Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah itu, Udara di dalam gua markas Kultus Iblis wilayah 05 terasa berbeda hari itu.
Semua anggota muda yang lolos pelatihan berdiri berbaris.
Di tangan mereka, lencana emas berbentuk wajah iblis bertaring berkilau di bawah cahaya obor.
Lencana itu bukan sekadar tanda keanggotaan, itu adalah segel yang mengikat sumpah darah mereka pada Kultus Iblis.
Bersamaan dengan lencana, setiap orang menerima sebuah kantong kulit tebal yang penuh dengan koin emas, senjata pilihan, dan perbekalan lengkap.
Setelah lima tahun terkurung dalam pelatihan brutal, mereka akhirnya diizinkan untuk pulang kepada keluarga yang telah lama mereka tinggalkan.
Namun, mereka semua kini telah berubah.
Ideologi Kultus Iblis sudah tertanam dalam kepala dan hati mereka.
Sumpah untuk tidak membocorkan rahasia, dan kesiapan menjalankan misi kapan pun diperintahkan, sudah menjadi bagian dari diri mereka.
Di ruang pribadi komandan Risman, Ryan berdiri tegak menghadapnya.
Tubuhnya kini mengenakan pakaian hitam sederhana, Di pinggangnya sebuah katana bersarung.
“Ryan…” suara komandan Risman berat. “Kau akan pulang dan bertemu orang tuamu. Tapi… kebetulan ada misi yang lokasinya dekat rumahmu.”
Ryan menatap lurus. “Misi? Misi seperti apa?”
Risman mengambil selembar gulungan dari mejanya. “Ada seorang putri dari Clan Taring Naga. Clan itu bagian dari Aliansi Pedang Tujuh langit. Memang dia hanya putri dari seorang selir, tapi penjagaannya cukup ketat. Gadis itu dijaga langsung oleh pendekar dari Aliansi.”
Dia membuka gulungan itu, memperlihatkan peta. “Sekarang mereka ada di kota Yunra, dan akan melakukan perjalanan menuju kota Thora. Aku ingin kau membantai rombongan itu di tengah jalan.”
Ryan tidak bergeming. “Bagaimana dengan putrinya? Apa aku harus membunuhnya juga?”
Risman menyeringai tipis. “Terserah. Kau bisa meninggalkannya atau menjadikannya mainanmu. Yang penting, semua pendekar dari Aliansi harus mati. Aku dengar salah satu dari mereka memiliki potensi besar. Kita tidak akan membiarkan bibit itu tumbuh.”
“Baiklah, aku akan melakukan nya” jawab Ryan singkat, lalu mengambil gulungan misi dari meja Risman.
“Aku menunggu prestasimu di medan perang, Ryan,” ucap Risman sambil menatap punggung Ryan yang berjalan keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup, Risman bersandar di kursinya. ‘Anak itu… wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Seolah pembantaian hanyalah rutinitas baginya. Dia benar-benar bukan anak biasa,’ pikirnya sambil menyeringai.
---------------
Di luar gua, puluhan anggota Kultus Iblis berdiri menunggu.
Begitu Ryan muncul, suara Leo menggema: “Berikan hormat pada Pemimpin!”
Brug!
Semua orang menunduk serentak, punggung membungkuk 90°.
“Baiklah, angkat kepala kalian,” ujar Ryan tenang. “Untuk sekarang, pulanglah ke keluarga masing-masing. Nikmati waktu kalian. Jika ada misi, aku akan mengirimnya melalui gagak pengantar pesan. Jadi selalu bersiap lah... karena misi bisa datang kapan saja”
“Siap, Pemimpin!” teriak mereka serempak.
Leo maju setapak. “Ryan… aku memang kalah. Tapi suatu hari nanti, aku akan mengalahkanmu!”
Ryan mengangguk tipis. “Aku akan menunggu hari itu, Leo.”
Dari barisan, Barnett melangkah sambil tertawa pendek. “Pemimpin… kalau ada misi pembantaian, berikan padaku. Kau tahu... aku menyukai itu, aku sangat ingin melakukan pembantaian pada anak-anak murid aliansi itu!”
“Aku akan memberitahumu jika waktunya tiba,” jawab Ryan singkat.
Karl menepuk pundaknya. “Aku pamit, Ryan. Aku menunggu perintahmu.”
“Aku juga,” sambung Vincen sambil tersenyum.
Calvin menyelipkan kantong emasnya ke ikat pinggang. “Kalau lewat rumahku, mampir. Aku akan siapkan jamuan untuk mu, Pemimpin”
Vierra berkata pelan, “Aku kurang suka membunuh. Tapi jika ada misi penyusupan atau pengumpulan informasi, serahkan padaku.”
Satu per satu, mereka berpamitan, meninggalkan jejak langkah yang mengarah ke berbagai arah.
Hanya Bella yang masih berdiri di samping Ryan.
“Bella, apa kau tidak mau pulang?”
Bella tersenyum tipis. “Rumahku di Thora. Dan kau juga akan ke sana, kan? Jadi kita bisa pergi bersama.”
“Baiklah, ayo kita pergi”
Tanpa menoleh ke belakang, mereka berdua melangkah meninggalkan tempat itu.
-----------
Sepanjang perjalanan, mereka berbicara banyak hal.
“Ryan, di benua ini ada tujuh Clan yang sangat berpengaruh. Masing-masing punya sejarah panjang dan kekuatan luar biasa,” ujar Bella sambil meliriknya.
Ryan hanya mengangguk, matanya tetap menatap jalan di depan.
“Dulu mereka saling bersaing, bahkan berperang. Darah mengalir setiap kali dua Clan bertemu. Tapi semuanya berubah setelah Kultus Iblis muncul dan membantai para murid mereka.” Bella berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, seolah mengingat peristiwa yang pernah ia dengar dari cerita orang.
“meski awal nya bermusuhan, Ketujuh Clan itu akhirnya memutuskan untuk berhenti bertarung satu sama lain. Mereka memutuskan untuk membentuk sebuah aliansi bernama Aliansi Tujuan Pedang Langit. Itu terjadi puluhan tahun lalu. Mereka sadar, satu Clan saja tak akan sanggup menandingi kekuatan Kultus Iblis.”
Ryan menoleh sekilas. “Aliansi Tujuan Pedang Langit, jadi mereka benar-benar mengubur dendam demi melawan satu musuh yang sama?”
Bella mengangguk. “Ya. Dan hasilnya, mereka berhasil memukul balik Kultus Iblis. Banyak markas hancur, dan para anggota diburu sampai hampir punah.”
Tatapan Ryan sedikit menyipit, menunggu kelanjutan cerita.
“Tapi Demo Lord Kultus Iblis terlalu kuat. Meskipun banyak yang gugur, dia tetap hidup. Dialah yang membangun ulang Kultus Iblis sekarang. Caranya cukup kejam, mereka menculik anak-anak untuk melatih mereka sampai menjadi pembunuh berdarah dingin. namun seperti yang kau tahu, dari 2.000 anak, hanya 70 yang bertahan"
Bella tersenyum getir. “Kita hanyalah salah satu dari ribuan anak yang dibentuk seperti itu.”
Ryan tidak merespon, hanya berjalan dalam diam.
Bella melanjutkan, “Dan jangan kira hanya Kultus Iblis yang mempersiapkan perang. Aliansi Pedang Tujuh Langit juga tidak tinggal diam. Mereka membuka perguruan bela diri di setiap wilayah, menerima puluhan ribu murid setiap tahunnya. Banyak dari mereka yang kemudian menjadi pendekar hebat, bahkan pemimpin perang. bahkan dulu aku bermimpi untuk menjadi salah satu dari mereka"
Kata-kata itu membuat Ryan mengangkat kepalanya sedikit. 'Sepertinya Banyak orang kuat di dunia ini, mungkin bahkan lebih kuat dariku'
Senyum tipis mulai terbentuk di wajahnya. 'Menarik. Selama ini aku menunggu lawan yang benar-benar mampu membuat darahku berdesir. Mungkin di antara mereka aku bisa menemukannya.'
Bella meliriknya. “Apa yang kau pikirkan?”
Ryan hanya menatap ke depan. “Aku berharap misi kali ini akan mempertemukan ku dengan orang kuat"
'Menyebalkan. Bahkan Ryan tidak melirik sedikit pun pada ku, apa aku kurang cantik?' pikir Bella sambil menggembungkan pipinya.
Perjalanan mereka terus berlanjut.