Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersenyum menyimpan suatu rahasia.
Masih saja semua tentang Aldrian, beberapa hari ini sepertinya cukup.
Disetiap tatapanya harusnya ada kata yang terucap, jika dia tetap diam tak akan mungkin lagi ada di fikiranku. Akan kubuang semua bimbang yang memenuhi seluruh isi kepalaku.
Kupandangi kerlip sinar lampu kamar yang bak rembulan, walau tak seterang mentari tapi mampu menyinari kegelapan.
Akan kututup semua pintu jika bayanganmu yang tak diundang datang!!!
1 bulan kemudian
Waktu cepat sekali berlalu, nggak terasa sekolah udah 1 bulan, 1 bulan pula sudah jadi anak SMA.
Hari ini hari Rabu hari yang udah ditunggu tunggu. Setiap hari Rabu ada jadwal ekskul basket, dan hari ini nanti akan ada jadwal pertemuan yang akan merayakan penerimaan anggota baru. Berarti aku udah resmi jadi anggota team basket sekolah.
Pagi ini mari bahagia, kita awali dengan semangat bangun pagi, beribadah lalu keluar dari kamar dengan wajah yang berseri.
Saatnya kita mulai peperangan pagi, peperangan kali ini kita mulai dengan peperangan princess yang cantik, anggun dan lemah lebut.
Aku berjalan pelan pelan ke kamar mandi, melewati meja makan dan dapur.
"Kamar mandi apakah ada yang makai? Hallo ada orang didalam???"
Mas Nandito yang sedang duduk dimeja makan batuk batuk memegang tenggorokan dengan satu tangan, tatapan mata tampak panik, melebar meminta tolong tanpa suara matanya langsung saja terarah kepadaku, meminta pertolongan tetapi tidak ada suaranya, lebih tepatnya menatap tajam penuh tanya.
Aku mendekat ke arah mas Nandito yang sepertinya tersedak makanan "Mas muntahin mas, ayo buruan"
Akhirnya mas Nandito muntahin makanan yang ditenggorokanya "Alhamdulillah ya Allah, gara gata bocah kenapa sih? Kesambet apa nih.bikin orang kaget aja?"
Ibu yang lagi masak buat sarapan ikut berkomentar "Udah gede masih kesedak aja mas, minum yang banyak?! Adek lagi bener dikomentarin, harusnya Alhamdulillah dong mas, adeknya berubah jadi baik"
Mba Renata keluar dari kamar mandi terbelalak kaget melihat aku berdiri didepan pintu "Ngagetin tau didepan pintu kayak patung!! Tumben nggak pakai teriak teriak!! Pasti mas Nandito kaget nih liat bocah sampai batuk batuk"
"Mas Nandito yang tampan dan baik hati mohon maaf sekali ini kamar mandinya saya pakai dulu ya" Aku masuk kekamar mandi sambil berjalan mundur kebelakang menyatukan kedua telapak tangan di depan dada dan sedikit menundukkan kepala
Setelah selesai mandi dan bersiap siap aku makan di meja makan, disana sudah ramai pada ngumpul, lengkap ada Bapak, Ibu, mas Nandito dan mba Renata.
Seperti biasa setiap pagi dimeja makan akan diadakan transaksi, penyerahan rencana anggaran dari kita bertiga yang akan di terealisasi berdasarkan persetujuan dari Bapak.
"Bapak, setiap minggu Aya ikut ekskul 3x, hari Rabu basket, Kamis multimedia, Jum'at pramuka. Jadi sekiranya Bapak bisa nambahin uang jajan Aya"
"Nandito ada kegiatan eksplorasi pemetaan geologi 2 minggu diluar kota" mas Nandito ngasih jadwal sambil mengulurkan tanganya ke Bapak
Mba Renata juga memberikan jadwal ke Bapak "Renata sama semester ini juga banyak kegiatan praktikum laboratorium"
Bapak mengambil secangkir teh yang ada didepanya meneguknya berlahan lalu ditaruh kembali kemeja. Bapak membaca satu persatu jadwal yang kakak kakak berikan.
"OK, semua bapak acc. Nanti bisa minta cash nya ke Ibu, dan ingat jangan lupa tanggung jawabnya!!!" jawab bapak sambil menaruh kertas dan kacamatanya dimeja.
Ibu menjawab sambil tertawa "ibu betul betul menjadi bendahara anggaran?"
Bapak orangnya sangat pendiam, berbeda dengan ibu yang selalau membicarakan sesuatu sangat detail.
Sebenernya bapak sangat perhatian dan baik banget. Nggak ada permintaan anaknya yang nggak pernah diturutin. tapi kakak kakak nggak dekat sama Bapak, berbicaranya dengan Bapak sangat canggung. berbeda denganku yang sangat dekat dengan Bapak padahal kita sama sama jarang ketemu Bapak yang sering kerja diluar kota.
Setiap kali Bapak nggak keluar kota pulangnya pasti on time trus ngajak aku main keluar, kadang kerumah temannya atau sekedar makan es kacang ijo sambil beli sate ayam di depan stadion.
Minum es kelapa muda dibawah payung warna wani adalah tempat favorit kita setiap hari minggu. Pulangnya kita beli ayam goreng di tenda biru buat yang dirumah.
Kami bertiga bersiap siap berangkat, berpamitan dengan Ibu dan Bapak. Kalau Bapak di rumah Bapak lah yang mempersiapkan motor motor, sudah rapi berjejer didepan trus duduk diteras sampai kami berangkat, motor motor udah disiapkan keluar jadi kita tinggal berangkat aja.
"Aya... ini jaketnya dipakai skalian masih dingin!! jangan di tali di tas gitu, ntar jatuh!! Kata Bapak sambil berjalan mendekat ke arahku.
Aku menjawab dengan santai sambil menyalakan sepeda motor "Bapak tenang aja.. Aya kuat kalau cuma dingin segini, ini aman kok, ni liat kencengkan"
"Kalau dibilangin selalu aja ada jawabannya, skali kali coba jawab iya" Bapak kembali duduk ke teras, Ibu datang menghampiri Bapak membawa teh dan pisang goreng.
Aku pun berangkat kesekolah "Aya berangkat dulu ya Bapak Ibu, Assalamualaikum".
Aku melaju kesekolah, pikiranku seperti melayang. Jalanan yang ramai seprti sunyi. Angin menyentuh pergelangan tanganku, terasa dingin tapi menyejukan.
Aku berbicara pada diriku sendiri rencana rencana yang tak pernah kurencanakan. Semoga hati dan fikiranku kali ini akan menyatu menemukan jawaban jawaban dari semua pertanyaan. Hari ini akan menjadi hari terbaik.
setelah sampai di parkiran sekolah aku mencari jaket yang tali kutali di tas, ternyata sudah nggak ada. Bener kata bapak tadi... Bisa jatuh, jatuh beneran ini. Memang omongan orang tua tuh bisa jadi doa, kenapa tadi aku nggak nurut Bapak saja ya. Aku menyesal tadi nggak dengerin perkataan Bapak.
Aku keluarkan lagi motorku dari parkiran, saat akan keluar ketemu Putri di gebang. Aku berhenti disamping Putri.
"Mau kemana Ya??" tanya Putri mendekat dengan tatapan heran.
Aku "Masih ada waktu mau cari jaketku sepertinya jatuh dijalan"
Tiba tiba Putri naik dibelakangku "Aku ikut, ayo buruan kita cari keburu ilang!"
Kami berdua keluar lagi dari sekolah, menyusuri sepanjang jalan yang tadi kulewati waktu berangkat. Menyisiri tepi sungai hingga muter ke area perempatan pasar burung tapi tetep nggak ketemu juga. Aku mulai menyerah, jam masuk sekolah sudah dekat
"Balik ajalah Put, daripada ntar jadi telat kita malah dihukum" kataku sambil menghela nafas panjang sedikit kecewa
"Terserah aja, yang punya jaketkan kamu"
Akhirnya kami memutuskan kembali kesekolah karena sebentar lagi jam masuk sekolah
Putri "Bisa bisanya jaket cuma ditali doang di tas"
Aku "Iya tadi Bapak jg bilang gitu, mana jaket kesayangan lagi warnanya army "
Sepanjang jalan kami ngobrol tentang jaket yang hilang.
"Bikin sandiwara aja, barang siapa yang menemukan jaketku akan kuberikan penghargaan hahahaha" kebiasaan Putri segala sesuatu dibikin bercandaan
Akupun menjawab dengan bercanda pula "Kalau yang menemukan cewek aku jadikan saudara, kalau yang menemukan cowok masih muda dan jomblo akan aku jadikan pacar hehehe"
Putri "Kalau ngomong yang bener ntar didengerin malaikat. Tau tau yang nemu cowok jomblo tapi udah tua bagaimana hehehe, siapa yang mau???"
"Ya janganlah itukan cuma becandaan doang tapi syukur syukur cowok jomblo cakep , ya Allah dengarkanlah Aamiin" Aku asal nyebut aja kan katanya kalau ngomong harus yang baik baik biar jadi kenyataan nggak kecewa.
Putri tertawa terbahak bahak mendengar perkataanku "Itumah maunya kamu aja yang masih jomblo"
"Namanya juga berdoa kan yang bagus bagus, udah ah turun sana, udah sampai juga" kataku ke Putri.
"Ya.. liat tuh kayaknya kak Arya ngeliatin kesini deh, senyum senyum anehkan dia??" Putri berbisik pelan sambil menggoyangkan tanganku.
"Kayaknya sih iya ya" aku membalas dengan bisikan pelan.
Arya berjalan semakin mendekat ke kami, sambil senyum senyum. Ditangannya sepertinya dia membawa jaketku yang jatuh tadi, terlihat dari warna dan tekturnya.
Arya berhenti tepat didepan kami, masih dengan senyumnya yang menyimpan tanda tanya penuh kecurigaan lalu mengulurkan tangan kanannya "Nih... jaket kamukan?"
"Iya makasih banyak ya, kok tau ini jaketku?? tadi jatuh dijalan. Ini aku dan Putri baru balik nyari nyari jaketnya nggak ketemu, ehhh.. ternyata di kamu" Aku terima jaket dari tangan Arya.
Putri melihat ke arahku lalu ke arya "Kak Arya yang nemuin jaketnya Aya kak?"
"Aku sendiri juga nggak tau, cuma tadi ada yang nitip buat dikasihkan ke Aya, aku lupa tadi siapa lagi ramai ramai soalnya jadi aku nggak ngeh aku terima aja waktu diparkiran. Katanya dia liat jaket kamu jatuh diperempatan pasar burung" kata Arya yang agak aneh, sambil tersenyum menyimpan suatu rahasia.
Masak nggak tau yang nemuin siapa, orang dia yang nrima masak ngggak liat dari siapa. Kan aneh banget.
Matanya menghindar saat bertemu mataku. Gerak geriknya seperti canggung. Berusaha tetap tenang tapi ada keragu raguan dan sedikit terbata bata dalam ucapan. Senyumnya kaku seperti menahan sesuatu yang akan diucapkan. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu tapi dapat terbaca olehku.