Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Bantuan Tanpa Syarat

Udara di area penampungan material Zona Empat seolah membeku. Ketegangan menggantung pekat di antara kepulan debu merah.

Puluhan pekerja proyek berrompi oranye dan berhelm kuning melingkar di sekeliling area, menyaksikan drama konfrontasi yang kian memanas.

Dua pengawal berbadan tegap yang ditugaskan Ardiansyah sempat tertegun saat mendengar Intan Saputri menantang untuk mendatangkan polisi detik itu juga.

Namun, Ardiansyah—yang sadar bahaya besar mengintai jika pihak berwajib memeriksa nomor rekening penampungannya saat ini—segera mengubah raut wajahnya.

Matanya membenci, memancarkan kepanikan yang berusaha keras ditutupi di balik topeng wibawa.

"Jangan dengarkan omong kosong penipu ini!"

Bentak Ardiansyah seraya memberi isyarat tangan pada pengawalnya.

"Bawa wanita ini dan anak itu ke pos belakang sekarang!"

"Jangan biarkan mereka mengacaukan operasional proyek!"

Saat kedua pengawal itu maju selangkah lagi hendak meraih lengan Intan dan Siti, sebuah suara bernada dingin dan berat memotong dari arah samping.

"Tahan tanganmu kalau masih mau kerja di kawasan ini."

Langkah para pengawal terhenti seketika.

Rendra Wijaya melangkah keluar dari balik celah truk pengangkut pasir. Ia tidak lagi mengenakan topi bisbol yang menutupi wajahnya.

Dengan jaket kulit hitam, celana taktis, dan sebuah lencana identitas penyidik swasta lisensi resmi yang tergantung di dadanya, kehadiran Rendra membawa dominasi yang tak bisa diabaikan.

Di belakang Rendra, dua orang petugas keamanan berpakaian seragam sipil—yang merupakan personel keamanan resmi kawasan industri Zona Empat—ikut melangkah maju dengan sikap tegas.

"Siapa kamu?!"

Bentak Ardiansyah, suaranya sedikit meninggi akibat rasa terancam yang mendadak menyeruak.

"Ini area terbatas proyek Pandawa!"

"Orang luar dilarang masuk!"

Rendra tidak memedulikan gertakan Ardiansyah. Ia berjalan lurus melewati para pengawal, berdiri tepat di samping Intan dan Siti.

Dengan gerakan yang tenang namun sigap, Rendra menempatkan dirinya sebagai perisai di hadapan kedua wanita tersebut.

"Saya Rendra Wijaya, perwakilan tim auditor forensik independen dan penyidik hukum terdaftar."

Ujar Rendra dengan suara lantang yang terdengar jelas oleh seluruh pekerja proyek yang berkumpul.

Ia merogoh saku dalam jaketnya, mengacungkan sebuah bundel dokumen tebal bersampul segel hukum.

"Saya di sini membawa berkas putusan awal dan surat perintah pemeriksaan transaksi atas nama Ardiansyah Putra alias Rian Cipta."

Gumam terkejut seketika pecah di antara para pekerja proyek.

"Rian Cipta?"

"Bukannya itu nama sub-kontraktor yang bikin masalah di Zona Tiga bulan lalu?"

"Jadi Pak Ardiansyah ini..."

Wajah Ardiansyah seketika pucat pasi. Bibirnya bergetar tipis saat melihat bundel dokumen di tangan Rendra.

Siti, putri almarhum Pak Herman yang tadinya didera rasa takut dan salah paham, menatap Rendra dengan mata berbinar terkejut.

 "Mas Rendra...?"

Rendra menoleh singkat ke arah Siti dan Intan. Sorot matanya yang biasanya dingin kini memancarkan dukungan yang solid—sebuah bantuan tanpa syarat yang hadir di saat kritis untuk meluruskan semua prasangka jahat yang baru saja dilemparkan Ardiansyah.

"Kalian berdua aman di belakang saya."

Bisik Rendra pelan pada Intan dan Siti.

"Biar saya yang selesaikan panggung kebohongannya di sini."

Intan menghembuskan napas pelan. Rasa bergetar di dadanya mereda, tergantikan oleh kepercayaan penuh pada aliansi yang baru mereka bentuk semalam.

Intan menegakkan punggungnya, menatap Ardiansyah dengan sorot mata pembalas yang tak tergoyahkan.

"Pak Ardiansyah."

Panggil Rendra dengan nada bicara yang sangat terstruktur, membalikkan keadaan sepenuhnya.

"Wanita di sebelah saya ini, Mbak Intan Saputri dari Katering Barokah, bukan bagian dari komplotan penipu seperti yang Anda tuduhkan secara gegabah."

"Beliau adalah saksi kunci sekaligus korban transaksi fiktif yang baru saja Anda jebak menggunakan rekening penampungan atas nama pribadi Anda."

"Bohong!"

"Itu fitnah!"

Teriak Ardiansyah histeris. Ia memalingkan wajah ke arah petugas keamanan proyeknya sendiri.

"Usir orang ini!"

"Dia memalsukan dokumen!"

"Coba saja usir kalau Anda mau masalah ini makin besar."

Sela Maya, yang sejak tadi mengamati dari kejauhan dan kini melangkah mendekat seraya memegang ponsel pintarnya yang sedang menampilkan siaran langsung (live recording) internal ke server hukum Katering Barokah dan kantor pengelola kawasan.

"Semua rekaman tuduhan Anda pada Mbak Intan dan pernyataan transaksi rekening Anda sudah tersimpan di server kami, Pak Ardiansyah"

Ujar Maya dingin seraya menyunggingkan senyuman tipis yang mematikan.

"Kalau Anda mencoba menggunakan kekerasan fisik, detik ini juga izin operasional pengadaan Anda di Zona Empat ditangguhkan oleh direksi pusat."

Ardiansyah tersudut total. Langkah kaki pria itu mundur satu tapak, menyenggol tepi meja pos pengawasan.

Para pengawal pribadi yang disewanya pun kini saling pandang dengan ragu, tak berani lagi mematuhi perintah Ardiansyah setelah melihat lencana hukum Rendra dan bukti rekaman Maya.

Siti melangkah maju ke samping Rendra, menatap Ardiansyah dengan keberanian baru.

"Uang almarhum ayahku mungkin sudah kamu habiskan untuk gaya hidupmu di kota ini."

"Ardiansyah!

"Tapi hari ini, kamu tidak bisa lagi membohongi orang lain atau mengambinghitamkan Mbak Intan!"

Ardiansyah mengepalkan tangannya rapat-rapat, napasnya memburu.

Pria penipu yang selama bertahun-tahun selalu berhasil meloloskan diri dengan memutarbalikkan fakta itu kini menyadari bahwa permainannya di Zona Empat telah berantakan.

Rendra melangkah mendekati Ardiansyah, menyodorkan salinan berkas pemeriksaan.

"Pihak pengelola kawasan industri dan kepolisian sektor sudah menerima laporan resmi kami."

Kata Rendra dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

"Hari Senin nanti, saat proses audit transaksi katering dan material berjalan, Anda wajib hadir di kantor kepolisian kawasan untuk mempertanggungjawabkan seluruh penipuan atas nama Rian Cipta."

Ardiansyah tidak mampu lagi bersuara. Tatapan matanya bergantian menatap Rendra, Maya, Siti, dan berakhir pada Intan Saputri.

Intan melangkah satu tapak ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Ardiansyah yang kini dipenuhi rasa gentar.

"Kamu dulu mengira aku hanyalah gadis desa penakut yang mudah kamu bodohi dengan janji manis di layar HP, Rian."

Bisik Intan dengan suara yang teramat dingin, cukup pelan hanya untuk didengar oleh Ardiansyah.

"Tapi hari ini kamu lihat sendiri... gadis desa yang kamu remehkan itu adalah orang yang berdiri di sini untuk memastikan seluruh topengmu hancur tanpa sisa."

Ardiansyah terdiam membatu. Pengakuannya yang tak terucap menyangkut di tenggorokan saat melihat keteguhan tanpa cela dari wanita muda di hadapannya.

Bantuan tanpa syarat dari Rendra dan Maya tidak hanya menyelamatkan Intan dari jebakan fitnah Ardiansyah, tetapi juga mengukuhkan barisan perlawanan mereka menjadi sebuah dinding baja yang siap meruntuhkan seluruh jaringan penipuan sang target.

Kerumunan pekerja proyek perlahan membubarkan diri dengan bisik-bisik kecaman yang mengarah pada Ardiansyah.

Sang penipu melangkah mundur pelan-pelan menuju kantornya dengan wajah kelabu dan tubuh lesu.

Intan, Rendra, Maya, dan Siti berdiri bersama di tengah lapangan Zona Empat.

Angin siang berembus kencang, menerpa kemeja putih Intan. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Lao-Lao, Intan merasa bahwa keadilan yang selama ini ia kejar bukan lagi sekadar impian jauh—melainkan sebuah kenyataan yang tinggal menghitung hari untuk dieksekusi.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe😊

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!