Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN DARI ISTANA
"Y-yang Mulia Raja Salova diserang oleh penyusup misterius tadi malam! Dan beliau di temukan terluka parah di kamar pribadinya dan saat ini tidak bisa berbicara!" lapor pengantar pesan itu gemetar, menunduk dalam-dalam.
Mendengar hal itu, Liam mendengus pelan, dan diam-diam tersenyum miring.
"Berita yang sangat mengejutkan," ucap Liam dengan nada datar yang terkesan dibuat-buat.
"Lalu, apa urusannya datang ke kediaman ku?" tanya Liam, tidak perduli dengan keadaan sang Raja.
"Tuan Garel memerintahkan seluruh pejabat dan jendral untuk segera datang ke istana sekarang juga guna menghadiri sidang darurat!" jawab pengantar pesan itu cepat.
"Katakan pada Garel, aku akan segera bersiap dan menyusul ke istana," ucap Liam tegas.
"Baik, Jendral! Saya permisi!" seru pengantar pesan itu panik, lalu langsung berbalik dan memacu kudanya pergi meninggalkan halaman kediaman Volis.
Liam kembali menutup pintu, lalu berjalan santai masuk ke ruang makan dengan senyuman tipis di bibirnya.
Aleta yang melihat suaminya kembali langsung mengangkat cangkir tehnya, menyambut Liam dengan tatapan penuh arti.
"Bagaimana, Jendral? Sesuai prediksiku, kan?" tanya Aleta santai, menyesap tehnya perlahan.
Liam menarik kursinya kembali dan duduk, menggelengkan kepala pelan sambil menatap istrinya dengan rasa kagum yang disembunyikan di wajah datar nya.
"Kamu benar-benar membuat seisi istana gempar dalam waktu semalam, Marchiones," ucap Liam pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi.
Julian yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung dengan apa yang sedang dibicarakan orang tuanya.
"Ayah, Istana itu kenapa? Kenapa rajanya sakit?" tanya Julian polos sambil menatap Liam bergantian dengan Aleta.
Aleta tersenyum manis, mengusap lembut kepala Julian sebelum menjawab pertanyaan anak tirinya itu.
"Tidak apa-apa, Jendral kecil, Raja tua itu cuma sedang istirahat panjang karena kecapean habis merampas hak orang lain," jawab Aleta enteng.
Liam mendengus geli mendengar jawaban santai istrinya, lalu menepuk pelan pundak Julian.
"Sudah, habiskan sarapanmu, sebentar lagi kamu harus segera berangkat ke akademi, agar tidak terlambat," ucap Liam, sedikit lembut.
Julian mengangguk patuh, segera menyuap sisa makanan di piringnya dengan cepat karena sudah tidak sabar ingin berangkat ke akademi, apalagi hari ini yang akan mengantar dirinya adalah Aleta, tentu saja Julian semakin bersemangat.
"Nah, anak pintar," puji Aleta sambil menyeka sudut bibir Julian menggunakan selembar kain bersih.
Liam berdiri dari kursinya, merapikan sedikit kerah seragam militernya sebelum melirik ke arah istrinya yang masih duduk santai.
"Aku akan mengecek Seno di luar dan bersiap ke istana, jangan berulah lagi hari ini, Marchiones," ucap Liam, melirik Aleta.
Aleta mendengus pelan, memutar bola matanya malas menanggapi ucapan suaminya.
"Siapa juga yang mau berulah? Kediaman ini kan baru saja bersih dari sampah, lebih baik aku habiskan waktu ku bersama Jendral kecil ku ini," jawab Aleta, mendengus sinis pada suaminya.
Liam melangkah keluar dari pintu utama kediaman Volis dengan langkah tegap, menghampiri Seno yang sudah berdiri siaga di samping kuda hitamnya sambil memegang beberapa dokumen laporan.
"Bagaimana situasi di perbatasan, Seno?" tanya Liam langsung to the point begitu tiba di dekat pengawalnya itu.
Seno menunduk hormat sejenak sebelum menjawab laporan paginya.
"Semua pasukan di perbatasan sudah siaga, Jendral, tapi kekacauan terbesar pagi ini justru datang dari ibu kota, berita tentang lumpuhnya Raja Salova menyebar begitu cepat, dan para bangsawan sekarang sedang panik," lapor Seno dengan nada serius, matanya melirik sekilas ke arah pintu kediaman.
Liam mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum miring tipis.
"Biarkan saja mereka panik, Garel pasti sekarang sedang kebingungan berusaha menutupi fakta bahwa raja mereka tumbang hanya dalam satu malam oleh seorang penyusup," ucap Liam santai, sama sekali tidak terlihat cemas.
Seno mengangguk pelan, meski di balik wajah datarnya tersimpan rasa penasaran yang luar biasa.
"Em Jendral... apa benar Marchiones yang melakukan itu semua semalam?" tanya Seno dengan suara berbisik-bisik, melirik ke kanan dan kiri seolah takut ada yang mendengar.
Liam menoleh ke arah Seno, lalu mendengus geli mendengar pertanyaan pengawalnya itu.
"Jangan bahas itu di sini, Seno, kalau sampai istriku dengar, bisa-bisa giliran mu yang dijadikan bahan latihan belatinya," ancam Liam setengah bercanda, meski nadanya terdengar cukup serius.
Seno langsung menelan ludah kasar, merinding seketika saat membayangkan tatapan tajam dan senyuman psikopat milik Aleta.
"B-baik, Jendral, saya paham, saya diam saja," cicit Seno salah tingkah.
"Bagus! Sekarang siapkan kuda untukku, aku harus segera memenuhi panggilan sidang darurat Garel di istana," perintah Liam tegas, melepas sandaran tubuhnya dari pilar rumah.
"Siap, Jendral!" seru Seno cepat, lalu bergegas menyiapkan kuda milik Liam.
Julian sudah selesai menghabiskan sarapannya, anak laki-laki itu turun dari kursi dengan ceria sambil menenteng tas kecil perlengkapannya ke akademi.
"Ibu, Julian sudah selesai!" seru Julian bersemangat, menarik-narik ujung gaun Aleta pelan.
Aleta menoleh, tersenyum lembut sambil merapikan kerah baju Julian yang sedikit miring.
"Wah, anak pintar, ayo kita berangkat sekarang sebelum kesiangan," ucap Aleta ramah, menggandeng tangan kecil Julian berjalan keluar rumah.
Begitu mereka keluar ke halaman depan, Liam sudah siap di atas kudanya.
Liam melirik ke arah Aleta dan Julian yang berjalan berdampingan, ada rasa hangat yang tak biasa menyelinap di dadanya melihat pemandangan itu.
"Hati-hati di jalan, Aleta, kalau ada sesuatu hal buruk terjadi segera beritahu aku," pesan Liam dari atas kudanya dengan nada datar namun perhatian.
Aleta mendengus pelan, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat, dia merasa sedikit aneh dengan sifat Liam yang biasanya tidak pernah perduli dengan apapun.
"Urusi saja rapat daruratmu dengan para tikus pengecut di istana sana, tidak perlu mengkhawatirkan kami" ucap Aleta santai, lalu membantu Julian naik ke atas kereta kuda yang sudah disiapkan.
Liam mendengus geli, menggelengkan kepalanya pelan menghadapi ketus dan tajamnya ucapan sang istri.
"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Liam, lalu menarik tali kekang kudanya bersiap berangkat, bersama Seno.
"Hem, hati-hati di jalan, Jendral," ucap Aleta melambaikan tangannya malas.
Liam tersenyum kecil, lalu memacu kencang kuda hitamnya memimpin jalan menuju istana kerajaan Salova, meninggalkan kediaman Volis yang kini kembali damai.
Aleta segera naik ke dalam kereta kuda menyusul Julian, dan kusir langsung menjalankan kuda perlahan meninggalkan halaman menuju akademi tempat Julian belajar.
Di dalam perjalanan, Julian menatap Aleta dengan mata berbinar-binar penuh kagum.
"Ibu, akhir-akhir ini Ibu keliatan semakin hebat," puji Julian polos dengan senyuman lebar.
Aleta mencubit pelan pipi tembem Julian, tertawa kecil mendengar kepolosan anak itu.