Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Han Ji-eun menatap layar ponselnya selama hampir satu menit. Pesan yang baru masuk itu hanya terdiri dari sepintas kalimat pendek.
Aku jemput di hotel.
Ji-eun mengerutkan kening. Tanpa sapaan, tanpa penjelasan, bahkan tanpa tanda baca dan bagaimana Tae-jun bisa memiliki nomornya?
Jarinya bergerak cepat mengetik balasan.
Baik, Direktur Seo.
Namun sebelum sempat menekan tombol kirim, Ji-eun buru-buru menghapusnya. Ia teringat ucapan tegas pria itu kemarin. “Besok jangan panggil saya Direktur Seo.”
Ji-eun mencoba mengetik ulang.
Baik, Tae-jun-ssi.
Ia menatap layar itu selama beberapa detik. Rasanya kikuk dan terkesan terlalu intim. Akhirnya, ia memutuskan memangkas kalimatnya menjadi sederhana:
Baik. Saya tunggu.
Pesan terkirim. Tak sampai sepuluh detik kemudian, layar ponselnya kembali menyala.
Jangan terlambat.
Ji-eun mendengus pelan. "Memangnya aku anak sekolah?"
Ia meletakkan ponselnya di atas meja vanity, lalu mengamati pantulan dirinya di cermin. Seragam kerjanya sudah berganti menjadi gaun hitam sederhana sepanjang lutut, tidak terlalu terbuka, tidak pula terlalu formal, hanya terusan yang nyaman dipakai.
Ji-eun memiringkan kepala seraya bergumam, "Kenapa juga aku harus repot-repot berdandan?" Pertanyaan itu dibiarkannya mengudara tanpa jawaban.
Pukul 19.27 tepat, sebuah sedan hitam berhenti di depan pelataran hotel. Tae-jun melangkah keluar dari kursi penumpang belakang.
Malam ini, ia melepaskan setelan jas resminya dan memilih kemeja hitam, dengan dua kancing atas terbuka yang dilapisi mantel panjang berwarna gelap. Penampilannya tetap rapi, tetapi jauh lebih rileks dibanding biasanya.
Ji-eun yang baru saja melintasi pintu kaca lobi melangkah ragu, lalu terhenti beberapa meter di depan pria itu. Tatapan Tae-jun langsung tertambat padanya. Untuk beberapa detik, Tae-jun hanya bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Suasana canggung mendadak menyergap Ji-eun. "Ada yang salah?"
Tae-jun menggeleng pelan. "Tidak ada."
"Kita jadi makan malam?"
"Ya."
"Di mana?"
"Masuk dulu," sahut Tae-jun singkat seraya membukakan pintu mobil.
Ji-eun menatap kendaraan mewah itu ragu. "Kita naik mobil?"
Tae-jun menatapnya heran. "Memangnya kamu mau jalan kaki?"
Ji-eun tertawa kecil. "Saya hanya memastikan."
Ia melangkah masuk, disusul Tae-jun yang duduk di sampingnya beberapa saat kemudian. Mobil melaju mulus membelah lalu lintas malam.
Selama beberapa menit pertama, hening melingkupi interior mobil. Ji-eun memilih memandang lampu-lampu kota dari balik jendela, sementara Tae-jun sibuk menatap layar ponselnya. Hingga akhirnya, Ji-eun tak tahan lagi memecah keheningan.
"Jadi..."
"Hm?" Tae-jun merespons tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa tiba-tiba mengajak saya makan malam?"
"Karena aku lapar."
Ji-eun terkekeh. "Anda bisa makan sendiri, kan?"
"Aku tahu."
"Lalu?"
Tae-jun mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Ji-eun secara langsung. "Aku tidak ingin makan sendiri."
Jawaban polos dan jujur itu seketika membuat detak jantung Ji-eun berpacu sedikit lebih cepat. "Oh..."
Tae-jun kembali melirik layarnya. "Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kamu terlihat gugup."
"Saya tidak gugup," elak Ji-eun cepat.
"Bagus kalau begitu."
Ji-eun memutar bola matanya. "Apakah Anda selalu begini?"
"Begini bagaimana?"
"Berbicara santai diluar pekerjaan dan seolah-olah semua orang harus mengerti maksud pikiran Anda."
Tae-jun menatapnya tenang. "Tapi kau mengerti."
"Sayangnya, ya."
Untuk pertama kalinya, kurva senyum tipis terukir di bibir Tae-jun. Ji-eun mendadak bungkam begitu menyadarinya. Itu mungkin kali pertama ia melihat pria kaku tersebut benar-benar tersenyum. Bukan senyum formalitas atau sekadar keramahan diplomatis, melainkan senyum tulus yang muncul begitu saja.
Dan ternyata... dia terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum, batin Ji-eun seraya buru-buru berpaling ke arah jendela.
Restoran pilihan Tae-jun terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Gangnam. Tempat itu sangat privat, hanya memiliki beberapa meja dengan pemandangan lanskap Seoul yang membentang indah di balik dinding kaca besar.
Begitu mereka duduk, pelayan menyajikan buku menu. Ji-eun membukanya, sekilas membaca deretan angka di sana, lalu langsung menutupnya kembali.
"Kenapa?" tanya Tae-jun.
"Harganya tidak masuk akal," bisik Ji-eun jujur.
"Aku yang bayar."
"Bukan itu masalahnya."
"Pesan saja apa yang kau mau."
Ji-eun menatapnya. "Anda selalu begini, ya?"
"Apa lagi?"
"Gemar memberi perintah."
Tae-jun menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tenang. "Kalau begitu, kau yang pilihkan menu untukku."
Ji-eun kembali membuka buku menu. "Baiklah." Ia menunjuk beberapa hidangan. "Ini, lalu yang ini."
Tae-jun mengangguk pada pelayan. "Tambahkan dua menu lagi dari rekomendasi chef."
Ji-eun mengernyit. "Ini sudah lebih dari cukup."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa ditambah lagi?"
"Karena aku mendadak sangat lapar."
Ji-eun menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa geli.
Sesi makan malam berlanjut jauh lebih hangat dari perkiraan Ji-eun. Tae-jun sama sekali tidak menyentuh topik pekerjaan, tidak ada pembahasan laporan, angka statistik, maupun dinamika hotel. Mereka hanya mengobrolkan hal-hal sederhana seperti film favorit, makanan, cuaca, hingga kota asal Ji-eun. Hingga akhirnya Ji-eun bisa bersikap santai didepan Tae-jun sekarang.
"Kau sering pulang ke Busan?" tanya Tae-jun di tengah santapannya.
"Setiap dua atau tiga bulan sekali," jawab Ji-eun.
"Nenekmu masih tinggal di sana?"
Ji-eun mengangguk. "Ya, beliau menetap di sana."
"Kau sendirian di Seoul?"
"Sudah lumayan lama."
Tae-jun menatapnya lekat. "Sendirian?"
Ji-eun tersenyum tipis. "Kenapa pertanyaanmu terdengar menyedihkan begitu?"
"Tidak."
"Tapi raut wajahmu seperti sedang mengasihaniku."
"Aku tidak mengasihanimu."
"Baguslah." Ji-eun meneguk air mineralnya. "Nenek selalu bilang kalau aku ini terlalu mandiri."
"Apakah beliau salah?"
Ji-eun tertawa pelan. "Mungkin tidak. Sejak orang tuaku meninggal, Nenek adalah satu-satunya keluarga yang kupunya."
Tae-jun terdiam, mendengarkan dengan saksama.
Sadar suasananya mendadak haru, Ji-eun tersenyum canggung. "Maaf, makan malamnya jadi terasa melankolis. Bagaimana denganmu?"
Tae-jun mengangkat sebelah alisnya. "Aku?"
"Apakah kamu tinggal bersama keluarga?"
"Tidak."
"Orang tuamu?"
"Tidak juga." Tae-jun jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar, "Ibuku meninggal saat aku berusia enam tahun dan aku memilih tinggal sendiri tidak dengan ayah ataupun ibu tiriku."
Senyum di wajah Ji-eun perlahan luntur. "Maafkan aku..."
"Tidak masalah."
Ada nada dingin yang teramat datar dari cara Tae-jun mengatakannya. Seolah kalimat itu telah ia ulang berulang kali dalam hidupnya sampai tak lagi menyisakan emosi.
"Hubunganmu dengan ayahmu... kurang baik?" tanya Ji-eun hati-hati.
Tae-jun menatap mata Ji-eun. "Kenapa penasaran?"
"Karena tadi kau bertanya soal keluargaku. Anggap saja kita imbang."
Tae-jun tak langsung menjawab. Namun beberapa saat kemudian, ia bergumam pelan, "Beliau orang yang sulit."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Apa maksudmu?"
"Apakah kau juga orang yang sulit?"
Tae-jun menatap wanita di hadapannya itu cukup lama sebelum menjawab tenang, "Kau sudah tahu jawabannya."
Ji-eun terkekeh. "Benar juga."
Keheningan kembali menyelimuti meja makan mereka. Namun kali ini, hening itu tidak lagi terasa canggung, melainkan hangat dan menenangkan.
...****************...