Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume baru 1.1 SETELAH PERNIKAHAN

Beberapa bulan telah berlalu sejak hari di mana janji suci itu diucapkan. Kehidupan pernikahan Akira dan Yuki bergerak menelusuri alur baru yang kian mendalam. Tidak ada lagi jarak ribuan kilometer, tidak ada lagi perbedaan zona waktu, dan tak ada lagi ruang asrama yang dingin di Swiss.

Langkah besar pertama yang mereka ambil sebagai pasangan suami-istri adalah memiliki tempat berlindung mereka sendiri. Dengan uang tabungan hasil kerja keras Akira selama di Swiss dan pendapatan Yuki sebagai model papan atas, mereka memutuskan untuk membeli sebuah rumah dua lantai berdesain minimalis modern di kawasan perumahan yang tenang di kawasan Meguro, Tokyo. Rumah itu memiliki halaman kecil dengan pohon sakura di sudutnya, serta jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk memenuhi ruang tengah. Rumah itu bukan sekadar bangunan kayu dan beton, melainkan tempat mereka merajut masa depan bersama.

Pagi hari di rumah baru mereka selalu dimulai dengan kehangatan yang sederhana. Akira, dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku dan kacamata bertengger di hidungnya, sering kali sudah berada di dapur lebih awal untuk menyeduh kopi. Yuki akan turun dari lantai dua dengan gaun rumah rumahan yang longgar, rambutnya diikat asal namun tetap memancarkan pesona alaminya.

Ada hari-hari di mana Yuki menjalankan perannya sebagai seorang istri rumah tangga sepenuhnya. Saat jadwal pemotretannya sedang lengang, Yuki dengan senang hati mengurus rumah mereka. Ia menyapu halaman, menyiram tanaman, merapikan meja kerja Akira yang penuh dengan tumpukan jurnal rekayasa jaringan, dan memasak makanan kesukaan suaminya. Saat-saat seperti itulah Yuki merasakan kedamaian yang luar biasa. Duduk di ruang tengah yang hening, menatap foto pernikahan mereka yang tergantung anggun di dinding, sambil menunggu suara deru mobil Akira memasuki garasi di sore hari. Begitu mendengar langkah kaki Akira mendekati pintu depan, Yuki akan berlari kecil untuk menyambutnya, mengambil jas suaminya, dan menyunggingkan senyuman paling hangat yang seketika meluruhkan seluruh rasa lelah sang Profesor.

Namun, kehidupan mereka bukan hanya tentang keheningan di dalam rumah. Karier Yuki sebagai model internasional justru semakin melonjak naik setelah menikah. Pesonanya yang semakin dewasa dan anggun membuat berbagai merek perhiasan dan busana kelas atas berebut untuk menjadikannya brand ambassador.

Minggu-minggu tertentu menjadi sangat sibuk dan menguras tenaga bagi Yuki. Momen pemotretan yang bisa berlangsung dari pagi hingga larut malam, perjalanan antar kota untuk fashion show, hingga wawancara media membuat Yuki harus membagi fokusnya secara ekstra. Kadang kala, Yuki merasa bersalah karena tidak bisa menyiapkan sarapan atau menyambut Akira pulang. Namun, Akira selalu menjadi sosok suami yang luar biasa suportif. Tanpa pernah mengeluh, Akira yang gantian mengambil alih tugas rumah tangga—membersihkan dapur, menyiapkan makan malam sederhana, dan memastikan Yuki beristirahat dengan cukup begitu sampai di rumah. Akira sangat memahami bahwa impian Yuki sebagai model sama pentingnya dengan riset sains yang ia jalani di laboratorium.

Suatu hari di pertengahan bulan, jadwal pemotretan Yuki selesai lebih cepat dari perkiraan. Yuki yang mengenakan atasan turtleneck berwarna krem dan rok panjang yang anggun, melangkah keluar dari studio dengan wajah berbinar. Rindu yang membuncah membuatnya tidak ingin langsung pulang ke rumah. Ia ingin memberikan kejutan pada suaminya.

Dengan membawa sebuah tas kertas berisi bento buatan restoran rumahan langganan mereka, Yuki menumpangi taksi menuju National Center for Advanced Biomedical Sciences—gedung laboratorium megah tempat Akira bekerja sebagai Head of Biomedical Research.

Ini adalah kali pertama Yuki datang ke kantor Akira secara resmi di jam kerja. Begitu melangkahkan kaki melewati pintu kaca otomatis di aula utama laboratorium, kehadiran Yuki langsung mencuri perhatian. Wajahnya yang sering terpampang di baliho kota dan sampul majalah terkenal membuat para staf dan peneliti muda berbisik-bisik kagum. Wajahnya yang cantik dan auranya yang elegan terpancar jelas, namun Yuki tetap melemparkan senyum ramah kepada siapa saja yang menyapa atau membungkuk padanya.

Seorang asisten peneliti muda bertag nama "Sato" dengan gugup menghampiri Yuki. "S-Selamat siang... Apakah Anda mencari Profesor Riyuma?"

Yuki tersenyum manis, mengangguk pelan. "Selamat siang. Iya, apakah Akira—maksud saya, Profesor Riyuma—sedang berada di ruangannya?"

"Profesor baru saja selesai memimpin rapat di lantai empat dan sekarang sedang berada di ruang riset utamanya, Nyonya Riyuma. Mari saya antarkan," ujar Sato dengan nada sangat sopan dan penuh rasa hormat.

Mereka berjalan menyusuri koridor berdinding kaca yang bersih dan canggih. Dari balik kaca tebal, Yuki melihat puluhan peneliti berseragam putih sibuk dengan mikroskop, mikropipet, dan komputer canggih. Di ujung koridor lantai atas, Sato menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan berdinding kaca buram dengan papan nama akrilik bertuliskan: Prof. Akira Riyuma - Head of Department.

"Beliau ada di dalam," bisik Sato pelan.

Yuki mengucapkan terima kasih, lalu mengetik pintu kayu tebal itu dua kali secara perlahan.

"Masuk," terdengar suara berat dan dingin dari dalam ruangan—suara khas Akira saat sedang berfokus penuh pada pekerjaannya.

Yuki memutar gagang pintu dan melangkah masuk dengan perlahan. Di dalam ruangan kerja yang luas dan tertata rapi itu, Akira sedang berdiri di dekat meja kerjanya yang menghadap ke jendela besar. Ia mengenakan jas laboratorium putih di luar kemeja kerjanya, memegang beberapa lembar analisis data medis. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual yang sangat tajam dan karismatik.

Akira tidak langsung mendongak, jemarinya masih sibuk menandatangani beberapa berkas laporan. "Sato, tolong taruh analisis sampel rekayasa jaringan itu di meja sebelah kiri—"

"Bagaimana kalau diganti dengan bento hangat, Prof?" sapa sebuah suara lembut yang sangat dihafalkannya.

Jemarinya mendadak berhenti bergerak. Akira dengan cepat mendongakkan kepala. Matanya yang tajam melebar seketika saat mendapati sosok wanita yang paling dicintainya sedang berdiri di dekat pintu, tersenyum jahil sambil mengangkat tas kertas bentonya.

Raut wajah Akira yang tadinya sangat serius dan dingin langsung mencair dalam hitungan detik. Senyuman tipis yang sangat hangat terbit di bibirnya. Ia melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja, dan langsung melangkah lebar menghampiri istrinya.

Tanpa memedulikan jas laboratorium putih yang masih melekat di tubuhnya, Akira merengkuh pinggang Yuki dan menariknya ke dalam pelukan hangat. Yuki tertawa kecil, membalas pelukan itu dan menghirup aroma khas Akira—campuran wangi maskulin dan aroma antiseptik laboratorium yang anehnya selalu menenangkan baginya.

"Kenapa tidak memberi tahu kalau mau datang, hm?" bisik Akira lembut di telinga Yuki, lalu mengecup pipinya dengan mesra.

"Kalau memberi tahu namanya bukan kejutan, dong," sahut Yuki sambil mendongak, mengelus rahang tegas Akira. "Pemotretanku selesai lebih awal dari jadwal. Aku merindukanmu, jadi aku langsung ke sini. Apakah aku mengganggu pekerjaan Profesor hebat kita?"

"Sama sekali tidak," balas Akira mantap. Ia menyisipkan beberapa helai rambut Yuki ke belakang telinga. "Bahkan kalaupun kamu mengganggu, kamu adalah satu-satunya gangguan yang selalu aku harapkan."

Akira melepas jas laboratoriumnya dan menyampirkannya di kursi kerja. Ia lalu menuntun Yuki untuk duduk di sofa kulit yang berada di sudut ruang kerjanya. Mereka berdua duduk berdampingan, menyantap bento bersama di tengah jeda istirahat Akira. Yuki dengan telaten mengambilkan makanan dan sesekali menyuapi Akira, sementara Akira mendengarkan cerita Yuki tentang proses pemotretannya hari itu dengan penuh perhatian.

Bagi para staf laboratorium yang sesekali melintas di depan ruangan glass-window yang kini tirainya setengah terbuka, pemandangan itu sangat menakjubkan. Profesor Riyuma yang biasanya terkenal sangat disiplin, tegas, dan irit bicara, tampak terkekeh pelan dan menatap istrinya dengan pendar mata yang begitu penuh dengan rasa cinta dan pemujaan.

Namun, momen-momen indah mereka tetap berjalan di atas roda kesibukan yang terus berputar.

Dua minggu setelah kunjungan kejutan Yuki ke laboratorium, jadwal pekerjaan mereka berdua berada di titik puncaknya. Yuki harus terbang ke Kyoto selama tiga hari penuh untuk kampanye iklan busana musim gugur, sementara Akira sedang menghadapi tenggat waktu krusial untuk mempresentasikan hasil riset stem cell-nya di hadapan dewan direksi sains Jepang.

Malam sebelum Yuki berangkat ke Kyoto, rumah baru mereka kembali diselimuti suasana redup yang nyaman. Hujan gerimis menyapu kaca jendela ruang tengah. Yuki sibuk mengemas pakaian ke dalam koper kecil di kamar tidur mereka, sementara Akira duduk di tepi ranjang, memerhatikan gerakan jemari istrinya.

Yuki menghentikan kegiatannya sejenak, lalu berbalik dan menatap Akira dengan wajah yang sedikit sendu. Ia berjalan mendekat dan langsung mendudukkan dirinya di pangkuan Akira, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

"Aku cuma pergi tiga hari, tapi rasanya berat sekali mau meninggalkan rumah ini..." gumam Yuki pelan, jemarinya memain-mainkan kancing kemeja Akira.

Akira tersenyum lembut, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yuki, memeluk tubuh ramping istrinya dengan erat. "Cuma tiga hari, Yuki. Lagipula, aku juga akan sangat sibuk di laboratorium akhir pekan ini."

"Tapi aku bakal kangen..." cicit Yuki lagi, mendongak menatap mata hitam pekat Akira. "Aku sudah terbiasa menyiapkan pakaianmu di pagi hari, terbiasa nungguin kamu pulang..."

"Aku tahu," bisik Akira tulus. Ia menundukkan kepala, mendaratkan kecupan lembut di dahi Yuki yang tertutup poni, lalu turun ke kelopak matanya, puncak hidungnya, hingga akhirnya mendarat di bibir Yuki.

Ciuman itu berjalan begitu lambat, lembut, dan sarat akan kerinduan yang ditahan. Yuki membalas tautan bibir itu dengan merangkulkan kedua lengannya di leher Akira, menarik suaminya agar semakin rapat tanpa jarak. Suara rintik hujan di luar seolah menjadi melodi pelengkap bagi hangatnya cinta yang mereka bagikan di dalam kamar tersebut.

Ketika tautan bibir mereka terlepas, Akira menatap mata Yuki yang berbinar indah. Napas mereka sedikit memburu berdekatan.

"Selesaikan pekerjaanmu di Kyoto dengan baik, Yuki. Tampilkan pesonamu sebagai model terbaik seperti biasa," ujar Akira dengan nada suara yang begitu dalam dan tenang. "Aku akan menyelesaikan risetku di sini. Dan begitu kamu pulang dari Kyoto..." Akira menggantungkan kalimatnya, menyunggingkan senyuman tipis yang misterius.

Yuki menaikkan sebelah alisnya, penasaran. "Begitu aku pulang... kenapa?"

Akira mengusap lembut pipi Yuki, mengikis jarak di antara wajah mereka sekali lagi. "Ada kejutan yang sudah kusiapkan untukmu. Hadiah atas kerja kerasmu dan hadiah untuk rumah baru kita."

"Kejutan apa?" mata Yuki berbinar penuh rasa ingin tahu, mencoba memancing suaminya.

"Rahasia," goda Akira sambil terkekeh pelan, menyentil hidung Yuki dengan gemas. "Kamu baru boleh tahu begitu kamu melangkahkan kaki kembali ke rumah ini."

Yuki memanyunkan bibirnya berpura-pura kesal, namun hatinya meletup-letup bahagia. Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Akira, meresapi kehangatan dekapan suaminya sebelum harus berpisah selama tiga hari ke depan.

Kehidupan mereka mungkin diwarnai oleh kesibukan karier masing-masing yang luar biasa padat—antara laboratorium sains dan dunia fashion yang berkilau. Namun, di atas semua pencapaian, popularitas, dan jadwal yang menyita waktu, mereka berdua tahu pasti di mana pusat dunia mereka berada: di dalam rumah baru tempat mereka selalu saling menunggu, menyembuhkan rasa lelah, dan mencintai satu sama lain tanpa batas waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!