Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Anjing yang Ditinggalkan

Keesokan paginya, Reynard tidak mengingat apa pun dengan utuh.

Ia terbangun dengan kepala berat, obat lambung kosong di nakas, dan handuk kecil terlipat di kursi. Potongan malam muncul seperti foto rusak: bahu Keira di dalam mobil, suara perempuan itu menyuruhnya minum, dinding lorong, telapak tangan hangat.

Lalu tidak ada apa-apa.

Reynard keluar dari unit 8A dan mendapati pintu 8B terkunci. Secarik kertas terselip di bawahnya.

Ada urusan keluarga. Aku pulang ke Tangerang seminggu sekalian fokus UAS. Jangan khawatir.

Tidak ada sapaan. Tidak ada wajah marah yang menuntut penjelasan. Hanya tulisan singkat yang terasa seperti pintu kedua.

Reynard membaca kertas itu tiga kali.

Ia membuka WhatsApp.

Rey: Ci Kei sudah sampai?

Balasan datang dua puluh menit kemudian.

Ci Kei: Sudah. Kamu istirahat saja.

Rey: Semalam aku bikin masalah?

Centang dua berubah biru. Keira tidak menjawab.

Perut Reynard terasa lebih buruk daripada sakit kepalanya.

***

Keira sebenarnya belum sampai ketika mengirim balasan. Ia duduk di mobil menuju Gading Serpong dengan koper kecil di samping, memandangi pertanyaan Reynard sampai layar ponsel padam sendiri.

Apa yang harus ditulis?

Kamu bilang suka padaku. Kamu hampir menciumku. Kamu memintaku jangan pergi.

Jari Keira bahkan tidak sanggup mengetik satu kalimat pun.

Ia pulang dengan alasan UAS dan kebutuhan mencari tempat yang lebih tenang. Mama Lidya hanya melihat koper, lalu menyuruhnya makan. Papa Herman sedang menyiapkan materi sekolah, sementara Vincent belum pulang dari kegiatan kampus. Tidak ada yang bertanya terlalu jauh.

Itu justru membuat rasa bersalah Keira semakin besar.

Selama seminggu, ia memenuhi hari dengan ujian. Pagi naik kendaraan ke BINUS, siang belajar di perpustakaan, malam membantu Mama mencatat stok di Minimarket Berkat Jaya. Setiap kali pikirannya kosong, suara Reynard kembali terdengar.

Aku suka kamu, Ci.

Dari dulu udah suka.

Keira akan buru-buru menghitung kardus mi instan atau membaca ulang catatan ujian agar kalimat itu tenggelam.

Tidak berhasil.

Pada malam kedua, Mama Lidya masuk membawa potongan pepaya dan duduk di tepi ranjang. "Apartemenmu ada masalah?"

"Nggak. Aku cuma mau fokus."

"Biasanya kalau fokus kamu malah betah di sana karena dekat kampus."

Keira menusuk pepaya terlalu keras. Mama tidak mendesak. Ia hanya merapikan tumpukan buku, lalu berkata bahwa kamar Keira selalu tersedia kapan pun ia ingin pulang. Kalimat itu membuat dada Keira sesak oleh rasa aman dan rasa bersalah sekaligus.

Ia hampir bercerita. Hampir mengatakan bahwa cowok yang dititipkan Vanessa sudah mengubah apartemennya menjadi rumah, lalu dalam satu malam mengubah rumah itu menjadi tempat yang terlalu sulit dimasuki kembali.

Namun ponselnya bergetar. Foto dari Reynard memperlihatkan dua mangkuk sup di meja makan yang hanya ditemani satu kursi terisi.

Rey: Kebanyakan masak. Besok belajar mengurangi porsi.

Keira menelan ludah. Ia tahu orang itu sengaja tidak menulis pulanglah. Justru ruang kosong dalam pesan itu membuatnya ingin segera kembali.

"Kamu berantem sama siapa?" Vincent bertanya suatu malam ketika melihat kakaknya menatap layar tanpa berkedip.

Keira membalikkan ponsel. "Nggak sama siapa-siapa."

"Kalau nggak berantem, kenapa tiap ada chat langsung muka tegang?"

"Belajar sana."

Vincent tertawa dan pergi, tetapi pertanyaannya tertinggal.

Reynard tidak pernah memaksa. Ia mengirim pengingat makan pagi, satu foto sup yang terlalu banyak untuk dimakan sendiri, dan kabar singkat bahwa tanaman di unit 8B sudah disiram. Tidak sekali pun ia meminta Keira pulang.

Sikap itu lebih menyiksa daripada tuntutan.

***

Di hari ketiga UAS, Keira mendapat tempat dalam kelompok belajar di perpustakaan BINUS. Kursi di sebelahnya kosong sampai seorang mahasiswa tinggi meletakkan dua gelas kopi di meja.

"Ini kursinya boleh?"

Keira mengangguk. "Boleh."

"Aku Jonathan. Kita satu kelas teori penerjemahan semester lalu."

Keira mengenal wajahnya. Jonathan Wijaya cukup terkenal di fakultas, bukan hanya karena nilai bagus, tetapi juga karena mudah bergaul dan hampir selalu dikelilingi orang.

"Keira," jawabnya.

"Aku tahu. Ini kopi sebagai sewa kursi."

"Aku minum pakai dua gula."

Jonathan menggeser salah satu gelas. "Sudah dua gula. Aku tanya temanmu tadi."

Gestur itu seharusnya terasa manis. Namun saat Keira mencicipi kopi, yang teringat justru catatan kecil di kulkas dari Reynard.

Gula dua kali, seperti yang Cici suka.

"Makasih," katanya, lalu kembali ke buku.

Jonathan tidak mengganggu. Ia membantu mencarikan referensi, menjaga kursi ketika Keira pergi, dan beberapa kali mengajak berdiskusi. Saat mereka berpisah, ia menawarkan untuk belajar bersama lagi.

Keira menerima secara sopan. Tidak lebih.

Di sisi lain kota, Reynard pulang ke Meranti Park setiap sore dan memeriksa celah bawah pintu 8B. Tidak ada cahaya. Ia tetap duduk di lorong beberapa menit, kadang membawa laptop, kadang hanya bersandar ke dinding.

Tante Ida pernah melihatnya.

"Keira belum pulang?"

"Belum, Tante. Lagi UAS."

"Telepon saja."

Reynard menatap pintu tertutup. "Biar dia fokus."

Ia menunggu tanpa mengetuk.

Pada hari kelima, Reynard menemukan paket Keira di meja keamanan. Ia membawanya ke lantai delapan, meletakkannya di depan 8B, lalu duduk menjaga karena hujan membuat sisi lorong dekat jendela terkena tempias. Saat Tante Ida keluar membuang sampah, celana Reynard sudah basah di bagian lutut.

"Titip di unitmu saja," saran perempuan itu.

"Isinya buku. Cici nggak suka orang buka paketnya."

"Bukan buka. Simpan."

Reynard menggeleng. "Biar tetap di depan pintunya. Jadi waktu pulang, yang pertama dia lihat barangnya sendiri."

Tante Ida memandang kotak makanan dan paket itu, lalu menghela napas. "Kamu ini seperti anjing ditinggal pemilik."

Reynard tersenyum tipis. "Yang penting pemiliknya pulang."

Ucapan tersebut tidak sampai ke telinga Keira. Namun ketika ia akhirnya kembali, paket yang bersih, kotak makanan hangat, dan ujung celana Reynard yang masih menyisakan noda air menceritakan cukup banyak.

***

Seminggu kemudian, ujian terakhir Keira selesai. Ia menolak tawaran Jonathan untuk makan bersama kelompok dan langsung pulang ke Tangerang mengambil koper. Mama membekalinya lauk, Papa mengingatkan agar tidak terlalu sering begadang, dan Vincent meminta titip kabel pengisi daya yang tertinggal di apartemen.

Perjalanan kembali terasa terlalu cepat.

Di lobi Meranti Park, Keira menarik napas sebelum masuk lift. Ia sudah menyusun beberapa pembuka percakapan, tetapi semuanya terdengar salah.

Maaf aku pergi mendadak.

Kamu ingat apa yang kamu katakan?

Kita pura-pura lupa saja.

Lift berhenti di lantai delapan. Pintu terbuka pada lorong yang sunyi.

Keira menarik koper keluar, lalu langkahnya melambat.

Di depan unit 8B, Reynard duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding. Sebuah kotak makanan berada di sampingnya. Kepala cowok itu menunduk, seperti anjing besar yang sudah terlalu lama menunggu pemiliknya pulang.

Roda koper Keira menyentuh sambungan lantai dan berbunyi pelan.

Reynard mengangkat wajah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!