Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Perawan Tua
Berbanding terbalik dengan keadaan Diyah, saat ini Cakra justru sedang menikmati masa-masa yang menurutnya paling membahagiakan, seperti seseorang yang sedang dimabuk cinta pada umumnya.
Dengan sepeda motor barunya, pria itu kerap membawa Rani untuk berkeliling desa. Karena ternyata Rani tak satu atau dua malam menginap di rumah Cakra—dia sempat kembali ke Jakarta dua minggu yang lalu, tetapi kini dia datang lagi karena alasan rindu dan tak bisa jauh.
Ibu Cakra pun tak mempermasalahkan, malah terlihat senang karena bisa dapat calon mantu orang kota. Apalagi dengan latar belakang Rani yang sudah menjanjikan, sebagai anak dari ibu kos-kosan.
"Mas, bawa motornya pelan-pelan, banyak lubang tuh," ucap Rani dengan manja sambil memeluk pinggang Cakra. Mereka baru saja pulang dari cafe baru—yang dibangun di Kecamatan.
"Justru bagus," jawab Cakra sambil terkekeh. Sementara tubuh Rani semakin merapat ketika ban motor melewati lubang-lubang itu.
"Kok bagus?" Rani mengernyitkan dahinya.
"Iya jadi makin nempel, haha."
"Mas ...." Rani langsung menggeram, mencubit perut Cakra, tapi tawa pria itu justru semakin membahana.
Tak sedikit warga desa yang melihat kemesraan dua sejoli itu, ada yang pro dan kontra. Karena merasa kasihan dengan Diyah.
"Kasihan Diyah," ucap salah satu dari mereka dengan tatapan miris. "Baru aja putus, yang laki sudah pamer pacar baru."
"Memang sejak dari Jakarta katanya sudah dekat sama anak ibu kos," timpal yang lain.
Bisik-bisik itu memang sudah menyebar luas. Namun, Cakra sama sekali tak peduli. Baginya, kisah dengan Diyah telah selesai, dan dia merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan memilih Rani.
"Rani jauh lebih cocok denganku," pikirnya tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Masih dengan tawa yang sama, Cakra dan Rani lanjut bermain di dalam kamar. Awalnya hanya main ponsel masing-masing, sambil sesekali mengobrol. Namun, entah mulai dari mana, tiba-tiba obrolan mereka mengarah ke adegan yang lebih dewasa.
"Cak, Cakra!" panggil ibunya dari luar, tetapi Cakra sama sekali tak menyahut, sehingga ibunya memilih untuk masuk ke dalam rumah.
"Tidur kali ini anak," gumamnya seraya memutar kenop pintu.
Duar!
Mata ibunya langsung terbelalak lebar, sedangkan dua sejoli yang nyaris telanjaang itu langsung menjauhkan diri dari tubuh masing-masing. Beruntung wanita paruh baya itu tak sampai menjerit.
"Ya ampun, kalian ngapain?!" sentak ibu Cakra, tak habis pikir dengan kelakuan putranya.
Rani langsung menarik apa saja yang ada di dekatnya karena merasa malu. Sementara Cakra memasang jari di depan mulutnya, agar sang ibu tidak terlalu berisik.
"Bu, kami khilaf. Tapi percaya deh, kami nggak sejauh itu, lagi pula aku kan lagi ngurus berkas nikah dengan Rani, jadi tidak masalah," ujar Cakra berusaha tenang, meski wajahnya memucat.
"Iya, tapi kalian juga harus hati-hati jangan sampe kelepasan. Kalo ternyata ada tetangga yang lihat bagaimana? Mau kalian diarak keliling kampung, hah? Mau ditaruh di mana muka ibu?" omel ibu Cakra dengan emosi yang meluap-luap.
"Kalau ibu tidak teriak-teriak, mana mungkin tetangga akan tahu," balas Cakra.
"CAKRA!" tegur sang ibu.
"Kami minta maaf, Bu," sambar Rani dengan bibir bergetar. Wajahnya pun terus menunduk, tak berani untuk menatap.
"Iya, Bu, kami minta maaf, kami janji nggak akan mengulanginya sampai nikah nanti. Sudah ya, jangan marah-marah," bujuk Cakra sambil meraih kedua tangan ibunya.
Ibu Cakra menatap keduanya secara bergantian, kemudian menghela napas panjang. Semoga yang dikatakan Cakra benar, putra semata wayangnya itu tak sampai membuatnya malu tujuh turunan.
"Kalau begitu jangan pernah lagi berduaan di dalam kamar! Ibu tidak mengizinkan," pungkas ibu Cakra untuk menghindari hal yang tidak-tidak. Dan dengan terpaksa keduanya pun mengiyakan.
****
Sore harinya, Diyah yang baru saja pulang dari sawah dan kebun, melewati pematang juga jalan utama. Banyak unggas yang masih berkeliaran, bahkan kambing yang baru selesai digembala pun berjalan bebas seperti manusia.
Keranjang berisi cabai merah tergantung di lengan Diyah, sementara langkahnya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari lalu. Setidaknya melakukan kegiatan di kebun mampu mengalihkan pikirannya dari semua kegelisahan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat Diyah melewati sebuah warung kecil dan beberapa rumah warga terdengar suara beberapa ibu yang tengah mengobrol.
"Itu, Diyah lewat," ucap salah satu dari mereka sambil melirik julid.
"Iya, baru keliatan lagi, pasti habis nangis terus gara-gara diputusin pacarnya," timpal yang lain, tanpa memikirkan perasaan orang yang sedang dibicarakan.
"Ya gimana nggak sedih, hubungan sudah lima tahun dan dia udah nggak muda lagi. Kalau nggak kawin-kawin nanti jadi perawan tua," lanjut ibu yang satunya. Mereka tertawa kecil. Yang lebih terdengar seperti ejekan.
"Kalau sudah tua kan susah hamil ya?"
Mendengar semua itu langkah Diyah terasa memelan dengan sendirinya. Dan ujug-ujug seorang ibu datang, bergabung di kerumunan seperti tak sabar untuk berbagi kabar.
"Heh, sudah tahu belum?" serunya, ekspresi wajahnya seolah ikut bicara.
"Ada apa?"
"Itu!" Dia menunjuk Diyah dengan dagunya. "Katanya mau dilamar anak Juragan Marta." lanjutnya dengan suara bisik-bisik, tapi entah kenapa masih terdengar di telinga Diyah.
"APA?" Semua yang mendengar langsung terlihat kaget dan mengalihkan tatapan ke objek utama mereka.
Sementara Diyah yang tersadar langsung buru-buru pergi dari sana. Dia berusaha berpura-pura tidak mendengar.
Namun, setiap kalimat itu seperti mengikuti langkahnya. Membelenggu, hingga membuatnya merasa sesak.
Perawan tua.
Satu kalimat sederhana, tetapi cukup meluluhlantakkan kepercayaan dirinya. Dia sadar di desa kecil seperti tempat tinggalnya, usia perempuan sering kali menjadi bahan penilaian.
Belum menikah dianggap terlalu memilih.
Diputuskan pacar menjadi bahan kasihan.
Dan ketika akhirnya dilamar, orang-orang tetap saja memiliki komentar.
Diyah tersenyum pahit.
"Ternyata sekeras apa pun kita berusaha, selalu ada saja yang akan membicarakan hidup kita. Hah, tapi Diyah, tugasmu adalah tidak mendengarkan ocehan mereka. Kamu tidak bisa menutup mulut mereka satu-persatu, tapi kamu bisa mengendalikan hatimu," ujar Diyah, pada akhirnya dia hanya bisa menasehati dirinya sendiri.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh