Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANAK YANG BELUM BISA MEMAAFKAN [POV FRAGMEN KEEMPAT: GU TIANMING]

Rumah Tuan Pei berada di ujung desa penenun, dikelilingi alat tenun yang sudah beberapa minggu tidak digunakan sejak jantungnya melemah.

Gu Tianming dan Chu Yan tiba pagi hari, seperti yang dijanjikan, membawa obat penguat jantung dan kejujuran yang tidak akan mereka sembunyikan lagi.

Pei Rong, putra sulung Tuan Pei, membuka pintu sebelum mereka sempat mengetuk, seolah sudah menunggu di balik jendela sejak fajar.

"Kalian punya keberanian untuk kembali ke sini," ia berkata, suaranya penuh amarah yang jelas sudah dipendam selama berhari-hari sejak insiden itu.

---

"Kami datang untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi," Gu Tianming berkata, tidak mundur dari nada suara Pei Rong yang tajam. "Dan untuk meminta maaf secara langsung, bukan lewat pesan yang bisa disalahartikan."

"Aku sudah tahu yang terjadi," Pei Rong berkata. "Murid magangmu memberikan dosis yang salah pada ayahku. Jantungnya rusak permanen karena kecerobohan seseorang yang bahkan belum cukup berpengalaman untuk dipercaya menangani pasien sendirian."

Ia menatap Chu Yan, yang berdiri di belakang Gu Tianming, wajahnya pucat tapi tidak menghindar dari tatapan itu.

"Kau," Pei Rong berkata langsung padanya. "Kau tahu apa yang kau lakukan pada ayahku?"

"Ya," Chu Yan menjawab, suaranya bergetar tapi tidak pecah. "Aku tahu."

---

"Boleh kami masuk?" Gu Tianming bertanya. "Aku ingin memeriksa kondisi ayahmu, dan aku ingin ia mendengar penjelasan ini langsung dari kami, bukan dari cerita yang mungkin sudah berubah beberapa kali sebelum sampai padanya."

Pei Rong ragu sesaat, kemarahannya bertarung dengan kesopanan yang masih tersisa, sebelum akhirnya membiarkan mereka masuk dengan enggan.

Tuan Pei duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya masih tampak lemah tapi matanya cukup jernih saat menatap kedatangan mereka.

"Tabib Gu," ia berkata, suaranya lemah tapi tidak bermusuhan seperti putranya. "Dan gadis muda yang meracik obatku hari itu."

"Nama saya Chu Yan," Chu Yan berkata, melangkah maju meski Pei Rong menatapnya dengan curiga dari sudut ruangan.

---

"Aku sudah mendengar apa yang terjadi," Tuan Pei berkata, sebelum siapa pun sempat menjelaskan lebih jauh. "Anakku sudah menceritakannya berkali-kali, setiap kali dengan kemarahan yang semakin bertambah."

"Karena itu memang membuat marah, Ayah," Pei Rong menyela dari sudut ruangan. "Jantungmu tidak akan pernah sama lagi karena kecerobohan seseorang."

"Aku tahu itu, Rong," Tuan Pei berkata, tidak membentak, hanya lelah. "Aku yang merasakannya, bukan kau."

Ruangan menjadi hening sesaat, ketegangan antara ayah dan anak terasa lebih tajam daripada ketegangan antara keluarga itu dan tamu mereka.

---

"Aku ingin mendengar penjelasannya sendiri," Tuan Pei berkata, menatap Chu Yan. "Bukan versi yang sudah disaring kemarahan anakku, atau versi yang sudah disiapkan untuk terdengar baik di telingaku. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Chu Yan menarik napas, dan menjelaskan—kelelahan yang menumpuk selama tiga minggu karena pengurangan staf akibat pemotongan dana, kesalahan menakar dosis akar Bingcao yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam kondisi normal, momen ia menyadari kesalahan itu terlambat, dan detik-detik menyaksikan Gu Tianming bekerja untuk menstabilkan kondisi ayahnya.

Ia tidak menyembunyikan bagian mana pun, tidak juga mencoba membuat dirinya terdengar kurang bersalah daripada yang sebenarnya.

---

"Kau bisa saja berbohong," Tuan Pei berkata setelah mendengarkan semuanya, "mengatakan itu reaksi alergi yang tidak terduga, sesuatu yang tidak bisa disalahkan pada siapa pun. Kenapa kau tidak melakukannya?"

"Karena Bapak berhak tahu yang sebenarnya," Chu Yan berkata. "Dan karena berbohong tidak akan membuat jantung Bapak kembali sehat. Itu hanya akan membuat saya merasa lebih baik tentang diri saya sendiri, dengan mengorbankan hak Bapak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Bapak sendiri."

---

Tuan Pei menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca.

"Kau tahu," ia akhirnya berkata, "aku sudah menenun selama lima puluh tahun. Aku pernah membuat kain yang cacat karena kelelahan, karena kurang perhatian, karena kesalahan bodoh yang seharusnya tidak kubuat setelah lima puluh tahun pengalaman. Beberapa dari kesalahan itu tidak bisa diperbaiki—benang yang sudah salah tenun tidak bisa ditenun ulang tanpa membongkar seluruh kain."

Ia menatap tangannya sendiri, yang masih menunjukkan bekas kerja keras puluhan tahun.

"Aku tidak bilang kesalahanmu tidak penting," ia melanjutkan. "Jantungku memang tidak akan pernah sama. Itu fakta yang harus kuterima untuk sisa hidupku. Tapi aku juga sudah cukup lama hidup untuk tahu bedanya antara seseorang yang ceroboh karena tidak peduli, dan seseorang yang membuat kesalahan karena terlalu banyak dibebani hal yang seharusnya tidak ia tanggung sendirian."

---

"Ayah," Pei Rong memotong, suaranya masih tegang, "kau tidak bisa memaafkannya semudah ini. Jantungmu—"

"Aku tidak bilang aku memaafkannya semudah itu, Rong," Tuan Pei menjawab, menatap putranya dengan kesabaran yang jelas sudah teruji oleh puluhan tahun menjadi ayah. "Aku bilang aku memahami perbedaan antara kecerobohan dan kelelahan yang dipaksakan oleh keadaan. Itu tidak sama dengan mengatakan semuanya baik-baik saja."

Ia menoleh kembali ke Chu Yan.

"Aku masih marah," ia mengakui. "Bukan sepenuhnya sebesar kemarahan anakku, tapi tetap ada. Aku pikir kemarahan itu wajar, dan aku tidak akan berpura-pura ia hilang begitu saja hanya karena kau meminta maaf dengan tulus hari ini."

---

Gu Tianming melangkah maju, menawarkan kotak obat yang ia bawa. "Aku akan memastikan perawatan jantungmu ditanggung sepenuhnya oleh klinik seumur hidup, tanpa biaya, dan aku akan memeriksamu sendiri setiap bulan untuk memastikan kondisimu tidak memburuk."

"Itu tidak cukup," Pei Rong berkata tajam. "Kau pikir perawatan gratis menghapus apa yang terjadi?"

"Tidak," Gu Tianming berkata, tenang tapi tegas. "Tidak ada yang bisa menghapus apa yang terjadi. Aku tidak menawarkan ini sebagai penghapus kesalahan. Aku menawarkannya karena itu tanggung jawab konkret yang bisa kutunaikan, sementara hal-hal lain—kemarahanmu, kepercayaanmu pada klinik kami, waktu yang dibutuhkan untuk semua itu pulih—bukan sesuatu yang bisa kupaksa selesai hari ini."

---

Pei Rong tidak terlihat puas, dan tidak berusaha menyembunyikannya.

"Aku akan memberi tahu semua orang di pasar apa yang terjadi di klinik kalian," ia berkata, sebelum berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban lagi. "Biar orang lain tahu risiko yang mereka ambil sebelum mempercayakan nyawa mereka pada murid-murid magangmu."

Ia pergi, membanting pintu belakang dengan cukup keras hingga terdengar dari ruang depan.

Tuan Pei menghela napas panjang, menatap ke arah kepergian putranya dengan ekspresi lelah yang lebih tua daripada usianya sendiri.

"Ia akan melakukan itu," ia berkata pada Gu Tianming. "Ia keras kepala, seperti ibunya dulu. Aku tidak bisa menjanjikan ia akan berhenti."

---

"Aku tidak mengharapkan Bapak menghentikannya," Gu Tianming berkata jujur. "Itu haknya untuk marah, dan haknya untuk memilih bagaimana mengekspresikan kemarahan itu, meski itu berarti klinik kami akan menanggung konsekuensinya."

Chu Yan berdiri diam, mendengarkan pertukaran itu, sesuatu di wajahnya berubah mendengar kejujuran Gu Tianming yang tidak berusaha meminimalkan risiko nyata yang akan mereka hadapi.

Setelah mereka pamit, berjalan kembali menuju akademi dalam diam, Chu Yan akhirnya bertanya, "Kabar seperti itu bisa menghancurkan sisa kepercayaan yang masih dimiliki klinik kita, terutama dengan pendanaan yang sudah berkurang."

"Mungkin," Gu Tianming berkata sederhana.

"Kau tidak akan mencoba menghentikannya?"

"Aku tidak tahu bagaimana caranya, tanpa membuatnya merasa dibungkam sekali lagi setelah ayahnya sudah menderita karena kesalahan kita," Gu Tianming berkata. "Kadang konsekuensi dari kesalahan tidak berhenti hanya karena kita ingin ia berhenti."

---

Tuan Pei sendiri, sebelum mereka pergi, sempat berkata satu hal lagi pada Chu Yan yang tidak ia ucapkan di depan Gu Tianming—kalimat pelan yang hanya didengar Chu Yan saat ia membantunya kembali duduk di kursinya.

"Kesalahanmu nyata," Tuan Pei berkata. "Tapi begitu juga kejujuranmu hari ini. Jangan biarkan kemarahan anakku meyakinkanmu bahwa dirimu hanya terdiri dari kesalahan itu saja."

Chu Yan tidak menjawab, hanya mengangguk pelan, membawa kalimat itu bersamanya sepanjang perjalanan pulang—bukan sebagai jawaban atas ketakutannya, tapi sebagai sesuatu yang setidaknya layak untuk terus ia pikirkan, di tengah ketidakpastian yang belum juga menemukan penyelesaiannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!