerabat, seolah mereka sama-sama kelelahan menghadapi penyakitku. "Dia memang suka cari masalah sejak tahu Mbaknya mau menikah."

Ayah meletakkan cangkir. "Jangan bahas Sekar kalau sedang membicarakan lamaran Laras."

"Aku cuma menjelaskan apa yang terjadi."

"Yang terjadi adalah Damar menyiapkan semua sesuai kesukaan Sekar," jawab Ayah. "Itu memang aneh."

Mbak Laras menoleh kepadanya. "Ayah juga berpikir begitu?"

Ibu mendecakkan lidah. "Aneh apa? Mas Damar tuan rumah yang baik. Sekar saja yang terlalu merasa penting."

Aku menatap amplop di tangan. Kata-kata di taman berputar lagi.

Belum.

Penghuninya bisa berubah.

Seorang nyonya rumah yang berbeda belum tentu buruk.

"Dia bicara sesuatu di taman," kataku.

Ruangan melambat.

"Apa?" tanya Mbak Laras.

"Nggak penting," potong Ibu. "Pasti Sekar salah dengar lagi."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Ibu sudah tahu caramu. Sedikit perhatian dibesar-besarkan, lalu bersikap seolah laki-laki orang mengejarmu."

Wajahku memanas. "Aku nggak pernah bilang begitu."

"Di mobil saja kamu menuduh dia mengunci pintu. Padahal mobil mahal memang otomatis terkunci."

Aku menoleh kepada Ayah. Ia tidak pernah menceritakan hal itu di depanku. Mungkin Ibu mendengar pertengkaran kami. Mungkin ia memaksa Ayah menjelaskan.

"Dia sengaja berhenti di jalan sepi."

"Karena ada urusan."

"Ibu bahkan nggak ada di sana."

"Mas Damar sudah menjelaskan kepada Laras. Katanya kamu panik tanpa alasan."

Mbak Laras meremas jemari. "Sekar, Mas Damar memang bilang kamu kelihatan sangat tegang. Dia pikir mungkin tekanan cari kerja membuatmu gampang cemas."

Udara di ruang tamu terasa habis.

Damar sudah menyiapkan penjelasan. Bahkan sebelum aku benar-benar berani menuduh, ia membangun tempat untuk mengurung semua ucapanku: Sekar sedang stres. Sekar cemas. Sekar salah paham.

"Aku nggak gila," kataku.

"Siapa yang bilang gila?" Ibu langsung meninggikan suara. "Lihat, kan? Dia sendiri yang bicara."

Bulik Yah mencoba tertawa untuk mencairkan suasana. "Sudahlah, mungkin Sekar cuma capek."

"Dia selalu capek kalau diminta membantu Mbaknya," balas Ibu. "Di Surabaya juga menghilang ke taman, bikin Mas Damar harus mencarinya."

"Dia yang datang kepadaku."

"Ya karena kamu sendirian di rumah orang! Perempuan harus tahu batas. Jangan berdiri di tempat sepi dengan calon suami kakaknya, lalu menyalahkan laki-laki karena perhatian."

Kata tidak tahu batas jatuh seperti tamparan kedua.

"Aku pergi ke taman untuk mengirim pesan."

"Ponsel terus. Entah pesan kepada siapa. Mungkin kepada Rangga itu." Ibu melirik kerabat. "Sekarang dia dekat sekali dengan anak pemilik warung, tetapi di depan Mas Damar malah bertingkah aneh."

"Jangan bawa Rangga."

"Kenapa tidak? Kamu harus jaga sikap. Jangan sampai orang berpikir kamu menggoda dua laki-laki sekaligus."

Panas di wajahku berubah menjadi dingin. Semua orang mendengar. Tak ada satu pun yang menyuruh Ibu berhenti kecuali Ayah, dan suaranya tenggelam oleh denging di telingaku.

"Ibu bilang aku menggoda Mas Damar?"

"Ibu bilang jangan memberi kesan. Keluarga Wirajaya punya nama. Kalau kamu membuat gosip, masa depan Mbakmu yang rusak."

Mbak Laras berdiri. "Bu, cukup. Sekar juga keluarga kita."

"Justru karena keluarga, dia harus tahu diri. Lihat dia. Belum dapat kerja, kabur-kabur dari rumah, dekat dengan anak warung, lalu merasa calon suami kakaknya memperhatikan dia."

Ayah ikut berdiri. "Endang!"

"Apa? Aku salah? Mas Damar memberi makanan, dia menolak. Memberi hadiah, dia teriak. Disiapkan kamar, dia curiga. Perempuan baik-baik akan berterima kasih, bukan membuat laki-laki terus mengejar untuk membereskan tingkahnya."

Kata mengejar menghantam sesuatu yang sudah retak sejak lama.

Aku melihat kembali semua benda yang ia gunakan untuk menyalahkanku. Makanan yang tak pernah kuminta. Mobil yang dikunci. Kamar yang dibuat seperti milikku. Gelang yang dipasang paksa. Rumah yang bisa mengganti nyonya.

"Aku yang nggak tahu diri?" Suaraku mulai bergetar. "Bukan dia yang terus muncul di tempatku?"

"Nah, dengar!" Ibu menunjukku. "Dia memang merasa Mas Damar mengejarnya."

Budhe Sari menutup mulut. Pakdhe Warto menatap lantai. Aku bisa membayangkan cerita ini berjalan lagi keluar pagar: adik iri mengaku dikejar calon suami kakaknya.

"Aku nggak merasa," kataku. "Dia memang melakukannya."

Mbak Laras memucat. "Sekar."

"Sudah!" Ibu membentak. "Jangan rusak semuanya hanya karena kamu nggak tahan melihat Mbakmu bahagia."

"Aku ingin Mbak Laras selamat."

"Dari apa? Laki-laki yang memperlakukan keluarga kita dengan hormat?"

"Dia nggak menghormatiku."

"Kamu sendiri yang membuat orang salah paham dengan kelakuanmu!"

Dadaku seperti ditekan dari dalam. Aku mencoba menarik napas, tetapi yang masuk hanya potongan malam hujan. Aroma kayu. Suara menyuruh diam. Pergelangan yang ditahan. Damar berdiri di ambang pintu saat fajar.

Ibu masih bicara. Katanya aku iri. Katanya aku tidak tahu malu. Katanya mungkin aku sengaja mendekati Damar karena ingin hidup mewah seperti Mbak Laras.

"Cukup," kataku.

Tak ada yang mendengar.

"Cukup!"

Suara itu keluar sebagai teriakan. Semua kepala berbalik.

Air mata sudah memenuhi mataku, tetapi untuk sekali ini aku tidak menunduk.

"Aku nggak pernah mendekati dia. Aku selalu menghindar. Dia yang mengunci aku di mobil. Dia yang masuk ke ruangku. Dia yang terus menyentuh meski aku bilang jangan."

Mbak Laras menjatuhkan sendok kecil. Logam itu berdenting di lantai.

Ibu membeku setengah detik, lalu berkata, "Jangan mengarang."

"Aku nggak mengarang!"

"Kalau benar, kenapa baru sekarang? Kenapa nggak ada bukti?"

Semua rasa malu, takut, dan marah yang kutahan selama berminggu-minggu meledak menjadi satu kalimat.

"Karena setiap kali aku bicara, Ibu menyalahkanku! Damar terus melakukan itu. Damar terus menyentuhku. Damar melakukan tindakan tidak senonoh kepadaku!"

Kata-kata itu jatuh ke ruang tamu.

Tak ada yang bergerak.

Mbak Laras menatapku dengan wajah tanpa warna. Cangkir di tangannya miring, teh menetes ke karpet tanpa ia sadari. Budhe Sari menahan napas. Pakdhe Warto perlahan mengangkat kepala. Bulik Yah menutup mulut dengan kedua tangan.

Ayah satu-satunya yang tidak tampak terkejut.

Aku meremas ujung amplop sampai kertasnya terlipat di telapak tangan.

Dalam kesunyian itu, semua mata tertancap kepadaku.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!